Anya terpaksa harus menjadi istri kedua seorang pengusaha kaya raya yang bernama Axello Richandra atas permintaan istrinya, Hellencia yang tidak bisa memiliki anak, alias mandul.
Demi mendapatkan uang biaya perawatan ayahnya yang masih koma di ruang ICU dan menebus kesalahannya yang meraup banyak kerugian, Anya pun menjalankan perannya sebagai istri muda Axello yang selalu acuh dan bersikap dingin terhadapnya.
Bisakah Anya memenuhi permintaan Hellencia untuk mengandung anak dari Axello dengan sikap Axello yang sangat dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AdindaRa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pak Razil mulai Membaik
Anya kini sudah berada di rumah sakit dan langsung menuju ke ruang ICU dimana papanya sedang dirawat.
Benar dengan apa yang dikatakan oleh Miss Hellen jika keadaan papanya sudah jauh lebih baik.
Menurut informasi dari Dokter Firman, Pak Razil, ayah Anya sudah bisa mulai menggerakkan jemarinya dan kelopak matanya pelan. Namun, untuk membuka mata masih belum bisa dilakukan olehnya.
Meskipun begitu, Anya sudah sangat bersyukur dengan perkembangan papanya yang sudah satu bulan terbaring koma di ruang ICU.
“Papaa! Anya datang buat papa! Cepat pulih ya Paa, Anya lelah hidup sendirian!” ucap Anya sambil menggenggam erat jemari papanya dan berharap papanya akan kembali bergerak saat ia berada di sampingnya.
Sayangnya sudah hampir Anya berada di sana, tidak ada pergerakan apapun dari papanya. Akhirnya Anya pun keluar untuk mencoba menenangkan dirinya.
“Kenapa papa masih belum ada reaksi saat berada di dekatku?” gumam Anya sambil menyandarkan tubuhnya.
Tak lama kemudian Dokter Firman datang dan duduk di samping Anya. “Bagaimana Anya? Apa Pak Razil sudah kembali menggerakkan jemarinya?”
Anya langsung menggelengkan kepalanya. “Belum, Dokter!”
“Kemarin ada tante-tante yang datang kemari dan menitipkan sejumlah uang untuk biaya pengobatan Pak Razil. Setelah itu aku memperbolehkannya untuk menemui papamu.”
“Entah apa yang dibisikkan oleh tante itu dan tak lama kemudian jemarinya bergerak pelan diiringi dengan Gerakan kelopak matanya.”
Selepas tante itu pulang, pak Razil kembali menggerakkan jemarinya berulang kali, Anya!” jelas dokter Firman.
“Tapi dokter, hampir satu jam aku memegang tangannya, tak sedetikpun aku melihat jemarinya bergerak.” Anya tampak sedikit kecewa saat papanya tidak bergerak saat dia ada di sampingnya.
“Jangan khawatir, Anya! Mungkin ini efek obat yang masuk ke dalam infusnya. Tetap positif thinking jika papamu akan segera pulih.”
“Terima kasih dokter Firman. Hari ini aku sedang cuti, aku akan full menemani papa di rumah sakit!” ucap Anya.
“Oke, aku masih harus bertugas dulu. Jam makan siang nanti aku akan mentraktirmu makan siang di kantin. Kamu tidak keberatan kan?” tawar Dokter Firman.
“Wah, apa tidak merepotkan?” tanya Anya yang merasa tidak enak dengan kebaikan Dokter Firman.
“Tentu saja tidak!” balas Dokter Firman yang kemudian beranjak meninggalkan Anya.
Selepas kepergian Dokter Firman, Anya pun mulai bertanya-tanya, siapa tante-tante yang dimaksud oleh Dokter Firman tadi. ‘Apa mungkin itu Miss Hellen?’
‘Tapi kenapa Dokter Firman menyebutnya dengan tante?’ gumam Anya dalam hati.
Anya pun kemudian kembali masuk ke dalam ruang ICU untuk mendampingi papanya. Perlahan Anya berbisik pelan tepat di telinga papanya seperti apa yang kemarin dilakukan oleh tante yang disebut oleh Dokter Firman.
“Papa, cepatlah sembuh dan pulih. Setelah itu kita kuak bersama siapa yang sudah menabrak papa dan mama sampai mama meninggal dunia!” bisik Anya.
Dan benar saja, perlahan Pak Rizal menggerakkan jemarinya dan juga kelopak matanya. Anya pun langsung menggenggam tangan papanya dengan sangat erat dan saking bahagianya sampai ia menangis.
“Papaaa, akhirnya papa bisa bergerak saat ada Anya di sini! Anya yakin, papa masih bertahan untuk tetap hidup di samping Anya!” ucap Anya penuh haru.
Terlebih saat papanya membalas genggaman tangan Anya dan mulai membuka kedua kelopak matanya. Cepat-cepat Anya langsung memenget tombol untuk memanggil dokter.
