💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Setelah Cia, Vano, dan Varo menghilang dari pandangan, Aksa menghela napas panjang. Ia mengacak rambutnya, ekspresinya menunjukkan sedikit frustrasi. Cia memang sangat berbeda tidak seperti cewek-cewek lain yang biasanya langsung terpesona padanya.
"Santai, Bos. Nggak semua cewek langsung klepek-klepek sama cowok tampan, apa lagi Cia yang juga di kelilingi cowok tampan! Kembar lagi!" ujar Galang, menepuk bahu Aksa. Ia bukannya berusaha menyemangati sahabatnya malah terkesan menyindirnya.
"Kapan lagi lihat Aksa frustasi karena cewek!" batin Galang jahil.
"Iya, Bos. Mungkin Cia cuma belum kenal lo aja. Nanti juga luluh sendiri," timpal Bima, memberikan dukungan. Ia tahu, Aksa itu sebenarnya orang yang baik dan perhatian, hanya saja kadang terlalu dingin dan percaya diri.
"Yang penting jangan nyerah, Bos. Kalo lo beneran suka sama dia, kejar terus sampe dapet, kita-kita akan dukung lo 1000% jika perlu!" sahut Arya, memberikan semangat. Ia merasa Cia cewek yang cocok dengan Aksa.
Aksa tersenyum tipis, merasa sedikit lebih baik dengan dukungan dari sahabat-sahabatnya. "Gak ada kata nyerah dalam kamus Aksa!" ujarnya, penuh tekad. Ia sangat menyukai tantangan, apalagi dalam hal yang membuatnya tertarik.
"Yuk cabut! Kita langsung balik markas aja. Gue pengen latihan basket lagi," ajak Aksa, naik ke motor sportnya. Ia menyalakan mesin motor dan melaju kencang meninggalkan area parkir, diikuti oleh Galang, Bima, dan Arya di belakangnya. Mereka tahu, basket adalah cara Aksa untuk menghilangkan stres dan menjernihkan pikirannya.
______&&_____
Di sisi Cia, Vano, dan Varo mereka membelah jalan dalam diam. Masing-masing dari mereka memikirkan tentang kejadian di sekolah tadi.
Namun, begitu sampai di mansion mereka berusaha melupakan semua itu dan kembali ke rutinitas mereka masing-masing.
Sesampainya di kamar, Cia melempar tasnya ke sembarang tempat dan merebahkan diri di tempat tidur. Beberapa menit kemudian, ia merasa bosan dan memutuskan untuk mengunjungi Varo di kamarnya. Dengan langkah ringan, Cia berjalan menuju kamar Varo yang berada di ujung lorong tepat di hadapan kamar Vano.
"Varo! Lagi ngapain lo?" teriak Cia sambil mengetuk pintu kamar Varo dengan keras.
"Berisik banget sih lo, Cia! Masuk aja gak di kunci!" sahut Varo dari dalam kamar.
Cia membuka pintu dan masuk dengan santai. Ia melihat Varo sedang duduk di depan televisi sambil bermain PS.
"Asik banget main PS. Gue ikutan dong!" kata Cia, langsung merebut stik PS dari tangan Varo.
"Eh, enak aja lo! Gue lagi seru-serunya nih," protes Varo, berusaha merebut kembali stiknya.
"Udah deh, sekali-kali lo ngalah sama adik lo yang imut ini," balas Cia, sambil memasang wajah sok imutnya.
Akhirnya, Varo mengalah dan membiarkan Cia bermain. Mereka berdua bermain dengan seru dan saling mengejek jika ada yang kalah.
Tiba-tiba, pintu kamar Varo terbuka dan Ratu, ibu mereka, masuk dengan senyum hangat. Namun tak lama senyum itu berganti dengan tatapan tajam tertuju pada putrinya yang masih memakai seragam sekolah.
"Ciaaa! Kok malah langsung main bukan ganti seragam dulu!" nasehatnya tegas.
Cia hanya nyengir tanpa rasa bersalah. "tanggung Mam, bentar lagi sekalian mandi sore!"
"Kamu ini ya! Tapi ya sudah lah Mama penasaran banget bagaimana hari pertama di sekolah baru kalian? Seru nggak?" tanya Ratu, mengabaikan seragam Cia.
Cia dan Varo menghentikan permainan mereka dan menatap Ratu dengan senyum ceria.
"Seru banget, Ma! Apalagi Cia, langsung dapat penggemar di sekolah baru," jawab Varo, menggoda Cia.
"Ah, bohong! Biasa aja kok, Ma," sangkal Cia, tersipu malu dan jiga kesal sama kejahilan Varo.
"Beneran lho, Ma. Cia langsung jadi inceran ketua geng motor sekaligus ketua basket SMA garuda," timpal Varo, semakin gencar menggoda Cia.
Ratu tertawa kecil. "Wah, anak Mama emang pesonanya nggak ada obatnya ya. Baru juga pindah sekolah udah langsung jadi primadona," ujarnya, sambil mencubit pipi Cia dengan gemas. "Siapa sih yang bisa menaklukkan si ratu bar-bar ini? Ketua geng motor? Wah, selera kamu tinggi juga ya, Cia," godanya mengedipkan matanya pada Varo.
Cia mendengus kesal. "Ih, Mama sama Varo sama aja. Nyebelin! Aku nggak suka sama cowok resek itu!" bantah Cia, mengerucutkan bibirnya.
