Menikah selama 12 tahun, Siti Nurmala yang begitu setia kepada suaminya sampai mengorbankan mimpinya sebagai dokter spesialis, malah dikhianati Suami dan anak-anaknya.
Yusuf Kaliandra, berselingkuh dengan Keponakan Nurmala dan menikahinya secara siri, bahkan didukung oleh anak-anaknya, Raden dan Sofia.
Nurmala yang sakit hati pergi dengan gugatan cerai.
Di tengah usahanya mencari pekerjaan, Ia bertemu dengan juniornya saat kuliah. Dewangga Pramudya!
Pria tampan pemilik rumah sakit, duda anak 1 yang kemudian dengan gigih mengejarnya!
Akankah Nurmala bisa menerima cinta baru diantara ketakutan dan ketidakpercayaan diri yang timbul akibat pengkhianatan Yusuf?
Bagaimana reaksi anak-anaknya melihat Nurmala yang begitu menyayangi putra dari Dewangga?
Selamat membaca, semoga terhibur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maufy Izha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Gila Ya????
Nurmala akhirnya sampai di depan apartemen yang Ia tinggalkan sejak beberapa bulan lalu.
Apartemen ini penuh dengan kenangan, tapi kenangan paling menyakitkan lah yang tertinggal di hatinya.
Ting tong
Ting tong
Nurmala akhirnya memencet bel apartemen itu.
Tak sampai 1 menit, seseorang membukakan pintu untuknya. Dan orang itu adalah Yusuf .
"Kenapa pencet bel segala, password pintunya kan masih sama" Ucapnya dengan santai. Tapi ketenangan Yusuf justru membuat Nurmala ngeri. Password pintu apartemen itu adalah hari pernikahan Mereka berdua.
"Anak-anak mana?"
"Ada didalam kamar, masuklah"
"Nggak bisa ya kalau Mereka keluar sebentar dan bicara di sini"
"Ya nggak lah, Mereka lagi marah sama Kamu, lagian Kamu nggak perlu canggung begitu lah, Kamu kan udah pernah tinggal di sini selama 12 tahun" ucapnya.
Nurmala merasa ragu, tapi tujuannya kesini adalah bertemu dengan anak-anaknya. Karena Ia sudah berjanji untuk menghabiskan waktu bersama dengan Raden dan Sofia.
"Baiklah. Tolong panggilkan anak-anak..."
Yusuf mengangguk puas saat melihat Nurmala patuh dan melangkah masuk ke dalam apartemen.
Nurmala diam-diam mengirim pesan pada Dewangga, mengetikkan alamat lengkap apartemen bersama dengan nomor unitnya pada Pria itu.
Entah kenapa, Nurmala merasakan firasat buruk.
"Duduk dulu..."
"Nggak usah, Aku langsung ke kamar anak-anak aja"
Yusuf terlihat sedikit panik, belum sempat merespon, Nurmala sudah terlebih dahulu melangkah ke kamar anak-anaknya.
Kosong.
Nurmala mengerutkan keningnya. Lalu berbalik menatap Yusuf yang berdiri canggung tak jauh darinya.
"Kok nggak ada? Katanya anak-anak dikamar?"
"Eee, sebenarnya tadi anak-anak di jemput eyangnya ke Tangerang"
"Nggak mungkin, Aku langsung kesini setelah anak-anak pergi sama Kamu di mall tadi" Ucap Nurmala. Waktunya sangat singkat, kalaupun di jemput, harusnya Nurmala melihatnya kan? Kecuali memang dari awal anak-anak nggak pulang ke rumah.
"Kamu bohong ya mas? Anak-anak sebenarnya nggak di rumah kan?"
"Kalau Aku bohong, memangnya kenapa?" Ucap Yusuf dengan tenang, Nurmala yang mendengar pun langsung naik pitam.
Jadi, Yusuf mempermainkannya? Sekarang di rumah ini hanya ada Mereka berdua,begitu?
Nurmala tidak berkomentar dan langsung meraih tasnya diatas sofa lalu berjalan cepat ke arah pintu.
"Mau kemana sih kenapa buru-buru?" Yusuf tiba-tiba sudah berada di belakang Nurmala, memeluknya dari belakang.
Jijik, Nurmala langsung menghempaskan tangan Pria itu, berbalik lalu menamparnya dengan keras.
Plakkkk!!!
"Kamu gila ya Mas???"
"Ya! Aku gila, Aku gila karena Kamu ceraikan begitu saja!!" Teriak Yusuf, membuat Nurmala beringsut ke arah pintu, jujur tiba-tiba Dia merasa takut melihat wajah Yusuf yang sangat garang.
Tapi, Nurmala tidak bisa hanya diam saja, Dia mencoba untuk mengalihkan perhatian Yusuf dengan berdebat, sambil mencari cara untuk keluar . Pintu apartemen hanya tinggal beberapa langkah darinya.
"Kamu selalu kaya gitu mas, Kamu yang salah tapi Kamu nggak pernah ngaku salah, selalu melemparkan kesalahan itu ke Aku. Kita cerai karena Kamu selingkuh sama Niken, Aku udah ngalah, tapi Kamu terus-menerus cari masalah sama Aku. Harusnya Kamu berbahagia dengan istri barumu yang lebih muda dan bisa di pamerkan ke mana-mana itu kan? Kenapa Kamu sekarang kaya gini dan malah nyalahin Aku? Perempuan mana yang nggak sakit hati kalau suami main serong sama perempuan lain??"
