NovelToon NovelToon
BANDHANA

BANDHANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Beatt

Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Anindita mundur selangkah, menciptakan jarak aman antara dirinya dan Zaverio. Udara di ruangan itu terasa mencekik, terlalu panas, terlalu sesak. Mata hijau zamrud itu masih menatapnya dengan intensitas yang membuatnya sulit bernafas.

"Ya, benar. Tidak ada yang kusembunyikan," ucap Anindita dengan nada yang berusaha terdengar tenang, meski jantungnya berdetak seperti drum perang.

Tanpa menunggu respons, dia berbalik dan melangkah cepat menuju pintu. Setiap langkahnya terasa berat, seolah kakinya terikat beban tak kasat mata. Di belakangnya, dia mendengar bunyi lembut—Zaverio duduk di sofa dengan santai, seolah dia adalah raja yang tengah menikmati pertunjukan.

Tangan Anindita sudah menyentuh gagang pintu ketika sesuatu membuatnya berhenti. Hati nuraninya. Atau mungkin rasa tanggung jawab sebagai menantu keluarga Kusuma. Dia memutar tubuhnya perlahan, menatap pria yang dulu pernah memiliki seluruh hatinya itu.

"Selamat atas kerja sama dengan Adler Corporation," kata Anindita, suaranya profesional—dingin bahkan. "Dan selagi kita bertemu, aku ingin menyampaikan sesuatu." Dia menarik nafas dalam. "Kakek merindukanmu. Pulanglah. Setidaknya... setidaknya untuk makan malam keluarga sesekali."

Keheningan menggantung di antara mereka. Zaverio tidak bergerak, tidak menjawab. Wajahnya seperti patung marmer—indah tapi dingin, tidak memberikan petunjuk apapun tentang apa yang dia rasakan.

Anindita menghela nafas panjang. Tentu saja. Dia seharusnya tahu. Zaverio Kusuma adalah pria paling keras kepala yang pernah dia kenal. Lebih keras dari batu granit, lebih dingin dari es Antartika. Hubungannya dengan keluarga Kusuma selalu... rumit.

Keluarga itu takut padanya. Bukan karena kekejamannya, tapi karena kekuasaannya. Zaverio menguasai 51% saham Kusuma Group—mayoritas mutlak. Ditambah lagi, dia memiliki konglomerat pribadi yang tersebar di lima benua. Di usia 35 tahun, dia sudah membangun kerajaan bisnis yang bahkan membuat ayahnya, Bramantara Kusuma, terlihat seperti pemain amatir.

Dan keluarga Kusuma? Mereka tersenyum di hadapannya, membungkuk hormat, memanggil dia dengan sebutan 'Tuan Muda Pertama' dengan nada penuh penghormatan. Tapi Zaverio tahu—mereka semua munafik. Mereka menginginkan uangnya, koneksinya, pengaruhnya. Bukan dirinya.

"Aku harus kembali ke perusahaan sekarang, Kak." Anindita memaksakan senyum tipis. "Sampai jumpa."

Dia memutar tubuh dan meraih gagang pintu. Tapi sebelum sempat mendorongnya, sebuah tangan besar terulur dari sampingnya—menahan pintu dengan mudah. Anindita tersentak. Kapan Zaverio bergerak? Dia bahkan tidak mendengar suara langkah kaki.

"Aku antar."

Dua kata sederhana, tapi diucapkan dengan nada yang tidak menerima penolakan.

Anindita menatap tangan yang menahan pintu itu—tangan besar dengan jemari panjang, mengenakan jam tangan Patek Philippe limited edition yang harganya setara dengan apartemen mewah. Tangannya dulu pernah menggenggam tangannya dengan lembut, pernah mengusap air matanya, pernah...

Anindita menggeleng cepat, mengusir memori itu. "Aku bisa sendiri. Lagipula aku bawa mobil."

Dia mencoba mendorong pintu lagi, tapi tangan Zaverio tidak bergeming. Seperti tembok beton.

"Apa karena dirimu masih memiliki perasaan kepadaku?" Zaverio berbicara dengan santai, terlalu santai—seolah dia sedang membicarakan cuaca. "Sehingga kau tidak mau aku antar?"

Anindita membeku. Darahnya mendidih, wajahnya memanas.

"Lagipula," lanjut Zaverio dengan nada yang hampir... main-main, "tidak ada yang tahu kalau kita pernah berpacaran, Anindita Paramitha."

Nama itu. Nama gadisnya. Nama yang terakhir kali diucapkan Zaverio dua belas tahun lalu, di selembar surat perpisahan yang menghancurkan hidupnya.

