Hay guys ini novel kedua ku yang bertolak belakang dengan novelku yang pertama. Di novelku ini juga tak seluruhnya berbahasa Indonesia ada sedikit unsur bahasa daerah asalku yaitu bahasa Jawa. Dan satu lagi juga mungkin ada sedikit bahasa dari daerah asal kalian. Ditambah penambahan bahasa Inggris yang juga mungkin ada sedikit.
Novel ini bercerita tentang sekelompok anggota UKM Pencinta Alam dari Universitas Jenderal Soedirman yang selalu menjaga dan melindungi alam dan bumi. Alam adalah salah satu anggota komunitas tersebut dan merupakan seorang mahasiswa baru biasa. Ia memiliki sifat yang cinta alam dan setiap terhadap kawannya. Tapi pada suatu hari ia bertemu dengan musuh alam yang selalu menghalangi jalan mereka untuk melindungi alam sekitar. Ia adalah anak Rektor kampusnya sendiri. Dan bukan hanya itu saja, mereka juga akan menghadapi berbagai permasalahan dari luar. Bisakah alam dan kawan-kawan mendamaikan bumi dan alam semesta? lets go read....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jindael, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 "Reboisasi"
Mengenai pasal reboisasi. Apakah sih reboisasi itu? Reboisasi adalah melakukan penghijauan kembali agar alam menjadi hijau dan biasanya dilakukan di hutan yang sudah menjadi gundul agar bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
Hutan ini memiliki fungsi sebagai penyimpan cadangan air, pelindung manusia dan juga aneka satwa. Dengan ditanaminya kembali hutan yang gundul tersebut persediaan udara, air dan bencana alam bisa dicegah. Banyak yang menyamakan reboisasi dengan penghijauan. Namun penghijauan dengan reboisasi ini berbeda. Penghijauan adalah menanam pohon di tempat yang diyakini bisa tumbuh misalnya saja di halaman rumah kalian sendiri.
Nah untuk sekarang kami berlima serta warga Desa Cikakak sedang melakukan reboisasi di hutan Pinus yang kemarin terbakar. Sebelumnya para warga telah dikumpulkan di balai pertemuan. Pak Bau memberikan pengumuman tentang kegiatan saling bergotong royong melakukan reboisasi bersama. Para warga termasuk kami berlima mambawa perkakas tanam, seperti cangkul, sekop, atau alat tanam lainnya.
Benih pohon Pinus diberikan satu-persatu oleh Pak Bau. Pak Bau atau Pak Dusun di desa ku bernama Pak Katim atau orang-orang sering memanggilnya dengan sebutan Bau Katim. Beliaulah yang memikirkan ide untuk melakukan kegiatan reboisasi ini.
"Warga-warga sedaya, iki benih wit pines e siji siji ya (warga-warga sekalian, ini benih pohon Pinus nya satu-satu ya)," panggil Pak Bau Katim kepada warganya.
"Iya Bau Katim kesuwun," ucap para warga satu-persatu. Mereka semua pun berganti an mengambil benih pohon tersebut.
Sebelumnya bau katim sudah memilih spesies Pinus yang dapat di tanam di sini. Jenis bibit juga sudah di pilihnya dan Bau Katim memilih jenis bibit yang berada di wadah bersama media tanamnya.
Kami semua mulai melubangi tanah dan Alhamdulillah struktur tanahnya sedang bagus. Sebab tanah lapisan atas memiliki kualitas yang paling baik maka kita perlu mengisi sekitar 10 cm bagian bawah lubang dengan tanah ini. Cara menanam pohon ini, sebenarnya hampir sama dengan menanam pohon lainnya. Dan cara menanam pohon yang baik dan benar sudah pernah kami berlima pelajari saat ospek dulu.
Karena lahan tidak di tanami pohon Pinus sepenuhnya, maka setengah lahannya kami memilih untuk berkebun jagung saja dilahan tersebut. Bibit jagung juga telah disiapkan. Warga pun terbagi menjadi dua kelompok, satu menamakan pohon Pinus dan yang satunya menanam pohon jagung.
