Krystal, gadis berusia 22 tahun terpaksa menikah dengan kakak iparnya sendiri karena sebuah surat wasiat, yang kakak kandungnya tinggalkan satu hari sebelum dia meninggal.
Mau tidak mau, Krystal menerimanya meski sebenarnya hatinya menolak.
“Berpura-pura lah menjadi istriku. Dan tanda tangani surat perjanjian kontrak ini. Tapi, kamu harus ingat, jangan sampai jatuh cinta padaku.” Bara Alfredo.
“Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu. Jangan sampai kamu tergoda dan jatuh cinta padaku, Kakak Ipar.” Krystal Alexander.
Akan seperti apa kehidupan rumah tangga mereka yang tidak di dasari dengan perasaan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 023
"Jadi dia pergi?" tanya Bara pada Liam.
"Ya, Tuan. Maaf karena saya tidak bisa mencegahnya. Karena ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada Anda." Liam memberikan sebuah amplop pada Bara. Meminta pria itu untuk segera membukanya.
"Apa ini? Kenapa tidak langsung menjelaskannya padaku?" Bara menerima kertas tersebut. Jujur saja dia penasaran, apalagi di bagian depan amplop tersebut tertera nama rumah sakit milik seseorang.
"Anda harus segera membukanya, Tuan. Kalau tidak, Anda akan menyesal seumur hidup," ucap Liam. Kedatangannya memang terkesan buru-buru. Namun, jika terlambat sebentar saja maka...
Bara menggebrak meja setelah membaca isi hasil pemeriksaan lab milik Lio, putranya.
"Ini tidak mungkin," lirihnya.
"Tentu saja mungkin, Tuan. Saya menemukan ini terjatuh saat istri Anda mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Saat dimana kita bertemu dengannya dan juga pria itu," jelas Liam.
Sungguh, ia benar-benar menyesal kenapa baru mengatakannya sekarang. Tapi, jika ia mengatakannya sejak awal bukankah sama saja itu bisa membuat tuannya bertambah pusing harus mengurus dua orang sekaligus yang sedang sakit. Lio dan Krystal.
"Lio menderita leukimia? Tidak, ini tidak mungkin! Putraku sehat, dia tidak sakit!" Bara mengusap wajahnya frustasi. Ia masih tidak percaya dengan kabar ini.
Selama ini Bara menjaga jarak dengan Lio karena wajahnya itu selalu mengingatkannya pada Berlian. Semakin Bara berdekatan dengan Lio, semakin dalam pula rasa bersalahnya.
Bahkan Bara selalu menyalahkan Lio dan menganggap kalau Lio adalah penyebab kematian Berlian.
"Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang, hah!"
Liam menunduk, tak berani menatap pria yang ada di hadapannya saat ini
"Maafkan saya, Tuan. Kedua orang tua Anda juga sepertinya belum tahu mengenai hal ini."
"Maksudmu Krystal sengaja menyembunyikan semua ini?" tanya Bara dan Liam pun mengangguk. "Sial! Aku harus segera mencarinya."
Bara beranjak dari tempat duduknya. Menyambar ponsel dan juga kunci mobil.
"Anda mau kemana, Tuan?"
"Kemana lagi menurutmu? Tentu saja mencari istriku."
Liam juga ikut berdiri dan mengikuti Bara. Langkahnya terhenti saat tiba-tiba Bara berbalik dan menatap tajam asistennya itu.
"Ada apalagi, Tuan? Apa ada yang tertinggal?" Liam menelan ludahnya, melihat tatapan Bara yang begitu mengerikan. Ia merasa kalau sebentar lagi akan terjadi sesuatu.
"Dimana ponselmu? Bukankah kamu bilang Krystal meminjamnya!"
Liam menepuk jidatnya sendiri. Saking terburu-buru, ia lupa kalau ponselnya masih ada bersama Krystal. "Di bawa istri Anda, Tuan."
"Bodoh!" Bara mendesis kesal.
"Maafkan saya, Tuan. Saya–"
"Berhenti meminta maaf dan cepat kejar dia. Kemungkinan dia belum jauh. Apalagi dia tidak memakai alas kaki sama sekali."
"Baik, Tuan."
Bara tidak habis pikir, kenapa ia memiliki asisten seperti Liam. Padahal dulu dia tidak seperti sekarang, sangat lemot dan tidak bisa diandalkan sama sekali.
"Pasti dia pergi menemui Jin sialan itu. Dasar gadis keras kepala. Apa tidak bisa dia mendengarkan aku sekali saja." Bara menghubungi seseorang, memintanya untuk mencari keberadaan Krystal.
"Lihat saja, aku benar-benar akan membuatmu hamil anakku!" ucapnya dengan seringai tipis di sudut bibirnya.
*
*
Di sisi lain, Krystal sedang berteduh di pinggiran toko yang tidak jauh dari apartemen milik Bara.
Ya, Krystal masih berada di sana karena kesusahan untuk berjalan. Alas kakinya tertinggal di mobil milik Bara saat pria itu membopongnya dengan paksa tadi.
Dan sialnya, hujan tiba-tiba turun cukup deras.
"Astaga, kenapa selalu saja turun hujan jika aku sedang kabur atau ditinggal oleh pria menyebalkan itu," gerutunya kesal.
Andai saja Krystal bisa berjalan cepat tanpa alas kaki, ia pasti akan melakukannya.
"Lihatlah, aku seperti gembel sekarang." Krystal mengingat kembali ucapnya yang meminta Bara untuk menceraikan dirinya. Apakah ia akan tinggal di jalanan seperti ini?
Krystal menggelengkan kepalanya. Lalu menjejakkan kakinya berulang kali. "Tidak! Aku tidak bisa hidup seperti ini. Aku tidak mau!" teriaknya.
"Tidak mau apa?" sahut seseorang yang sudah berdiri di samping Krystal dan memayunginya.
Krystal langsung menoleh ke asal suara. "Kamu..."