Tak berapa lama Dokter Firman dan perawatnya pun langsung datang memenuhi panggilan Anya. Betapa takjubnya mereka saat melihat Pak Razil sudah mulai membuka matanya.
Dokter Firman pun langsung memeriksa keadaan papa Anya secara keseluruhan. Ajaibnya, tidak ada permasalahan sedikitpun dari pandangan Pak Razil.
Tekanan darahnya juga sudah normal dan perlahan wajahnya yang tadinya pucat, berangsur memerah saat melihat Anya yang kini tengah berdiri di belakang dokter Firman.
“A-an-nya!” panggil Pak Razil dengan suara serak.
“Papa, Ini Anya paaa! Anya sangat bersyukur papa bisa kembali bersama Anya lagi.” Anya terus saja menggenggam tangan papanya dengan erat.
“Peningkatan keadaan pak Razil sangat signifikan, Anya. Selamat yaa! Kau bisa memberinya minuman berupa air mineral, minuman hangat, jus tanpa es, dan juga bubur!”
“Karena pasien baru saja tersadar dari koma, tolong jangan beri makanan yang teksturnya kasar agar pencernaannya tidak terkejut!” jelas Dokter Firman.
“Baik dokter, terima kasih banyak!” ucap Anya.
“Perawat akan menemanimu di sini untuk merawat Pak Rizal selama satu jam. Jangan terlalu banyak ngobrol dulu yaa!” ucap Dokter Firman sambil mengusap bahu Anya.
“Oke, dokter! Sekali lagi terima kasih banyak!” ucap Anya dan Dokter Firman pun langsung meninggalkan ruangan untuk mengecek pasien yang lainnya.
💞💞💞
Sedangkan di Ruang kerja Axel kini tengan menunggu Tian untuk mendengarkan hasil selama ia mengikuti istrinya, Hellen.
“Selama saya mengikuti Miss Hellen pergi seharian kemarin, ia sama sekali tidak bertemu dengan seorang pria manapun. Ia hanya pergi berdua dengan sahabatnya Cintia dan bertemu dengan teman-teman social medianya juga di sebuah Mall!” jelas Tian.
“Lalu ia pergi ke rumah sakit menjenguk papa dari istri muda anda dan menitipkan sejumlah uang di sana!”
“Lalu, kemana ia pulang?” tanya Axel.
“Miss Hellen membawa sahabatnya pulang ke apartemen, Tuan! Dan tadi pagi Cintia juga sudah meninggalkan apartemen untuk bekerja.”
Informasi yang ia terima dari Tian sama sekali bukan jawaban yang ia inginkan. Terlebih saat tadi pagi ia melihat leher istrinya, bercak kemerahan itu masih terlihat dan bahkan makin bertambah,
Tidak mungkin jika itu karena gigitan nyamuk, sebab bekasnya sangat mirip dengan gigitan seseorang yang tengah memadu kasih.
Axel menghela nafasnya panjang. “Baiklah Tian! Tetap pantau terus istriku selama satu minggu ini!”
“Baik, Tuan!”
“Oh iya, bagaimana renovasi dapur yang kemarin sempat hampir terbakar?”
“Progresnya sudah 95 persen, hari ini akan diadakan finishing dan pembelian perabot masak yang sudah tidak layak pakai karena hangus terbakar.”
“Baiklah, bermakna besok kita sudah mulai buka kembali. Tolong siapkan beberapa berkas yang perlu aku tanda tangani!” titah Axel.
Tian pun bergegas mengambil berkas yang perlu ditandatangani oleh Axel. Selepas itu mereka berdua kembali memantau perbaikan dapur.
“Tuan, karena untuk sementara dapur restoran masih dalam perbaikan, saya harus memesankan apa untuk makan siang anda?” tanya Tian.
Seketika Axel langsung teringat dengan masakan Anya yang begitu memanjakan lidahnya.
“Emm, aku akan kembali ke hotel dan makan siang di sana. Selepas itu aku akan kembali lagi ke sini!” jawab Axel yang menduga jika Anya saat ini pasti sedang berkutat di pantry kecil untuk membuat masakan untuk makan siangnya.
“Kalau begitu, lebih baik anda habiskan waktu istirahat anda di hotel bersama istri muda, Tuan! Untuk masalah pekerjaan kantor akan saya handel dan laporkan via email!” timpal Tian.
“Hei! Kamu pikir aku sangat menikmati pernikahan keduaku?!” gertak Axel tidak terima.
“Aku hanya ingin kembali ke hotel untuk memberi perhitungan kepada kelinci kecil itu!” lanjutnya lagi membuat Tian hanya bisa diam dan menganggukkan kepalanya.
‘Apa benar, Tuan Axel sama sekali tidak menikmati pernikahan keduanya? Aku pikir ia sedang mendapatkan buat durian yang sangat manis rasanya!’ gumam Tian dalam hati.