Bebby Daniella Putri menjadi yatim piatu sejak batita akibat korban kecelakaan yang menimpa satu keluarganya, tanpa identitas. Bebby diangkat anak oleh Daniel Frederick, Dokter Muda yang menyelamatkan nyawanya. Daniel mengangkat anak karena rasa kasihan dan sebagai permohonan maaf karena tidak bisa menyelamatkan nyawa kedua orang tuanya.
Dalam perjalanan waktu muncul benih benih cinta di antara mereka berdua. Daniel sebagai orang tua angkat telah menepis perasaan itu. Bagaimana kisah mereka... dan siapa sebenarnya Bebby?
Yuuukkk ikuti kisah mereka guys ♥️♥️♥️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23.
“Miranda sudah mendonorkan darah buat Bebby, tapi dia minta gantinya aku menikahi dan merahasiakan kehamilannya, terus aku harus mengakui bayi yang dikandungnya itu sebagai anakku.” Ucap Daniel
“Kamu tahu kan saat itu kondisi Bebby kritis dan harus dilakukan transfusi darah, aku dan rumah sakit kesulitan untuk mendapatkan darah Bebby yang langka itu. Aku tidak ada pilihan lain selain harus menerima syarat itu, nyawa Bebby taruhannya.” Ucap Daniel lagi.
“Hmmm saat itu memang benar benar tidak ada stok darah golongan AB negatif, aku sudah hubungi semua teman teman tapi kosong.” Ucap Marco dengan nada sesal sebab tidak bisa mencarikan darah buat Bebby.
“Aku belum menceritakan pada Bebby, pasti dia akan histeris saat ini jika tahu di dalam tubuhnya ada darah dari orang yang tidak disukainya. Aku akan mengatakan pada Bebby di saat kondisi dia sudah benar benar sehat dan stabil emosinya.” Ucap Daniel
“Aku sudah katakan pada dia kalau aku tidak akan menyentuh Miranda.” Ucap Daniel lagi.
“Hmmm sampai kapan kamu kuat Dan? Apa lagi dia tipe perempuan agresif.” Ucap Marco sambil tersenyum miring meragukan Daniel bisa kuat tidak menyentuh Miranda.
“Aku akan bertahan, hmmm apa aku perlu lakukan suntik kebiri sementara ya.. agar aku tidak punya hasrat sexxual.” Ucap Daniel sambil menatap wajah sahabatnya.
“He... he... he... Aku rasa itu lebih baik Dan. Ayo aku suntik sekarang...” ucap Marco sambil tertawa kecil dan menarik lengan Daniel.
“Tidak! Aku sekarang mau tidur di sini, menemani Bebby.” Ucap Daniel sambil menepis tangan Marco.
“Pergilah sekarang temui istrimu, aku akan menjaga Bebby sampai sembuh. Aku sudah serahkan klinik pada tim Dokter.” Ucap Marco sambil tersenyum menatap Daniel.
“Hmmm aku tidak percaya pada kamu Marc, aku khawatir dengan anak gadisku jika kamu yang menjaga.” Ucap Daniel sambil menatap tajam wajah Marco.
“Hmmm apa kamu cemburu Dan? Kamu sudah menikah dengan Miranda dan aku akan melamar Bebby untuk menjadi istriku he... he... he... he...” ucap Marco sambil tertawa kecil.
“Pulang sekarang juga kamu Marc!” ucap Daniel sambil mendorong tubuh Marco karena dia memang benar benar cemburu.
“Okey.. okey.. Dan, aku hanya bercanda.” Ucap Marco sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, agar tidak diusir oleh Daniel, sebab dia masih ingin melihat Bebby.
Sementara itu di lain tempat di sebuah hotel mewah, tepatnya di kamar pengantin. Miranda yang sudah ke luar dari kamar mandi dan sudah terlihat super sexy, tampak kesal dan marah marah karena tidak mendapati suaminya di dalam kamar pengantin.
“Sial, benar benar dia mengabaikan aku sebagai istri sahnya!” suara Miranda dengan nada emosi. Wajahnya tampak tegang kaku menahan marah dan kecewa.
“Ke mana orang itu pergi? Ini tidak boleh dibiarkan aku akan laporkan pada Mama dan Mama mertua.” Ucap Miranda lalu dia segera mengambil hand phone miliknya.
“Ma... hiks... hiks....” ucap Miranda sambil terisak isak saat sambungan teleponnya sudah terhubung dengan hand phone milik Nyonya Agusta sang Mama.
