Erina, gadis pekerja keras yang selalu mengedepankan gaya. Dia dijodohkan dengan seorang pengusaha sukses. Namun, apa jadinya jika sang pengusaha mempunyai pujaan hati lainnya?
Mampu kah, Erina menjalin rumah tangga dengan tantangan meluluhkan hati suaminya, agar hanya melihat dirinya seorang?
Yuk ikuti kisahnya!
Terimakasih ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pameran
Sebulan telah berlalu, Clara mendatangi sebuah pameran yang memamerkan aneka ragam jenis perhiasan. Terutama, perhiasan bertema berlian.
Dia bisa masuk kesana, menggunakan koneksi yang dulu sempat di kenal melalui Ervin.
Bukan tanpa tujuan Clara kesana, selain mengetahui jika Ervin berada di sana, dia juga ingin mencari pengganti Ervin. Seraya membuktikan, jika ia bisa saja bertemu seseorang yang jauh di atas Ervin.
Clara mulai melihat beberapa replika kalung dan perhiasan lainnya.
Matanya, langsung menangkap pada sebuah replika dari perusahaan yang sangat di kenalinya. Itu adalah, perusahaan Ervin.
"Kenapa ini berubah? Bukannya terakhir kali aku melihat, bukan seperti ini?" gumam Clara hendak menyentuh replika kalung tersebut.
Namun, seorang petugas keamanan langsung melarang Clara, karena semua pajangan itu hanya untuk dilihat, bukan untuk disentuh oleh sembarangan tangan.
"Cih ..." desis Clara berjalan menjauh.
Mc di panggung langsung mengumumkan, agar para hadirin untuk segera duduk di kursi mereka masing-masing. Karena sebentar lagi, acara pameran akan segera di mulai.
Dimana, setiap perusahaan akan memamerkan perhiasan terbaik mereka oleh model-model terkenal.
Dan masing-masing dari perusahaan hanya punya kesempatan untuk tampil satu kali.
Clara langsung memilih untuk duduk di kursi paling depan. Namun, matanya langsung membelalak kaget, kala melihat Erina dan Ervin bersebrangan didepannya. Apalagi, Ervin yang sengaja menggenggam tangan Erina di atas pahanya.
Acara berlangsung dengan sangat megah, banyak pengusaha-pengusaha yang merasa kagum dengan model perhiasan yang di pamerkan.
Selanjutnya, adalah semua para tamu untuk menikmati hidangan yang disediakan, bahkan banyak pengusaha muda ataupun yang mau merintis mulai mencari rekan-rekan untuk menunjang bisnis mereka.
"Kalung anda sangat luar biasa, dan jika ini kontes mungkin karya anda bisa masuk dalam tiga karya terindah." ujar seorang pengusaha di bidang desain pada Ervin.
Melihat pengusaha tersebut mengulurkan tangannya, Ervin pun menerima dengan senang hati. Sedangkan Erina, menangkup tangannya pertanda kehormatan.
"Pak Akri, mohon bimbingannya pak ... Desain, kami masih banyak yang kurang." ujar Ervin merendah.
Ervin sangat mengenali lelaki paruh baya di depannya, beliau merupakan salah satu pengusaha yang sukses di bidangnya. Beliau juga merupakan salah satu pengusaha yang sulit untuk di dekati, apalagi untuk diajak kerja sama.
Namun, Ervin tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Apalagi, Pak Akri lah, yang menyapanya terlebih dahulu.
Obrolan terus saja berlanjut, mereka berbicara tetang bisnis juga sebagainya.
"Bisakah, saya minta kamu membuat sebuah karya, tapi desainnya dari aku sendiri?" pinta Akri di akhir obrolan.
"Oo, tentu saja." sahut Ervin dengan sumringah.
"Kalo begitu, berikan kontak pribadi anda. Dan aku akan segera menghubungi anda, jika desain ku sudah siap."
Ervin langsung mengucapkan dua belas angka yang menjadi nomor pribadinya.
Clara yang sejak tadi, diam-diam melihat Ervin bersama Akri tersenyum remeh. Saat melihat Akri meninggalkan Ervin, barulah, dia mendekatinya.
"Hai, apa kabar sayang?" sapa Clara dengan segelas minuman ditangannya.
