Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Jaring yang Selama Ini Tak Terlihat
Pagi itu istana terlihat seperti biasa.
Pelayan berjalan hilir mudik.
Penjaga berganti giliran.
Burung-burung tetap berkicau di taman.
Namun bagi Song An, semuanya terasa berbeda.
Ia berdiri di balkon paviliun, memandangi gerbang luar istana yang tampak kecil dari kejauhan.
“Mereka mulai bergerak,” gumamnya pelan.
Selir Li yang duduk di meja teh menoleh. “Kau merasakannya juga?”
Song An mengangguk. “Dao bukan ujung. Dia hanya pintu.”
Selir Zhang menghela napas panjang. “Dan sekarang pintunya sudah terbuka.”
----
Mei masuk dengan langkah cepat, wajahnya tegang.“Selir… ada kiriman dari luar istana.”
Selir Li langsung berdiri. “Dari siapa?”
Mei menyerahkan tabung bambu kecil. Tidak ada cap keluarga bangsawan. Tidak ada tanda istana.
Song An membuka perlahan.
Di dalamnya hanya ada satu kalimat pendek.
“Kami sudah masuk.”
Selir Zhang memucat.
Selir Li memejamkan mata sebentar.
“Itu tulisan dia…” bisik Selir Li.
Song An menoleh lembut. “Pria yang kau cintai?”
Selir Li mengangguk pelan.
Selir Zhang menelan ludah. “Milikku juga akan datang berarti…”
Song An menggulung kembali kertas itu. “Berarti mereka berhasil menyusup ke jaringan musuh.”
Pria-Pria yang Tidak Pernah Mereka Lupakan
Siang itu, di luar ibu kota, dua pria duduk di kedai kecil yang tampak sepi.
Pakaian mereka sederhana. Wajah mereka biasa saja.
Namun mata mereka tajam.
“Aku tidak menyangka kita akan melakukan ini,” kata yang lebih muda.
“Demi mereka,” jawab yang lebih tenang.
“Apa menurutmu mereka baik-baik saja di istana?”
Pria itu tersenyum tipis. “Kalau mereka masih bisa mengirim kabar, berarti mereka masih bertahan.”
Mereka bukan prajurit.
Bukan bangsawan.
Satu adalah tabib desa.
Satu lagi putra pedagang kain.
Tapi sekarang, mereka adalah mata dan telinga di dalam jaringan bayangan yang dulu dipakai Pangeran Dao.
Dan jaringan itu jauh lebih besar dari dugaan siapa pun.
----
Malamnya, Song An, Selir Li, dan Selir Zhang dipanggil ke ruang dalam kaisar.
Kaisar Shen berdiri di depan meja peta.
“Kabar?” tanyanya begitu mereka masuk.
Song An menyerahkan tabung bambu.
Kaisar membaca cepat, lalu mengangkat kepala. “Mereka sudah dekat ke inti.”
Selir Zhang menggenggam lengan bajunya sendiri. “Mereka dalam bahaya.”
“Ya,” jawab Kaisar jujur. “Tapi tanpa mereka, kita buta.”
Selir Li menunduk. “Yang Mulia… jika sesuatu terjadi pada mereka....”
“Aku tidak akan membiarkan mereka mati sia-sia,” potong Kaisar pelan tapi tegas.
Song An menatap peta. “Apa yang mereka cari sekarang?”
“Nama,” jawab Kaisar Shen. “Kita sudah tahu ada kekuatan luar yang mendanai kekacauan ini. Tapi belum tahu siapa yang memimpin dari dalam negeri.”
-----
Dua hari kemudian, surat kedua datang.
Kali ini lebih panjang.
Song An membacanya keras-keras di hadapan Kaisar dan kedua selir lain.
“Mereka menyebut seseorang bernama Tuan gu. Bukan bangsawan tinggi, tapi semua jalur uang dan pesan melewati tangannya”
Kaisar Shen langsung menunjuk peta. “Gu Wei.”
Song An menoleh. “Kau mengenalnya?”
“Bendahara wilayah timur. Pendiam. Tidak pernah menonjol.” jawab Kaisar Shen
Selir Zhang mengerutkan kening. “Orang seperti itu justru paling berbahaya.”
Song An mengangguk. “Orang yang terlihat kecil sering memegang simpul terbesar.”
Kaisar Shen menarik napas panjang. “Kalau Gu adalah penghubung dana… berarti dia bukan hanya pengkhianat. Dia arsitek.”
-----
Sementara itu, di rumah besar pinggiran kota, dua pria yang dicintai Selir Li dan Selir Zhang duduk bersama beberapa orang lain.
Mereka pura-pura menjadi pedagang yang ingin ikut “gerakan perubahan”.
