"Kata orang, cinta itu berawal dari mata, kemudian turun ke hati. Namun, itu tidak berlaku bagi kami. Cinta kami bermula dari getaran yang timbul di dalam hati, sementara mata hanyalah buktinya."- Yuri
Yuanri Agatha, atau yang biasa disapa dengan sebutan Yuri, adalah seorang perempuan dengan paras cantik serta bentuk tubuh yang sempurna. Meski begitu kisah hidupnya tidak seindah penampilan fisiknya.
Ada satu masa dimana perempuan itu akhirnya berpikir untuk mengakhiri hidup karena tidak tahan dengan hinaan warga sekitar, yang terus melabelnya sebagai wanita penggoda. Padahal, kenyataannya adalah bahwa Yuri selalu menjaga kehormatannya.
Keputusan mengakhiri hidup itu ia urungkan saat melihat seorang laki-laki terbaring dalam kondisi tidak sadarkan diri di atas sebuah karang, yang lokasinya tidak jauh dari tempat, yang sudah ia rencanakan untuk mengakhiri hidup.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya dengan mereka berdua? Segera favoritkan kisah ini dan nantikan kelanjutan kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tirza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut
"Rosalie, Bram!" Radit mencari sepasang kekasih yang sedang berbagi kerinduan itu ke seluruh ruangan dan tidak menemukan mereka.
"Mungkin mereka di taman belakang atau mungkin mereka di kamar." Yuri melangkah ke dapur untuk membuat sepoci teh bagi semua orang yang ada di dalam rumah itu, sambil mengeluarkan beberapa roti yang baru saja dibelinya bersama Radit.
Radit melangkah menuju ke kamar Bram dan benar. Ia menemukan Bram sedang tidur sambil memeluk Rosalie sore itu.
"Oh my goodness! Wake up sleepy head!" Radit menatap dua orang kekasih itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Bram, ini masih di rumah Yuri. Tidak sepantasnya kalian tidur seperti ini." Radit berusaha menjaga perasaan Yuri.
Setelah mendengar seluruh penjelasan Yuri, Radit yang awalnya tidak menyukai gadis itu karena kedekatannya dengan Bram, tiba-tiba mengubah pandangannya. Yuri adalah gadis baik yang tidak beruntung dalam hidupnya. Laki-laki itu menaruh rasa empati kepada Yuri, dan berjanji di dalam hati, akan berusaha membantu gadis itu sehingga ia bisa sedikit merasakan kebahagiaan di dalam hidupnya.
Radit yang kini cukup akrab dengan Yuri pun meminta gadis itu memanggilnya dengan sebutan kakak. Laki-laki itu berusaha memberikan apa yang tidak dimiliki Yuri dalam hidupnya, dan itu adalah keluarga.
"Tidak apa-apa kak Radit. Biarkan saja. Aku bisa memahaminya. Mereka sudah lama tidak berjumpa," jawab Yuri yang sudah berdiri di belakang Radit sambil memaksakan senyumnya.
"Yuri!" Bram memanggil perempuan itu dengan suara serak karena baru saja bangun tidur.
"Aku di sini Mas." Yuri berdiri di samping Radit. Gadis itu kemudian menatap Bram yang kini sedang merenggangkan ototnya karena kaku. Yuri juga melihat Rosalie, yang baru saja terbangun dan sedang mengerjapkan matanya.
"Kemarilah! Biar aku kenalkan dengan tunanganku." Bram memeluk Rosalie kembali dan mengecup keningnya.
Yuri berusaha membiasakan diri dengan pemandangan di depan mata. Ia melangkah sambil berusaha menetralkan ekspresinya. Sementara Radit, laki-laki itu terus memandang Yuri. Ia mengetahui bahwa gadis itu sedang berusaha menutupi perasaannya sekuat tenaga.
"Selamat sore Nona Rosalie. Saya Yuri. Senang bertemu dengan anda, Nona." Yuri menyodorkan tangannya. Begitu pun dengan Rosalie, perempuan itu menyambut hangat tangan Yuri.
"Nama yang cantik, secantik wajah orang yang memilikinya." Rosalie memuji kecantikan Yuri.
"Terima kasih Nona. Anda terlalu berlebihan memuji. Saya hanya orang desa yang sederhana," timpal Yuri kepada kekasih Bram.
