Aku tak ingat lagi apa yang terjadi padaku malam itu.
Saat terbangun, tiba-tiba saja diriku sudah berada di dalam sini. Sebuah kurungan berukuran 2x1 meter yang di susun oleh besi-besi, ada gelas air di sudutnya dan sebuah handuk kotor di pegangan pintu. Seperti kandang hamster berukuran manusia.
Tampak putung rokok di meja sana mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban juga terlihat menggantung di tembok serta puluhan keris berdiri di lemari.
"Tutupi tubuhmu!!" Tiba-tiba seorang kakek tua mengejutkanku dari arah yang lain dengan melemparkan selembar kain jarik.
Aku baru sadar kalau sedari tadi tubuhku sudah tak mengenakan apa pun.
Kemana perginya pakaianku?
Hijabku?
HP ku?
Ya, tuhan.
Apa mereka benar-benar menghabisiku pada malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Weton
...Panca...
...────୨ৎ────...
11 hari yang lalu...
"Apes banget toh, kamu Panca!" ucap Bayu sambil mengunyah snack yang aku beli tadi. "Udah gak dapet nilai presentasi, gak absen, motor hancur, jatuh pingsan pula, owalah Pan... Pan—"
"Mungkin aja hari ini wetonmu, makanya sial!" potong Yoana yang tampak antusias. Memang kalau sudah hal mistis, kejawen, atau apalah itu yang menyangkut supranatural dia orang yang paling kepo. "Kamis Wage?"
Hari ini Kamis Wage?
Enggak, seingatku aku lahir di hari minggu. Si Mbah pernah bilang waktu itu karena bidan di desa tutupnya Sabtu-Minggu, jadi Ibu sempat dibawa ke dukun. Dan aku lahir di situ.
Dukun?
Dukun beranak?
Atau.
Dukun Pijat?
Atau.
Dukun Cabul?
Tapi apa pun itu, aku tetap bersyukur karena sudah dilahirkan. Terima kasih Ibu.
"Memang ngaruh tah, Yoana?" tanyaku penasaran.
"Jelas lah, biasanya orang-orang pada bikin jenang merah sama putih terus di taruh di bawah dipan buat nangkal balak!" tegasnya. "Lah kamu tadi ada bikin jenang, nggak?"
"Enggak, wong sekarang bukan wetonku."
"Hmmm, jadi bisa aja kamu tadi kena imbas dari orang yang lahir di Kamis Wage."
"Imbas?" ucapku dan Bayu bareng.
"Kalian nggak tahu?" tanya Yoana sambil mengerutkan alis. "Kamis Wage itu neton yang paling sial, bahkan saking sialnya orang-orang yang berada di sekelilingnya juga ikutan apes, tapi biasanya kalau udah ada yang apes di sekitar dia, dia bakal selamat."
"Jadi semacam ada yang ditumbalin gitu?" timpal Bayu. "Wah parah kalau gini, nih."
Aku mengerti apa yang dimaksudkan Yoana, tapi hari ini aku bertemu siapa?
Bahkan baru keluar rumah pun aku sudah apes, ban ku bocor?
Apa mungkin si Mbah?
Gak mungkin, lah.
Mana mungkin seseorang yang bekerja sebagai penangkal balak justru kenak balaknya sendiri. Meskipun jika benar si Mbah lahir di Kamis Wage, aku yakin dia pasti bisa menanganinya.
Aku coba menerka-nerka seseorang yang kutemui tadi.
Tukang tambal ban?
Kalau benar dia orangnya, tapi kenapa dia tak selamat. Terakhir aku mendengar dari orang yang berada di sebelahku waktu mengobrol setelah sadar dari pingsan, katanya tukang tambal ban belum bisa dievakuasi jasadnya karena tertimpa Bus.
Mbak Kasir?
Dia selamat, orang-orang di sekitarnya celaka.
Hmm.
Tapi apa iya, wanita sebaik itu membawa malapetaka?
Dia justru menolongku. Ngakk mungkin. Lagi pula kenapa aku harus percaya sama Yoana?
Bukankah percaya pada yang begituan itu jatuhnya musrik, ya?
"Udah-udah, bahas lainnya. Aku masih trauma si Ceking juga jadi tumbal!" pintaku lirih.
Ceking itu nama panggilan untuk motor kesayangan si Mbah. Ya satu-satunya motor tua yang dimilikinya. Dan aku belum menyiapkan alasan yang tepat untuknya.
Meski aku bisa tebak, nanti saat si Mbah melihatku pulang dengan berjalan kaki, tentu dia tidak akan bertanya. Iya, dia jalan ke belakang, ke dapur, ambil rotan penggebuk kasur. Dan benar.
Aku jadi kasurnya.
Ya, mau bagaimana lagi. Hari apes, kita tak ada yang tahu.
"Gimana kalau kita ke tempat kecelakaan itu?" usul Bayu semangat. "Nanti malam, mumpung malam jumat, kan?"
"Bay, Bay... Udah jangan nambahin masalah lagi!" mohonku.
"Tapi ada benernya juga si Bayu!" Bukanya menolongku, si Yoana malah mendukungnya. Kini tinggalah aku yang sendirian menghadapi dua orang mistis ini. "Nanti aku bisa baca dari bekas darah yang tersisa di sana!"
"Terserah kalian, wes. Pokoknya aku nggak ikut!" tegasku kekeh.
"Harus ikut! Atau ...."
"Atau apa?"
"Gini, deh. Nanti kita bantu bikin alasan buat Ceking, biar kamu gak dimarah sama Mbah Cipto!" tawar Yoana. "Dari pada kamu kamu besok ke kampus jalannya sengklek."
Iya, yoana memang paling tahu kebiasaan si Mbah. Karena memang dia juga salah satu cucunya.