NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Ditentang Takdir

Ketika Cinta Ditentang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Persahabatan / Angst / Romansa / Roh Supernatural / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Bayu, seorang penyanyi kafe, menemukan cinta sejatinya pada Larasati. Namun, orang tua Laras menolaknya karena statusnya yang sederhana.

Saat berjuang membuktikan diri, Bayu tertabrak mobil di depan Laras dan koma. Jiwanya yang terlepas hanya bisa menyaksikan Laras yang setia menunggunya, sementara hidup terus berjalan tanpa dirinya.

Ketika Bayu sadar dari koma, dunia yang ia tinggalkan tak lagi sama. Yang pertama ia lihat bukanlah senyum bahagia Laras, melainkan pemandangan yang menghantam dadanya—Laras duduk di pelaminan, tetapi bukan dengannya.

Dan yang lebih menyakitkan, bukan hanya kenyataan bahwa Laras telah menikah dengan pria lain, tetapi juga karena pernikahan itu terpaksa demi melunasi hutang keluarga. Laras terjebak dalam ikatan tanpa cinta dan dikhianati suaminya.

Kini, Bayu harus memilih—merebut kembali cintanya atau menyerah pada takdir yang terus memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Takdir?

Sebelum Laras sempat membuat keputusan, tubuhnya lemas. Seolah seluruh tenaganya terkuras oleh semua emosi yang menghantamnya bertubi-tubi. Ia menyandarkan diri ke dinding, tangannya mengepal di dada, berusaha mengatur napas yang terasa berat.

"Bayu… aku harus bagaimana?" gumamnya lirih, matanya mulai memanas.

Tanpa ia sadari, roh Bayu berdiri di dekatnya, menatapnya dengan perasaan tak kalah hancur. "Laras, jangan menangis… Aku di sini…"

Namun Laras tak bisa mendengar.

Bayu hanya bisa menatap gadis itu yang kini berdiri sendiri, menggigil karena takut kehilangan—kehilangan dirinya, kehilangan harapan, dan mungkin, kehilangan Boni juga.

Bayu berdiri di antara Laras dan pintu keluar rumah sakit, rasa bimbang menguasainya. Ia menoleh ke arah Laras yang masih menyandarkan diri ke dinding, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar menahan emosi yang bercampur aduk.

"Laras…" bisik Bayu lirih. Ia ingin tetap di sini, ingin menenangkan gadis itu, ingin menyentuh bahunya dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi ia tahu, Laras tak akan bisa merasakannya.

Sementara itu, Boni sudah menghilang di balik pintu rumah sakit, membawa amarah yang siap meledak. Bayu bisa merasakannya—badai yang berputar di dada sahabatnya itu. Boni tak akan diam. Ia akan mencari jawaban dengan caranya sendiri, dan Bayu tahu betapa nekatnya pria itu jika sudah marah.

Bayu menggertakkan giginya. "Apa yang harus aku lakukan?"

Tinggal di sini dan menemani Laras yang masih terguncang? Atau pergi menyusul Boni sebelum sahabatnya itu melakukan sesuatu yang bodoh?

Bayu mengalihkan pandangannya ke Laras sekali lagi. Ia merasa sakit melihat Laras dalam keadaan seperti ini. Namun, jika ia tak menghentikan Boni, bisa saja sesuatu yang lebih buruk terjadi.

"Maaf, Laras… Aku harus pergi."

Dengan tekad yang bulat, Bayu berbalik dan berlari menyusul Boni. Langkahnya ringan, seolah tak menyentuh tanah. Napasnya tidak tersengal, tapi jantungnya berdegup kencang.

Ia melintasi pintu rumah sakit, menyapu pandangannya ke arah jalanan. Di sana, ia melihat Boni tengah berlari menuju halte, mengepalkan tangan dengan rahang mengeras.

"Boni! Tunggu!" Bayu berteriak, tapi sahabatnya tetap melangkah tanpa henti.

Bayu menatapnya dengan cemas. Ia tahu, ini bukan hanya soal mencari kebenaran—ini tentang rasa sakit, ketidakberdayaan, dan amarah yang bisa menelan seseorang jika tak dihentikan.

Tanpa ragu, ia mempercepat langkahnya, berusaha mengejar sahabatnya, meski ia sadar… Boni tak akan pernah menyadari keberadaannya.

***

Kantor Polisi.

Boni melangkah masuk ke kantor polisi dengan napas berat. Setiap langkahnya terasa membakar dada, amarah yang ia tahan sejak mendengar kondisi Bayu semakin mendidih. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras. Ia tak peduli pada sorotan orang-orang di sekitarnya, yang ia pikirkan hanya satu hal—siapa yang telah menabrak saudaranya.

"Pak, saya mau tahu perkembangan kasus kecelakaan yang menimpa Bayu!" suaranya tegas, hampir seperti bentakan.

