"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."
Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).
Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.
Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Meja Untuk Tiga Orang
Janji adalah hutang, dan Muhammad Akbar adalah tipe pria yang pantang berhutang, apalagi pada istrinya sendiri.
Malam itu, sesuai janjinya, Akbar pulang tepat waktu pukul lima sore. Ia bahkan sempat mampir ke barbershop sebentar untuk merapikan rambutnya agar terlihat lebih segar di depan Hannah.
"Sudah siap, Tuan Putri?" tanya Akbar saat melihat Hannah keluar dari kamar.
Hannah mengenakan gamis chiffon berwarna dusty pink dengan aksen renda di ujung lengan baju terbaik yang ia miliki. Wajahnya dipoles bedak tipis dan lipstik matte warna nude. Ia tampak manis, segar, dan... sangat muda.
"Siap, Mas," jawab Hannah dengan senyum lebar. Hatinya berbunga-bunga. Ini adalah kencan resmi pertama mereka setelah kesibukan yang menggila minggu lalu. Hannah membayangkan makan malam romantis berdua, membicarakan hal-hal ringan, dan mungkin... Akbar akan memegang tangannya lagi.
Tujuan mereka adalah sebuah restoran seafood keluarga yang cukup terkenal di pusat kota. Tempatnya nyaman, dengan lampu-lampu gantung kekuningan yang hangat dan kolam ikan di bagian tengah.
Sesampainya di sana, restoran cukup ramai. Pelayan mengarahkan mereka ke meja nomor 12 di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke jalan raya.
"Kamu mau pesan apa? Kepiting saus padang? Atau ikan bakar?" tanya Akbar sambil membuka buku menu.
"Hannah ikut Mas aja. Tapi jangan yang pedes banget ya," jawab Hannah manja.
"Oke. Kita pesan Ikan Gurame Bakar Madu, Cumi Goreng Tepung, sama Capcay ya," putus Akbar.
Saat Akbar hendak memanggil pelayan, matanya menyapu sekeliling ruangan restoran. Tiba-tiba, pandangannya terkunci pada sosok wanita yang duduk sendirian di meja pojok, sekitar tiga meter dari mereka. Wanita itu sedang menatap ponsel dengan wajah lelah, di hadapannya ada segelas jus jeruk yang isinya tinggal setengah.
Itu Annisa.
"Lho, itu bukannya Annisa?" gumam Akbar.
Jantung Hannah mencelos. Ia mengikuti arah pandang suaminya. Benar saja. Annisa ada di sana, mengenakan gamis kerja berwarna abu tua dan jilbab syar'i senada. Ia terlihat anggun namun kesepian.
Tanpa bertanya pada Hannah terlebih dahulu sebuah kesalahan fatal kaum adam Akbar langsung berdiri dan melambaikan tangan.
"Annisa!" panggil Akbar cukup keras.
Wanita itu tersentak. Ia menoleh, dan saat melihat Akbar, matanya membelalak kaget. Namun, kekagetan itu berubah menjadi kepanikan saat ia melihat Hannah duduk di sebelah Akbar.
Annisa buru-buru membereskan barang-barangnya, seolah ingin kabur. "Eh, Pak Akbar. Maaf Pak, saya..."
"Sendirian?" potong Akbar sambil berjalan mendekat. "Gabung saja sini. Kebetulan saya sama Hannah baru mau pesan."
"Nggak usah, Pak. Saya cuma mampir minum sebentar sambil nunggu pesanan take away," tolak Annisa halus. Wajahnya pucat. Ia tidak sanggup duduk satu meja dengan pasangan ini.
"Ah, sudah malam. Nunggu take away kan lama. Sekalian makan saja di sini. Lagipula kita perlu bahas sedikit soal revisi kontrak vendor yang kemarin," desak Akbar. Di otak Akbar, ini adalah efisiensi: bertemu kolega, ramah tamah, sekaligus memastikan pekerjaan beres. Ia sama sekali tidak peka terhadap atmosfer romantis yang sedang ia rusak.
