Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Pertemuan di Garis Waktu yang Berbeda
Langkah kaki Jian Wuyou terasa ringan, seolah beban ribuan ton yang selama ini menghimpit pundaknya telah menguap. Ia berlari melewati pematang sawah dan deretan pohon bambu yang bergoyang tertiup angin sepoi-sepoi. Aroma bunga melati dan tanah basah di desa ini membangkitkan memori yang sangat kuat—memori tentang satu-satunya masa dalam hidupnya ketika ia merasa benar-benar menjadi manusia.
"Desa ini... aku ingat jembatan tua itu. Aku ingat kedai teh di ujung jalan itu," gumam Jian Wuyou dengan napas terengah-engah. "Ini adalah desa tempat Li Hua tinggal!"
Jiwu, yang kini memiliki tubuh fisik dan kekuatan yang setara dengan manusia biasa, berusaha mengejar di belakang bersama Mei Lian yang tampak kelelahan.
"Kakak! Berhenti sejenak! Jangan bersikap gegabah!" seru Jiwu dengan nada memperingatkan. "Kita tidak tahu secara pasti di titik waktu mana kita berada. Jika kau muncul tiba-tiba dengan wajah seperti itu, kau hanya akan menakutinya!"
Namun, peringatan Jiwu hanya bagaikan angin lalu. Kerinduan Jian Wuyou sudah melampaui logika. Ia terus berlari hingga sampai di depan sebuah kediaman besar milik seorang tuan tanah. Di sana, di halaman samping, ia melihat seorang gadis mengenakan pakaian sederhana berwarna biru pucat sedang menjemur kain sutra.
Gerakannya lembut, rambut hitamnya yang dikuncir kuda bergerak mengikuti irama tubuhnya. Saat gadis itu menoleh untuk menyeka keringat di dahinya, jantung Jian Wuyou seakan berhenti berdetak.
"Li Hua..." bisik Jian Wuyou dari balik bayangan pohon besar.
Matanya berkaca-kaca. Li Hua di depannya tampak jauh lebih muda, sehat, dan yang terpenting: hidup. Tidak ada peti mati, tidak ada hawa kematian, dan tidak ada luka di jiwanya.
"Syukurlah... kau masih di sini," ucap Jian Wuyou lirih. Ia segera menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Dilihat dari suasananya, sepertinya ini adalah masa tak lama setelah aku membantai seluruh pengkhianat Sekte Pedang Giok. Di masa ini, aku seharusnya sedang berkelana di wilayah jauh, dan Li Hua belum pernah bertemu denganku."
Jiwu akhirnya berhasil menyusul, diikuti Mei Lian yang terengah-engah sambil mendekap bayi Jian Han. Jiwu mengamati Li Hua dari kejauhan, lalu menepuk pundak Jian Wuyou.
"Kak, dia tidak mengenal kita di masa ini. Jika kau terus menatapnya seperti pemangsa, kau akan dianggap orang gila," ucap Jiwu dengan nada sarkas namun peduli. "Lebih baik kita mengatur strategi. Meskipun ruang dimensi kita tersegel dan kekuatan kita hilang, setidaknya instingku tajam. Sebelum gerbang langit runtuh, aku sempat menyambar lima kantong penuh koin emas dari kapal perang Mo Tian yang hancur."
Jiwu mengeluarkan kantong-kantong berat itu. Di Alam Fana, emas sebanyak ini setara dengan kekayaan seorang raja kecil.
Mei Lian menyeka keringat di wajah bayi Jian Han. "Benar, Tuan. Kasihan Jian Han jika terus dibawa berkeliling tanpa tempat bernaung. Kita butuh tempat yang layak untuk mulai melatihnya—dan melatih Anda kembali."
Jian Wuyou mengangguk pelan, matanya enggan lepas dari sosok Li Hua, namun ia sadar akan realita. "Kau benar. Kita butuh dasar yang kuat jika ingin mendaki langit kembali. Jiwu, cari rumah terbaik di desa ini. Aku ingin kita tetap berada di dekatnya, melindunginya dari balik bayangan."
Hanya butuh waktu beberapa jam bagi Jiwu untuk menunjukkan kekuatan emas. Dengan harga yang tak masuk akal, mereka membeli sebuah kediaman paling besar dan mewah di ujung desa, yang memiliki halaman luas dan paviliun tinggi. Dari balkon lantai dua rumah tersebut, Jian Wuyou bisa melihat dengan jelas kediaman tempat Li Hua bekerja.
Sore itu, mereka duduk di aula rumah baru mereka yang masih terasa sunyi.
"Mulai besok," Jian Wuyou memulai pembicaraan dengan nada serius, "aku akan mulai melatih teknik pernapasan dasar. Walaupun tubuh ini kembali muda, namun ingatan tentang teknik-teknik tingkat tinggi masih ada di kepalaku. Aku akan membangun kembali basis kultivasiku dari nol, kali ini tanpa celah."
Ia mengepalkan tangannya. "Dan untuk Li Hua... biarlah dia menjalani hidupnya dengan tenang untuk saat ini. Aku akan mengawasinya, memastikannya tidak pernah tersentuh oleh penderitaan lagi, sampai saatnya tiba bagiku untuk memperkenalkannya kembali pada takdir kami."
Mei Lian tersenyum lega melihat tuannya mulai memiliki tujuan hidup kembali, sementara bayi Jian Han tertidur pulas di atas kasur sutra yang lembut. Di desa kecil yang damai ini, badai besar sedang dipersiapkan untuk masa depan.