Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Dunia Menyempit
Pagi datang tanpa suara.
Tidak ada deru kota, tidak ada langkah kaki penjaga, tidak ada denting gelas porselen seperti di rumah danau. Hanya cahaya pucat yang menyelinap lewat jendela kecil rumah tua itu, menyentuh lantai kayu yang retak oleh usia.
Carmela terbangun lebih dulu.
Ia tidak langsung bergerak. Tubuh Matteo masih melingkari pinggangnya, berat dan hangat, seolah nalurinya bahkan saat tidur adalah menjaga. Napasnya teratur, wajahnya tampak lebih muda tanpa ketegangan biasa—dan untuk sesaat, Carmela lupa bahwa dunia di luar ruangan ini sedang mencari mereka.
Ia mengangkat tangan pelan, menyentuh rahang Matteo yang kasar oleh janggut tipis.
Pria ini… adalah bahayanya.
Dan juga satu-satunya tempat aman yang ia kenal sekarang.
Matteo bergerak sedikit, matanya terbuka perlahan. Fokusnya langsung tertuju padanya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Matteo lirih, suara serak sisa tidur.
Carmela mengangguk. “Untuk saat ini.”
Matteo tidak tersenyum. Ia bangkit perlahan, duduk di tepi ranjang, punggungnya menegang kembali seiring kesadarannya pulih sepenuhnya.
“Ricardo akan menemukan kita dalam satu jam,” katanya. “Lorenzo juga.”
“Kau yakin?”
“Aku yakin ia sudah tahu kita melarikan diri bersama,” jawab Matteo. “Dan itu akan membuatnya marah.”
Carmela duduk menyusul, menarik selimut lebih rapat ke tubuhnya. “Marah karena rencananya gagal?”
“Marah karena ia kehilangan kendali,” kata Matteo. “Orang seperti Lorenzo tidak suka kehilangan kendali—terutama atas perempuan yang bisa membuat musuhnya ceroboh.”
Carmela menatap Matteo tajam. “Aku bukan alat untuk membuatmu ceroboh.”
Matteo berbalik. Menatapnya lama.
“Aku tahu,” katanya akhirnya. “Itulah sebabnya ini menjadi berbahaya.”
—
Ricardo datang tanpa mengetuk.
Pintu dibuka dengan kunci cadangan, dan pria itu masuk dengan wajah serius, mantel masih menempel di tubuhnya.
“Kalian punya dua puluh menit,” katanya singkat. “Setelah itu, tempat ini tidak aman.”
“Secepat itu?” tanya Carmela.
Ricardo menatapnya. “Lorenzo sudah memindahkan pionnya. Ia tahu kalian tidak akan bersembunyi lama.”
Matteo berdiri. “Apa langkahnya?”
“Bukan menyerang,” jawab Ricardo. “Belum. Ia memutus alur.”
“Alur apa?”
“Uang. Informasi. Jalur logistik kecil yang biasa kita abaikan,” kata Ricardo. “Dan satu hal lagi.”
Matteo menatapnya tajam. “Apa?”
Ricardo ragu sesaat.
“Keluargamu,” katanya akhirnya. “Bukan yang dekat. Yang jauh. Yang kau lindungi diam-diam.”
Udara di ruangan itu berubah dingin.
Carmela merasakan tubuh Matteo menegang drastis.
“Dia tidak berani,” kata Matteo rendah.
Ricardo menghela napas. “Dia berani. Tapi ia belum bergerak. Ia ingin kau tahu dulu.”
Carmela berdiri. “Jadi ini ancaman.”
“Ini undangan,” jawab Ricardo. “Untuk kembali ke papan permainan.”
—
Perjalanan mereka berikutnya sunyi.
Mobil bergerak ke arah utara, meninggalkan kota, menyusuri jalanan yang semakin sempit. Carmela menatap pemandangan lewat jendela, pikirannya berputar.
“Kau tidak pernah bilang keluargamu masih terlibat,” katanya akhirnya.
