“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”
Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.
Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.
Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.
Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog (1)
“Fang Yu, kamu di mana…? Kakak sudah pulang membawa makanan kesukaanmu, jadi segera kemari, adikku.”
Fang Yi memanggil sambil tersenyum. Wajah dan bajunya masih kotor setelah seharian bekerja di penginapan. Meski tubuhnya lelah, hatinya terasa ringan. Di tangannya tergenggam bungkusan hangat—sup iga babi, makanan favorit adiknya.
Ia baru saja kembali dari penginapan tempatnya bekerja. Hari ini ia sengaja menyisihkan sebagian upahnya untuk membeli sesuatu yang jarang bisa mereka nikmati. Biasanya ia hanya mampu membelikan sup iga babi sebulan sekali, tetapi ini sudah yang kedua kalinya dalam bulan yang sama.
Namun rumah kecil mereka terasa terlalu sunyi.
“Fang Yu?” panggilnya lagi, kali ini dengan nada sedikit cemas.
Ia melangkah ke dapur kecil, lalu ke ruang tidur, dan kembali ke ruang depan. Tidak ada siapa-siapa. Senyum di wajahnya perlahan memudar, digantikan rasa khawatir.
“Fang Yu!? Kamu tahu kan kakak tidak suka dijahili seperti ini.”
Dengan tubuh mulai gelisah, ia terus mencari sambil tetap membawa bungkusan sup itu di tangannya. Hatinya tak tenang.
Tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya.
“KAKAK! Aku di sini, xixi!”
Fang Yu muncul dari balik pintu dengan tawa kecil, masih bersembunyi setengah badan.
Rasa cemas Fang Yi seketika lenyap. Napasnya yang sempat tercekat kini terasa lega saat mendengar suara adiknya.
“Bwaaa! Haha, kamu ketakutan ya, Kak?” seru Fang Yu sambil berlari, lalu melompat hendak memeluk kakaknya dari belakang.
“Hah… kamu nakal, Fang Yu. Cepat turun sekarang. Kakak belum mandi,” keluh Fang Yi, tangan kanannya masih memegang sup iga babi, sementara tangan kirinya berusaha menopang tubuh adiknya yang menurutnya sudah cukup berat.
“Wahhh… iga babi!” Mata Fang Yu langsung berbinar. “Kakak, kakak dapat dari mana uang untuk beli ini?”
Ia menunjuk bungkusan di tangan kakaknya dengan penuh rasa penasaran. Baginya, sup iga babi adalah makanan mewah. Setiap hari mereka hanya makan roti tawar atau makanan sederhana lainnya. Wajar jika ia heran.
Fang Yi berjongkok, lalu mengusap kepala adiknya dengan lembut.
“Sudah, jangan terlalu banyak berpikir. Nanti kamu tidak bisa tinggi kalau kebanyakan mikir begini,” ujarnya sambil tersenyum. “Kakak dapat uang tambahan dari pemilik penginapan. Sudah ya, jangan tanya lagi. Kakak mau mandi dulu. Kamu siapkan piring dan mangkuk.”
Fang Yi dan Fang Yu adalah anak yatim piatu. Dahulu, mereka sebenarnya pewaris keluarga Fang—sebuah keluarga terkemuka di wilayah barat. Namun nasib buruk menghampiri ketika Fang Yi masih berusia lima tahun.
Keluarga mereka bangkrut. Hutang menumpuk di mana-mana. Seluruh warisan dan aset dirampas sebagai pembayaran. Mansion besar di wilayah barat yang dulu menjadi kebanggaan keluarga pun jatuh ke tangan para penagih hutang.
Di masa sulit itu, sang patriark keluarga Fang meninggal dunia karena tekanan dan beban pikiran yang terlalu berat. Ia tak mampu menahan stres, meninggalkan istri dan kedua anaknya dalam keadaan terpuruk.
Ibu mereka berusaha tetap tegar. Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, ia melunasi seluruh hutang keluarga dengan menyerahkan semua kepemilikan yang tersisa. Namun di balik ketegarannya, ia menyimpan rahasia—ia tengah mengandung delapan bulan.
Ia memilih tidak memberitahukan kondisi itu kepada suaminya agar tidak menambah beban pikirannya. Keputusan yang kemudian ia sesali ketika suaminya pergi untuk selamanya.