“Apa kalian siap berkontribusi?” tanya seorang pria berjubah gelap.
“Kami hanya pedagang kecil,” jawab si tabib tenang. “Tapi kami bisa menyelundupkan barang lewat jalur desa.”
Pria berjubah itu mengangguk puas. “Bagus. Tuan Gu akan senang mendengarnya.”
Nama itu kembali muncul.
Mereka saling berpandangan sekilas.
Malam itu juga, satu dari mereka menyelinap keluar dengan alasan mengambil udara segar.
Seekor burung kecil dilepaskan.
Di kakinya terikat pesan tipis.
----
Burung itu tiba sebelum fajar.
Song An membacanya dengan wajah serius.
“Mereka akan memindahkan dokumen dan emas ke markas baru… tiga malam lagi.”
Kaisar Shen langsung berdiri. “Lokasi?”
Song An menunjuk titik di peta. “Gudang garam lama di sungai utara.”
Selir Li menutup mulutnya. “Itu dekat pemukiman warga…”
“Karena itu mereka pikir kita takkan menyerang,” kata Song An.
Kaisar Shen memanggil pengawal elit.
“Serangan terbuka akan menimbulkan panik,” katanya.
“Kita lakukan penyerangan tertutup. Tangkap hidup-hidup kalau bisa. Jangan biarkan berita bocor.”
Song An menambahkan pelan, “Dan lindungi dua orang itu.”
Kaisar menatapnya, lalu mengangguk. “Mereka prioritas.”
Selir Zhang menunduk, menahan air mata lega.
-----
Ketiga selir duduk bersama di paviliun.
Tidak ada teh. Tidak ada makanan.
Hanya kegelisahan.
“Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan seperti ini,” bisik Selir Li.
Selir Zhang tertawa pelan. “Aku dulu cuma ingin menikah dan membuka toko kain kecil.”
Song An tersenyum tipis. “Aku dulu cuma ingin hidup tenang tanpa istana.”
“Dan lihat kita sekarang,” kata Selir Li.
“Menjatuhkan jaringan pengkhianat,” lanjut Selir Zhang.
Mereka bertiga tertawa pelan, gugup.
Song An menatap langit malam.
“Setelah semua ini selesai… kalian benar-benar akan pergi, kan?”
Selir Li mengangguk.
Selir Zhang juga.
“Kau?” tanya mereka bersamaan.
Song An terdiam sejenak. “Aku belum tahu.”
-----
Tiga malam kemudian, kabut tebal menyelimuti sungai.
Gudang tua itu tampak kosong.
Namun di dalamnya, peti-peti besar sedang dipindahkan.
“Cepat! Sebelum fajar!” bisik seseorang.
Tiba-tiba bayangan bergerak dari atap.
Pengawal elit Kaisar turun tanpa suara.
Mulut dibekap.
Senjata dilucuti.
Tidak ada teriakan panjang.
Di sudut ruangan, dua pria menyamar sebagai pekerja pelabuhan saling berpandangan saat melihat pasukan istana.
Mata mereka bertemu dengan komandan pengawal.
Isyarat kecil diberikan.
Mereka ditarik ke sisi aman.
Operasi berlangsung cepat.
Gu Wei mencoba kabur lewat pintu belakang
Tapi Song An sudah memperkirakan jalur itu.
Pasukan kedua menunggu di sana.
Gu Wei ditangkap hidup-hidup.
Kabar Kemenangan
Menjelang pagi, Kaisar menerima laporan.
“Gu Wei tertangkap. Dokumen dan emas diamankan.”
Selir Li menutup wajahnya, menangis lega.
Selir Zhang memeluknya.
Song An hanya menghembuskan napas panjang.
“Jaringnya mulai terlihat sekarang,” katanya.
Kaisar Shen menatapnya. “Dan semua ini berkat keberanian orang-orang yang tak pernah tercatat dalam sejarah.”
Song An tersenyum kecil. “Orang biasa sering mengubah dunia secara diam-diam.”
Namun…
Saat Gu Wei diinterogasi, ia tertawa pelan.
“Kalian pikir aku pemimpin?” katanya lemah.
Kaisar Shen menatap tajam. “Bukan?”
Gu Wei tersenyum tipis.
“Aku hanya bendahara.”
Song An berdiri di samping Kaisar.
“Lalu siapa tuanmu?”
Gu Wei berbisik pelan sebelum pingsan,
“Orang yang bahkan tidak kalian curigai…”
Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.
Song An dan Kaisar Shen saling berpandangan.
Ini kemenangan.
Tapi juga tanda bahwa permainan masih memiliki satu pemain terakhir yang belum terlihat.
Dan sekarang…
Mereka sudah semakin dekat.
Bersambung