NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untukmu

Terlahir Kembali Untukmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Rebirth For Love / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Reinkarnasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Volis

Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.

Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.

Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.

Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.

Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?

Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Perusahaan Renan

Adrian menatapnya seperti melihat monster.

“Renan… dua hari ini kemana saja kamu? Kenapa banyak sekali hal yang terjadi?”

“Bagaimana dengan Ayuna? Kamu benar-benar keterlaluan.”

Ia mencondongkan badan ke depan. “Kalau kamu tidak menyukainya, lepaskan saja dia.”

Wajah Renan langsung mengeras. “Aku tidak bisa.”

“Dia akan tetap di sisiku seumur hidup.”

Adrian menghela napas panjang. “Orang sekeras dan sesombong kamu tidak mungkin mempertahankan seseorang hanya sebagai selingkuhan.”

“Omong kosong!” suara Renan meninggi.

“Dia istriku.”

Mata Adrian melebar mendengar seruan Renan.

Renan terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah, seolah bicara pada dirinya sendiri.

“Begitu aku tahu dia hamil, aku langsung membawanya mengurus pernikahan ke KUA. Keluarga kami sudah bertemu.”

“Aku sudah menerima semuanya. Baik dan buruk selama dua tahun terakhir. Tidak ada gunanya terus marah.”

Mata Renan tampak berkaca-kaca

.

Adrian terdiam. Ia belum pernah—tidak pernah—melihatnya seperti ini.

Akhirnya, Adrian berdiri dan menepuk bahu sahabatnya.

“Kalau begitu, aku mendoakan yang terbaik buatmu.”

“Ayuna itu gadis baik. Aku melihat sendiri bagaimana seorang gadis ceria dan percaya diri layu karena kamu.”

Ia tersenyum pahit. “Meski kita ini bajingan, setidaknya masih punya sedikit hati nurani.”

Renan menunduk. “Aku memang sudah melakukan banyak hal buruk.”

“Tapi,” suaranya pelan, hampir seperti janji, “dia akan baik-baik saja menikah denganku.”

❀❀❀

Akhir-akhir ini, Renan nyaris tidak pernah punya waktu luang.

Namun, tak peduli seberapa larut malamnya, ia selalu pulang. Selalu berbaring di sisi Ayuna, seolah itu adalah satu-satunya hal yang tidak boleh ia lewatkan.

Awalnya, Ayuna sempat kesal.

Sikapnya masih dingin, jarak di antara mereka belum sepenuhnya mencair. Namun perlahan, ia menyadari Renan tidak sedang menghindar. Ia benar-benar sibuk.

Dan sibuk dengan hal yang penting.

Renan juga tidak menyembunyikannya.

Ia memberitahunya tentang pembukaan Perusahaan Media Hiburan Komodo, tentang rencana-rencananya, tentang ambisi yang baru tumbuh. Hubungan mereka, tanpa disadari, mulai membaik sedikit demi sedikit.

Namun justru di sanalah kegelisahan itu muncul.

Terlalu banyak gadis cantik.

Renan memang tidak pernah kekurangan wanita sejak dulu. Dan sekarang dengan bayi di dalam kandungannya perasaan cemas itu datang tanpa bisa ditahan.

Ia bahkan menolak bertemu Yang Xi.

Alasannya sederhana dan jujur. Ia tidak mungkin berhubungan dengan seseorang yang jelas-jelas mengincar suaminya.

Dan hari ini Ayuna memutuskan untuk mengunjungi Renan di perusahaan.

“Kakak ipar sudah datang?” Adrian tersenyum ketika melihatnya.

“Renan sedang di ruang konferensi, bicara dengan Kak Revan.”

Adrian kini bekerja langsung bersama Renan.

“Tidak apa-apa,” jawab Ayuna pelan.

“Aku tunggu di kantornya saja.” Di tangannya hanya ada satu kotak bekal.

Ia tidak menyangka Revan juga akan datang hari ini.

Terlintas kembali obrolan kemarin. Mama Reni membicarakan pernikahan mereka dengan nada serius, hangat, seolah ia benar-benar telah menjadi bagian dari keluarga itu.

Dadanya menghangat.

“Hei? Siapa kamu?”

Suara perempuan memotong lamunannya.

Seorang wanita muda masuk dengan langkah percaya diri. Bodysuit berleher V dipadukan dengan rok A-line menonjolkan kaki panjang dan ramping. Rambut bergelombangnya terurai indah, jelas dirawat dengan baik.

