NovelToon NovelToon
LAKSANA SAMUDRA

LAKSANA SAMUDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Inar Hamzah

Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.

Dandelion, adakah kesempatan untukku ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KAMU MERASA ?

Mobil yang di kendarai Rico segera memecah jalanan, sesekali ia melirik perempuan disampingnya. Sedang yang di sampingnya hanya menampilkan raut wajah yang cemberut.

“De.”

Deya hanya menjawab dengan deheman, ia tak berniat membuka pembicaraan sore itu. Helaan nafas pasrah terdengar dari Rico. Membuat Deya langsung menoleh.

“Kamu nggak Ikhlas ngajak aku ke cafe itu ?”

“Haaa, maksudnya ?”

“Iya itu, kamu nafas kayak berat banget. Keliatan banget kalau kamu sebenarnya nggak ikhlaskan nemenin aku.”

“Mana ada De, aku hanya bingung sama sikap kamu sekarang.” Jelasnya dengan gemas.

“Alasan.” Ucap gadis itu jengkel dan memilih untuk memberikan sapuan tipis di wajahnya.

Setibanya di cafe baru itu, sungguh sesak, hampir saja mereka tak mendapat tempat duduk.

“Rame banget sih ini.” Deya mulai tak nyaman.

“Mau pindah ke cafe yang lain aja ?” Tawar Rico.

“Di sini aja, kan mau nyoba in makanan disini.”

Rico mengangguk menyetujui, laki-laki itu berkata dalam hati. “Deeeh, sore-sore harus nahan tensi naik gara-gara gigi Singa ini.”

Mereka menunggu makanan yang di pesan sekitar tiga puluh menit. Semakin saja membuat Deya semakin jengkel. Dia memperhatikan Rico dari atas hingga bawah, mulai di sadarinya bahwa Rico tak seperti pertama mereka bertemu. Wajah laki-laki itu semakin terurus, penampilannya semakin rapi.

Melihat Deya yang memperhatikannya dari atas hingga bawah, membuat Rico mengangkat dagu dan bertanya. “Kenapa ?”

Deya menyergitkan dahinya. “Kamu menyembunyikan apa dari aku ?”

Tidak mengerti dengan pertanyaan Deya membuatnya menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Memangnya aku menyembunyikan apa ?” Rico balik bertanya.

“Teman ku bilang kalau kamu itu nggak baik.”

Jawabnya sambil mencicipi piring yang berisi makanan di depannya.

“Teman mu yang mana ?”

“Teman kantorku.” Sendok yang di tangannya meluncur ke dalam piring yang ada di depan Rico. “Nyoba.”

“Memang teman kantor mu tau siapa aku ?” Sekarang Rico yang balik bertanya. “Enak ?” Saat melihat Deya mengunyah makanan dari dalam piringnya.

Gadis itu hanya mengangguk pelan dan lanjut menikmati makanan dalam piringnya.

“Mau tukar ?” Rico bertanya.

Gelengan diperlihatkan oleh Deya. “Tau lah, anak pak Handoko yang menjadi salah satu nasabah penting kami.”

“Calon mertua mu itu.”

Tak menggubris ucapan Rico, Deya memilih menikmati makanannya. “Memangnya kamu itu sebenarnya menyembunyikan apa sih, sampai-sampai temanku ngomong kalau kamu itu nggak baik orangnya.” Deya kembali bertanya.

“Menurut mu aku menyembunyikan apa ? Kamu merasa aku tidak baik ?

“Iya nggak tau, makanya aku tanya kan.”

“Kalau itu menurut temanmu aku tidak baik, iya biarkan saja. Itu kan pandangan mereka, yang penting aku berusaha untuk menjadi baik. Kamu mau percaya aku atau teman mu itu juga haknya kamu.” Jelas Rico panjang lebar.

Anggukan kepala ditunjukkan Deya sebagai tanda setuju.

“Cowok atau cewek yang bilang kalau aku tidak baik ?”

“Cowok.”

Senyum lebar Rico sunggingkan, “Dia suka sama kamu kayaknya De.”

“Idih ngaco.”

“Iya, kalau cowok yang bilang gitu kemungkinan besar di suka kamu, tapi kalau cewek yang bilang gitu kemungkinan dia suka sama aku.” Kelakar Rico sambil menaik turun kan alisnya.

Hampir saja kotak tissue melayang ke wajahnya, andai saja ia tak menghindar.

Triing,,

Sebuah notif pesan masuk ke ponsel pintar Rico, laki-laki itu melirik dengan ekor matanya dan membuka pesan tersebut. Dengan raut wajah yang semakin masam dia membaca kata demi kata isinya. Kini wajahnya terlihat sudah tak bersemangat lagi.

“Ada masalah ?” Tanya Deya setelah menelan air yang diteguknya.

Rico mengangguk lemah.

“Ya sudah, ayo pulang. Kamu di suruh pulang kan ?” Deya mengangkat diri dari kursi.

Gelengan Rico membuat Deya urung beranjak dari kursi. “Aku harus ke luar kota besok, ada kerjaan yang menunggu ku De. Ini mendadak, sebenarnya aku berangkat dua minggu lagi.”

“Besok banget ya ?”

“Iya besok pagi.”

Wajah Deya menampakkan kekecewaan, Rico bisa menangkapnya dari tatapan sendu gadis itu. “Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kamu kerjakan, tapi jika itu baik semoga keberkahan dan lindungan Allah selalu ada bersama setiap langkah mu.” Ucap Deya dalam hati dengan penuh harap.