"Para warga seurung di tandur uculi disit polibag wadah bibit pinus e (para warga sebelum di tanam, buka dulu polibag tempat bibit pinusnya)," perintah pak Bau pada kami semua
"Siap Pak Bau!" seru warga yang berpartisipasi.
Kami semua mengikuti instruksi dari Pak Bau. Setelah itu kami menempatkan akar Pinus ke lubang secara hati-hati. Barulah kami tutupi kembali dengan tanah setelah bibit di tanam. Sekiranya sudah semua, masukkan kembali tanah kedalam tanah, dan tepuk tanahnya dengan handal sekop yang sudah kami bawa. ingat untuk tidak menggunakan kaki saat menekan tanahnya. Ini kemungkinan akan membuat tumbuhan tidak tumbuh dengan sempurna. Karena aku kesulitan mendirikan bibit Pinus ku atau mungkin karena angin juga, aku lalu memanggil Budi untuk membantu ku.
Budi yang sedang menepuk nepuk tanah dengan handal sekop pun berhenti dan pergi menghampiri diriku.
"Ana apa lam, aku lagi tanggung koh diceluk (di panggil)?" tanyanya sambil menghampiri ku.
"Rewangi aku cekel na wit ku, angel ngadeg kiye (bantu aku megangi pohon ku, susah berdiri ini)," pintaku.
"Oh ya wis," ucapnya setuju.
"Yeh Lam denehi kiye (ini Lam di beri ini)," ujar si Sinta tiba-tiba sambil memberikan sebuah Ajir kepada ku. Setelah itu dirinya kembali ke pekerjaannya.
"Oh iya pinter di sogi sangga (kasih penyangga), celetuk ku.
"Kesuwun ya Sin," teriakku padanya. Si Sinta berbalik dan membalas ku dengan
senyuman. Aku dan Budi kembali lanjut mendirikan pohon Pinus ku.
Sedangkan di sisi lain, si Frank juga sedang membantu melubangi tanah untuk menaruh biji jagung.
"Lubange semene bae apa Bu (lubangnya segini saja Bu)?" tanyanya pada Ibu-ibu yang disekitarnya.
"Iya Nak. Suwun ya," jawab salah satu Ibu.
Para Ibu-ibu mulai memasukkan benih jagung satu-persatu kedalam lubang yang sudah di gali tadi. Karena panas yang luar biasa kami semua sesekali beristirahat sejenak. Baru setelah itu dilanjutkan kembali. Pohon Pinus kecil sudah berdiri kini tinggal di beri tempat naungan agar terlindung dari terik matahari. kalian bisa menggunakan terpal atau lembaran triplek yang sudah dicat untuk menaungi pohon Pinus yang masih kecil. Naungan harus berada di sisi barat bibit Pinus karena matahari bersinar terang di bagian tersebut.
Manfaat melakukan reboisasi ini adalah untuk mencegah terjadinya erosi tanah yang bisa disebabkan oleh angin dan juga air hujan yang berturut-turut. Melestarikan kesuburan tanah yang bisa dijadikan sebagai lahan pertanian. Menjaga struktur tanah agar tidak rusak.Menjaga keanekaragaman satwa agar tetap lestari. Membuat udara tetap bersih dan sehat terutama bagi makhluk hidup yang ada di bumi.
Setengah jam kami melakukan reboisasi akhirnya selesai juga. Tiba-tiba ada salah seorang warga yang berdebat. Kami berlima jadi penasaran dan menghampiri untuk melihat drama debat tersebut.
"Ki Mus iku pacul ku arep di gawa ngendi (Kek Mus itu cangkul ku mau di bawa kemana)? cegatnya.
"Eh Supidi iki udu pacul mu, iki pacul ku wong aku sing gawa sekang ngumah koh (eh Supidi ini bukan cangkul mu, ini cangkul ku orang aku yang bawa dari rumah koh)," bantahnya.
"Heh Ki Mus pacul ku iku deleng ning pinggir mata cangkul keroak setitik (heh kek Mus cangkul ku itu lihat di pinggir mata cangkul gompal sedikit)," ujarnya sambil menunjuk ke mata cangkul.
