NovelToon NovelToon
PEMILIK HATI

PEMILIK HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Petualangan
Popularitas:342.8k
Nilai: 4.3
Nama Author: Matahari tertutup mendung

Panggil saja aku, Mheta. Ya, orang-orang lebih mengenalku dengan sebutan demikian. Walau sebenarnya, itu bukanlah nama pemberian dari kedua orang tuaku. Namun, entah mengapa aku lebih suka dipanggil dengan kata Mheta. Mungkin karena arti dari kata Mheta adalah sebuah keadilan dan keseimbangan. Jadi, aku ingin dikenal sebagai orang yang bisa berbuat adil kepada siapapun yang mengenalku. Walau sebenarnya, aku tak pernah berlaku adil terhadap diriku sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matahari tertutup mendung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEMUDA MENGAKU RASYID

“Mheta, ada sms nyari kamu.”

Aku baru sampai ketika ibu menunjukkan satu pesan di ponselnya.

“Siapa, Bu?”

“Lha nggak tahu, ini.”

Ponsel masih di tangan ibu lalu berpindah kepadaku. Nomor asing.

“Assalamualaikum.”

“Maaf, apa benar ini nomor Mbak Ayu? Saya Rasyid.”

Oh, Tuhan… aku tidak menyangka kalau orang itu benar-benar menghubungi nomor yang kuberikan. Aduh, harus aku balas apa pesannya?

“Siapa?” tanya Ibu.

Aku menceritakan, kalau yang mengirim pesan adalah si Rasyid. Anak dari pasien sebelah ibu waktu dirumah sakit tempo waktu. Akupun menceritakan kepada ibu, jika sebenarnya yang meminta nomor adalah  ibunya

bukan putranya. Dan karena aku bingung waktu itu, akhirnya aku memberikan nomor ibu kepadanya.

“Dibalas salah sambung aja, Bu?”

“Lha balas saja, ‘iya’ gitu.” Kata ibu.

“Kok iya? Ini kan nomor ibu? Jadi bilang aja salah sambung.”

“Tapi, kamu akan dianggap tukang bohong dan mempermainkan orang karena ngasih nomor salah, lagian pemuda itu sepertinya baik. Dia juga sopan waktu di rumah sakit,” kata ibu.

“Mungkin ibunya kangen sama kamu,” sambung ibu, kusambut dengan tawa gelak-gelak.

“Ya wis, balas aja apa adanya. Bilang kalau ini nomor ibu.”

Aku menimbang sejenak untuk membelas pesan Rasyid. Memikirkan kata-kata yang pas.

“Waalaikumussalam. Maaf ini bukan nomor, Ayu. Tapi nomor ibunya.”

Aku membaca kalimat yang kutulis. Berfikir seandainya aku yang dapat jawaban seperti itu. Aku membaca sekali lagi sebelum pada akhirnya aku kirim.

Lima menit kemudian, balasan Rasyid masuk.

“Mohon maaf bu. Terimakasih.”

Aku tersenyum membaca balasan itu. Membayangkan bahwa yang menyuruh sms adalah ibunya. Mungkin, dia kemudian bilang salah sambung. Dan barangkali ibunya akan menuduh aku memberi nomor palsu. Aku menaruh kembali ponsel ibu sambil tertawa sendiri membayangkan ibu itu mengomel.

“Mheta.” Panggilan ibu mengurungkan langkahku menuju dapur.

Aku duduk di depan ibu. Beliu bertanya apa rencanaku selanjutnya. Tentu saja kujawab bahwa aku akan di rumah untuk merawatnya. Mencari pekerjaan disini dan mengerjakan apa yang bisa aku kerjakan. Ibu meminta maaf atas semua keadaan ini. aku  bilang tidak ada yang salah.

“Tawaran Pak camat  untuk menjadi dokter di puskesmas masih berlaku, katanya. Tadi pagi beliau kesini waktu kamu keluar.”

Aku memikirkan kalimat itu. “Iya, Bu. Itu masalah gampang. Yang terpenting saat ini adalah kesehatan ibu. Tiga hari lagi aku akan ke Malang. aku akan menyelesaikan semua dulu, dan segera mengundurkan diri dari rumah sakit. Setelah itu, barulah Mheta pikirkan semua. Untuk saat ini yang terpenting bagi Mheta adalah kesehatan Ibu.”