Sesuatu dalam diri Anindita patah. Amarah yang sudah dia tahan sejak tadi meledak. Dia berbalik menghadap Zaverio, dagunya terangkat, matanya menyala.

"Oh ya, aku lupa akan hal itu, kakak ipar." Dia menekankan dua kata terakhir dengan tajam seperti belati. "Dan mungkin kau yang lupa—sekarang aku bukan hanya Anindita Paramitha. Aku adalah Nyonya Muda Kedua Kusuma. Anindita Paramitha Kusuma." Setiap kata keluar dengan penekanan, dengan kemarahan yang tertahan. "Dan aku berterima kasih karena engkau menawarkan untuk mengantarku, tapi aku. Bisa. Sendiri."

Dia mendorong pintu dengan kekuatan penuh. Tapi Zaverio masih menahan, seolah usaha Anindita tidak lebih dari desiran angin.

Kesal. Anindita sangat kesal. Tanpa berpikir panjang, instingnya mengambil alih—kakinya yang mengenakan heels lancip menghantam kaki Zaverio dengan keras.

Tepat seperti dulu. Tepat seperti yang selalu dia lakukan setiap kali kesal pada pria menyebalkan ini saat mereka masih pacaran.

Zaverio tersentak, lebih karena terkejut daripada kesakitan. Bibirnya berkedut—sekilas, sangat sekilas—membentuk senyum tipis yang nyaris tidak terlihat.

"Baiklah." Akhirnya dia melepaskan pintu, melangkah mundur dengan anggun. "Aku akan membiarkanmu pergi... wahai Nyonya Muda Kusuma."

Anindita tidak menunggu lebih lama. Dia melangkah keluar dengan cepat—terlalu cepat untuk seorang wanita berkelas—tapi dia tidak peduli. Dia hanya ingin menjauh. Menjauh dari ruangan itu. Menjauh dari aroma cologne yang terlalu familiar. Menjauh dari mata hijau yang masih bisa membaca setiap rahasia jiwanya.

Zaverio berdiri di ambang pintu, menatap punggung Anindita yang menghilang di tikungan koridor. Senyumnya melebar—senyum tulus pertama hari itu. Tangannya terangkat, mengusap dagu yang sedikit ditumbuhi janggut.

"Masih sama," gumamnya pelan, nyaris berbisik. "Kau masih sama, Anindita."

Kebiasaan kecil itu. Menginjak kakinya saat kesal. Cara matanya menyipit saat marah. Cara dagunya terangkat dengan keras kepala saat menolak. Semuanya... semuanya masih sama seperti dua belas tahun lalu.

Hanya saja sekarang, dia bukan lagi miliknya. Sekarang dia adalah istri Hardana—adik tirinya, anak kesayangan ayahnya, pewaris sah Kusuma Group setelah dirinya.

Zaverio kembali ke sofa, duduk dengan posisi rileks tapi matanya menatap kosong ke jendela besar yang memperlihatkan langit Jakarta yang mulai gelap. Tangannya terkepal di atas paha.

Jika saja...

Dua kata yang selalu menghantuinya. Dua kata yang menjadi kutukan seumur hidupnya.

Jika saja aku tidak pergi malam itu...

Jika saja aku tidak meninggalkannya...

Jika saja aku tidak memilih bisnis di atas cinta...

Mungkin sekarang dialah yang tidur di sampingnya setiap malam. Dialah yang menggenggam tangannya saat berjalan. Dialah yang menjadi suaminya, bukan Hardana.

Tapi nasi sudah menjadi bubur. Keputusan sudah diambil. Dia meninggalkannya untuk menyelamatkan perusahaan Paramitha, dan sekarang—sekarang dia harus hidup dengan konsekuensinya.

Dengan melihat wanita yang dia cintai menjadi istri adiknya sendiri.

...****************...

Anindita mengemudi dengan tangan gemetar di kemudi. Jalanan Jakarta sudah mulai padat dengan lalu lintas sore hari, tapi pikirannya jauh melayang—dua belas tahun ke belakang, ke masa yang sudah dia kubur dalam-dalam di hatinya.

Perusahaan Paramitha Corp menjulang di depannya—gedung 45 lantai dengan fasad kaca yang memantulkan cahaya matahari senja. Gedung yang menjadi kebanggaan ayahnya. Gedung yang nyaris hancur tujuh tahun lalu.

Dan semua karena...

"Savitha," bisik Anindita, nama itu terasa pahit di lidahnya.

Adik tirinya. Gadis yang dia sayangi seperti adik kandung sendiri. Gadis yang dia lindungi, dia besarkan, dia cintai dengan sepenuh hati. Gadis yang mengkhianatinya dengan cara paling keji.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!