"Bu ana apa sih?" tanyaku pada ibu-ibu yang sedang menonton
"Kae Ki mus karo si supidi rebutan pacul (itu kek Mus sama si Supidi rebutan cangkul)," jawabnya sambil mendongakkan kepalanya ke arah mereka.
"Lah pacul be di rebutin dah kaya pacar wae (lah cangkul aja di rebutin dah kaya pacar saja)," timpal si Budi.
"Ya mbuh kae jere pacule supidi digawa kaki Mus tapi kaki Mus ra ngakoni (ya tak tau itu katanya cangkulnya Supidi di bawa kek Mus, tapi kek Mus gak mengakuinya)," jelas Ibu itu.
"Oh kaya kuwe (seperti itu)," ucapku mengerti.
"Pak Pidi opo bener sing ning Kaki Mus pacul mu (Pak Pidi apa bener yang di Kek Mus, cangkul mu)?" tanya pak RT padanya.
"Lah iya wis ana tengere Pak RT (lah iya udah ada tandanya)," jawabnya sambil menunjuk ke mata cangkul yang gompal.
"Tapi gene aku be mandan keroak terus gagange warna coklat, gene pean mbok udu coklat kiye sakuan (tapi punyanya aku juga sedikit gompal terus gagangnya warna coklat, punya mu kan bukan coklat ini perasaan)," terang kaki Mus.
Mereka berdua terus berdebat saling berebut cangkul. Saat aku ingin mengambil hp ku yang tak sengaja tertinggal di dekat bibit Pinus, tak sengaja aku melihat ada cangkul tergeletak di sisi barat ku. Aku pun pergi mengambilnya dan bertanya pada pak RT.
"Pak RT iki pacule sinten ya (Pak RT ini cangkul siapa ya)?" teriakku bertanya.
"Endi (mana) Lam?" tanyanya balik.
"Iki lho," ucapku sambil mengangkat cangkul tersebut.
"Lah kae dean pacul mu Pidi (lah itu mungkin cangkul mu Pidi)," tebak Pak RT.
Warga yang bernama supidi itupun pergi menghampiri ku. "Endi Lam jajal deleng (mana Lam coba tengok)," pintanya padaku. Pak Pidi lalu melihat-lihat apakah itu cangkul nya atau bukan. Ki Mus yang penasaran juga ikut menengok.
"Pid tengan sing di gawa aku iki bener pacul mu, pacul ku sing kiye ternyata (Pid ternyata yang di bawa aku itu cangkul mu, cangkul ku yang ibu ternyata)," aku Kaki Mus.
"Lah ketuker (tertukar) ternyata," ucap pak pidi sedikit heran.
"Iya iki pacul mu," kata Kaki Mus sambil mengembalikan cangkul milik Pak Pidi.
"Yah tak balekna aku wis kemutan nek pacul ku gagange warna coklat tua dudu coklat enom (ini tak kembalikan, aku sudah ingat kalo cangkulku gagangnya warna coklat tua bukan coklat muda)," ucapnya sambil memberikan cangkulnya kembali pada pemiliknya. "Tenyata sing pada kur mata pacule pada pada gompal (ternyata yang sama hanya mata cangkulnya sama-sama gompal)," sambungnya.
"Maaf ya gawe ribut dadine, aku wis tuwa dadi kelalenan (maaf ya buat ribut jadinya, aku sudah tua jadi kelupaan)." Lalu kaki Mus meminta maaf pada kami semua atas kesalahannya.
"Iya ra papa Ki Mus (iya tidak apa Ki Mus)," balas Pak Pidi memaafkan.
Setelah semua masalah perebutkan cangkul selesai, kami berlima pulang ke tempatku. Begitu juga warga yang lainnya. Kini kami semua tinggal menunggu benih pohon Pinus tumbuh dan panennya jagung.
...🌳🌳🌳🌳🌳🌳...
Dirumah Ku.
