NovelToon NovelToon
Pelakor Berkedok Sahabat

Pelakor Berkedok Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gusmon

Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.


Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.


Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 : Belitan Dua Ular

Pagi itu, rumah mewah yang biasanya hangat terasa seperti kuburan yang dingin dan mencekam. Cahaya matahari yang berusaha masuk lewat celah gorden seolah tak mampu mengusir kegelapan atmosfer di dalam ruang makan. Tidak ada aroma kopi, tidak ada denting sendok, hanya ada keheningan yang menyakitkan.

Nadya duduk di meja makan dengan tatapan kosong. Wajahnya yang baby face kini terlihat kuyu, matanya sembab dan bengkak karena tangis yang tak berhenti sepanjang malam. Ia tidak menyentuh makanan apa pun; dunianya terasa runtuh berkeping-keping setelah melihat suaminya bergumul dengan sahabatnya sendiri di lantai ruang tengah.

Erian turun dari tangga dengan penampilan yang berantakan. Kemeja kerjanya tidak serapi biasanya, wajahnya kusam karena tidak bisa memejamkan mata sedetik pun di atas sofa yang kini terasa seperti bara api. Ia menatap Nadya dengan penuh rasa bersalah, namun setiap kali ia hendak membuka mulut, ia teringat bagaimana Nadya memandangnya semalam—seolah ia adalah monster.

Erian hanya mengambil kunci mobilnya tanpa berani mendekati meja makan. Tanpa sarapan, tanpa sepatah kata pamit yang manis seperti biasanya, ia melangkah gontai menuju pintu keluar. Ia merasa telah kehilangan haknya untuk berbicara.

Di saat itulah, Stefani memainkan babak terakhir dari drama liciknya. Ia muncul dari kamar tamu sambil menyeret sebuah koper besar. Wajahnya dibuat tampak pucat dan penuh ketakutan, seolah-olah ia adalah korban trauma yang sangat berat.

"Mbak... Mbak Nadya..." suara Stefani bergetar, terdengar sangat menyedihkan.

Nadya mendongak perlahan, menatap koper yang dibawa Stefani.

"Aku... aku mau pamit, Mbak. Aku nggak mungkin tinggal di sini lagi setelah apa yang dilakukan Mas Erian semalam kepadaku," ucap Stefani sambil menunduk dalam, air mata buayanya mulai menetes. "Aku sangat menghargai kebaikan Mbak Nadya selama ini, tapi aku ketakutan, Mbak... aku nggak menyangka Mas Erian setega itu padaku saat Mbak sedang tidur."

Erian yang belum sempat keluar rumah, berhenti di ambang pintu. Rahangnya mengeras mendengar fitnah yang begitu lancar keluar dari mulut ular itu. "Stefani! Berhenti berakting! Kau yang menjebakku!" bentak Erian dengan suara parau.

"Tuh kan, Mbak... dia masih membentakku," Stefani meringkuk ketakutan, sengaja berlindung di belakang kursi Nadya. "Aku pergi saja, Mbak. Maafkan aku sudah menjadi beban."

Nadya hanya bisa terisak pelan. Kepergian Stefani baginya bukan hanya kehilangan sahabat, tapi juga konfirmasi bahwa rumah tangganya benar-benar sudah hancur karena ulah suaminya.

Nadya bangkit dari kursinya dengan langkah gontai, ia segera memegang tangan Stefani dan menahan koper sahabatnya itu. "Jangan pergi, Stef... jangan tinggalkan aku sekarang. Aku nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu. Aku butuh kamu untuk menguatkan aku menghadapi ini semua..." ucap Nadya dengan suara serak dan air mata yang kembali mengalir.

Stefani menunduk, menyembunyikan kilatan kemenangan di matanya. "Tapi Mbak... Mas Erian... aku takut dia akan menyerangku lagi kalau aku tetap di sini."

"Enggak, Stef. Aku yang akan menjagamu. Tetaplah di sini, tolong..." mohon Nadya dengan sangat tulus.

Erian, yang masih berdiri di ambang pintu, mendengar semua itu dengan hati yang terasa seperti diremas-remas. Ia tidak percaya bahwa istrinya justru lebih mempercayai duri dalam daging itu daripada suaminya sendiri. Dengan langkah tegas, Erian berbalik dan melangkah maju menuju meja makan.

Wajah Erian tampak keras, matanya merah karena amarah dan kurang tidur. Ia menatap Nadya dengan tatapan terluka, lalu beralih menatap Stefani dengan kebencian yang mendalam.

"Oke. Kalau itu maumu, Nad. Kalau kamu lebih memilih menyimpan ular ini di dalam rumah kita," ucap Erian dengan nada suara yang rendah namun penuh penekanan.

Erian menarik napas panjang, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak di depan Nadya. "Malam ini, aku nggak akan pulang. Selesai kerja, aku akan tidur di hotel untuk menenangkan diri. Aku butuh ruang untuk berpikir jernih."

Lalu, Erian mengarahkan jari telunjuknya tepat ke depan wajah Stefani, hanya berjarak beberapa senti dari hidung wanita itu. "Dan selama masih ada ular betina ini di rumahku, aku nggak akan pernah merasa aman dari bisanya. Kau puas, Stefani? Kau berhasil membuatku terusir dari rumahku sendiri!"

