Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 Senyum Yang Tidak Sampai ke Mata
Draka datang Senin sore dengan sebotol wine mahal dan senyum yang sudah kukenal tidak bisa dipercaya.
Kali ini ada pemberitahuan — pesan singkat dari Revano pukul dua belas lewat yang isinya hanya: Draka akan ke penthouse sekitar pukul empat. Aku usahakan pulang sebelum itu. Tanpa penjelasan tambahan, tanpa instruksi khusus, tanpa apapun yang bisa kugunakan sebagai panduan selain fakta bahwa Revano mengirim pesan itu — yang berarti dia tahu, yang berarti kunjungan ini bukan sepenuhnya kejutan, yang berarti ada sesuatu tentangnya yang cukup penting untuk diinformasikan.
Aku menyimpan pesan itu dan kembali ke pekerjaan dengan konsentrasi yang tidak sepenuhnya kembali.
Revano tidak sempat pulang sebelum pukul empat. Pesannya masuk pukul tiga lima puluh tiga: Meeting molor. Draka sudah di lobby?
Aku mengecek ponsel. Satu menit kemudian, resepsionis menelepon untuk memberitahu ada tamu atas nama Draka Aldrich.
Aku mengetik ke Revano: Baru sampai lobby. Kamu kapan?
Balasannya: Lima belas menit. Jangan biarkan dia di ruang kerja.
Instruksi singkat. Tapi cukup.
Draka masuk ke penthouse dengan cara yang berbeda dari Oma Suri.
Kalau Oma Suri masuk seperti orang yang punya hak untuk ada di sana — tidak perlu membuktikan apapun, tidak perlu membuat kesan — Draka masuk seperti orang yang sedang mengaudit ruangan sambil berpura-pura berkunjung.
Matanya menyapu ruang tamu dengan cepat, cukup cepat untuk tidak terlihat seperti menyapu tapi cukup menyeluruh untuk tidak melewatkan apapun. Senyum lebarnya sudah terpasang sejak pintu terbuka — senyum yang di gala dinner sudah kucatat sebagai terlalu lebar, dan dalam jarak yang lebih dekat ini terbukti bahkan lebih terlalu lebar dari yang terlihat dari seberang ballroom.
"Ariana." Dia menyerahkan wine itu ke aku dengan kedua tangan — gestur yang terlihat hangat tapi terasa seperti serah terima dokumen. "Maaf baru bisa berkunjung. Minggu-minggu pertama pasti sibuk ya."
"Tidak terlalu." Aku menerima botolnya. "Silakan masuk, duduk."
Dia masuk. Duduk di sofa utama — bukan di salah satu sofa yang lebih kecil di sisi ruangan, tapi di sofa utama yang menghadap keseluruhan ruang tamu, yang dari posisi itu bisa melihat ke semua arah termasuk koridor yang membelah ke dua wing.
Pilihan tempat duduk yang tidak acak.
"Revano belum pulang?" tanyanya, menatap ke arah koridor dengan ekspresi yang casual tapi tidak sepenuhnya casual.
"Sebentar lagi." Aku duduk di sofa seberangnya, meletakkan botol wine di meja dengan cara yang tidak mengundang untuk dibuka sekarang. "Mau minum apa dulu? Ada kopi, teh, air."
"Air saja." Senyum. "Aku tidak mau merepotkan."
Kalimat yang diucapkan orang yang tidak sungguh-sungguh bermaksud demikian — karena orang yang sungguh-sungguh tidak mau merepotkan biasanya bilang tidak usah bukan air saja.
Aku ke dapur, mengambil dua gelas air, dan kembali dalam waktu yang cukup singkat untuk memastikan dia tidak punya terlalu banyak waktu sendirian di ruang tamu.
"Jadi," kata Draka ketika aku duduk kembali, dengan nada yang terdengar seperti orang yang baru memulai percakapan tapi sebenarnya sudah tahu ke mana akan dibawa, "dari mana asalmu, Ariana? Revano tidak banyak cerita tentang latar belakangmu."
"Depok." Jawaban yang aman. "Lahir dan besar di sana."
"Depok." Dia mengangguk seperti mencatat. "Keluargamu di sana?"
"Ibu saya."
"Bapak?"
"Sudah meninggal."
"Oh." Ekspresi yang berubah menjadi simpati — tepat waktu, proporsional, tapi terasa seperti ekspresi yang dipasang bukan yang muncul. "Maaf. Sudah lama?"
"Dua tahun."
"Hmm." Dia menyesap airnya. "Kamu kerja di bidang desain, ya? Aku dengar dari Hartono — katanya sempat bicara panjang di gala kemarin."