Ratu dan Varo menahan tawa, lalu setelahnya tersenyum lembut dan mengelus rambut Cia dengan sayang. "Iya, Mama percaya kok sama kamu. Mama cuma mau bilang, hati-hati ya, Sayang. Berteman boleh sama siapa aja, tapi jangan sampai kamu kehilangan diri kamu sendiri. Jangan sampai kamu melakukan sesuatu yang bisa membahayakan diri kamu sendiri dan orang lain, oke?" Ratu menatap Cia dengan tatapan lembut namun penuh peringatan. Ia percaya pada anak-anaknya, tapi ia juga ingin memastikan mereka selalu berhati-hati.
Cia mengangguk, mengerti akan kekhawatiran mamanya. "Iya, Mam. Cia janji akan selalu hati-hati," jawabnya sambil nyengir.
Ratu tersenyum dan mengelus rambut Cia dan Varo dengan sayang. "Yaudah, Mama mau bantu-bantu siapin makan malam dulu. Kalian jangan lupa mandi terus turun makan malam," ujarnya, meninggalkan kamar Varo.
Setelah Ratu pergi, Cia langsung menatap tajam Varo. "Lo ya punya mulut ember banget sih!" kesal Cia menggeplek kepala Varo dengan bantal sofa di pangkuannya.
"Ampun Cia ... gue hanya bercanda kok! kilahnya sambil lari menjauh dari amukan Cia sambil nyengir.
_______&&______
Sementara itu, di kamarnya, Vano sedang memainkan gitar dengan perasaan yang campur aduk. Ia memikirkan tentang Senja, gadis misterius yang menarik perhatiannya di sekolah. Ia juga memikirkan tentang Aksa yang teihat jelas tetarik sama Cia.
Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka lebar dan Cia masuk dengan wajah cemberut.
"Kenapa lo? Mukanya kusut banget kayak cucian belum disetrika," tanya Vano, menghentikan permainannya. Ia menatap Cia dengan tatapan menyelidik, menebak-nebak apa yang ada di pikiran saudaranya itu.
Cia duduk di tepi tempat tidur Vano dan menghela napas. "Gara-gara kembaran lo itu, Varo! Mulutnya ember bangat, ia ngadu ke Mama di sekolah ada yang suka sama gue!" curhat Cia dramatis.
"Ck! Kembaran lo juga kali!" sahut Vano menggelengkan kepalanya ia sudah sangat hafal kelakuan dua saudara kembarnya itu.
"Eh ... tapi gue penasaran juga sama Aksa," lanjutnya, mengakui apa yang sebenarnya ia rasakan.
Vano mengangkat alisnya, tertarik. "Penasaran? Maksud lo?" tanyanya, pura-pura tidak tahu.
Cia memutar bola matanya malas. "Ya elah, nggak usah pura-pura bego deh. Gue pengen tau pendapat lo tentang tuh cowok! Menurut lo, Aksa itu gimana?" tanyanya, dengan nada serius.
Vano berpikir sejenak. Ia memang baru mengenal Aksa, tapi ia punya beberapa kesan tentang cowok itu. "Hmm ... menurut gue, Aksa itu lumayan keren sih. Ketua geng motor, tampang oke, pastinya tajir juga. Tapi ya ... biasa aja. Nggak ada yang spesial," jawab Vano, dengan nada datar.
Cia mendesah kesal. "Bukan itu maksud gue! Maksud gue, menurut lo Aksa asik nggak sih kalo dijadiin temen? Gue tertarik sama geng motornya," ujarnya, dengan nada bersemangat.
Vano menyeringai, menggoda Cia. "Tertarik sama geng motornya, atau sama ketua geng motornya?"
Cia mendelik tajam ke arah Vano. "Ah, Vano! Gue nggak ada waktu buat mikirin tuh cowok resek nyebelin. Gue cuma tertarik sama geng motornya. Kayaknya seru aja gitu bisa ikut nongkrong sama anak motor," bantah Cia, dengan nada kesal.
Vano tertawa kecil melihat wajah kesal adik kembarnya. Sangat menggemaskan.
Lalu Cia menyeringai jahil. "Lo tuh baru hari pertama udah dapet cewek aja. Nggak nyangka gue, Vano yang dingin dan tak tersentuh bisa secepat itu dekat sama cewek," cetus Cia balik menyerang Vano.
Vano mengerutkan keningnya. "Maksud lo apaan sih? Gue cuma pengen berteman sama dia. Lagian, kayaknya Senja butuh temen, jadi nggak ada salahnya kan?" bantah Vano, dengan nada santai.
Cia menyeringai. "Ah, yang bener? Gue kok nggak percaya ya," ledek Cia, semakin menjadi-jadi.
Vano mendengus kesal. "Terserah lo deh! Sana keluar, kalo kesini cuma mau ngeledekin gue!" usir Vano, sambil sedikit mendorong tubuh Cia.
Cia tertawa terbahak-bahak. "Eh, kok salting? Jadi beneran lo suka sama Senja? Wah, Papa Mama wajib tahu ini!" seru Cia, dengan nada riang.
Vano langsung membekap mulut Cia dengan tangannya. "Wah, parah lo, Cia! Jangan aneh-aneh deh! Gue nggak ada apa-apa ya sama Senja!" bantah Vano, dengan nada sedikit panik dengan ancaman Cia.
Cia melepaskan diri dari Vano dan menyeringai licik. "Hahaha ... tenang aja, rahasia aman sama Cia. Asal ada pajaknya!"
Bersambung ....
🤭🤭
kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,