“Sayang...ada apa kamu menangis? Ini hari bahagia kamu Mir. Hari kemenangan kamu karena kamu sudah bisa menjadi istri sah Daniel. Dia pewaris tunggal perusahaan besar milik keluarga Fraderick.” Suara Nyonya Agusta di balik hand phone milik Miranda.
“Mama sekarang datang ke kamarku. Kak Daniel pergi saat aku sedang mandi hiks... hiks... hiks...” ucap Miranda sambil berderai derai air mata karena sangat sangat kecewa hatinya.
“Iya Sayang.... tunggu sebentar. Kamu jangan telepon siapa siapa dulu. Tunggu Mama, kita bicarakan dulu dengan tidak emosi.” Suara Nyonya Agusta lalu sambungan telepon pun segera terputus.
Sesaat kemudian.
Pintu kamar pengantin yang tidak terkunci itu terbuka, dan muncul sosok Nyonya Agusta berjalan masuk dengan tergopoh gopoh.
“Mir, apa kamu sudah telepon Daniel mungkin dia hanya keluar sebentar.” Ucap Nyonya Agusta sambil berjalan mendekati Miranda yang terbaring di atas tempat tidur dengan lemas karena kecewa.
“Hand phone dimatikan Ma. Berarti itu kan sengaja. Pasti dia sekarang di rumah sakit untuk menemani anak sialan itu.” Ucap Miranda dengan nada kesal.
“Sabar Mir...” ucap Nyonya Agusta tampak berpikir pikir.
“Kalau Daniel memang benar benar mengabaikan kamu sebagai istrinya. Kamu harus bisa mengambil hati mertua kamu. Kamu harus sabar Mir... Aku percaya mertua kamu akan memberikan warisan ke kamu kalau kamu bisa mengambil hati mereka.” Ucap Nyonya Agusta dengan penuh semangat.
“Hmmm okey Ma, aku akan sabar dan berakting menjadi istri yang teraniaya dan diabaikan oleh suami.” Ucap Miranda yang tiba tiba tersenyum licik.
“Okey Ma, aku malam ini tidak akan lapor pada Mama mertua dulu.” Ucap Miranda lalu kini dia bangun dari terbaringnya.
“Benar Sayang, kamu besok bisa mengatakan pada mertua kamu kalau kamu melindungi suami yang sudah mengabaikan kamu itu. Biar mereka semakin sayang pada kamu.” Ucap Nyonya Agusta sambil mengusap usap punggung Miranda.
“Baiklah terimakasih Ma, Mama sekarang boleh pergi. Aku mau sendirian di kamar pengantin ku yang sepi ini.” Ucap Miranda sambil menatap Sang Mama dengan wajah sedih, akan tetapi dia tersenyum di dalam hatinya.
“Sabar ya Sayang... ini semua demi masa depanmu.. demi warisan keluarga Frederick...” ucap Nyonya Agusta sambil memeluk tubuh Miranda.
“Apa Mama perlu temani kamu Sayang...” ucap Nyonya Agusta selanjutnya.
“Tidak Ma. Kalau mertuaku tahu nanti mereka langsung marah pada suamiku. Malah rencana kita gagal. Pasti Kak Daniel akan memberi alasan yang tepat kenapa malam ini dia pergi.” Ucap Miranda sambil menatap wajah Sang Mama.
“Okey Sayang, Mama pergi ya.. yang sabar ya...” ucap Nyonya Agusta lalu dia melangkah meninggalkan kamar pengantin anaknya.
Setelah Sang Mama pergi. Miranda yang memakai baju lingerie super sexy itu segera mengambil hand phone miliknya lagi. Bibir Miranda kini tersenyum penuh arti. Dia mengusap usap layar hand phone miliknya untuk melakukan panggilan suara pada seseorang.
Tidak lama kemudian.
“Sayang, sekarang kamu datanglah ke kamar aku. Kamar pengantin sudah menunggu kamu.” Ucap Miranda dengan bibir tersenyum lebar.
“Honey, apa aku tidak salah dengar?” suara Renold di balik hand phone milik Miranda.
“Tidak Sayang.. datanglah dengan cara yang cerdik...” ucap Miranda lagi.
“Okey okey Sayang...” suara Renold dan sambungan telepon pun segera terputus.
Miranda tersenyum miring.
“Hmmm kita mulai permainan ini Dokter Daniel... “ ucap Miranda sambil masih tersenyum miring.
🤣🤣