Informasi yang dia dapat dari Hartono — yang artinya dia memang berbicara dengan asisten Hartono setelah gala itu, seperti yang dilaporkan Kenzo. Dan sekarang menggunakannya untuk memulai percakapan dengan cara yang terlihat seperti basa-basi tapi sebenarnya mengukur seberapa banyak yang aku tahu tentang konteks malam itu.
"Iya, desain grafis." Aku tersenyum dengan cara yang sudah kulatih untuk klien yang bertanya terlalu banyak tentang hal yang bukan urusannya. "Freelance."
"Menarik." Jeda yang sedikit terlalu panjang untuk genuinely menarik. "Sudah lama di bidang itu?"
"Cukup lama."
"Dan kamu kenal Revano dari mana? Dia tidak pernah cerita ke aku." Tawa kecil yang dimaksudkan untuk terdengar santai. "Tiba-tiba sudah menikah saja. Aku bahkan tidak diundang ke pernikahannya."
"Kami memang tidak mengadakan acara besar." Jawaban yang sudah dilatih. "Lebih suka yang privat."
"Privat." Dia mengulang kata itu dengan nada yang tidak bisa kuidentifikasi sepenuhnya — bukan sinis, bukan menyetujui, tapi suatu titik di antara keduanya yang terasa seperti menunggu sesuatu. "Itu tidak seperti Revano biasanya. Dia biasanya sangat kalkulatif tentang citra publik."
"Mungkin ada hal yang lebih penting dari citra publik."
Draka menatapku. Untuk pertama kalinya sejak dia masuk, senyum itu sedikit tidak simetris — retak kecil di sudutnya yang mungkin tidak terlihat kalau tidak sedang mencari.
"Tentu saja," katanya. "Tentu saja ada."
Revano datang pukul empat dua puluh tiga.
Aku mendengar pintu sebelum melihatnya — dan ada sesuatu yang berbeda dari cara pintu itu terbuka dibandingkan malam-malam biasanya. Lebih cepat. Lebih langsung.
Dia masuk ke ruang tamu dengan jas yang masih rapi tapi dasi yang sudah dilonggarkan — persis kondisi yang biasa kulihat ketika dia pulang larut, tapi dengan ekspresi yang sedikit lebih terkontrol dari biasanya. Jenis terkontrol yang ada ketika seseorang sedang berusaha ekstra untuk terlihat tidak sedang berusaha ekstra.
"Draka." Satu kata. Nada yang netral sempurna.
"Rey." Draka berdiri, menjabat tangan saudaranya dengan tepukan di bahu yang terlihat akrab tapi terasa seperti dua orang yang sedang menilai kekuatan masing-masing. "Akhirnya. Sudah hampir setengah jam aku menemani istrimu."
"Aku tahu. Meeting molor." Revano duduk di sebelahku — bukan di sofa terpisah, tapi di sofa yang sama, dengan jarak yang cukup dekat untuk meyakinkan tapi tidak berlebihan. Tangannya tidak menyentuh apapun, tapi kehadirannya di sebelahku terasa seperti pernyataan yang tidak memerlukan kata-kata.
Draka melihat itu. Dan senyumnya naik sedikit.
"Kalian terlihat serasi," katanya. "Aku serius."
"Terima kasih sudah berkunjung." Revano mengambil gelas airnya dari meja — gelas yang kusediakan tapi belum sempat kuserahkan sebelum dia datang. "Ada yang perlu dibicarakan?"
Pertanyaan yang terdengar seperti pertanyaan tapi sebenarnya adalah cara halus untuk menanyakan apa tujuan sebenarnya kamu di sini.
Draka tertawa kecil. "Tidak bisa sekadar mengunjungi saudara sendiri?"
"Bisa. Tapi kamu biasanya tidak."
Hening sebentar — jenis hening yang ada di antara dua orang yang sudah lama saling mengenal cukup baik untuk tidak perlu berpura-pura di depan satu sama lain, tapi masih memilih untuk tetap berpura-pura karena ada penonton.
Aku adalah penonton yang dimaksud. Dan keduanya tahu itu.
Draka tinggal satu jam lagi.
Satu jam yang diisi dengan percakapan yang di permukaannya terlihat seperti obrolan keluarga biasa — tentang perusahaan, tentang acara yang akan datang, tentang Oma Suri yang rupanya mengunjungi Draka juga dua hari setelah ke penthouse kami — tapi yang di bawah permukaannya terasa seperti dua orang sedang bermain catur dengan buah-buah yang tidak kelihatan.
Aku berbicara ketika ditanya. Tidak lebih, tidak kurang. Menjawab dengan kalimat yang cukup panjang untuk sopan tapi tidak cukup panjang untuk memberikan informasi yang tidak perlu diberikan.
Di satu titik, Draka menatapku dengan cara yang berbeda dari semua tatapan sebelumnya — lebih langsung, lebih lama, seperti seseorang yang memutuskan untuk melepas satu lapis pertahanannya untuk melihat apakah yang di depannya akan melakukan hal yang sama.