"Udah marah-marahnya? Kamu tambah cantik kalau lagi marah, kenapa dulu Kamu nggak kaya gini? kenapa pas jadi istriku Kamu kaku banget kaya boneka kayu? Kalau dari dulu Kamu kaya gini, Aku nggak akan tertarik sama perempuan lain, apalagi sama Niken yang nggak bisa apa-apa itu..."
"Kamu sakit jiwa mas..." Nurmala semakin tersudut dan terus melangkah mundur, jantungnya berdetak kencang karena ketakutan, sementara Yusuf menyeringai lebar dengan langkah pasti mendekat ke arah mantan istrinya itu...
##
"Mbak Neni, Kamu jagain Ergi di sini ya, jangan ke mana-mana, Saya harus pergi sebentar" Ucap Dewangga pada pengasuh putranya itu, gadis bernama Neni itu mengangguk paham.
Dewangga baru saja membaca pesan dari Nurmala, kata-katanya sangat ambigu, juga menyertakan alamat lengkap apartemen Yusuf. Tiba-tiba perasaan Dewangga tidak enak, Ia pun segera pergi menyusul Nurmala.
Untungnya jarak antara hotel tempatnya menginap hanya beberapa blok dari apartemen Yusuf. Jadi, Dewangga bisa menjangkaunya dengan berlari.
Kurang dari 10 menit, Dewangga sudah berada di lobi apartemen, Dia mengatakan pada security yang berjaga bahwa kerabatnya mungkin sedang dalam bahaya, Dewangga juga menunjukkan pesan WhatsApp yang dikirimkan oleh Nurmala. Security itu akhirnya setuju dan meminta rekannya untuk mengantar Dewangga ke apartemen Yusuf.
Barulah saat itu, Dewangga tidak sengaja melihat Niken yang baru memasuki lobi.
Dewangga langsung menghampiri Niken dengan cepat.
"Anda Niken kan?" Tanya Dewangga, Niken juga mengenalinya jadi dengan cepat Niken mengangguk.
"Anda ngapain disini?"
"Lupakan dulu soal itu, Aku mau tanya, sekarang di dalam apartemen Yusuf ada siapa? Ada anak-anak Kak Nurmala kan?"
Niken yang tadinya memasang wajah ketus seketika berubah pucat.
"Maksudmu, Nurmala ada disana sekarang? Anak-anak nggak di rumah, Mereka lagi di rumah eyangnya di Tangerang"
"Sialan!!!"
Tanpa menunggu Niken, Dewangga berlari menghampiri security yang tadi hendak mengantarnya ke unit apartment Yusuf. Security itu pun jadi ikutan panik melihat Dewangga yang sangat tergesa-gesa.
"Eh, tunggu... Aku juga mau ke rumah"
Teriak Niken seraya berjalan cepat menuju ke lift, tapi pintu lift terlanjur tertutup, jadi Dia harus menunggu lift berikutnya.
Lantai 25, no 08. Dewangga merasa lift ini berjalan sangat lambat, padahal bisa saja Nurmala dalam bahaya.
"Pak tolong langsung buka saja bisa tidak?"
"Ya nggak bisa pak, setiap apartemen kan punya password masing-masing, Kita pencet aja belnya sampe yang di dalam keluar"
"Hahhh, kalau gitu kelamaan pak, teman Saya keburu celaka!" Seru Dewangga semakin frustasi.
Ting
Akhirnya Mereka sampai di lantai 25, security itu langsung membimbing Dewangga ke arah unit milik Yusuf.
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Sudah berkali-kali Dewangga menekan bel, tapi tidak ada yang merespon. Pria itu semakin ketakutan, rasanya Ia ingin menghancurkan pintu apartemen ini.
"Tunggu, biar Aku yang buka..."
Niken menghampiri Dewangga dan security itu dengan terengah-engah karena berlari juga.
Tut Tut Tut Tut Tut
Ting! Pintu terbuka.
"Nurma!!!" Dewangga langsung menyerbu ke dalam saat melihat Nurma yang berada di bawah Yusuf dengan posisi yang memalukan, pakaiannya berantakan meskipun masih tertutup rapat. Namun hijabnya sudah yang terlepas.
"Brengsek!!!" Dewangga mencengkeram kerah baju Yusuf dan menghadiahinya dengan bogem mentah berkali-kali.
"Cukup!!! Hentikan, tolong jangan pukuli mas Yusuf lagi!!! Tolong! Lepas, lepaskan!!!"
Niken beringsut ke pelukan Yusuf, mencoba menghalangi Dewangga yang hilang kendali dan seperti ingin membunuh Yusuf dengan pukulan-pukulannya.
Yusuf berhenti, lalu menoleh ke arah Nurmala yang gemetaran dan menangis seraya mencoba meraih hijabnya yang tergeletak tidak jauh dari posisi Nurmala saat ini.
Dewangga berlari ke arah wanita itu, meraih hijabnya dan memasangkannya pada Nurmala.
"Nggak apa-apa kak, Aku disini sekarang, semuanya akan baik-baik saja"
Nurmala mengangguk, tubuhnya masih gemetaran. Dewangga lalu membantunya berdiri, kemudian memapahnya keluar dari rumah laknat itu, sementara Yusuf masih tergeletak dengan wajah babak belur bersama dengan Niken yang menangisinya.
"Kamu gila mas, Kamu gilaaa" Ucap Niken di tengah-tengah tangisnya.
Dewangga tidak memperdulikannya, yang terpenting saat ini adalah Nurmala yang masih gemetaran.
memang ga akan ada solusinya kalo kasus diserahkan kepihak berwajib lebih baik hukum rimba yang berjalan 😁