Raze Cromwell menjalani hidup yang penuh penderitaan. Pola asuh yang kejam memaksanya berubah menjadi pribadi yang dingin dan keras. Demi bertahan hidup, ia rela melakukan apa pun, hingga akhirnya dikenal sebagai Dark Magus, gelar yang hanya dimiliki oleh penyihir terkuat.
“Segala sesuatu di dunia ini telah diambil dariku. Maka aku akan mengambil kembali segalanya dari dunia ini.”
Ketakutan akan kekuatannya membuat Lima Magus Tertinggi bersatu untuk melenyapkannya. Saat berada di ambang kematian, Raze mengaktifkan satu mantra terlarang terakhir. Alih-alih mati, ia terlempar ke dunia lain, sebuah dunia para seniman bela diri, tempat orang dapat menghancurkan gunung dengan satu pukulan.
Namun, di dunia baru ini, sihir masih ada…
dan Raze adalah satu-satunya orang yang mengetahuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Datangnya Brigade Merah.
Seringai di wajah Raze semakin lebar, hampir tak terkendali. Prospek memulai hidup baru dengan inti gelap murni membuat darahnya berdesir. Kali ini ia bisa tumbuh lebih kuat sebagai penyihir Hitam daripada sebelumnya, mencapai puncak yang dulu hanya bisa ia bayangkan dalam mimpi paling liar.
Energi mistik mulai mengalir di ujung jari. Campuran warna ungu tua, biru malam, dan hitam pekat berputar pelan, kental seperti tinta basah, tapi tetap cair. Sebagian energi itu bergerak sendiri, meliuk-liuk di udara sebelum menghilang kembali ke telapak tangannya.
Raze mengulurkan tangan kanannya, mengarah ke salah satu piring keramik yang tersisa di meja kayu. Piring itu masih berisi sisa makanan yang sudah dingin, sendok kayu tergeletak miring di sampingnya.
"Denyut Gelap!"
Suara perintahnya pendek dan tegas. Energi hitam langsung melesat dari ujung jarinya seperti sinar tipis, menghantam piring dengan akurat. Dalam sekejap, piring itu retak, lalu...
Prang!!!
hancur menjadi beberapa pecahan kecil yang berhamburan ke lantai. Bunyi pecahannya tajam di ruangan sunyi.
Tapi segera setelah itu, kepala Raze berdenyut nyeri. Rasa sakit seperti ada palu kecil memukul pelipisnya dari dalam. Ia menekan dahi dengan telapak tangan, napasnya sedikit tersengal.
Sihir Hitam memang kuat, tapi boros mana. Satu mantra sederhana saja sudah membuat inti barunya terasa sedikit berkurang.
Sekarang tubuh ini benar-benar memiliki inti gelap. Itu berarti fondasi sudah kuat, tapi ia masih harus memperkuat aspek lain. Benda magis, kristal mana, tumbuhan langka, bahkan ramuan tertentu bisa membantunya menyerap atribut tambahan.
Penyihir mana pun bisa mempelajari semua atribut, tapi inti menentukan seberapa mudah atau sulitnya. Atribut Cahaya, misalnya, akan selalu bertentangan dengan inti gelapnya. Ia bisa mempelajarinya, tapi butuh usaha sepuluh kali lipat dibandingkan orang dengan inti netral atau terang.
Raze selalu suka menyederhanakan hal-hal rumit dengan membayangkannya seperti permainan. Jika dunia sihir ini adalah game, memiliki inti gelap memberi bonus awal sepuluh poin langsung di atribut Kegelapan. Poin itu bisa ditingkatkan lagi dengan item atau teknik khusus. Tubuhnya sekarang mudah menyerap apa pun yang berhubungan dengan kegelapan, kristal hitam, darah binatang malam, atau artefak terlarang akan langsung menambah kekuatannya.
Item atribut Cahaya masih bisa diserap, tapi ia harus mengonsumsi sepuluh kali lebih banyak untuk mendapat satu poin saja. Atribut lain, seperti Api, Air, atau Tanah, akan lebih mudah, mungkin dua atau tiga kali lipat usaha dibanding Kegelapan, tapi tetap jauh lebih ringan daripada Cahaya.
Dan yang paling penting, tak ada atribut lain yang bisa melampaui Kegelapan dalam tubuh ini. Itu fondasi utama, batas atasnya.
Sakit kepala akhirnya mereda perlahan. Raze menghela napas panjang, lalu tertawa kecil pada dirinya sendiri.
'Aku sekarang hanya penyihir bintang satu,' pikirnya sambil menggeleng. 'Mana di intiku masih sangat terbatas. Dengan hanya atribut Gelap, mantra bintang satu saja sudah menghabiskan banyak energi. Kalau terus begini, aku akan kehabisan mana sebelum pertarungan selesai.'
'Lebih bijak kalau aku segera pelajari atribut lain yang lebih hemat mana. Mungkin Angin? Dulu aku mahir menggunakannya, dan mantra angin biasanya ringan, cocok untuk gerakan cepat atau pertahanan.' lanjutnya lagi dengan ekspresi serius.
