Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Lo pelakunya
Sementara itu, di Kafe 30 KM yang mulai di penuhi remaja berseragam SMA, Aera sedang duduk di kursi dekat jendela. Tangan kecilnya memegang gelas cokelat panas yang kini uapnya sudah tidak sepekat tadi.
Matanya menatap tajam ke luar jendela. Sebuah mobil hitam metalik yang sangat ia kenal terparkir rapi di halaman depan Kafe.
Mobil hitam metalik itu tampak terlihat jelas siapa sosok orang yang ada di dalam nya,
Ya, betul, Aera melihat Belva—Ibu tiri Aera yang keluar dari mobil sang Ayah, Belva keluar dari mobil tersebut dengan seorang pria Asing yang tidak ia kenali sama sekali.
“Siapa pria asing itu?”
Aera yang melihat langsung mendadak gelisah. Sorot matanya terus menatap pergerakan Belva sampai akhirnya Belva memasuki Kafe tersebut dan berjalan menuju lantai dua,
Sheina dan Stella, sedang asyik menyantap kentang goreng. Tapi keduanya menyadari bahwa Aera tampak berbeda, celingukan dan resah, seperti sedang mencari seseorang.
"Kenapa lo?" Tanya Sheina, mengerutkan dahi.
Aera refleks menggelengkan kepala cepat. Ia meneguk cokelat panas nya, mencoba menyibukkan diri, padahal pikirannya melayang kemana-mana. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Jika kedua nya tahu, bisa-bisa pertanyaan mereka lebih banyak dan lebih menyebalkan dari rasa penasarannya sendiri.
Namun Sheina tidak tinggal diam. Ia bersandar santai, menatap Aera sambil menarik turun kan Alisnya jahil.
"Lo ngelihatin siapa, sih? Ada mangsa baru?" Godanya. "Siapa? Dari sekolah mana?"
Aera memutar bola matanya. "Nggak!"
"Udah gue duga pelakunya pasti Jalang itu."
"Tunggu saja, sebentar lagi lo bakal hancur!" Ucap Aera dalam hati dengan senyum menyeringai kegembiraan yang licik.
...----------------...
"Mau jadi apa lo, kalau kelakuan lo kek gini terus. Gimana sama masa depan lo? Mau jadi preman atau Berandalan?"
"Biarpun gue jadi berandal, setidaknya gue nggak seberengsek lo, Niel. Lo pikir gue nggak tau, apa yang lo lakukan. Lo sudah merusak masa depan anak orang," balas Alfino. Sedikit memelankan nada suaranya di akhir kalimat.
Deggg...
Jantung Niel kembali berdetak kencang. Wajahnya langsung pucat pasi. Bagaimana Alfino bisa tau tentang masalah itu.
Alfino tertawa sinis. "Lo nggak usah kaget gitu. Tenang aja, gue nggak bakal kasih tau ke yang lain, kalau lo udah merusak anak orang."
"Lo nggak usah ngaco! Gue nggak ngerusak siapa-siapa, lo jangan sok tau!" Kelit Niel.
"Cih, pake acara ngelak segala."
"Gue nggak ngelak."
"Bohong! Buktinya Moana hamil anak lo." Sarkas Alfino. Menggunakan nada pelan.
"Shittt... sial, bagaimana Alfino bisa tau." Gumam Niel dalam hatinya cemas.
"Gue masih nggak nyangka sih. Seorang Niel Sadikta, ketua—OSIS SMA Harapan, yang terkenal akan kepintaran dan prestasinya. Ternyata mempunyai sikap sebejat itu. Lo tega merusak masa depan seorang perempuan dan yang lebih parahnya lagi. Lo tidak mau bertanggung jawab, lo malah minta Moana buat gugurin kandungannya. Ternyata orang yang paling terlihat baik, mempunyai sikap seberengsek, sebejat dan se pengecut ini. "Ucap Alfino dengan panjang lebarnya, kemudian ia menarik nafasnya pelan-pelan.
“Jadi, kalau di pikir-pikir masih mending gue. Gue emang nakal dan urakan, sering balapan, tapi gue tidak seberengsek lo. Niel."
Bughhh...
Tak tahan mendengar Alfino yang terus mencibir dirinya. Niel langsung menonjok wajah Alfino dengan kuat. Sehingga membuat Alfino terhuyung ke belakang. Mengakibatkan sudut bibir Alfino sedikit robek. Membuat darah mengalir di sudut bibirnya.
"Diem lo! Lo gak tau masalahnya, lebih baik nggak usah ikut campur! Satu lagi, jangan berani-beraninya lo bilang masalah ini ke orang lain. Atau lo bakal tau sendiri akibatnya." Ancam Niel.
Alfino mengusap darah dari sudut bibirnya kasar. Ia menatap Niel tajam. "Gue gak takut dengan ancaman lo. Lo lupa siapa gue? Sebelum lo apa-apain gue, lo yang bakal lebih dulu gue apa-apain."
Deggg...