Seorang polisi yang duduk di balik meja menatapnya sejenak sebelum menghela napas. “Korbannya masih koma, ya?”

Boni mengangguk dengan napas memburu. “Siapa orang brengsek yang nyetir mobil itu?”

Petugas itu menghela napas dan memberi isyarat agar Boni mengikutinya. Mereka tiba di ruang interogasi. Di sana, seorang pria berjas mahal duduk dengan wajah datar, tanpa sedikit pun rasa bersalah, bahkan terlihat sedikit bosan.

Bayu ikut masuk. Ia berdiri di sudut ruangan, menyaksikan semuanya.

Boni menatap tajam pria itu. "Lo yang nabrak Bayu?!" Ia langsung mendekat, suaranya menggelegar.

Pria itu melirik Boni sekilas lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sikapnya santai. Tenang. Seolah ini bukan masalah besar.

“Gue nggak sengaja,” katanya ringan. “Gue juga nggak mau kejadian ini terjadi.”

Bayu merasakan sesuatu mendidih dalam dirinya.

"Oh, jadi lo cuma anggap ini kecelakaan biasa?" tanya Bayu, namun tak satupun ada yang mendengar.

Boni mengepalkan tangan. “NGGAK SENGAJA?! LO PIKIR ITU BISA BIKIN BAYU SADAR DARI KOMA?! LO TAHU DIA SEKARANG SEPERTI APA, HAH?!”

Pria itu mengangkat bahu dengan ekspresi datar, seolah semua ini bukan masalah besar baginya. Matanya menatap kosong ke depan, seakan tak ingin terlibat lebih jauh dalam percakapan yang penuh emosi itu.

“Gue udah bilang, gue juga nggak mau ini terjadi,” ucapnya, suaranya terdengar hambar, nyaris tanpa penyesalan. “Lagian, musibah ya, musibah. Takdir.”

Kata-katanya ringan, tapi rasanya seperti pukulan telak di dada lawan bicaranya. Seolah nyawa seseorang, kesedihan, dan kemarahan yang meluap-luap hanya perkara kebetulan yang tak bisa dihindari.

BAYU MEMBEKU.

Di sudut ruangan, Ia menatap wajah pria itu dengan kebencian yang ia sendiri tak tahu bisa sebesar ini.

Takdir?

JLEB! Kata-kata itu seperti bensin yang menyulut api dalam diri Boni.

"TAKDIR, LO BILANG?!" Boni langsung menerjang, nyaris menghantam wajah pria itu jika polisi tak segera menariknya ke belakang. "Kalau lo nyetir normal, nggak asal, ini nggak bakal terjadi!"

Melihat pria itu tak menunjukkan sedikit pun penyesalan, kemarahan di ruangan itu semakin memuncak. Semua orang yang hadir merasakan bara emosi yang membakar dada mereka.

Seorang polisi yang sejak tadi diam akhirnya bergerak. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan sebuah tablet, lalu mengetuk layarnya beberapa kali sebelum menoleh tajam ke arah pria itu.

“Lihat ini,” katanya dingin, sebelum memutar rekaman dari dashboard mobil pria tersebut.

Di layar, pria itu mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya meraba-raba sesuatu yang jatuh ke lantai mobil. Pandangannya turun, kehilangan fokus. Dalam hitungan detik—suara benturan keras menggema, menghantam keheningan malam.

Bayu melihat itu. Ia melihat bagaimana tubuhnya terpelanting seperti boneka tak bernyawa.

Boni memandang layar dengan mata melebar. “LO NGGAK NGELIHAT JALAN CUMA KARENA LO NGAMBIL SESUATU?!” suaranya bergetar marah.

Pria itu mendengus santai, seolah tak terjadi apa-apa. “Itu cuma beberapa detik doang.” Ia bahkan sempat mengingat bagaimana kakinya tanpa sadar menekan pedal gas lebih dalam—dan tetap tak merasa bersalah.

BAYU INGIN BERTERIAK.

CUMA BEBERAPA DETIK?!

Bayu merasakan amarahnya bergemuruh. Ia ingin menghantam meja. Ingin menampar pria itu. Tapi… ia tak bisa berbuat apa-apa.

Boni langsung menerjang, nyaris menghantam wajah pria itu jika polisi tak segera menariknya ke belakang.

“LO ITU NYETIR MOBIL, BUKAN MAIN GAME, BRENGSEK! GARA-GARA LO, BAYU SEKARANG BERJUANG BUAT HIDUPNYA!” suara Boni pecah, penuh luka.

Pria itu mendengus, masih bersikap acuh. “Udah lah, gue siap bayar ganti rugi. Berapa pun biaya rumah sakitnya, gue tanggung. Selesai.”

