NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 Batas yang Mulai Menghilang

Pagi itu, nama Alya akhirnya muncul di media.

Bukan sebagai “istri misterius CEO Wijaya Group”.

Bukan sebagai “wanita yang dinikahi demi citra”.

Tapi sebagai bagian dari keputusan strategis perusahaan.

Judul artikel bisnis pagi itu cukup tajam:

“Strategi Revisi Akuisisi Wijaya Group Dinilai Lebih Matang, Sosok Nyonya Wijaya Disebut Berperan.”

Alya membaca artikel itu dalam diam di ruang makan mansion.

Bima duduk di seberangnya, secangkir kopi hitam di tangan.

“Media bergerak lebih cepat dari dugaan saya,” ujar Bima tenang.

Alya meletakkan tablet.

“Siapa yang membocorkan?”

“Direksi tidak mungkin. Tapi selalu ada celah.”

Alya tidak kaget.

Sejak kemarin ia sudah memperkirakan ini akan terjadi.

Begitu ia berbicara dalam rapat, ia bukan lagi sekadar istri kontrak.

Ia pemain.

Dan setiap pemain punya lawan.

“Kita tidak bisa tarik mundur sekarang,” katanya.

Bima menatapnya.

“Aku tidak berniat menarikmu.”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tapi maknanya jelas.

Ia tidak akan menyuruh Alya kembali menjadi simbol.

Ia mengakuinya.

Namun pengakuan itu juga berarti risiko lebih besar.

Siang hari, Alya menerima undangan makan siang dari Ibu Ratna.

Permintaan yang terdengar santai.

Namun tidak pernah benar-benar santai.

Restoran hotel bintang lima itu sepi dan eksklusif.

Ibu Ratna sudah duduk lebih dulu ketika Alya datang.

“Kamu semakin sering muncul di berita,” ucap wanita itu tanpa basa-basi.

Alya duduk dengan tenang.

“Saya hanya melakukan yang perlu.”

“Perlu untuk siapa?”

Tatapan itu tajam. Menguji.

“Untuk nama keluarga yang saya pakai.”

Ibu Ratna tersenyum tipis.

“Kamu tahu semakin tinggi kamu berdiri, semakin keras jatuhnya?”

“Saya tidak berniat jatuh.”

“Semua orang yang terlalu percaya diri berkata begitu.”

Alya tidak terpancing.

Ia justru balik bertanya pelan,

“Ibu takut saya gagal… atau takut saya berhasil?”

Hening.

Sendok porselen berhenti bergerak.

Ibu Ratna menatapnya lebih lama.

“Kamu mulai berani.”

“Saya hanya belajar.”

Wanita itu akhirnya bersandar.

“Arsen tidak akan tinggal diam.”

“Saya tahu.”

“Kamu pernah mengenalnya lebih dekat daripada kami.”

Kalimat itu tidak bernada tuduhan.

Tapi jelas mengarah pada masa lalu.

Alya menjawab dengan stabil.

“Dan saya juga tahu bagaimana dia bermain.”

Ibu Ratna mengangguk pelan.

“Maka pastikan kamu tidak menjadi kelemahan Bima.”

Alya berdiri setelah makan siang selesai.

“Saya tidak pernah berniat menjadi kelemahannya.”

Ia melangkah pergi tanpa menoleh.

Sore itu, pukulan pertama benar-benar datang.

Sebuah artikel anonim menyebar di forum bisnis.

Isinya tidak menyebut nama langsung.

Tapi cukup jelas untuk menuding Alya.

“Seorang wanita dengan masa lalu kontroversial kini mempengaruhi keputusan perusahaan besar.”

Beberapa foto lama muncul.

Foto saat Alya pernah bekerja di perusahaan milik Arsen.

Tidak ada yang salah dalam foto itu.

Tapi framing-nya sengaja dibuat ambigu.

Narasinya dibuat seperti ia memiliki hubungan khusus.

Ponsel Alya berdering tanpa henti.

Notifikasi.

Pesan.

Tag media.

Ia menatap layar dalam diam.

Ini baru pembuka.

Tak lama kemudian, pintu ruang kerjanya terbuka.

Bima masuk tanpa mengetuk.

Ia sudah melihatnya.

“Ini kerjaan Arsen,” katanya singkat.

“Ya.”

“Tim hukum sedang bergerak.”

Alya menoleh.

“Jangan.”

Bima mengernyit.

“Kenapa?”

“Kalau kita langsung menyerang, dia dapat yang dia mau.”

“Dan kamu mau membiarkan ini?”

Alya berdiri.

Tatapannya tenang.

“Tuduhan setengah matang lebih berbahaya bagi penyerangnya.”

Bima menatapnya beberapa detik.

“Kamu punya rencana?”

Alya mengangguk pelan.

“Kita buat konferensi pers.”

“Kamu yakin?”

“Semakin lama kita diam, semakin liar narasinya.”