"Kami baru saja membeli beberapa roti isi. Yuri juga sudah membuat sepoci teh untuk kita nikmati dengan rotinya. Ayo kita berbincang di ruang makan saja." Radit meninggalkan kamar Bram lebih dulu, kemudian disusul oleh Yuri. Rosalie sebenarnya ingin membantu Bram berjalan, namun laki-laki itu menolak. Bram benar-benar tidak ingin merepotkan tunangannya itu.
---------------
"Mas, mau roti apa? Di sini tidak ada roti isi kismis kesukaanmu. Yang ada hanya roti isi coklat, isi daging....." Rosalie menanyakan keinginan Bram, karena ia merasa tidak ada roti kesukaan mereka berdua di sana.
"Keju manis," Yuri dan Bram berucap bersama-sama menyela ucapan Rosalie.
"Hmm.. Baiklah! Di sini ada satu." Rosalie mengambil roti itu.
Sebenarnya Rosalie baru mengetahui bahwa Bram menyukai keju manis. Selama ini, laki-laki itu selalu memesan makanan yang sama dengan dirinya. Ia mengira bahwa selera mereka selalu sama. Kebetulan Rosalie tidak menyukai keju. Ia tentu terkejut saat Bram memilih sesuatu yang tidak ia sukai.
"Lalu, Yuri makan apa?" Bram menyadari bahwa Yuri juga menyukai roti isi keju manis.
"Aku coklat saja. Tadi di toko, keju manisnya hanya tinggal satu. Tidak apa-apa, untuk mas Bram saja." Yuri tersenyum melihat Rosalie.
"Sejak kapan kamu suka coklat?" Bram mengerutkan keningnya. Ia tahu bahwa Yuri tidak menyukai coklat, kecuali Brownies coklat panggang.
"A-aku tiba-tiba ingin saja," balas Yuri sambil mengambil roti coklat itu.
Kecanggungan sempat terjadi di antara Yuri dan Rosalie. Raditya tentu menyadari hal itu. Namun, Rosalie berusaha mencairkan suasana.
"Hmm... Teh yang disedu di dalam poci tanah liat dan diminum dengan gula batu seperti ini ternyata sangat nikmat ya?" Rosalie menyesap teh itu beberapa kali dan terlihat menikmatinya.
"Nona menyukainya? Syukurlah." Yuri menatap Rosalie dengan lega.
"Nona Yuri. Kapan-kapan jika sempat belikan aku poci teh dari tanah liat seperti ini ya. Di bandung mungkin ada, tetapi aku tidak tahu harus mencari dimana." Rosalie mulai berusaha mengakrabkan dirinya dengan Yuri.
"Nanti akan saya carikan. Di desa ini banyak yang jual. Jangan khawatir!" Yuri menjanjikan benda itu pada Rosalie.
"Nona Yuri, terima kasih." Rosalie menatap Yuri dengan tatapan dalam dan penuh arti sambil menggenggam sebelah tangan gadis itu.
"Iya. Sama-sama. Hanya poci teh saja." Yuri membalas menaruh tangannya yang lain di atas tangan Rosalie.
"Bukan itu. Terima kasih karena sudah menyelamatkan dan menjaga calon suamiku ini untukku. Aku tidak tahu bagaimana aku harus membalas kebaikanmu itu, Nona." Rosalie mengucapkan kalimat itu dengan tulus.
"Siapa pun pasti akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi saya." Yuri menanggapi ucapan Rosalie dengan bahasa yang diplomatis. Bagaimanapun juga, ia tidak boleh terlihat memyimpan perasaan pada Bram.
"Baguslah!Kalian berdua sudah akrab. Oya, aku harus kembali ke rumah sakit sebentar lagi. Kita harus mencari hotel untukmu, Rose. Mungkin sebaiknya kita berangkat sekarang." Radit menyela pembicaraan kedua gadis yang sama-sama mencintai Bram itu.
"Kenapa tidak menginap saja di sini? Nona Rosalie bisa tidur bersama saya. Saya hanya tinggal mengganti sprei saja." Yuri menawarkan.
"Apa tidak merepotkan?" Rosalie menatap Yuri. Gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Tinggalah di sini! Saya tidak keberatan. Lagi pula sudah lama kalian tidak berjumpa. Pasti masih ingin berbincang lebih lama kan?" Yuri tersenyum lembut.
"Tinggalah bersamaku di sini." Kali ini Bram yang meminta. Rosalie pun tidak bisa menolak permintaan laki-laki itu.
---------------
Setelah pembicaraan sore itu, Yuri segera menyiapkan makan malam untuk seisi rumah. Sementara Rosalie, Bram, dan Radit memilih berbincang di ruang tamu.