“Maaf De, aku belum bisa menjelaskan apa yang ku kerjakan. Tapi nanti pasti akan ku jelaskan semuanya tanpa ada yang ku tutupi.” Rico menatap Deya yang juga memandangnya kini.

***

Jika sore hingga senja memperlihatkan dirinya dikaki langit, Rico dan Deya menghabiskan waktu berdua. Namun, saat warna orange matahari terbit keesokannya pesan pamit dari Rico sudah terlihat dilayar depan ponsel Deya.

“Selamat pagi gigi Singa, belum bangun kan ? Iyalah belum ini aja masih jam setengah lima pagi. Aku pamit ya De, aku belum tau kapan balik nih. Baik-baik ya, jangan pernah ngambek ke orang lain, cukup ke aku aja. Sampai jumpa gigi Singa.”

Pesan pamit itu, dibukanya saat ia sudah sampai di kantornya. Jari lentiknya mulai mengetik balasan pesan pamit itu.

“Iya, selamat pagi. Hati-hati ya. Kembalilah seperti saat kamu pergi. Jangan kenapa-kenapa.”

Setelah menekan ikon hijau untuk mengirim, Deya langsung beralih menuju meja kerjanya dan melayani para customer yang semakin ramai.

***

Waktu berlalu bagai hembusan angin, hari ini tepat satu bulan Rico berurusan dengan pekerjaanya. Beberapa kali mereka saling bertukar kabar, namun pesan terkahir Deya kini belum terbaca bahkan masih belum diterima oleh Rico.

“Dir, semua pesanan Diana sudah selesaikan ?” Tanya pada Dira.

Hari ini hari Minggu, dan Deya memilih untuk membantu Dira di toko foto copy, sekalian dia mengecek stok tokonya mulai habis.

“Selamat pagi mbak Deya, Dira.” Salam Diana yang baru saja tiba dari kosannya.

“Selamat pagi.” Ucap Deya dan Dira bersamaan.

“Yang kemarin sudah kan ?”

“Oh sudah, itu dalam kardus itu. Kamu cek saja dulu siapa tau ada kekeliruan atau kekurangan.” Tunjuk Deya pada kardus yang berada di atas meja samping etalase toko.

Diana terlihat membolak-balik beberapa tumpukan kertas dari dalam kardus itu dan merapikannya kembali. Namun sesaat kemudian gadis itu menampakkan kebingungan. Dia menyipitkan matanya dan memperhatikan motornya bergantian dengan kardus di depannya.

“Kamu kenapa ?” Tanya Deya ditengah sibuknya mengecek.

“Kok kayak nggak muat ya mbak di depan motorku.”

“Perlu bantuan ?”

“Iya, iya mbak.” Diana langsung mengakui bahwa ia membutuhkan bantuan.

“Sebelumnya, berkas-berkas ini mau kamu bawa kemana ? Dan sepertinya ini bukan tugas mu, karena dari namanya saja tidak ada kata Diana.”

“Ini punya kakak sepupu saya mbak, dia meminta tolong pada saya. Saat ini dia dirumah. Jadi saya antarkan ini ke rumah. Dia akan bawa balik hari ini untuk besok di presentasikan.” Jelas Diana sambil menatap wajah Deya kagum. “Pantas saja abang menyukainya, manis gini kok.” Ucapnya dalam hati.

“Aku minta Dira buat temenin kamu antar kerumah mu ya.” Saran Deya.

“Mbak aja gimana ?”

“Nggak bisa deh, aku kan lagi ada kerjaan.” Tolak Deya.

“Saya saja yang lanjutkan kerjaannya mbak Deya.” Dira langsung menawarkan diri.

Deya sudah tak ada lagi alasan untuk menolak, dengan raut wajah terpaksa dia mengangguk dan memilih dia yang mengendarai motornya. Sedangkan Diana memangku kardus itu dibelakang.

“Duh, yang punya kerjaan siapa, yang repot siapa.” Gerutu Diana saat menaiki motor.

Sepanjang jalan, mereka hanya berbasa-basi, mulai dari kerjaan Deya, kegitan Diana yang tiap hari harus nugas. Tak jarang dia menangis karena kecapekan. Hingga alasan dia memilih untuk kos saat kuliah, padahal rumah orang tuanya dengan kosnya masih satu kota.

Motor yang di kendarai Deya kini memasuki kompleks perumahan Diana, itu artinya rumah Rico juga. Semakin dekat perasaan Deya semakin tak karuan, jantungnya seperti sedang marathon, tangannya mendadak dingin.

“Di depan situ mbak.” Ucap Diana sambil menunjuk rumah dua lantai dengan gerbang warna hitam.

Deya berhenti sempurna di depan rumah itu, Diana meminta Deya untuk membunyikan klakson berkali-kali.

“Assalamualaikuuuum, Ini Diana mau nganter pesanan berkas-berkas orang di dalam rumah ini. Spadaaaa.” Teriaknya berharap salah satu dari orang yang ada di dalam rumah itu segera keluar.

Dia menunggu beberapa saat dan mulai berteriak lagi. “Spadaaaa. Pakeeeet.” Kali ini lebih nyaring dan keras.

“Iya, iya. Waalaikumussalam.” Jawab seseorang yang tergopoh-gopoh membuka pintu gerbang.

Deya cukup terkejut saat melihat si empunya suara, kedua manik mereka beradu dan Deya menampilkan senyum canggung. Sedangkan wanita paruh baya di depannya hanya tersenyum simpul.

“Ibu, tolooong Ana, pegangin. Pegel ini dari tadi. Kasian juga mbak Deya.” Cerocosnya dan berusaha turun dari motor.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!