NovelToon NovelToon
Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Handayani Sr.

Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.

Tidak ada yang berani menentangnya.

Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.

Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:

kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.

Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.

Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Pagi itu suasana kantor terasa… aneh.

Anne duduk di mejanya dengan dagu bertumpu di tangan, menatap layar komputer yang bahkan belum ia sentuh sejak lima menit lalu. Kursor berkedip pelan, seolah ikut bingung melihat tuannya yang kehilangan semangat hidup.

“Kenapa wajahmu seperti laporan rugi satu kuartal penuh?” suara Eve terdengar dari kursi sebelah.

Anne menghela napas panjang.

“Jema mau resign.”

Eve terdiam. Tangannya yang sedang membuka kopi sachet berhenti di udara.

“Jadi… itu benar?” tanyanya pelan.

Anne mengangguk lemah.

“Semua orang sudah bisik-bisik sejak pagi.”

Eve duduk, meletakkan kopinya tanpa diminum.

“Kantor ini bakal sunyi banget.”

Anne melirik ke arah meja Jema masih kosong.

“Siapa lagi yang bakal masuk telat tapi sok santai?” gumam Anne.

“Siapa yang bakal berantem sama printer tiap pagi?”

Eve tersenyum kecil, tapi matanya berkaca-kaca.

“Dan siapa yang bakal bilang ‘tenang, ini bisa disogok’ tiap kita panik?”

Anne terkekeh pelan.

“Padahal tidak pernah ada yang benar-benar disogok.”

Beberapa rekan kerja mulai berdatangan. Bisik-bisik terdengar di sana-sini.

“Katanya dia nikah sama orang penting.”

“Suaminya itu CEO yang sering muncul di TV.”

“Pantesan resign.”

Anne mendecak kesal.

“Mereka tahu apa soal Jema.”

Eve bersedekap.

“Jema bukan tipe orang yang berhenti cuma karena nikah.”

Anne mengangguk.

“Dia itu tipe orang yang kalau berhenti… pasti karena dia yang mau.”

Tiba-tiba suara langkah sepatu terdengar mendekat.

Anne dan Eve menoleh bersamaan.

Dan benar saja.

Jema masuk ke area kerja dengan langkah santai, tas disampirkan di bahu, wajahnya biasa saja bahkan terlalu santai untuk seseorang yang akan mengundurkan diri.

“Pagi, orang-orang stres,” sapa Jema ceria.

Anne langsung berdiri.

“Kau kejam.”

“Hah?” Jema mengernyit.

“Kau mau pergi tapi masuk kantor dengan ekspresi habis liburan,” lanjut Anne dramatis.

Jema terkekeh.

“Kalau aku nangis, kalian juga bakal ribet.”

Eve berdiri ikut mendekat, memeluk Jema tanpa peringatan.

“Kami bakal kangen, tahu.”

Jema terdiam sesaat, lalu menepuk punggung Eve pelan.

“Aku juga.”

Anne mendengus.

“Berisik, barbar, nyebelin… tapi tanpa kamu kantor ini cuma Excel dan deadline.”

Jema tersenyum kecil.

“Tenang, aku pergi bukan mati.”

“Tapi rasanya mirip,” sahut Eve.

Jema menatap meja kerjanya sebentar lalu menghela napas.

“Ya… ayo kita hadapi hari terakhirku dengan elegan,” ucapnya.

Anne menatapnya tajam.

“Elegen versi kamu itu apa?”

Jema menyeringai.

“Tidak bikin masalah.”

Anne dan Eve serempak berseru,

“BOHONG.”

Dan untuk pertama kalinya pagi itu,

tawa pecah di antara rasa kehilangan yang pelan-pelan mengendap.

* * * *

Pintu ruang kerja James tertutup pelan di belakang Jema.

James berdiri di dekat jendela, membelakangi meja kerjanya. Begitu mendengar langkah kaki Jema, ia berbalik dan tersenyum tipis senyum yang terlalu tenang untuk situasi ini.

“Kau benar-benar datang,” ucapnya.

Jema mengangguk, lalu menyodorkan map cokelat di tangannya ke atas meja.

“Surat resign. Resmi. Tidak bisa dibatalkan tuan”

James menatap map itu cukup lama sebelum menyentuhnya.

“Jema…” ia menarik napas, “kau salah satu aset terbaik di tim ini.”

“Saya tahu,” jawab Jema ringan.

“Itu sebabnya saya berhenti dengan sopan.”

James terkekeh kecil, tapi matanya tidak ikut tertawa.

“Kalau soal beban kerja, kita bisa atur. Kalau soal gaji”

“Bukan itu Tuan James,” potong Jema cepat.

James terdiam.

“Ini soal hidupku,” lanjut Jema lebih pelan, tapi tegas.

“saya butuh berhenti. Sekarang.”

James duduk, membuka map itu perlahan, membaca sekilas. Tangannya berhenti di tanda tangan Jema.

“Kau yakin?” tanyanya pelan.

“Tidak mau pikirkan seminggu lagi? Sebulan?”

Jema menggeleng.

“Kalau saya menunda, saya bakal berubah pikiran. Dan kali ini saya tidak mau ragu.”

James menghela napas panjang, lalu menutup map itu.

“Kalau begitu…” ia berdiri dan mengulurkan tangan,

“Saya tidak akan menahanmu.”

Jema menjabat tangannya.

“Terima kasih sudah jadi atasan yang baik”

James tersenyum pahit.

“Kau akan dirindukan.”

“Jangan sedih,” sahut Jema santai.

“Dunia tidak runtuh hanya karena saya pergi.”

James menatapnya sejenak lebih lama dari yang seharusnya.

“Bagi beberapa orang… mungkin iya.”

Jema pura-pura tidak mendengar.

Begitu Jema keluar dari ruangan James, ia terkejut mendapati Anne, Eve, dan beberapa rekan kerja lain berdiri di lorong, pura-pura sibuk tapi jelas sedang menunggu.

Anne langsung mendekat.

“Jadi?”

“Resmi,” jawab Jema.

Eve langsung memeluknya lagi.

“Ah, menyebalkan.”

Salah satu rekan pria bersiul pelan.

“Kalau begitu… kita butuh perpisahan yang layak.”

Anne menyeringai.

“Club.”

“Party,” sambung Eve cepat.

“Minum sampai lupa deadline,” tambah yang lain.

Jema menaikkan alis.

“Kalian serius?”

Anne menyilangkan tangan.

“Ini demi kesehatan mental kantor.”

Eve mengangguk mantap.

“Kami sudah stres terlalu lama tanpa teriakan Jema.”

Jema terkekeh, lalu mengangkat tangan.

“Oke.”

Semua langsung bersorak.

“Tapi,” lanjut Jema,

“aku tidak mau acara sedih.”

Anne menyeringai lebar.

“Tenang. Kita rayakan kebebasan.”

Jema tertawa.

“Deal. Malam ini kita bikin club itu menyesal pernah buka.”

Eve menepuk bahunya.

“Itu Jema yang kami kenal.”

Dan di tengah tawa, sorak, dan rencana liar yang mulai disusun,

* * * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!