“Ya sudah, kalau memang begitu, ambilah semua barang-barangmu di Malang. Mumpung besok PakLek dan BuLek kamu kesini, jadi sekalian nanti Ibu bilang sama mereka, Ibu suruh nginap disini beberapa hari kedepan.”

Aku menyebutnya sebagai, pucuk dicinta ulam pun tiba.

Sudah dari kemarin-kemarin, aku membayangkan barang-barangku. Memikirkan bagaimana cara membawanya pulang. Aku tidak pernah berfikir seperti ini, tapi inilah hidup. Kadang ada hal-hal yang tidak kita duga.

Dulu, aku bersikukuh pada Daffa, belum mau buru-buru kembali ke Magelang. Sekarang, mungkin bahkan dia yang akan meninggalkan kampung ini. ke tempat Nadia berada? Entahlah.

“Mheta…” teriak ibu dari ruang keluarga.

“Iya, Bu?”

“Ini Rasyid sms lagi.”

“Ibu balas saja, terserah ibu mau balas apa. Mheta lagi sibuk bersih-bersih belakang rumah.” Seruku dari sebelah kandang kambing.

Aku menaruh setumpuk jerami bekas bakaran kambing. Kemudian memandang ke hamparan persawahan yang baru di panen. Gerimis menjelma deras. Air jatuh dan teritis menimbulkan irama menakjubkan. Aku segera berlari ke dalam rumah.

Aku menyukai hujan, sejak tahu bahwa hujan ternyata adalah saat baik untuk berdoa. Aku segera mengangkat sedua tangan, berdoa untuk kesembuhan ibu dan almarhum ayah. Aku mengusap wajah. Dan saat kembali memandang hujan, aku ingat satu hal.

Lalu, aku kembali berdoa. Untuk kebahagiaan Daffa, dan untuk kebahagiaan Pengelana.

Dahulu, aku kira hujan sosok yang mendatangi ingatan hanya ada di cerita-cerita fiksi. Namun, seja kenal Pengelana, entah kenapa hujan sering kali mengingatkanku padanya. Aku tidak paham bagaimana ingatan bisa

begitu?

Apakah dia pernah mengingatku sekali saja?

****

“Mheta…”

Aku menghentikan langkah.

“Mheta,” aku mengenali suara itu.

“Mheta…” bukankah dia tidak pernah memanggilku dengan sebutan itu?

Aku menoleh, membalikkan badan.

“Hai, M.”

“Pengelana? Bagaimana kamu bisa disini?”

“Saya mau berlayar.”

“Oh ya, mana perahumu?”

“Di sana.”

“Sendiri?”

“Tidak.”

“Hati-hati, jangan sampai ombak masuk dalam perahumu.”

Pengelana mengangguk tersenyum.

Lalu…

Aku duduk seketika. Kuraba pipiku yang basah. Aku terisak. Kurasakan bahuku terguncang-guncang. Aku tidak sedang dipantai. Aku baru saja mimpi. Mimpi bertemu Pengelana. Selama ini aku tidak pernah sekalipun

memimpikannya. Dan kenapa pula aku jadi menangis? Aneh sekali.

Aku merenungkan kembali mimpi itu. Kuraih ponsel di meja. Jam satu dini hari. Iseng kubuka Whatsapp. Pengelana online. Dan aku kembali ingat mimpi yang baru saja terjadi. Aku menyentuh layar, menyadari sudah

beberapa hari, kami tidak pernah bercakap-cakap. Semoga dia baik-baik saja. Tapi, apakah aku harus menyapany?

Aku menimbang sejenak, kemudian menaruh ponsel tanpa megirim pesan apapun. Aku segera meninggalakan kamar, menuju pancura. Membasuh wajah, tangan, kaki. Kunikmati setiap guyuran air.

Ada perasaan-perasaan yang tidak bisa kita cegah. Kekawatiran, misalnya. Atau perasaan-perasaan yang aku enggan menyebutnya. Tetapi, dengan pikiran-pikiran jernih, kita bisa melakukan tindakan lain. Berdoa, misalnya.