Tatapannya menyapu ruangan, lalu berhenti pada Ayuna.

Bukan pemasaran, melainkan menilai.

“Apa yang kau lakukan di kantor Pak Renan?”

Jantung Ayuna berdegup keras.

Ia bangkit perlahan dari sofa. “Saya istrinya.”

Suasana hening sejenak.

Wanita itu tampak terkejut, namun keterkejutan itu hanya sepersekian detik sebelum berubah menjadi senyum tipis yang dipaksakan.

“Istri?” ulangnya pelan. “Saya tidak pernah mendengarnya.”

“Itu wajar,” jawab Ayuna singkat. “Karena pernikahan kami belum diumumkan.”

Tatapan wanita itu kembali menyapu Ayuna dari ujung kepala hingga kaki. Seolah mencoba mencari sesuatu. Cela, ke tidak pantasan, atau alasan untuk tidak percaya.

“Saya Tasya,” katanya akhirnya. "Saya karyawan di sini.”

“Kalau begitu,” Ayuna mengangguk kecil, “kamu seharusnya tahu batasan.”

Nada suaranya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang telapak tangannya mulai dingin oleh keringat.

“Saya menunggu suami saya.”

Senyum Tasya mengeras. “Pak Renan sedang sibuk.”

“Saya tahu,” jawab Ayuna tanpa ragu. “Itu sebabnya saya menunggu di sini.”

Keheningan kembali jatuh.

Untuk sesaat, Tasya terlihat ragu. Matanya berkilat, antara tidak percaya dan tidak rela.

Lalu ia mendengus pelan.

“Baiklah,” katanya singkat. “Aku keluar.”

Langkahnya terdengar tegas saat menjauh, namun pintu yang tertutup agak lebih keras dari seharusnya mengkhianati emosinya.

Ayuna baru menyadari napasnya tertahan sejak tadi.

Ia duduk kembali perlahan. Jari-jarinya gemetar, lalu ia mengepalkannya di pangkuan.

Ia tidak tahu siapa perempuan itu.

Tapi, satu hal jelas. Ia tidak datang dengan niat baik.

Di ruang konferensi.

Revan datang karena mengira hari ini tidak terlalu sibuk.

Namun ia terkejut melihat bagaimana adik laki-lakinya menangani segalanya. Tenang, terstruktur, jauh lebih andal dari yang ia bayangkan.

“Lalu,” Revan bersandar di kursi, “apa model keuntungan utama perusahaan internetmu?”

Renan menjawab tanpa ragu. “Iklan, langganan konten, komisi, event, sponsor. Ada beberapa modul utama, nanti akan kutunjukkan detailnya.”

“Sekarang semua orang hidup di layar ponsel,” lanjutnya.

“Pasarnya besar.”

“Dan target kami bukan hanya anak muda. Kelompok usia menengah juga punya potensi besar. Itu peluang jangka panjang.”

Revan mengangguk perlahan.

Ia harus mengakui, ada sesuatu yang berbeda dari Renan sekarang.

Lebih dewasa.

Lebih terarah.

Dan cukup menggoda untuk diinvestasikan.

“Kak,” Renan bersandar santai di kursinya, satu kaki menyilang.

“Kalau tidak salah, cabang perusahaan kita juga ada yang bergerak di bidang internet, kan?”

“Ya,” jawab Revan sambil mengangguk.

“Awalnya aku berniat menyerahkan cabang itu kepadamu. Aku tidak menyangka kamu malah memilih memulai dari nol.”

Ia menatap adiknya sejenak, lalu tersenyum tipis. “Tidak buruk. Kamu sudah banyak berkembang.”

Renan tersenyum samar. “Aku menahan cukup banyak harga diri untuk sampai ke titik ini.”

Renan bersandar di kursinya.

Harga diri, hal yang dulu paling ia banggakan, ternyata tidak ada artinya jika dibandingkan dengan satu hal sederhana. Ayuna bisa hidup tenang.

Ia tidak pernah takut memulai dari nol.

Yang ia takutkan hanyalah mengulangi kesalahan yang sama.

Dunia bergerak cepat. Teknologi berubah, pasar bergeser, dan orang-orang yang tidak mau belajar akan tertinggal.

Untungnya, ia bukan tipe yang berhenti belajar.

Dan kali ini, ia tahu jelas untuk siapa ia melangkah maju.

Bukan demi pembuktian.

Bukan demi kebanggaan keluarga.