SELESAI?!

Di sudut ruangan, Bayu tersenyum miris. "Hidup gue berharga segitu doang buat lo?"

Boni terkesiap. Ganti rugi? Selesai?

Matanya memerah, dadanya sesak oleh amarah dan ketidakadilan.

“BAYU ITU BUKAN MOTOR LO YANG KESEREMPET, GOBLOK! DIA ORANG, PUNYA NYAWA, PUNYA HIDUP, PUNYA ORANG-ORANG YANG SAYANG SAMA DIA! LO PIKIR UANG LO BISA BIKIN DIA BANGUN DARI KOMA?!”

Pria itu menghela napas panjang, lalu melirik polisi. “Gue udah siap tanggung jawab sesuai hukum.”

Boni tertawa pendek, tapi matanya masih menyala. “Lo emang nggak bakal ngerasain sakitnya. Orang kaya kayak lo, tinggal bayar dan semuanya beres, 'kan? Dasar brengsek! Bajingan!”

Tak ingin amarahnya makin memuncak karena melihat wajah pria itu, Boni berbalik dan keluar dengan napas berat. Tapi dalam hatinya, ia bersumpah—Bayu akan sadar, dan orang brengsek itu nggak akan bisa lepas dari ini begitu saja.

Bayu menatapnya, merasa sesak meskipun ia tak lagi punya tubuh.

"Bon… jangan biarin dia lolos."

Suara itu tak terdengar. Hanya hening yang menjawab.

Boni melangkah keluar dari kantor polisi dengan rahang mengatup rapat, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dadanya naik turun, menahan emosi yang hampir meledak. Bayu menyusul di belakangnya, menatap punggung sahabatnya yang tegang.

Tiba-tiba, Boni berhenti. Napasnya memburu, bahunya bergetar menahan gejolak yang tak tertahankan.

"Brengsek! Sialan! Bajingan!" Boni mengumpat keras sebelum meninju pohon di tepi jalan sekuat tenaga. Ia tak peduli pada tatapan heran orang-orang di sekitarnya. Suara pukulannya menggema, tapi rasa sakit yang menjalar di jemarinya seakan tak berarti dibanding amarah yang membara di dadanya.

Bayu tersentak, menatap sahabatnya yang tampak begitu terluka.

"Boni! Jangan sakitin diri lo sendiri, goblok!" seru Bayu refleks, meskipun ia tahu suaranya hanya tenggelam dalam udara malam.

...🔸"Saat arogansi menguasai diri, tak ada yang lebih berarti dari diri sendiri. Tak sadar, suatu hari, arogansi akan menghancurkan diri."🔸...

..."Dhanaa724"...

...🍁💦🍁...

.

To be continued

1
abimasta
semoga edward melepaskan laras
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
apapun itu. selicik apapun rencana Sherin.. semoga itu bisa merubah niat Edward menikahi laras. bayu temukan laras secepatnya ya
abimasta
selamatka laras dar keegoisan ortunya bayyuu dan habisi edward yg sudah menabrakmu
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
selamatkan laras, Bayu
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
yes bayu kembali... 😭😭😭😭😭... selamatkan juga laras dari kejahatan Edward & Sherin, bayu...
syisya
ayo bay muncullah
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
apakah Edward memang se maha Kuasa itu? tak adakah hukum untuknya? bisa semena-mena begitu?
Ranasartika Lacony
lsg viralin aja Bon, si Edwin
Ranasartika Lacony
lsg viralin aja Bon, si Beni
abimasta
laras lagi yang jadi korban
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
apa yg laras khawatirkan pun terjadi. lekaslah sembuh bayuuu... boni & laras butuh hadirmuuuu
Dek Sri
lanjut
syisya
belum tau aja tu darma&wati kalau calon mantu yg selama ini kalian tidak restui itu adalah pewaris tunggal, bos besar..hidup laras nantinya akan bahagia tanpa dia tau perjuangan hubungan mereka selama ini tidak sia" bahwa bayu sebenarnya adalah anak orang kaya..sabar ya bon sebentar lagi semoga semua perbuatan baikmu akan dibalas oleh bayu karna dia tidak akan benar" meninggalkanmu yg sudah dianggap seperti saudara
Vincen Party
tenanglah....Bayu psti akan DTG genti membantumu
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
bagus laras. ayo bayu, cari solusi. semangat!
Vincen Party
jujur.....maaf TPI q GK suka cerita Edwar terlalu byk Thor.....tlng fokus ke bayu dan boni
abimasta
jangan sampai laras jatuh ke tangan edward
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
bayu, kenapa kau tak meminta papamu mempertemukanmu dengan boni & laras?
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
semoga laras berhasil menyelamatkan adiknya. semangat laras
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
ini bukan naif tapi tamak. mereka akan terjebak edward
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!