"Mas! Jaga bicaramu!" bentak Nadya membela Stefani.

Erian tertawa getir, sebuah tawa yang penuh dengan kepedihan. "Lihat, Nad... kamu bahkan membentak suamimu demi dia. Kamu benar-benar sudah buta."

Tanpa menoleh lagi, Erian berbalik dan berjalan cepat keluar rumah. Suara deru mesin mobilnya yang dipacu kencang terdengar menjauh, meninggalkan keheningan yang semakin mencekam di dalam rumah itu.

Di meja makan, Stefani perlahan memeluk Nadya yang sedang menangis sesenggukan. "Sabar, Mbak... Mas Erian mungkin memang sedang emosi. Biarkan dia tenang di hotel. Aku akan menemanimu di sini, aku nggak akan ke mana-mana."

Di balik pelukan itu, Stefani tersenyum lebar. Rencananya berjalan lebih mulus dari yang ia bayangkan. Erian pergi ke hotel, yang artinya... ia punya akses tak terbatas untuk terus mencuci otak Nadya, dan Marlon punya kesempatan emas untuk bergerak di luar.

Siang itu, suasana di kantor pusat mendadak tegang. Di balik pintu kaca ruang keuangan, Marlon bekerja dengan jemari yang menari lincah di atas keyboard. Dengan keahlian sistematis yang terstruktur rapi, ia menyusup ke dalam server akuntansi perusahaan. Secara halus, ia menggeser angka-angka desimal, membuat alur transaksi fiktif, dan mengarahkan semua "jejak digital" penggelapan dana itu menuju akun otorisasi milik Erian.

Tidak butuh waktu lama bagi sistem peringatan dini perusahaan untuk mendeteksi ketidakwajaran tersebut. Pihak audit internal segera bergerak cepat.

"Pak Erian, mohon maaf. Ada ketidaksesuaian besar dalam laporan kuartal ini yang memerlukan klarifikasi segera. Anda diminta hadir di ruang investigasi sekarang," ucap salah satu petugas audit dengan wajah kaku.

Erian, yang sudah hancur secara mental karena masalah di rumah, hanya bisa berdiri dengan bingung. "Investigasi apa? Saya tidak pernah merasa membuat kesalahan."

Saat itulah, Marlon muncul dengan akting yang sangat memukau. Ia berlari kecil mendekati Erian, wajahnya menunjukkan raut cemas yang sangat natural.

"Ada apa ini? Kenapa sahabat saya dibawa-bawa begini?!" seru Marlon dengan suara yang cukup keras hingga menarik perhatian karyawan lain di kubikel mereka.

Di dalam ruang investigasi yang dingin, Marlon bersikap seolah-olah ia adalah pelindung paling setia bagi Erian. Di depan dua petugas audit yang sedang membeberkan bukti-bukti palsu di layar laptop, Marlon tiba-tiba berdiri dengan nada bicara yang meninggi.

"Ini tidak mungkin! Pak, tolong dicek lagi! Barangkali ini hanya kekeliruan teknis saja!" bentak Marlon. Ia bahkan melangkah maju dan sempat mendorong dada salah satu petugas audit—tidak keras, namun cukup untuk menunjukkan gestur "pembelaan yang emosional".

"Marlon, tenanglah..." gumam Erian, tersentuh melihat sahabatnya sampai berani pasang badan melawan tim audit demi dirinya.

"Bagaimana aku bisa tenang, Er?! Mereka menuduhmu mencuri uang perusahaan!" Marlon kembali menoleh pada petugas audit dengan mata yang berkilat tajam. "Kalian harus audit ulang! Jangan sampai fitnah ini merusak reputasi orang jujur seperti Erian!"

Petugas audit itu hanya menggelengkan kepala. "Data tidak bisa berbohong, Pak Marlon. Semua bukti otentikasi login dan persetujuan dana keluar mengarah pada komputer Pak Erian. Kami harus melakukan investigasi lebih lanjut dan menonaktifkan sementara akses Pak Erian."

Marlon terduduk lesu di kursi samping Erian, ia memegang bahu Erian dengan erat. "Sabar, Er. Aku akan bantu kamu cari tahu siapa yang bermain di belakang ini. Aku nggak akan biarkan kamu jatuh sendirian."

Di balik wajahnya yang tampak terpukul dan pembelaannya yang heroik, Marlon tersenyum puas di dalam hati. Ia baru saja melakukan dua hal sekaligus: menjebak Erian ke dalam masalah hukum, dan secara bersamaan, mengunci kepercayaan Erian agar pria itu merasa Marlon adalah satu-satunya orang yang bisa ia andalkan.

1
katty
up
Ovha Selvia
Nadya bodohnya minta ampun wkwkwkwkw
Lee Mba Young
Kbanyakan istri sah ki mesti baik nya kbanyakan bodoh mudah di tipu. masukin wanita lain ke rumah pdhl itu TDK bnar menurut agama.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭
katty
lanjut
katty
/Shy/
katty
lanjut
Indi_Dedy77
nadya oon, suaminya CEO tp oon juga, jd ada lubang si ular bs masuk se enaknya. kan bs pake ancaman utk stefani biar keluar dr rumahnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!