Aku tak ingat lagi apa yang terjadi padaku malam itu.
Saat terbangun, tiba-tiba saja diriku sudah berada di dalam sini. Sebuah kurungan berukuran 2x1 meter yang di susun oleh besi-besi, ada gelas air di sudutnya dan sebuah handuk kotor di pegangan pintu. Seperti kandang hamster berukuran manusia.
Tampak putung rokok di meja sana mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban juga terlihat menggantung di tembok serta puluhan keris berdiri di lemari.
"Tutupi tubuhmu!!" Tiba-tiba seorang kakek tua mengejutkanku dari arah yang lain dengan melemparkan selembar kain jarik.
Aku baru sadar kalau sedari tadi tubuhku sudah tak mengenakan apa pun.
Kemana perginya pakaianku?
Hijabku?
HP ku?
Ya, tuhan.
Apa mereka benar-benar menghabisiku pada malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melarikan Diri
Jangan.
Jangan sampai dia menggauliku.
Tenang, Nurhalina.
Pikirkan cara.
"Arrggghhhh ooooaargggghh," pekikku sambil membuat huruf O dengan jariku dan mendorongnya maju mundut di depan mulutku.
Seakan dia tahu maksudku, dengan buru-buru ikat pinggangnya dilepas berikut dengan celana bahan berwarna cokelat muda.
Tunggu.
Dia gak pakai celana dalam?
Bagaimana bisa dia nyaman melayani masyarakat di jam kerja tanpa memakai celana dalam?
Benar-benar orang gila.
"Makan nih, cantik!" ujarnya, sambil memegang belakang kepaku dan memaksanya maju mundur.
Sungguh, begitu rudalnya yang keras memasuki rongga mulutku rasanya anyir dan sedikit asin. Amat menjijikan buatku. Tapi aku terpaksa melakukan ini.
"Ooohhhh," lenguhnya dalam, menikmatinya sepenuh hati. "Cantik, terus lebih kencang!"
Aku jongkok di hadapannya, matanya merem melek merasakan lumatanku yang basah dan licin. Kedua tangannya masih menetap di belakang kepalaku, sesekali mengelus ubun-ubun dan menyeka rambutku yang tak sengaja jatuh terurai kedepan.
"Enak, sekali cantik!" erangnya tak tahan, sampai-sampai dia tak sadar kalau salah satu tanganku sudah menggeledah celananya yang jatuh tepat di sebelah lututku. "Kamu memang luar biasa, ohhh!"
Sial.
Di mana dia menaruh kunci pintunya tadi?
Aku mulai panik, karena di saku celananya tidak kutemukan kunci atau pun benda keras lainnya untuk menyerang orang gila ini.
Baju, iya.
Pasti ada di sakunya.
Tapi, bajunya tergeletak di atas meja.
Bagaimana caranya aku bisa meraihnya?
Ayo, Nur.
Tenang.
Pikirkan sesuatu.
"Aauurhh auurgghh!" ucapku, setelah berhasil menghentikan kenikmatannya. Aku menunjuk pangkal pahaku yang masih tertutup celana dalam dan menoleh ke atas meja.
Mungkin dia paham apa yang kumaksud karena dia bilang, "Oh, benar. Celana dalam kamu basah banget, sayang! Baiklah!" kemudian menggendongku dan menaruhku di atas meja di di dekat pintu, tempat bajunya tergeletak.
Bagus.
"Buka, sayang!" pintanya sudah tak sabar.
Belum sempat aku membukanya dengan sempurnya, dia langsung menarik celana dalamku turun melewati kedua kakiku, dan membuangnya ke belakang, dia tak menghiraukannya, sehingga celana dalam merah muda yang berlendir itu menempel di kaca jendela.
"Gila, kamu basah banget!" pekiknya sebelum lidah kasar dan berbau rokok itu merasuk ke dalam.
Jika kalian tanya bagaimana rasanya, jujur ada sedikit geli di ujungnya dan itu menjalar sampai ke ubun-ubun, mataku sampai harus terpejam untuk menahannya agar tak mengeluarkan suara desahan.
Suka?
Jelas, enggak!
Jijik malah.
Tapi ini terpaksa kulakukan demi sebuah kunci.
Benar saja, kunci itu disimpan di saku bajunya, dan kini sudah berada dalam genggamanku. Tinggal bagaimana caranya aku kabur dari sini dengan membuka pintu yang berada tepat di balik punggungnya.
Aku butuh setidaknya 30 detik untuk itu, untuk mencoba beberapa kunci sampai menemukan kunci yang tepat. Karena yang kurasakan sekarang di genggamanku ada, satu, dua, tiga, dan empat kunci yang berbeda.
Aku yakin cukup dengan lima sampai 7 detik untuk mencoba setiap kunci, karena aku terbiasa membuka tutup kunci gudang, toko, kunci rak etalase, dan tentunya kunci kasir. Karena memang itulah pekerjaanku.
Jadi, aku menawarkan jasa urut dengan mulutku lagi seperti yang kulakukan beberapa menit yang lalu.
"Tunggu cantik, aku belum puas menguras sumur ini sampai kering!"
Iya, cuma jawaban itu yang akhirnya kudapatkan.
Baiklah, kalau begitu akan kutahan untuk beberapa saat lagi. Agar rencana ini berjalan dengan sempurna.
Karena jika salah sedikit saja, bisa berakibat fatal dan nyawaku yang dipertaruhkan.