Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.
Tidak ada yang berani menentangnya.
Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.
Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:
kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.
Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.
Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Pagi itu, Jema sudah siap berangkat ke kantor.
Bukan untuk bekerja melainkan untuk menyerahkan surat pengunduran diri.
Sesuai kesepakatan.
Di meja makan, Lucane dan Jema sarapan bersama. Tidak ada debat. Tidak ada sindiran. Suasana terlalu… tenang. Hampir mencurigakan.
Jema duduk sambil menatap layar ponselnya, jarinya menari cepat, seolah pria di seberangnya hanyalah furnitur mahal.
“Ha..ha..”
Jema buru-buru menutup mulutnya.
Tatapan dingin Lucane sudah mengarah padanya.
“Sorry,” ucap Jema santai, sama sekali tidak merasa bersalah.
“Biasakan makan dengan tenang, Jema,” ujar Lucane datar.
“Nafsu dan kebisingan tidak cocok.”
“Ck!”
Jema meletakkan ponselnya agak keras.
Ia menggigit roti, lalu berkata sambil mengunyah,
“Oh iya, hari ini aku pergi sendiri. Tanpa sopir.”
Lucane mengangkat pandangan.
Belum sempat ia bereaksi, Jema sudah melanjutkan panjang lebar, tanpa jeda.
“Aku cuma mau sedikit tenang,” katanya cepat.
“Aku mau ke kantor buat resign, bukan kabur. Aku cuma butuh… kebebasan kecil.”
Ia menelan roti, lalu melanjutkan lagi.
“Toh setelah ini aku nggak kerja lagi, dan ck!pasti hidupku akan sangat membosankan.”
Lucane menatapnya lama.
Ia tahu Jema berpura-pura tidak tahu.
Padahal posisi direktur di salah satu anak perusahaannya sudah menunggu.
“Kau tahu itu tidak benar,” kata Lucane akhirnya.
Jema mengangkat bahu.
“Biar saja. Aku mau satu hari jadi manusia normal.”
Hening.
Sendok Lucane berhenti bergerak.
“Kau ingin pergi sendiri,” katanya pelan.
“Baik.”
Jema mengangkat kepala cepat.
“Serius?”
“Tapi,” lanjut Lucane tanpa emosi,
“kau pulang tepat waktu.”
“Jam berapa?”
“Sore,” jawabnya singkat.
“Jangan membuatku mencarimu.”
Jema tersenyum kecil menyebalkan.
“Tenang saja, Tuan Alexander. Aku bukan anak kabur.”
Lucane berdiri.
“Mobilmu sudah siap.”
“Oh?” Jema mengedip.
“Bukan tanpa sopir?”
“Kau yang menyetir,” jawab Lucane dingin.
“Supir tetap mengikuti dari jarak jauh.”
Jema terdiam… lalu tertawa kecil.
“Kau ini,” katanya sambil berdiri.
“Protektif tapi sok santai.”
Lucane menatapnya lurus.
“Aku tidak sok.”
Jema melangkah pergi sambil melambaikan tangan.
“Aku pulang sebelum kamu mulai khawatir.”
Lucane tidak menjawab.
Namun tatapannya mengikuti Jema hingga menghilang di pintu.
* * * *
Di jalan, Jema terasa seperti wanita yang baru dilepaskan dari sangkar emas.
Begitu mobil melaju, ia langsung menaikkan volume musik. Tidak peduli ini pagi hari, tidak peduli ia mengendarai mobil mahal lagu mengalun cukup keras, memenuhi kabin.
Jema ikut bernyanyi. Suaranya tidak sempurna, tapi penuh perasaan.
Jendela sedikit terbuka. Angin pagi menerpa rambutnya. Jalanan sibuk, klakson bersahutan, orang-orang bergegas dengan urusan masing-masing.
“Ah… akhirnya,” gumamnya sambil tersenyum.
“Rasanya hidup.”
Lampu merah.
Jema mengetuk setir mengikuti irama lagu, benar-benar menikmati momen langka itu hingga layar ponselnya menyala.
Kyte Calling.
Jema mendecak pelan.
Ia menggeser layar dan menjawab dengan satu tangan.
“Ada apa?” ucapnya santai.
“Jema,” suara Kyte terdengar serius, tanpa basa-basi.
“Kau tidak aman.”
Jema tertawa kecil.
“Pagi juga buat kamu.”
“Aku tidak bercanda,” lanjut Kyte.
“Pergerakanmu terlalu terbuka. Statusmu berubah. Banyak mata mengarah ke kamu sekarang.”
Jema menatap jalanan di depannya. Lampu hijau menyala, mobil kembali melaju.
“Aku tahu,” jawabnya tenang.
“Tapi aku tidak berencana bersembunyi seumur hidup.”
“Ini bukan soal bersembunyi,” Kyte menekan.
“Ini soal bertahan hidup.”
Jema mendesah pelan.
“Aku sudah terlalu lama hidup dengan aturan orang lain,” katanya.
“Hari ini aku mau menyelesaikan urusanku sendiri.”
Hening sejenak di seberang.
“Kau keras kepala,” ujar Kyte akhirnya.
Jema tersenyum tipis.
“Itu bukan kabar baru.”
“Setidaknya berhati-hatilah.”
“Aku selalu hati-hati,” jawab Jema ringan.
“Aku hanya tidak takut.”
Panggilan terputus.
Jema menurunkan ponselnya, menatap lurus ke depan.
Musik kembali mengisi kabin.
Ia menarik napas panjang.
Sudah dapat sedikit kebebasan, gumamnya dalam hati.
Maka semua yang tertunda harus diselesaikan.
Ia menginjak pedal gas sedikit lebih dalam.
Dan jauh di belakang tanpa ia sadari sebuah mobil hitam menjaga jarak.