Hari ini ternyata adalah hari dimana si Frank izin untuk pulang terlebih dahulu. Aku dan Budi membantu si Frank mengepak barangnya. Di saat si Frank menutup tasnya aku bertanya karena penasaran dari kemarin
"Frank kowe bali dadakan rep ana apa senggane (Frank kamu pulang dadakan sebenarnya mau ada apa)?" tanyaku ingin tahu.
"Oh iya aku rung ngenehi ngerti ko ko pada ya (oh iya aku belum memberitahu kalian ya)," ucapnya sambil menilap baju miliknya.
Aku dan Budi mengangguk bersaman untuk menimpali ucapannya.
"Nini ku ulang tahun makane aku di konkon bali (Nenekku ulang tahun makanya aku di suruh pulang), aku kan cucu berbakti," jawabnya.
"Nini mu ulang tahun sing ke pira (Nenekmu ulang tahun yang keberapa)?" tanyaku.
"Sing ke 100 tapi kiye udu Nini sekang ibuku tapi Nini sekang bapakku (yang ke 100 tapi ini bukan nenek yang dari ibuku tapi nenek dari bapakku)," jawab si Frank.
"Oh kaya kuwe di rayak na apa (oh seperti itu di rayakan apa)?" tanya ku lagi.
"Iya," jawabnya mengangguk sambil terus memasukkan barang-barangnya.
"Nini-nini jaman siki pada gaul ya ulang tahun be dirayak na jan aku sing esih enom ulang tahun ra tau dirayak na (Nenek-nenek jaman sekarang pada gaul ya ulang tahun saja dirayakan sedangkan aku yang masih muda boro-boro ulang tahun dirayakan)," pikir si Budi merasa iri.
"Kuwe (itu) mah nasibmu," sela si Frank.
"Ish," desis si Budi sedikit kesal.
"Wis aja gelud (sudah jangan berantem)," ucapku menghentikan mereka yang hendak berantem. salam bae nggo ninimu moga di paringi kesehatan lan umur dawa (salam saja buat nenekmu semoga di beri kesehatan dan umur panjang)," lanjut ku berpesan sambil mendoakan nenek Frank.
"Aamiin," ucap kami bertiga mengamini.
Tiba-tiba seseorang memanggil kami bertiga dari ambang pintu. Ya itu adalah si Sinta dan Clara mereka memanggil kami untuk makan bersama sebelum si Frank pergi. mereka berdua tak ikut bersama kami karena mereka berdua membantu ibu ku memasak di dapur.
"Lam, Bud, Frank," panggil si Sinta dari ambang pintu.
"Ana apa?" tanyaku menengok ke ambang pintu.
"Jere Ibumu kita berdua kon nyeluk koko pada, kon pada madang (kata Ibumu kita berdua supaya manggil kalian)," jawab si Clara menyampaikan pesan Ibuku.
"Hayu ibumu wis ngenteni (nungguin) kalian," ajak si Sinta pada kami bertiga.
"Yo suwun ya." Kami bertiga lalu beranjak dan keluar dari kamar. Si Frank keluar sambil menggendong tas di pundaknya.
Di meja makan.
Kami sudah mulai makan bersama. di tengah-tengah sesi makan, tiba-tiba suara mobil menderu dan berhenti di depan rumah. Kami semua pun keluar untuk menengok dan ternyata itu adalah mobil jemputannya si Frank. Pak Rohim keluar dari dalam mobil dan menyapa kami semua.
"Sugeng sonten kabehan (selamat siang semua)!" sapa pak Rohim, supir si Frank sambil menundukkan kepala.
"Den, wisan (Den, sudah)?" tanyanya pada tuannya.
"Wis Pak tapi madang ku durung rampung (sudah pak tapi makanan ku belum selesai)," jawabnya.
"Iya sih tapi bapakmu wis ngenteni (iya kah tapi ayahmu sudah nungguin)," ucapnya.
"Ya wis aku pamit sit," ujarnya. Dirinya lalu berbalik dan menyalami kedua orang tua ku untuk berpamitan
"Ibu lan Bapake Alam, kulo pamit wangsul riyin (Ibu dan Bapaknya Alam, aku pamit pulang dulu)," pamit si Frank pada kami.