Annisa melirik Hannah. Hannah, dengan segala kebesaran hatinya (dan keterpaksaan), memaksakan senyum sopan.
"Iya, Mbak Annisa. Gabung saja. Meja kami masih muat kok," ucap Hannah, meski hatinya berteriak ingin berduaan saja.
Annisa menelan ludah. Menolak perintah atasan (meski di luar jam kerja) dan menolak ajakan istri atasan akan terlihat sangat tidak sopan.
"Baik, Pak. Terima kasih," jawab Annisa lirih.
Maka, skenario kencan romantis itu pun buyar seketika. Meja nomor 12 kini diisi tiga orang. Akbar dan Hannah duduk berdampingan di sofa panjang, sementara Annisa duduk di kursi kayu di hadapan mereka.
Suasana canggung langsung menyelimuti meja itu seperti kabut tebal.
"Kamu pesan apa, Nis? Samain aja ya?" tanya Akbar santai.
"Saya air putih saja, Pak. Saya sudah kenyang," dusta Annisa.
Makanan datang tak lama kemudian. Aroma ikan bakar yang menggoda seharusnya membangkitkan selera, tapi bagi Hannah dan Annisa, makanan itu terasa hambar karena ketegangan di udara.
Akbar, sebagai satu-satunya orang yang tidak sadar situasi, mulai membuka obrolan. Dan topik pilihannya? Tentu saja pekerjaan.
"Gimana progres surat jalan untuk beton yang baru? Lancar?" tanya Akbar sambil menyendok nasi ke piringnya.
Annisa meletakkan sendoknya, menegakkan punggung mode profesional otomatis aktif. "Sudah, Pak. Tadi sore sudah dikirim via email ke vendor. Besok pagi material sudah bisa masuk."
"Bagus. Pastikan Pak Haryo di lapangan cek ulang kualitasnya. Saya nggak mau kecolongan lagi kayak kemarin," lanjut Akbar antusias.
Percakapan itu terus bergulir seputar semen, beton, invoice, dan nama-nama orang proyek yang tidak Hannah kenal. Hannah duduk diam di samping suaminya, mengunyah cumi goreng dengan pelan. Ia merasa seperti alien. Ia merasa tidak terlihat.
Dunia mereka nyambung. Bahasa mereka sama. Akbar terlihat sangat nyaman berdiskusi dengan Annisa. Mereka setara sama-sama dewasa, sama-sama paham dunia konstruksi.
Hannah melirik Annisa. Wanita itu menjawab setiap pertanyaan Akbar dengan cerdas dan taktis. Tidak ada gagap, tidak ada bingung. Annisa adalah partner yang sempurna untuk Akbar dalam bekerja.
Apa aku cuma beban buat Mas Akbar? batin Hannah perih. Aku cuma anak kecil yang bisanya cerita soal tugas kuliah dan teman kantin. Sedangkan Mbak Annisa bisa bantu Mas Akbar selesaikan masalah besar.
Rasa insecurity Hannah kembali memuncak. Ia merasa kecil di balik gamis pink-nya.
Di seberang meja, Annisa sebenarnya menderita. Setiap kali matanya tak sengaja melihat tangan Akbar mengambilkan tisu untuk Hannah, atau menggeser gelas Hannah agar tidak tersenggol, hatinya teriris.
Akbar memang bicara pekerjaan dengan Annisa, tapi bahasa tubuhnya condong ke Hannah.
"Mas..." panggil Hannah pelan saat ada jeda dalam pembicaraan proyek itu. "Ikannya enak."
Akbar menoleh, senyum kerjanya berubah menjadi senyum lembut yang hangat. "Enak? Mau Mas ambilin bagian daging perutnya? Itu paling lembut, nggak ada durinya."