"Kamu tidak banyak bicara tentang dirimu," katanya.
"Saya lebih suka mendengarkan."
"Atau lebih suka tidak memberikan terlalu banyak."
Aku tersenyum. "Keduanya bisa benar sekaligus."
Di sebelahku, Revano mengangkat cangkirnya ke mulut — tapi dari sudut mata, aku menangkap sesuatu di caranya melakukan itu. Sesuatu yang kalau harus kuberi nama, mungkin paling dekat dengan: lega.
Draka akhirnya pamit pukul lima lebih dua puluh.
Di pintu, dia berpaling ke aku dengan senyum yang — untuk pertama kalinya sejak dia datang — terasa sedikit lebih kecil dari biasanya. Lebih terkontrol. Seperti seseorang yang sudah selesai mengukur dan menyimpan hasilnya untuk digunakan nanti.
"Senang sudah kenal lebih dekat, Ariana." Jabat tangan yang sedikit lebih lama dari perlu. "Semoga kita bisa sering bertemu."
"Tentu," jawabku.
Pintu menutup.
Revano dan aku berdiri di ruang tamu yang tiba-tiba terasa lebih luas dari satu jam lalu.
Dia menatap pintu yang baru ditutup selama beberapa detik, dengan ekspresi yang tidak mudah dibaca tapi juga tidak sepenuhnya tertutup — ada sesuatu di sana, di bawah lapisan terluarnya yang selalu terkontrol, yang terasa seperti kelelahan yang sudah lama ada sebelum Draka datang hari ini.
"Kamu baik-baik saja?" tanyaku.
Revano mengalihkan tatapannya dari pintu ke aku. "Harusnya aku yang tanya."
"Aku duluan."
Jeda singkat. Dia menghembuskan napas — kecil, hampir tidak terdengar, tapi ada.
"Tidak ada yang mengganggumu tadi?"
"Banyak yang menggangguku tadi," jawabku jujur. "Tapi tidak ada yang sampai ke level masalah."
"Pertanyaannya spesifik?"
"Spesifik tapi masih dalam batas yang bisa ditangani." Aku duduk di sofa — sofa yang sama, tapi kali ini sendiri. "Dia ingin tahu kita kenal dari mana. Latar belakangku. Kenapa pernikahannya privat."
"Kamu jawab apa?"
"Jawaban yang cukup untuk sopan tapi tidak cukup untuk berguna bagi siapapun yang mencari lebih dari itu."
Revano menatapku. Sesuatu di matanya bergerak — bukan terkejut, tapi seperti seseorang yang baru mengkonfirmasi sesuatu yang sudah diperkirakan tapi belum yakin.
"Terima kasih," katanya.
"Tidak perlu berterima kasih. Ini bagian dari—"
"Bukan karena kontrak." Dikatakan dengan nada yang berbeda dari biasanya — sedikit lebih pelan, sedikit lebih langsung. "Terima kasih karena kamu tahu harus berhenti di mana tanpa harus diberitahu."
Aku menatapnya sebentar. Lalu mengangguk — kecil, menerima tanpa membesar-besarkan.
"Revano." Aku ragu sebentar. "Draka — seberapa jauh yang bisa dia lakukan?"
Revano mengambil botol wine yang masih belum dibuka dari meja, menatapnya sebentar seperti mempertimbangkan sesuatu, lalu meletakkannya kembali.
"Cukup jauh," jawabnya akhirnya. "Kalau dia punya alasan yang cukup."
"Dan kunjungan hari ini?"
"Pengukuran." Dia menatap pintu sekali lagi. "Dia ingin tahu seberapa kuat posisi kita."
"Dan?"
Revano mengalihkan tatapannya kembali ke aku. Untuk pertama kalinya sore ini, ada sesuatu di ekspresinya yang tidak sepenuhnya bisa dikategorikan sebagai dingin atau hangat — sesuatu di antaranya, yang malam ini memilih untuk tidak bersembunyi sepenuhnya.
"Cukup kuat," katanya. "Untuk sekarang."
Dua kata terakhir itu menggantung di udara dengan berat yang tidak kecil. Aku menyimpannya — di tempat yang sama dengan semua potongan kecil lain yang sudah kukumpulkan sejak empat belas hari lalu, yang belum membentuk gambar utuh tapi sudah mulai punya konturnya.
Untuk sekarang.
Artinya ada yang bisa berubah. Artinya ini belum selesai.
Artinya Draka Aldrich dengan senyumnya yang tidak sampai ke mata belum selesai mengukur apapun yang dia datang untuk ukur hari ini.
Dan aku perlu siap untuk itu — dengan cara yang bahkan belum sepenuhnya kumengerti bentuknya.
— Selesai Bab 14 —