Sebulan setelah kematian sang patriark, lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Fang Yu.
Namun penderitaan belum berhenti. Tekanan batin, kehilangan, dan kesulitan hidup membuat ibu mereka semakin rapuh. Ketika Fang Yu berusia lima tahun dan Fang Yi sepuluh tahun, sang ibu akhirnya menyusul suaminya.
Sejak saat itu, Fang Yi yang masih sepuluh tahun harus menjadi tulang punggung keluarga.
Ia bekerja serabutan di penginapan milik seseorang yang dulu pernah dibantu ibunya saat membangun usaha. Ia mengelap meja, mengepel lantai, menyapu, memindahkan barang, menyambut tamu, dan menghidangkan makanan. Ia melakukan apa pun yang bisa ia lakukan demi menghidupi dirinya dan adiknya.
Dan begitulah kehidupan mereka—hanya berdua, saling menguatkan.
Kembali ke masa kini.
Fang Yi selesai mandi dan berjalan ke kamar untuk berganti pakaian.
“Sial… uang yang kudapat dari penginapan cuma lima koin perak. Lima koin seharusnya cukup untuk makan lima hari,” gumamnya pelan sambil menatap cermin dan mengeringkan rambutnya dengan kain. “Tapi aku teringat Fang Yu dan membelikannya iga babi. Harganya sekarang sudah naik jadi tiga koin perak…”
Ia menghela napas, lalu tersenyum kecil pada bayangannya sendiri sebelum berjalan menuju ruang makan.
Di sana, Fang Yu sudah duduk rapi dengan mata berbinar dan senyum lebar.
“Kenapa tidak dibuka? Kamu menunggu kakak?” tanya Fang Yi.
“Iya! Masa aku makan sendirian?”
Di dalam hati kecilnya, Fang Yu merasa tidak pantas makan lebih dulu tanpa kakaknya yang sudah bekerja keras sepanjang hari. Ia ingin makan bersama, seperti keluarga sungguhan.
“Baiklah, ayo cepat makan lalu tidur.”
“Kenapa langsung tidur? Aku mau dibacakan cerita sama kakak… Aku juga belum dengar cerita apa saja yang terjadi di penginapan.”
Tatapan Fang Yu begitu penuh harap. Tingkahnya yang polos membuat rasa lelah Fang Yi perlahan menghilang.
“Baik, baik,” ujar Fang Yi sambil tertawa kecil. “Kamu ingat hyung yang tiga hari lalu kakak ceritakan? Hari ini dia tidak datang ke penginapan sama sekali. Katanya kemarin dia berhasil merebut kembali kehormatannya.”
Sambil menikmati sup iga babi, Fang Yi mulai bercerita tentang Wang Zigang—seorang pria yang ia anggap sebagai hyungnya di tempat kerja.
Di penginapan itu ada tradisi aneh jika terjadi perselisihan. Dua orang akan menancapkan pisau di atas meja, masing-masing meletakkan satu tangan di atasnya, lalu saling menyerang tangan lawan sampai salah satu menyerah. Wang Zigang yang telah kehilangan dua jari dalam duel sebelumnya, mencoba merebut kembali kehormatannya.....dan ia berhasil.
“Wah… kejam sekali,” ujar Fang Yu dengan wajah kagum bercampur takut. “Kakak tidak ikut yang seperti itu, kan?”
Ada kekhawatiran tulus dalam suaranya. Ia takut suatu hari kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Fang Yi hanya tersenyum dan menggeleng ringan.
Tanpa terasa, waktu berlalu cepat di antara cerita dan tawa kecil mereka. Malam semakin larut.
“Kamu masuk kamar dulu. Kakak mau ke belakang, sekalian mencuci piring dan mangkuk,” kata Fang Yi.
“Iya, Kak. Cepat ya, jangan lama-lama… aku takut kalau sendirian.”
“Iya, kakak cepat kok. Sana, cepat.”
Fang Yu masuk ke kamar, sementara Fang Yi membereskan meja.
Hujan mulai turun perlahan, membasahi genteng rumah kecil mereka. Suasana terasa hangat dan tenang.
Namun tiba-tiba—
JLAR!
Sebuah suara keras memecah keheningan malam.