"Nggih sing ati-ati (iya yang hati-hati)," jawab Ibuku.
"Eh iya Ibu bekel na bae ya panganan ne engko bisa di maem maning nek wis ning ngumah (eh iya Ibu bekel kan saja ya makanannya nanti bisa di makan lagi kalo sudah dirumah)," ucap Ibuku menemukan solusi.
"Halah suwun temen Bu," kata si Frank senang.
Ibuku lalu dengan cepat memasukkan berbagai lauk pauk dan tak lupa sebungkus wajik kletik untuk oleh-oleh. Setelah selesai Ibuku langsung memberikan semua itu pada si Frank. Dirinya pun tak lupa mengucap kata terimakasih pada Ibu ku dan Bapakku. Barulah dirinya berpamitan kembali pada ku dan yang lainnya.
"Kanca-kanca aku pamit sit," assalamualaikum," pamitnya lalu berjalan menuju mobil.
"Waalaikum salam," ucap kami semua
si Frank sekarang sudah di dalam mobil dan pak Rohim pun siap untuk mengantarkannya pulang.
Tin.... Suara klakson ditekan oleh supir Frank sambil menundukkan kepalanya kepada kami semua. Setelah mobil Frank pergi Bapak ku tiba-tiba bergumam sendiri.
"Kapan ya aku duwe (punya) mobil kaya si Frank?" pikir Bapak ku sambil menyenderkan dirinya ke tembok.
"Golet duit sing akeh mulane aja mancing bae (cari uang yang banyak makanya jangan mancing terus)," sindir Ibuku.
"Iya sayang ku, mengko nek aku menang turnamen sing hadiahe olih mobil ya (iya sayang ku, nanti kalo aku menang turnamen yang hadiahnya dapat mobil ya)," jawab Bapakku sambil merayu.
"Halah mpret sapa sing biayani nek hadiahe olih mobil (halah mpret siapa yang biayai kalau hadiahnya dapat mobil)," ucap Ibuku tak habis pikir.
"Ya mbok menawa yah lam lan liyane (ya kan siapa tau yah Lam dan lainnya)," ucapnya sambil mendongakkan kepalanya ke arah kami bertiga.
"Nggih Pak moga wae (iya Pak moga saja), ucap ku dan ketiga temanku dengan malu dan sedikit tertawa.
...🍄🍄🍄🍄🍄🍄...
Malam harinya di Purwokerto tepatnya di Rumah si Samsul.
Si Samsul yang sudah rapi pun menuruni tangga dan hendak pergi ke basecamp nya. Tapi dirinya menuruni tangga dengan lemas tanpa energi. Dirinya lemas karena akan menyampaikan kabar yang mungkin akan membuat teman-temannya sedih. Kini si Samsul sudah menaiki motornya dan siap untuk berkendara. Motor Kawasaki pun siap di gasnya menuju tempat yang dituju.
Hanya waktu 10 menit dirinya sudah sampai di basecamp. Terlihat dua orang anteknya yang tidak lain adalah Domu dan Made menyapanya dengan gembira. Karena sudah lama mereka tak berkumpul kembali semenjak kejadian di hukum oleh polisi.
"Bos Bos, Bos datang," kata si Made sambil menepuk paha Domu.
"Akhirnya," gumam si Domu senang.
"Hai Bos!" sapa si Domu. "Lama tak jumpa rasanya diriku ini kangen kali dengan kau," ujarnya.
Si Samsul pun turun dari motornya dan langsung melakukan tos gaul kepada mereka berdua
"Bos.... senang sekali aku," ucap si Domu merasa senang.
"Iya Bos, sehat kan?" timpal Made bertanya.
"Sehat lah kalo gak sehat mana bisa aku naik motor," jawabnya.
"Eh iya yah," celetuk si Made sambil menggaruk sedang kepalanya.
"Bos bos duduk duduk kita ngobrol saja," suruh si Domu pada bosnya.
"Ada apa Bos cari kami?" tanya si Made.
"Ingin mentraktir kami lagi ya Bos," tebaknya.