Hening sejenak.

Bima berjalan mendekat.

“Jika kamu berdiri di depan publik dan ini meledak, tidak ada jalan kembali.”

Alya menatapnya lurus.

“Saya tidak pernah berniat mundur.”

Malam itu, mereka berdiri berdampingan di ruang konferensi pers.

Puluhan kamera.

Lampu terang.

Pertanyaan tajam.

Alya mengenakan gaun putih sederhana. Tidak mencolok. Tidak defensif.

Bima membuka pernyataan lebih dulu.

“Semua keputusan strategis perusahaan berdasarkan analisis profesional. Tidak ada pengaruh personal.”

Lalu ia menoleh pada Alya.

Isyarat.

Alya melangkah maju sedikit.

“Saya pernah bekerja di perusahaan lain sebelum menikah. Itu bukan rahasia.”

Suara kameramen terdengar.

“Koneksi profesional tidak berarti hubungan pribadi.”

Seorang jurnalis langsung menyela,

“Apakah Anda memiliki hubungan khusus dengan Tuan Arsen di masa lalu?”

Ruangan hening.

Alya tidak tersenyum.

“Tidak.”

Jawaban singkat. Tegas.

“Apakah Anda yakin tudingan ini murni fitnah?”

“Saya tidak berspekulasi. Tapi saya tidak akan membiarkan reputasi saya digunakan sebagai alat.”

Suara Alya stabil.

Tidak goyah.

Beberapa pertanyaan lagi muncul.

Ia menjawab dengan konsisten.

Tanpa emosi berlebihan.

Tanpa nada defensif.

Setelah dua puluh menit, konferensi pers ditutup.

Di dalam mobil, suasana sunyi.

Bima memandang ke depan.

“Kamu tidak gugup sama sekali.”

Alya tersenyum kecil.

“Saya gugup.”

“Tidak terlihat.”

“Itu latihan.”

Bima menoleh.

Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Alya sebagai tanggung jawab.

Ia melihatnya sebagai partner.

“Terima kasih,” ucapnya pelan.

Alya sedikit terdiam.

“Untuk apa?”

“Karena kamu memilih berdiri di sini.”

Mobil berhenti di depan mansion.

Mereka turun bersamaan.

Di tangga utama, langkah mereka hampir sejajar.

Tanpa direncanakan.

Tanpa disadari.

Di sisi lain kota, Arsen mematikan televisi.

Wajahnya tidak lagi santai.

“Dia lebih kuat dari perkiraanku,” gumamnya.

Asistennya bertanya hati-hati,

“Langkah selanjutnya, Pak?”

Arsen tersenyum tipis.

“Jika reputasi tidak cukup…”

Ia mengambil sebuah map dari meja.

“Gunakan ini.”

Di dalam map itu, ada dokumen lama.

Kontrak pribadi.

Sesuatu yang bahkan Alya tidak tahu sudah berpindah tangan.

Malam semakin larut.

Alya berdiri di balkon kamar.

Angin malam menyentuh wajahnya.

Ia tahu ini belum selesai.

Serangan pertama gagal.

Tapi Arsen bukan tipe yang berhenti di satu langkah.

Pintu balkon terbuka pelan.

Bima berdiri di belakangnya.

“Kamu tidak tidur?”

“Belum.”

Hening beberapa detik.

“Kalau ini semakin buruk, kamu masih ingin bertahan?”

Alya menoleh.

Pertanyaan itu bukan tentang bisnis.

Itu tentang mereka.

Ia menjawab tanpa ragu.

“Saya tidak masuk ke sini untuk lari.”

Tatapan mereka bertemu.

Jarak di antara mereka hanya satu langkah.

Bima mengangkat tangan seolah ingin menyentuhnya.

Namun berhenti.

Masih ada batas.

Masih ada kontrak.

Alya merasakannya.

Dan untuk pertama kalinya, batas itu terasa bukan sebagai perlindungan.

Tapi sebagai penghalang.

Karena semakin keras mereka berdiri bersama di depan dunia,

Semakin tipis garis antara kewajiban dan perasaan.

Dan Alya sadar satu hal dengan jelas—

Jika perang ini berlanjut,

yang paling sulit dipertahankan bukanlah reputasi.

Tapi hati yang mulai kehilangan jarak.

Alya merasakannya dengan jujur malam itu.

Bukan karena tatapan kamera.

Bukan karena ancaman Arsen.

Bukan karena tekanan keluarga Wijaya.

Melainkan karena cara Bima berdiri di sampingnya tadi siang.

Bukan sebagai CEO yang menjaga citra.

Tapi sebagai pria yang memilih untuk tidak menariknya mundur.

Ia memejamkan mata sesaat.

Selama ini, batas itu jelas.

Kontrak satu tahun.

Hubungan formal.

Tidak ada campur tangan perasaan.