Matteo tidak langsung menjawab.
“Aku sengaja menjauhkan mereka,” katanya pelan. “Aku ingin jika perang ini datang, hanya aku yang terbakar.”
Carmela mengalihkan pandangan padanya. “Dan sekarang aku di dalamnya.”
Matteo menegang. “Aku tidak pernah menginginkan itu.”
“Tapi aku memilihnya,” kata Carmela tegas. “Aku tidak dibawa. Aku datang sendiri.”
Matteo menatapnya lama, seolah menimbang sesuatu yang berat dan rapuh.
“Jika kau tetap di sisiku,” katanya perlahan, “kau tidak akan pernah bisa sepenuhnya kembali ke hidupmu yang lama.”
Carmela tersenyum kecil—bukan bahagia, tapi yakin.
“Hidupku yang lama berhenti saat aku berdiri sendirian di Milan,” katanya. “Sejak itu, semua pilihanku sadar.”
Matteo menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, ia tidak membantah.
—
Mereka tiba di sebuah rumah aman lain—lebih kecil, lebih terpencil. Tidak ada kemewahan. Tidak ada simbol kekuasaan. Hanya meja kayu, dapur sederhana, dan dua kamar tidur.
Ricardo menyerahkan satu ponsel baru pada Carmela.
“Ini terenkripsi. Hanya untuk keadaan darurat,” katanya.
Carmela menerimanya. “Jika Lorenzo menghubungiku?”
“Dia akan,” jawab Ricardo singkat. “Dan kau tidak akan mengabaikannya.”
Matteo berbalik cepat. “Tidak.”
Ricardo menatapnya datar. “Jika kau ingin tetap hidup, dia akan.”
Keheningan jatuh.
Carmela melangkah maju. “Jika ia menghubungiku, aku akan mendengarkan,” katanya. “Bukan untuk patuh. Tapi untuk memahami.”
Matteo menatapnya dengan campuran marah dan takut.
“Ini bukan permainan,” katanya.
“Aku tahu,” jawab Carmela lembut. “Ini perang. Dan aku tidak ingin menjadi titik lemahnya.”
Matteo memejamkan mata sejenak.
Lalu mengangguk.
—
Malam turun perlahan.
Di dapur kecil, Carmela menyiapkan makanan sederhana—roti, keju, air hangat. Matteo duduk di meja, mengawasinya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Kau terlihat terlalu tenang,” katanya.
“Aku tidak tenang,” jawab Carmela. “Aku hanya berhenti panik.”
Ia duduk di depannya, menyerahkan roti.
“Kau tahu apa yang paling menakutkan?” lanjutnya. “Bukan Lorenzo. Bukan pelarian.”
“Apa?”
“Bahwa aku mulai terbiasa dengan ini,” kata Carmela jujur. “Dengan ketegangan. Dengan keputusan besar.”
Matteo meraih tangannya di atas meja.
“Itu berarti kau bertumbuh,” katanya. “Bukan berubah menjadi sesuatu yang kau benci.”
Carmela menatap tangan mereka yang saling menggenggam.
“Dan kau?” tanyanya. “Apa yang kau rasakan sekarang?”
Matteo terdiam lama.
“Aku takut,” katanya akhirnya. “Bukan pada musuhku. Tapi pada diriku sendiri. Pada seberapa jauh aku bisa pergi jika sesuatu terjadi padamu.”
Carmela berdiri, mendekat, memeluknya dari samping.
“Kalau begitu,” bisiknya, “kita jaga satu sama lain tetap manusia.”
Matteo memeluknya balik—erat, tapi tidak menekan.
Di luar, angin berdesir di antara pepohonan.
Dan jauh di tempat lain, Lorenzo menerima laporan.
“Mereka bersama,” kata anak buahnya.
Lorenzo tersenyum pelan.
“Bagus,” katanya. “Sekarang aku tahu persis di mana harus memukul.”