"Bukan aku ingin berhenti untuk mentraktir kalian," katanya sedikit sedih.
"Kenapa Bos? Uang Bos habis ya atau ATM kau di cabut," tebak si Domu.
"Jangan bercanda aku serius ini," kata si Samsul.
"Ada apa? Mendadak perasaan ku ini jadi tak enak," pikir si Domu.
"Iya Bos aku jadi takut," kata Made khawatir.
"Kalian berdua baik-baik saja ya di sini," pesan Samsul pada kedua temannya.
"Ya kita memang selalu baik bos, jahatnya kalo lagi sama Bos," kata si Made.
"Maksudnya jaga diri kalian selama aku tak ada karena aku akan pergi ke Singapura," jelasnya.
"Wah liburan kah ajak ajak dong Bos," tebaknya senang.
"Kalo iya aku sama Made ikutlah kapan lagi bisa liburan ke luar negeri gratis," katanya berharap.
"Sayangnya bukan liburan ku ke Singapura," jawabnya yang membuat kedua temannya bertanya-tanya.
"Lah terus apa? Untuk apa kau ke Singapura kalo bukan tuk' liburan," tukasnya.
"Belajar Domo aku pindah kuliah di sana dan akan tinggal bersama Ibuku," jelasnya.
"Oooo lama kah?" tanya Made berpikir.
"Ish kau ini ya lama lah," sahut si Domu kesal. "Bos bisa kah kau tak pergi sapa lah yang akan mentraktir kami lagi," bujuknya pada Samsul.
"Tenang saja kalian pasti akan menemukan pengganti ku tapi jika bertemu dengan pengganti ku ingat untuk tidak melupakan Bos mu ini," jelasnya.
Dengan barat hati si Domu menyetujui keputusan Bosnya. "Siap lah Bos kau jaga diri juga disana ya," ucapnya sambil menepuk bahu si Samsul dan berpesan.
"Kabar kabar calling calling juga Bos," pesan si Made.
"Ok, aku harus pulang karena aku akan berangkat besok," jawabnya lalu berpamit.
"Alamak cepat kali ku pikir seminggu lagi ternyata besok," celetuk si Domu tersadar.
"Pantas saja bos menemui kami sekarang," duga si Made.
"Hiks ini baru ketemu selama 2 Minggu sekali bertemu langsung berpisah saja," ujar si Domu sambil sedikit terisak.
"Sebenarnya aku tak' mau meninggalkan kalian tapi jika aku disini aku akan teringat dengan Emely selalu, lagipula mungkin aku akan ketemu jodoh ku disana," jelasnya sambil berharap.
"Ha-ha-ha Bos ini, kau rupanya punya tujuan lain juga," ledek si Domu sambil tertawa.
"Hey kamu sudah tidak nangis lagi kah?" tanya si Made sambil menyenggol bahu Domu.
"Tidak aku langsung tertawa setelah mendengar bos berkata, he-he-he," ucapnya terkekeh.
"Bos boleh lah aku minta peluk dengan bos kita bertiga maksudnya bagai pelukan perpisahan," pinta Made pada Bosnya.
"Ok ok lah mumpung aku lagi baik dan belum pergi pulang juga," katanya menyetujui.
Mereka bertiga pun berpelukan layaknya Teletubbies. Setelah berpelukan si Samsul pun pulang dan meninggalkan mereka berdua di basecamp. Mungkin mereka bertiga kadang bikin kesal orang tapi aku sedikit salut dengan persahabatan mereka.
Bersambung.....🌻🌻🌻
murah meriah kepasar mlm bang Kris & mba Lili jangan risih y dengan mereka klo di gangguin mlh jd makin rame kan🤭
untung bukan kunti beneran yg di gandeng😅
untuk gk terkencing2 tuh ngeliat kunti lanang
jd teriak lah sekuat2 y untuk ekspresimu, krn rasa takut itu pasti ada
sekali seumur hidup hrs di coba naik kora kora menguji adrenalinmu dengan ketinggian
ehh malah sampah di sepanjang jalan yang masuk dalam pandangan 😔