NovelToon NovelToon
Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Sci-Fi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.

"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"

Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masih mengingatnya

Bandung yang dingin perlahan-lahan mulai mengubah Rangga. Bekerja di bengkel tempat kerja Dimas menjadi pelarian sekaligus terapi terbaik baginya. Sebenarnya bengkel itu adalah milik ayah Dimas yang dikelola olehnya.

"Ga, lu istirahat dulu." Dimas melemparkan botol air mineral yang langsung ditangkap Rangga dengan satu tangan.

Rangga menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang kotor terkena oli. "thanks"

Dimas duduk di sampingnya, menyalakan rokok. "Gue denger dari temen-temen, si Ayu sempet nanyain lu ke sana-sini."

Rangga terhenti sejenak, namun ia segera melanjutkan pekerjaannya mengencangkan baut. "Gue udah matiin semua akses. Gue nggak mau tahu, dan nggak perlu tahu. Terserah dialah mau gimana. Gua nggak peduli lagi"

Dimas mengembuskan asap rokoknya perlahan, matanya menyelidiki ekspresi Rangga yang tampak sangat tidak peduli. "Serius lu? Lu nggak mau tahu kenapa dia nyariin lu? Kali aja dia mau batalin perjodohannya atau..."

"Enggak ada gunanya, Dim," potong Rangga cepat. "Mau dia batalin atau enggak, itu urusan dia sama orang tuanya. Gue udah cukup ngerasa jadi pecundang malam itu. Gue nggak mau naruh harapan lagi di tempat yang sama."

Rangga berdiri, lalu mengambil lap kotor untuk membersihkan tangannya. "Lagian, dia sendiri yang bilang nggak bisa lawan orang tuanya. Itu artinya, posisi gue di hidup dia emang nggak pernah cukup kuat buat diperjuangin. Jadi buat apa gue peduli sekarang?"

Percakapan antara Rangga dan Dimas terhenti ketika Rian, mekanik senior di bengkel itu, berjalan mendekat. Ia melepas sarung tangan kainnya yang sudah hitam pekat, lalu ikut duduk di sebuah kursi kayu panjang di samping mereka.

Rian, yang memang sudah akrab dengan Dimas dan cukup dekat dengan Rangga selama beberapa minggu terakhir, rupanya sempat menangkap potongan pembicaraan mereka sedari tadi.

"Masih gamon , Ga?" tanya Rian.

Rangga tidak langsung menjawab. Ia hanya melirik Rian sekilas sebelum kembali mengelap tangannya.

"Siapa yang gamon, Kang? Enggak ada waktu buat begituan."

Rian terkekeh, lalu menyulut rokoknya. "Alah, muka lu nggak bisa bohong. Dari tadi denger nama 'Ayu' disebut Dimas, tangan lu langsung gemetaran tuh"

Dimas tertawa kecil mendengar celetukan Rian. "Tuh, kan! Kang Rian aja yang jarang merhatiin orang bisa tahu, Ga."

Rian mengembuskan asap rokoknya ke udara, lalu menatap Rangga dengan pandangan seorang kakak kepada adiknya. "Gini ya, Ga. Di bengkel ini, kita urusan sama mesin. Mesin kalau rusak, kita bongkar, ganti part-nya, jalan lagi. Hidup juga gitu. Kalau ada orang yang udah bikin lu ngerasa nggak berharga cuma karena masalah duit, ya berarti itu part yang harus lu hapus. Harus lu ganti, bukan lu simpen terus."

"Gue nggak nyimpen apa-apa, Kang," balas Rangga

"Bagus kalau gitu," sahut Rian santai. "Tapi kalau lu beneran udah nggak peduli, harusnya lu nggak usah kerja kayak orang mau mati begini. Lu kerja kayak lagi lari dari setan."

"Udah, mending sekarang kita fokus ke proyek kustom besok," lanjut Rian sambil berdiri dan menepuk bahu Rangga. "Ada orang kaya dari Jakarta mau modifikasi motor klasiknya. Ini peluang gede. Jangan sampe gamon lu itu malah bikin hitungan rasio gir jadi berantakan."