Paginya, saat aku kembali mengecek ponsel, kutemukan unggahan foto pantai di akun Pengelana. Sekoyong-koyong, aku ingat mimpiku. Ini aneh sekali bukan? Bayangkan, kamu bermimpi tentang pantai dan seseorang yang

muncul dalam mimpimu, memasang foto pantai. Seperti fiksi, tapi ini nyata.

Karena banyak hal harus kulakukan sebelum pagi. Jadi, aku menaruh kembali ponselku. Dan mengurungkan memetik komentar. Aku memasak makanan yang kira-kira bisa untuk seharian. Menyiapkan keperluan didapur.

Mengecek bahan-bahan. Memberiskan peralatan yang kotor. Memasang sprei dan sarung bantal guling bersih untuk PakLek dan BuLek.

Semua sudah rapi dan siap. Aku berpaling kepada mesin cuci yang menjerit, menandai ia sudah selesai bekerja. Saat kubawa cucian kehalaman belakang Daffa terlihat meyususri pematang.

“Hei, Daffa.”

Lelaki itu menoleh.

Sejak percakapan di rumahnya, kami tidak membahas soal Nadia lagi. Daffa sibuk urusan kebun dan hasil panennya.

“Besok aku akan pergi ke Malang. jangan pergi ke Korea dulu sebelum aku pulang,” kataku.

Daffa melompati selokan kecil yang memisahkan halaman belakang dengan pematang kebun.

“Sampai kapan?” tanyanya, terdengar santai.

“Semingguan, lnsya Allah. Aku harus menyelesaikan urusanku.”

“Naik apa?”

“Kereta.”

Daffa diam.

“Kenapa melihatku begitu? Biasa aja kan naik kereta?”

“Ya emang biasa.” Daffa terkekeh.

“Terus, apa yang aneh?”

“Kalau perlu bantuan nggak usah gengsi.” Ucapnya.

“Bantuan? Bantuan apa? Hei?”

“Bantuan ta’aruf sama Rasyid.”

“Kenapa kamu selalu bahas dia? Aku saja lupa sama wajahnya. Pakai bilang ta’aruf segala.”

“Hei tetangga rasa saudara? Kamu tidak tahu kan? Jika Rasyid semalam kerumahku?”

“Halah, bagaimana mungkin dia tahu rumah kamu. Kenal saja nggak. Jangan memancingku.”

“Serius, Mhet… dia kerumahku. Memang tidak ada aku. Aku semalam pas kerumah Pak Lurah. Bapakku yang menemui dia, bapak bilang dia mencari tahu tentang kamu. Rasyid memang tidak tahu kalau itu rumahku. Tapi,

pas Bapak cerita, kalau yang tanya soal kamu namanya Rasyid. Aku jadi nebak, pasti dia Rasyid yang di rumah sakit waktu itu.” Katanya terkekeh lagi.

“Bohong? Untuk apa dia mencari tahu tentang aku?”

“Mana aku tahu, mungkin dia mau membayar uang nasi bungkus yang kamu belikan, mungkin?”

Aku jadi ingat sesuatu, kemarin Rasyid sempat kirim pesan di ponsel ibu. Akupun segera berlari kedalam rumah.

“Kok kabur?” teriak Daffa.

“Masakanku gosong!” sergahku.

Aku segera berjalan dengan cukup cepat kekamar ibu, melihat ibu sedang memegang baju almarhum ayah, jadi aku mengurungkan niatku untuk bertanya sesuatu.

“Nduk…Mheta..” ibu memanggilku, ketika aku meninggalkannya beberapa langkah.

“Iya, Bu.”

“Sini sebentar.”

Akupun segera melangkah mendekati ibu, “ada apa, Bu?”

“Apa kamu tidak ingin berumah tangga? Usiamu sudah mumpuni untuk berumah tangga.”

Aku memikirkan kalimat yang baru saja ibu ucapkan, “Menikah? Mheta belum memikirkan hal itu. Yang terpenting saat ini adalah kondisi ibu.”

“Jika ada yang menginginkanmu untuk menjadi istrinya. Apa kamu mau?”

“Siapa, Bu?”

“Ada, dia orang yang tepat dan baik untukmu. Ibu yakin, jika kamu menikah dengannya. Isnya Allah kamu akan bahagia.”

“Kenapa Ibu seyakin itu? Mheta belum ingin berumah tangga.”

“Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu. Tapi, ibu tidak akan memaksamu juga. Pikirkanlah dulu, jika kamu memang sudah siap, bicara sama ibu.”

Aku terus memikirkan kalimat itu, sementara ini aku memang tidak ingin berfikir tentang hal pernikahan, apalagi menikah dengan siapa? Ibu tidak memberitahuku, siapa pemuda yang menginginkanku untuk menjadi istrinya.

*****

Aku naik motor hingga jalan besar dan parkir di tempat penitipan dekat pasar. Aku berdiri di bahu jalan, menunggu kendaraan menuju terminal. Menghidu aroma aspal, mengamati orang-orang lewat, menatap gapura

yang menua, ditingkahi suara klakson.

Hal-hal berubah saat waktu berlalu. Terasa tidak sama saat kita menatap di masa yang berbeda. Tetapi kenangan tidak akan perbah berubah.

Mini bus warna kuning dengan tulisan ‘memory berkisah’ berhenti didepanku. Aku segera naaik. Ini salah satu angkuktan umum yang menghubungkan Magelang-Jogjakarta. Ada lagi bus besar ke Wonogiri melintas.

Dari terminal, aku menyambung angkot jurusan stasiun Jogja.  Naik kereta, memang jadi ganti-ganti kendaraan. Tetapi, aku menyebut ini Ikigai. Seperti kata Ken Mogi, menemukan

hal-hal kecil yang berarti.

****

Konyol sekali jika aku berharap, hujan menyambutku di stasiun. Aku mendongak. Langit memang terlihat berawan. Tapi, tidak hujan.

Aku berjalan dengan perasaan hangat menuju ruang tunggu. Banyak bangku kosong. Dan pandanganku berhenti pada kursi yang aku tempati waktu itu. Aku melangkah ke sana. Sekonyong-konyong teringat mimpi semalam.

Tak ada deras hari ini. tak ada yang menunggu reda. Aku imemotret bangku itu. Kemudian  mengirim pada

Pengelana.

“Hei. Apa kabar? Saya di sini sekarang?”

1
Adinda
Huaaaa 😭😭 Thor, aku baper, keadaan ini bak perjalanan hidup yang aku jalani, perih Thor
Adinda
Kita memang tak pernah bisa menerka, akan bertemu siapa dalam hidup ini. Seperti kau dan aku..........
...................................., hingga petikan-perikan lagu.

itu ☝️☝️ petikan-perikan
artinya apa ya Thor 🙏🙏
ig@taurusdi_author
folow back dong kak
Daffodil Koltim
kasihan daffa,😢😢😢😢
Daffodil Koltim
pilihan yg berat🙁🙁🙁😥😥😥
Daffodil Koltim
bias keindahan membuat dilema yg mndalam,,,,
Daffodil Koltim
knpa daffa baru ingin berjuang stelah ibux memutuskn u mnerima pinangan yg lain?
Daffodil Koltim
manut yg membuat mba mheta sesak,,,,
Daffodil Koltim
aduh dilema mba mheta😢😢😢
Daffodil Koltim
dalam banget perasaanx,seperti mencintai dlm diam ato aplah nmax,,,,
Daffodil Koltim
aduh ketemu,,,,
Daffodil Koltim
msih bingung dng daffa!,,,,apa punya rasa sma mhetha ato tdak?
Daffodil Koltim
semoga tetap tabah dlm mnjalani suratan takdir,,,,
Daffodil Koltim
innalillahi,,,,yg sabar mba mheta,,,,
Daffodil Koltim
msih stuck,tp harapanx akn bertemu n menyapa,,,,🤗🤗🤗
Daffodil Koltim
jeng2 akn dimnakh nantix hati mba mheta berlabuh?
Daffodil Koltim
teman halu berbagi cerita,aknkah ktemu di dunia nyata,,,,
Daffodil Koltim
sangat dsayangkn sdah lma bersama dlm suka n duka,tp stlah renggang n tdk brarti apa2,,,,💪💪💪🙏🙏🙏
Daffodil Koltim
aku ngakak,penasaran mba metha balasx apa sma pengelana?,,,,💪💪💪💞💞💞
Daffodil Koltim
masih nyimak💞💞💞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!