Penyihir diukur dari jumlah mana di inti mereka, dari bintang satu hingga bintang sembilan tertinggi. Di tubuh lama, ia sudah mencapai puncak itu dengan susah payah. Kini ia harus memanjat lagi dari dasar.
Raze berdiri, meregangkan tubuh mudanya yang kaku karena duduk lama. Cahaya fajar mulai merembes lebih terang dari celah atas, menerangi debu yang beterbangan di udara.
Ia melangkah melewati pecahan piring dan genangan darah yang mulai mengering. Pintu kayu tua di sudut ruangan menunggu, di baliknya dunia baru yang belum tahu bahwa Magus Kegelapan sudah bangkit kembali.
Namun, menjadi penyihir bintang tinggi bukan hanya soal memiliki mana lebih banyak. Itu juga membuka akses ke mantra-mantra tingkat lanjut yang rumit, yang butuh inti kuat untuk menahannya. Tapi di pertarungan sungguhan, itu bukan segalanya. Pengalaman, variasi mantra, dan pemahaman atribut sering kali lebih menentukan. Banyak kemenangan awal Raze dulu diraih karena lawan-lawannya meremehkan sihir Hitam, menganggapnya lambat atau lemah di awal. Mereka baru sadar saat sudah terlambat.
Raze menggosok kedua telapak tangannya, merasakan energi gelap masih berdenyut samar di kulit. Senyumnya tak bisa ditahan lagi. Tawa kecil keluar dulu, lalu semakin keras hingga menggema di ruangan bawah tanah yang pengap.
"Haha.... Aku tidak akan lama jadi penyihir bintang satu!"
Dia sempat ragu mantra penggantian tubuh itu akan berhasil sempurna, tapi untuk berjaga-jaga, Raze menyimpan semua harta karun miliknya di brankas rahasia. Ramuan langka, kristal mana kelas tinggi, artefak terlarang.... Semuanya masih utuh di tempat persembunyian lama. Yang perlu dilakukan hanya mengambilnya kembali. "Dalam beberapa bulan saja, aku bisa melonjak kembali ke bintang sembilan. Mungkin lebih cepat."
Ia sudah membayangkan kehidupan baru ini. Kali ini bukan sebagai buronan yang dikejar Grand Magus ke mana-mana. Bukan sebagai penjahat yang namanya dibisikkan dengan ketakutan. Ia bisa mulai dari nol sebagai pemuda biasa, berlatih terbuka, menunjukkan bakat tanpa menyembunyikan identitas. Dengan semua pengetahuan dan pengalaman puluhan tahun yang masih melekat di pikirannya, ia akan melesat jauh di atas penyihir seusianya.
Dan saat waktunya tiba.... Balas dendam akan datang dengan tenang, satu per satu, tanpa ada yang curiga.
Raze menarik napas panjang, menikmati rasa optimis yang jarang ia rasakan belakangan ini. Tubuh mudanya terasa penuh potensi, seperti pedang baru yang baru ditempa.
Tapi tiba-tiba....
Tok!
Tok!
Tok!
Ketukan keras terdengar dari pintu kayu tua di atas tangga. Getarannya terasa hingga ke bawah tanah, membuat debu jatuh dari langit-langit.
"Buka pintunya cepat!!"
Suara dalam dan kasar terdengar dari luar, disertai denting logam yang samar, seperti baju zirah atau senjata yang bergesekan. Aksennya aneh bagi telinga Raze, seperti orang dari daerah utara yang jarang ia temui, tapi kata-katanya tetap jelas.
"Ini Brigade Merah! Kami dapat laporan ada teriakan minta tolong dari rumah ini. Kalau tidak dibuka dalam hitungan tiga, kami dobrak!"
Raze langsung diam. Tawanya mati di tenggorokan.
Brigade Merah. Pasukan keamanan kota yang terkenal sigap dan keras. Mereka bukan penyihir tingkat tinggi, tapi jumlahnya banyak dan bersenjata lengkap. Biasanya menangani kasus kriminal biasa, perampokan, pembunuhan.... Tepat seperti yang ada di ruangan ini sekarang.
Bau darah pasti sudah merembes keluar. Atau mungkin ada tetangga yang mendengar suara perkelahian tadi malam.
Raze menatap tangga kayu yang naik ke pintu atas. Tubuhnya tegang, tapi pikirannya sudah berputar cepat.
Mana masih sedikit. Mantra Gelap bintang satu bisa membunuh satu atau dua orang, tapi kalau mereka datang beramai-ramai, ia belum cukup kuat untuk melawan langsung.
Ia melirik mayat-mayat di sekitarnya. Darah sudah mengering di lantai, tapi jejak pertarungan masih jelas. Tak ada waktu untuk membersihkan.
Pilihan terbatas. Membuka pintu dan berpura-pura jadi korban selamat? Kabur lewat celah belakang kalau ada? Atau.... menghabisi mereka semua dan lari sebelum kota gaduh?
***