Setelah semuanya tersedia di atas meja makan, barulah Yuri memanggil yang lain. Sayangnya, Raditya tidak bisa ikut makan bersama mereka. Laki-laki itu kembali mendapat panggilan darurat dari Rumah Sakit.
Banyak hal terjadi di meja makan, malam itu. Banyak hal yang baru Rosalie ketahui sepanjang hubungannya dengan Bram. Yuri yang baru beberapa bulan bersama dengan Bram, terlihat lebih memahami keinginan Bram dan lebih cekatan membantu laki-laki itu. Sementara Rosalie, gadis itu rupanya tidak terlalu mengenal Bram dengan baik dan masih kebingungan harus berbuat apa.
Selama ini, Bram selalu mengikuti kemauannya, sehingga ia merasa bahwa itu adalah gambaran dari diri Bram. Namun, semua menjadi berbeda sekarang, saat laki-laki itu telah bertemu dengan Yuri. Bram lebih terlihat menjadi dirinya sendiri saat bersama Yuri.
Ada sedikit rasa takut di dalam hati Rosalie, karena itu setelah acara makan malam selesai, ia bermaksud berbicara empat mata dengan Bram. Gadis itu terbiasa mengatakan isi hatinya dengan terbuka sejak dulu. Ia tentu tidak ingin memendam rasa takut ini terlalu lama.
"Nona Yuri tidur saja lebih dulu. Ada yang masih ingin aku bicarakan dengan Mas Bram," ucap Rosalie kepada Yuri.
"Baiklah! Saya tidak mengunci pintu kamarnya. Jika Nona ingin tidur, langsung saja masuk ke dalam," balas Yuri sambil melangkah masuk ke dalam kamar.
-------‐-----------
"Mas," panggil Rosalie.
"Hmm?" Bram mencium puncak kepala tunangannya. Mereka berdua saat ini sedang berbaring di atas ranjang.
"Kamu sepertinya sangat akrab dengan Yuri." Rosalie memeluk kekasihnya dengan erat.
"Tentu saja. Kami tinggal seatap berminggu-minggu. Mana mungkin kami tidak akrab," jawab Bram dengan santai. Laki-laki itu sepertinya belum memahami maksud ucapan gadis itu.
"Tapi, sepertinya kamu lebih nyaman jika dia membantumu dibandingkan denganku. Tidak hanya itu, semua yang kupilihkan untukmu selalu salah. Dia seperti lebih mengenalmu dari pada aku," balas Rosalie kembali dengan sedikit cemberut.
"Hah? Oh, Yuri memang lebih terbiasa dengan kondisiku karena sejak aku buta dia yang selalu ada untuk membantuku. Dia adalah sahabatku yang paling baik. Apakah kamu cemburu dengan sahabatku itu?" Bram mencubit pipi Rosalie untuk menggodanya.
"Tentu saja aku cemburu. Kalian sangat akrab. Banyak kisah di dalam novel menceritakan tentang sahabat berubah menjadi kekasih." Rosalie berbicara dengan menggunakan nada manjanya.
"Aku tidak mungkin meninggalkanmu, sayang. Jika memang aku mau dengan Yuri, aku bisa melakukan apa saja dengannya sejak dulu. Kami hanya bersahabat. Tidak lebih dari itu." Bram membelai rambut Rosalie.
"Tapi bagaimana jika ternyata dia menyukaimu dan Mas sudah banyak berhutang budi padanya? Bagaimana jika ia memintamu menikahinya?" Rosalie mulai membayangkan yang tidak-tidak tentang Yuri karena takut kehilangan Bram.
"Itu tidak mungkin terjadi, sayang. Aku tidak akan pernah memilihnya. Dia harus menyadari siapa dirinya. Seribu Yuri bahkan tidak bisa menggantikan seorang Rosalie di hatiku," tutur Bram kembali sambil mengarahkan wajah Rosalie untuk mendekat pada wajahnya.
Mereka berdua kembali berciuman malam itu. Bram dan Rosalie begitu menikmati ciuman mereka dan tidak menyadari bahwa Yuri berdiri di balik pintu sambil meneteskan air mata karena terluka mendengar percakapan mereka.
Gadis itu awalnya hendak mengantarkan beberapa pakaian bersih untuk Bram. Ia tidak tahu bahwa ia datang di saat yang tidak tepat. Yuri pun mengurungkan niatnya dan segera masuk kembali ke dalam kamar dengan perasaan sedih yang mendalam.
----------‐------
Selamat membaca! Jangan lupa dukungannya ya teman-teman! Terima kasih.