Rangga menarik napas panjang, lalu berdiri tegak. "iya kang"

.........

Ia menatap langit-langit kamar yang sedikit berjamur. Kesibukan di bengkel tadi memang berhasil mengalihkan pikirannya, tapi saat suasana sunyi seperti ini, memori itu seringkali merayap masuk tanpa izin.

Rangga merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah dompet kulit yang sudah mulai usang. Di dalam salah satu selipannya, masih ada secarik foto photobox kecil yang sudah sedikit memudar. Di sana, Ayu tersenyum lebar sambil merangkul lengannya.

Ia teringat momen saat foto itu diambil. Saat itu hujan deras, mereka berteduh di sebuah mal kecil dan tertawa karena baju mereka basah kuyup. Rangga ingat betul bagaimana Ayu menyandarkan kepala di bahunya dan berbisik, "Ga, jangan pernah pergi ya, aku mau nanti kita nikah"

Rangga menghela napas berat, jempolnya mengusap permukaan foto itu satu kali sebelum akhirnya ia memasukkannya kembali ke dalam laci meja.

Perutnya mendadak perih, mengingatkannya bahwa sejak siang tadi ia hanya mengonsumsi kopi dan air mineral.

"Keluar ajalah," gumamnya.

Rangga menyambar jaket hoodie hitamnya dan kunci motor yang ia beli second.

Ia memacu motornya menyusuri jalanan sekitar daerah kosnya. Bandung di malam hari selalu punya cara untuk terasa ramai sekaligus sepi di saat yang bersamaan. Rangga berhenti di sebuah deretan tenda kaki lima. Aroma nasi goreng dan mi tek-tek menyeruak, tapi justru aroma itu yang membuatnya tertegun sejenak di atas motor.

Setiap aroma makanan di pinggir jalan selalu menyeret memorinya kembali ke kedai nasi goreng malam itu saat terakhir kali ia melihat Ayu.

"Bang, mi goreng satu. Pedas," ucap Rangga akhirnya setelah duduk di sebuah kursi plastik.

Sambil menunggu pesanan, ia memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Ada pasangan muda yang duduk di pojok sambil bercanda, sang pria sesekali merapikan rambut si wanita. Rangga segera memalingkan wajah. Ia merogoh ponselnya, berniat membuka sosial media, namun ia urungkan. Sebentar lagi acara pertunangan atu dan juga calonnya. Takutnya nanti muncul meskipun Rangga sudah memblokir semua akun media sosialnya ayu.

"Pesanan datang, Mas," ujar penjual sambil meletakkan sepiring mi panas.

"makasih mas".

Rangga menyuap makanannya dengan cepat, tidak benar-benar menikmati rasanya.

1
kalea rizuky
gemes deh kalian
kalea rizuky
q uda kirim bunga lanjut banyak ya thor
kalea rizuky
lanjut donkk
Evi Lusiana
waduh rangga puny saingan y thor
Evi Lusiana
klo pura² sakit aj trs biar ayu kwatir dn perhatian sm km rangga🤭
Evi Lusiana
knp d bkin ribet sih yu,hrsny km trimakasih sm rangga
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ayu membatalkan pertunangan dan pergi harusnya Rangga benci ke Ayu dan ngga mau lihat Ayu lagi dong
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Padahal orang yang di suruh mengantar motornya Ayu sudah bilang kalau gratis tapi malah Ayu datang ke bengkel dan memberikan uang ke Rangga sebagai biaya perbaikan sepeda motor dan ganti sparepart
Evi Lusiana
rangga laki² baik bertahun² sjak dia gk lg nersm ayu dia hny fokus kerja tp tdk maen perempuan
Aidil Kenzie Zie
bicara dari hati ke hati
Evi Lusiana
ini yg nmany jodoh gk akn kmn y thor
Aidil Kenzie Zie
move on Rangga kalau nggak kejar lagi cinta itu
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!