Melainkan agar suatu hari nanti, anak itu bisa tumbuh tanpa merasakan ketidakpastian yang sama seperti ibunya.

Jam di dinding menunjukkan waktu makan siang hampir tiba. Renan berdiri.

“Ayuna sudah datang. Ayo makan siang bersama.”

Revan tidak menolak. Ia justru senang melihat adiknya mengajaknya tanpa ragu, seolah itu hal yang paling wajar di dunia.

❀❀❀

Di kantor, Ayuna sedang melamun ketika pintu terbuka tanpa ia sadari.

“Sedang memikirkan apa?” suara Renan terdengar dekat.

“Kakak juga datang. Kita makan siang bersama.”

Ayuna tersentak ringan, lalu mengangguk sambil menekan rasa tidak nyaman yang masih tersisa di dadanya.

“Baik.”

Ia menurunkan pandangan ke kotak bekal di tangannya. “Tapi ini…”

“Taruh saja di sini,” potong Renan lembut.

“Ada kulkas. Nanti sore kalau aku lapar, aku makan.”

Saat mereka keluar dari kantor, Renan dengan alami menggenggam tangan Ayuna.

Sentuhan itu sederhana, tapi cukup membuat jantungnya menghangat.

Ia tidak pernah berpikir untuk menyembunyikan pernikahan mereka. Dan sikap Renan hari ini, terang-terangan, tanpa ragu membuatnya merasa aman.

Di luar, beberapa karyawan mulai berbisik.

“Itu pacar bos, ya?”

“Pasti. Mereka bergandengan tangan.”

“Cantik sekali. Cocok banget.”

Tasya yang berdiri tak jauh dari sana mengepalkan tangannya tanpa sadar.

Saat pertama masuk kerja, ia terpikat oleh wajah muda dan karisma Pak Renan. Ia sempat berpikir, mungkin ia punya peluang.

Ternyata, pria itu sudah memiliki seseorang.

Dan baru sekarang ia menyadari kebodohannya.

Bos perusahaan hiburan ini didukung keluarga Morris. Nama belakangnya Morris. Seharusnya sejak awal sudah jelas, ia bukan pria yang bisa didekati sembarangan.

Revan memperhatikan mereka berjalan berdampingan menuju lift.

Terlalu manis.

Namun, bukannya merasa terganggu, ia justru tersenyum.

Ia tahu, perubahan pada adiknya bukan terjadi begitu saja. Ada seseorang di sisinya yang membuat Renan tumbuh dewasa.

“Adrian sudah memesankan tempat,” kata Renan.

“Ayo, aku yang menyetir.”

Ia berdiri sedikit di depan Ayuna, refleks melindunginya.

Revan menghela napas pelan dalam hati.

Anak ini, akhirnya benar-benar dewasa.

Di dalam mobil, Revan menoleh ke arah Ayuna. “Kalian sudah membicarakan soal pernikahan?”

“Hampir semuanya,” jawab Ayuna lembut.

“Mama akhir-akhir ini sangat sibuk.”

Ia sedang hamil, tidak mungkin melelahkan diri. Sementara perusahaan Renan baru berdiri dan menyita hampir seluruh waktunya.

Tanpa banyak bicara, persiapan pernikahan pun diserahkan kepada Mama Reni dan Papa Herman.

Dan semua ini membuat Ayuna merasa, ia tidak lagi sendirian menghadapi masa depan.

1
Anonymous
Halah ... cowok kek gitu gak usah dikasih kesempatan
Volis: Iya, sih. Tapi, kan namanya juga novel. Apa saja bisa terjadi 😅
total 1 replies
Aku Fujo
maantaapppp
Volis
Maaf, ya. Author ternyata salah update bab. Bab Tidak Semua Orang Tulus itu seharusnya bab 12 🤗
NOname 💝
Demnnnn
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻

Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta
Adel
bentar... ini dia mati beneran? Trus idup lagi? Gimana? Moga next chap ngejawab🙌
Adel
hm, ini si Renan tanggung jawab nggak lo👊
Adel
hm, mungkin dia mati suri
Indah MB
semoga keluarga renan baik dan kocak🤭
Indah MB
Renan jgn mengulangi kesalahan yg sama lagi ya
Indah MB
pantas di maafin g ya thor? soalnya belum tau 2 tahun lalu itu cerita mereka bagaimana..
Indah MB
syuka banget klo yg terlahir kembali gini hehehe ... 💪 thor ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!