Erina memutar mata malas kala melihat penampilan Clara, bukan maksudnya untuk menghina. Akan tetapi, pakaian yang Clara gunakan sungguh sangat terbuka.
"Kenapa? Tergoda kah?" kekeh Clara karena Ervin mencoba membuang muka.
"Bukan tergoda, lebih ..."
"Jangan buang-buang tenaga sayang, dia akan semakin senang saat kita meladeninya." potong Ervin menggenggam tangan Erina.
"Kamu mau perhiasan yang mana? Katakan lah, biar aku membelinya untukmu." ujar Ervin tanpa memperdulikan Clara.
"Aku hanya mau punya mu sayang." balas Erina seolah sengaja memanas-manasi Clara.
"Ah, bukankah, dulu kamu sempat membuat sketsa untukku?" ujar Clara mencoba membuat Erina panas.
"Apakah, sketsa yang tempo dulu berakhir di tempat sampah? Yang kamu katakan, jika sketsa itu cocok berada disana? Benarkah, itu sayang?" beruntun Erina dengan membuat suara semanja mungkin.
Ervin hanya mengernyit, karena dia tidak membuang sketsa itu. Namun, dia juga tidak menyentuhnya lagi.
"O iya, karena sampah hanya cocok berada disana." ujar Ervin kala memahami ucapan Erina.
Muka Clara memerah, secara tidak langsung, Erina dan Ervin menghinanya.
Dengan menghentakkan kakinya, Clara meninggalkan pasangan di depannya itu.
Bukan Clara namanya, jika ia menyerah begitu saja. Dia mulai mendekati Akri dengan pura-pura tersandung, dan berakhir memeluk tubuh Akri.
"Maafkan aku, heels ini membuatku kesusahan." ujar Clara dengan suara selembut mungkin.
"Maaf nona, jika memang kamu kesusahan memakai sendal mu, ganti saja dengan sendal jepit. Jangan malah mencelakakan orang lain." ujar asisten Akri.
"Tak apa, mungkin itu hanya ketidaksengajaan. Kamu gak apa-apa?" tanya Akri kemudian.
"Sepertinya kakiku keseleo." bohong Clara karena melihat ada kesempatan.
"Fadli, tolong kamu panggilkan dokter jaga. Dan tolong bawakan dia ke sana." ujar Akri, membuat Clara mendengus napas kasar.
Karena ternyata, mendekati Akri tidak semudah itu. Padahal, selain pakaiannya yang membuat lelaki tergoda, dia juga sudah memoles wajahnya secantik mungkin.
...🍁🍁🍁...
"Ini, hadiah spesial untuk mu," ujar Ervin mengalungkan kalung yang tadi di pamer di pameran. "Dan hanya ada satu di dunia, karena di dalam berlian berbentuk bintang ini, ada inisial nama kita berdua." lanjut Ervin.
Erina menatap kalung dari bayangan di dalam cermin, cahayanya dari lampu membuat berlian itu semakin berkilau.
Sekarang, mereka berdua memilih untuk menginap di hotel, yang tadi diselenggara acara pameran tersebut.
"Ini terlalu indah." lirih Erina menyentuh kalung yang berada di lehernya. "Dan tambah indah, kala orang spesial yang membuatnya khusus."
"Berarti aku spesial?" tanya Ervin membalikkan tubuh Erina.
"Iya, kan kamu suamiku." balas Erina mengerjap matanya.
"Tidakkah, cinta itu sudah hadir di hatimu?" tanya Ervin hati-hati.
"Penting kah, itu?" lirih Erina. "Bagaimana, jika nanti kamu kembali padanya? Apalagi, hubungan kalian bukan sebentar." lirih Erina.
"Jangan pernah, menyebutnya ataupun mengenangnya lagi Erina. Aku membenci dan juga telah melupakannya. Dia hanya kesalahan dimasa lalu." tekan Ervin.
"Bukankah, cinta dan benci itu beda tipis? Berikan aku waktu."
"Aku akan memberikan kamu waktu seumur hidupmu Erina. Tapi, jangan sesekali kamu berpikir untuk pergi meninggalkan aku." bisik Ervin.
bae2 bang ustadz, ntar kamu jodoh lho sama perempuan yg kamu blg aneh itu🤭