Tanpa menunggu jawaban, Akbar dengan telaten memisahkan daging ikan dari durinya, lalu menaruhnya di piring Hannah.
"Makan yang banyak. Kamu kurusan gara-gara tugas kuliah," ucap Akbar penuh perhatian.
Annisa menunduk, mengaduk-aduk es tehnya. Pemandangan itu lebih menyakitkan daripada dimarahi Akbar di kantor. Kelembutan itu... perhatian kecil itu... Annisa rela menukar seluruh kariernya demi mendapatkan tatapan seperti itu dari Akbar, walau hanya sedetik.
"Mbak Annisa nggak makan?" tanya Hannah, mencoba berbasa-basi lagi, merasa tidak enak karena dilayani bak ratu sementara tamunya diam saja.
"Eh? Iya, ini saya makan, Dek," Annisa tersenyum kaku. "Silakan dilanjut makannya."
"Maaf ya, Nis. Jadi ngomongin kerjaan terus," Akbar akhirnya sadar. "Kamu gimana? Katanya ibumu sakit kemarin? Sudah sembuh?"
Annisa tertegun. Ia kaget Akbar ingat hal detail seperti itu. "Alhamdulillah sudah mendingan, Pak. Terima kasih sudah tanya."
"Syukurlah. Kalau butuh cuti untuk antar ibu kontrol, bilang saja. Jangan dipaksakan masuk," kata Akbar bijak.
"Baik, Pak."
Makan malam itu berakhir satu jam kemudian. Bagi Akbar, itu adalah makan malam yang produktif dan menyenangkan. Bagi Hannah, itu adalah ujian kesabaran. Bagi Annisa, itu adalah siksaan batin.
Saat mereka berjalan keluar restoran menuju parkiran, Annisa berpamitan.
"Saya naik taksi dari sini, Pak, Dek Hannah. Terima kasih makan malamnya," pamit Annisa cepat-cepat.
"Hati-hati, Nis," ujar Akbar.
Hannah menatap punggung Annisa yang menjauh, lalu menghilang di balik pintu taksi biru. Ada rasa lega yang luar biasa saat wanita itu pergi.
Akbar membuka pintu mobil untuk Hannah. Setelah mereka berdua duduk di dalam dan mobil mulai melaju, Hannah terdiam. Ia tidak seceria saat berangkat tadi.
Akbar, yang feeling-nya baru nyala terlambat, melirik istrinya.
"Dek? Kok diam saja? Nggak enak makanannya?" tanya Akbar polos.
Hannah menghela napas panjang, menatap jalanan malam. "Enak kok, Mas."
"Terus kenapa cemberut?"
"Mas Akbar..." Hannah menoleh, menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca namun tidak marah, hanya sedih. "Lain kali... kalau kita lagi jalan berdua, tolong jangan ajak orang kantor ya? Hannah... Hannah cuma pengen waktu sama Mas. Hannah nggak ngerti kalau Mas ngomongin beton."
Akbar terdiam. Ia memukul setir pelan, memaki kebodohannya sendiri dalam hati. Ia baru sadar betapa tidak pekanya dia tadi. Ia pikir mengajak Annisa adalah bentuk keramahan, ternyata itu justru mengasingkan istrinya sendiri.
"Maafkan Mas ya," ucap Akbar tulus, suaranya rendah penuh penyesalan. "Mas pikir biar sekalian, ternyata malah bikin kamu nggak nyaman. Mas janji, nggak akan ulangin lagi. Besok-besok, kalau kita jalan, dunia cuma milik kita berdua. Beton sama semen dilarang ikut."
Hannah tertawa kecil mendengar kalimat terakhir itu. Air matanya batal tumpah.
"Janji ya?"
"Janji," jawab Akbar mantap.
Malam itu, meski sempat terganggu, Hannah belajar bahwa Akbar mungkin tidak peka, tapi suaminya itu mau mendengar dan mau meminta maaf. Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup untuk mengobati rasa insecure-nya.