NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29 Sang Arsitek dan Runtuhnya Menara Es

Langit di atas pegunungan Himalaya bukan lagi berwarna biru, melainkan berubah menjadi abu-abu logam yang dipenuhi oleh ribuan garis emas—garis-garis Garis Waktu Primer yang kini tampak telanjang di mata manusia. Pusaran raksasa di awan perlahan memadat, membentuk sosok raksasa setinggi gunung yang mengenakan jubah dari kumpulan rasi bintang. Inilah The Architect dalam wujud aslinya, sang pemegang cetak biru semesta.

"Saka Ardiansyah," suara Sang Arsitek menggelegar, membuat puncak-puncak es di sekitar akademi runtuh menjadi longsoran dahsyat. "Kau adalah noda yang menolak dihapus. Kau mencuri tubuh dari kematian, dan sekarang kau mengacaukan frekuensi penciptaan. Keberadaanmu adalah anomali yang harus disterilkan."

Dekan Silas dan para Sentinel akademi berlutut. Mereka tahu, melawan Sang Arsitek adalah tindakan bunuh diri secara metafisika. Namun, Saka berdiri tegak. Ia merenggangkan jemarinya, merasakan aliran darah dan otot yang kini terasa sangat nyata.

"Nit, tetap di belakangku," perintah Saka. Ia merasakan Arloji Void di dadanya berdenyut kencang, memberikan informasi tentang kelemahan struktur realitas di sekitar mereka.

Saka melompat ke udara. Tanpa sayap, ia bergerak menggunakan pijakan dari "detik-detik yang membeku" di udara. Ia melesat menuju wajah raksasa tersebut. Dengan tubuh fisiknya yang baru, Saka mampu menyalurkan Tinta Keabadian secara langsung ke tinjunya.

BUM!

Pukulan Saka menghantam pipi Sang Arsitek, menciptakan gelombang kejut yang menyapu awan hingga radius sepuluh kilometer. Namun, raksasa itu bahkan tidak bergeming. Sang Arsitek hanya menjentikkan jarinya, dan seketika gravitasi di sekitar Saka meningkat sejuta kali lipat.

Saka jatuh menghantam lantai aula akademi hingga retak sedalam lima meter. "Uhukk!" Saka memuntahkan darah. Tubuh manusia, meski kuat, tetap memiliki batas rasa sakit.

"Kau ingin menjadi manusia?" Sang Arsitek merunduk, matanya yang sebesar kawah bulan menatap Saka. "Maka rasakanlah kelemahan manusia. Kelemahan dari makhluk yang terikat oleh detik yang terus membusuk."

Anita melihat Saka yang sedang disiksa oleh tekanan gravitasi. Pengetahuan Alexandria di kepalanya memberikan sebuah solusi terlarang: The Chronos Rewrite. Jika ia bisa menghubungkan kesadarannya dengan Arloji Void milik Saka, mereka bisa mencoba "menulis ulang" kehadiran Sang Arsitek di tempat itu.

"Saka! Gunakan aku sebagai tintanya!" teriak Anita. Ia berlari menuju pusat aula, mengabaikan serpihan bangunan yang jatuh.

Anita meletakkan tangannya di atas Arloji Void yang tergeletak di samping Saka. Cahaya perak murni meledak, menghubungkan otak Anita, darah Saka, dan mesin waktu tersebut menjadi satu sirkuit raksasa.

Seketika, kesadaran mereka bertiga—Saka, Anita, dan Sang Arsitek—terpental ke sebuah dimensi yang disebut The Blueprint Room. Di sini, semuanya tampak seperti garis-garis sketsa arsitektur putih di atas latar belakang hitam.

"Berani-beraninya kalian masuk ke ruang pribadiku!"

Sang Arsitek muncul dalam wujud pria tua yang sangat marah.

"Kami tidak datang untuk menyerangmu, Arsitek," ucap Saka, suaranya kini tenang di dalam ruang dimensi ini. "Kami datang untuk menunjukkan bahwa cetak birumu memiliki kesalahan. Kau menghapus orang-orang untuk menjaga keseimbangan, tapi kau lupa bahwa emosi manusia adalah energi yang tidak bisa kau hapus. Rian, Vena, Altair... mereka adalah bukti bahwa sampah waktumu bisa menghancurkanmu."

Anita melangkah maju, tangannya memancarkan ribuan simbol Alexandria. "Aku adalah saksi sejarah yang kau buang. Dan aku memutuskan bahwa Saka Ardiansyah memiliki hak untuk menulis babnya sendiri!"

Anita melepaskan seluruh energi Alexandria-nya ke dalam sketsa dimensi tersebut. Garis-garis putih di ruangan itu mulai berubah, berbelok, dan membentuk pola baru. Mereka sedang mengubah hukum alam semesta di tempat asalnya.Sang Arsitek terhuyung-huyung. Posisinya sebagai pemegang otoritas tunggal mulai goyah. "Apa yang kalian lakukan?! Kalian akan menghancurkan stabilitas semesta!"

"Tidak," sahut Saka sambil menggenggam tangan Anita. "Kami hanya memberikan semesta sebuah Karsa Bebas (Free Will)."

Ledakan cahaya murni mengakhiri konfrontasi tersebut.

Saat cahaya meredup, Saka dan Anita kembali berada di aula akademi yang hancur. Langit Himalaya kembali normal. Sang Arsitek telah menghilang, kembali ke dimensinya yang jauh, namun ia meninggalkan sebuah pesan tertulis di langit yang perlahan memudar: "Jalani babmu, Sang Penjaga. Tapi ingat, tinta akan selalu habis."

Saka menoleh ke arah Anita. Gadis itu tampak sangat lelah, namun matanya memancarkan kelegaan. Saka memeluknya—pelukan fisik yang nyata, hangat, dan penuh detak jantung.

"Kita menang, Nit," bisik Saka.

Namun, di tengah reruntuhan, Dekan Silas mendekat dengan wajah yang tidak menunjukkan kegembiraan. "Kalian memang mengusir Sang Arsitek. Tapi dengan memberikan 'Karsa Bebas' pada waktu, kalian baru saja membuka gerbang bagi The Multiverse Collapse. Garis-garis waktu lain yang tadinya tertutup kini mulai bertabrakan dengan dunia kita."

Arloji Void di tangan Saka tiba-tiba memproyeksikan ribuan titik merah di seluruh peta dunia. Bukan satu atau dua parasit, tapi jutaan anomali mulai muncul dari dimensi lain.

"Ini baru permulaan dari kekacauan yang sesungguhnya," ucap Silas.

Saka menatap Anita. Mereka baru saja menyelesaikan satu perang, hanya untuk menyadari bahwa mereka telah memulai perang yang jauh lebih besar

1
Fadhil Asyraf
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!