Namun hari ini, ketika Bima mengatakan “Terima kasih karena kamu memilih berdiri di sini”, sesuatu di dalam dirinya bergerak.

Itu bukan kalimat strategis.

Itu bukan pernyataan publik.

Itu tulus.

Dan ketulusan adalah hal paling berbahaya dalam pernikahan yang dibangun atas kesepakatan dingin.

“Alya.”

Suara Bima memecah pikirannya.

Ia menoleh.

Pria itu berdiri lebih dekat dari yang ia sadari. Cahaya lampu balkon membuat garis rahangnya terlihat lebih tegas, tapi matanya tidak lagi setajam biasanya.

“Apa kamu menyesal?” tanya Bima pelan.

“Menyesal tentang apa?”

“Masuk ke dalam hidupku.”

Pertanyaan itu sederhana. Tapi bobotnya tidak ringan.

Alya menggeleng pelan.

“Tidak.”

“Kenapa?”

Ia tidak langsung menjawab.

Karena jawabannya tidak lagi sesederhana “karena kontrak”.

“Apa pun alasan awalnya,” ucapnya akhirnya, “saya di sini sekarang karena pilihan saya sendiri.”

Bima memperhatikannya.

“Pilihan… atau perasaan?”

Angin malam terasa lebih dingin.

Alya menahan napas sepersekian detik.

Ia bisa saja menghindar. Mengubah topik. Menertawakan pertanyaan itu.

Tapi ia lelah berpura-pura tidak merasakan apa pun.

“Kalau saya bilang saya mulai sulit membedakan keduanya?” jawabnya jujur.

Hening.

Bima tidak bergerak.

Tapi sesuatu di matanya berubah.

Ia melangkah satu langkah lebih dekat.

Jarak di antara mereka kini hanya sejengkal.

“Kontrak itu dibuat untuk melindungi kita,” katanya pelan.

“Dari apa?”

“Dari keputusan yang dibuat karena emosi.”

Alya menatapnya tanpa gentar.

“Dan kalau emosi itu tidak lagi lemah?”

Bima terdiam.

Ia tidak pernah merencanakan ini.

Pernikahan ini seharusnya sederhana.

Satu tahun.

Satu kesepakatan.

Selesai.

Namun setiap langkah yang mereka lalui bersama membuat garis itu semakin kabur.

“Alya,” ucapnya lebih dalam, “kalau kamu terluka karena ini, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.”

“Lalu jangan lukai saya.”

Jawaban itu datang cepat. Tegas.

Bima mengangkat tangan lagi. Kali ini tidak berhenti.

Ujung jarinya menyentuh rahang Alya dengan hati-hati, seolah ia menyentuh sesuatu yang rapuh padahal wanita itu tidak pernah terlihat rapuh.

Sentuhan itu ringan.

Tapi cukup untuk membuat jantung Alya berdegup lebih keras dari konferensi pers mana pun.

“Kamu tidak takut?” bisik Bima.

“Saya takut.”

“Takut apa?”

“Takut suatu hari kita selesai… tapi saya belum siap.”

Kata-kata itu menggantung di udara.

Bima tidak menarik tangannya.

Tidak juga mendekat lebih jauh.

Ia hanya berdiri di sana, menatap wanita yang awalnya hanya bagian dari rencana bisnisnya.

Dan menyadari sesuatu yang tidak pernah ia masukkan dalam kontrak—

Ia tidak ingin satu tahun ini berakhir sebagai formalitas.

“Alya,” katanya perlahan, “kalau suatu hari kontrak itu selesai… kamu masih ingin tinggal?”

Itu bukan perintah.

Bukan strategi.

Itu pertanyaan seorang pria.

Alya menatapnya lama.

Lalu menjawab dengan jujur,

“Kalau saya tinggal, itu bukan karena kewajiban.”

“Karena apa?”

Ia menelan pelan.

“Karena saya tidak ingin pergi.”

Hening.

Tidak ada ledakan dramatis.

Tidak ada pengakuan cinta yang berlebihan.

Hanya dua orang yang akhirnya mengakui bahwa batas yang mereka buat sendiri mulai retak.

Dan retakan itu tidak lagi bisa diabaikan.

Bima menarik napas pelan.

“Kalau begitu,” katanya tenang, “mulai sekarang… kita berhenti berpura-pura tidak merasakannya.”

Alya tidak mundur.

Tidak juga menjawab dengan kata-kata.

Ia hanya berdiri lebih dekat.

Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu dimulai, keheningan di antara mereka bukan karena jarak—

Melainkan karena mereka akhirnya berada di sisi yang sama.

Bukan hanya dalam perang bisnis.

Tapi dalam keputusan yang jauh lebih pribadi.

Dan malam itu, bukan Arsen, bukan media, bukan dewan direksi yang menjadi ancaman terbesar.

Melainkan fakta bahwa hati yang mulai kehilangan jarak…

tidak pernah bisa kembali sepenuhnya seperti semula.

1
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!