NovelToon NovelToon
PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Berlian zahhara

Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Luka dan Pengakuan

Langkah kaki itu berhenti.

Hening menekan lorong sempit yang mereka gunakan sebagai perlindungan sementara. Carmela menahan napas, jari-jarinya mencengkeram lengan Matteo begitu erat sampai terasa sakit. Bau besi tua dan tanah lembap memenuhi udara, bercampur dengan keringat dan ketakutan yang belum sempat reda.

Matteo berdiri setengah langkah di depan Carmela—posisi yang jelas ia pilih tanpa sadar. Bahunya tegang, rahangnya mengeras, matanya fokus pada bayangan di ujung lorong. Ia menilai jarak, sudut, kemungkinan. Kebiasaan lama kembali mengambil alih tubuhnya.

Suara seseorang terdengar—pelan, terkendali, terlalu tenang untuk situasi seperti ini.

“Keluar,” kata suara itu. “Kami cuma mau bicara.”

Matteo mendengus kecil. Hampir tertawa. “Mereka selalu bilang begitu,” bisiknya pada Carmela.

Carmela menelan ludah. “Ada jalan lain?”

Matteo menggeleng pelan. “Ada. Tapi sempit. Dan gelap.”

“Aku ikut,” jawab Carmela tanpa ragu.

Matteo menoleh sekilas, menatapnya seperti ingin memastikan ia sungguh-sungguh. Lalu ia mengangguk. Tanpa bicara lagi, ia menarik Carmela mengikuti dirinya, menyusuri celah di balik tumpukan peti tua yang nyaris runtuh.

Mereka merayap.

Lorong itu berubah menjadi ruang servis lama—pintu besi setengah terbuka mengarah ke tangga darurat yang turun tajam. Matteo mendorong pintu perlahan. Engselnya berdecit pelan, terlalu keras bagi telinga yang waspada.

“Cepat,” bisiknya.

Mereka menuruni tangga. Langkah Carmela goyah, dan ia nyaris terjatuh kalau Matteo tidak sigap menarik pinggangnya. Sentuhan itu—kuat, menahan—membuat jantung Carmela berdetak lebih cepat, bukan hanya karena bahaya.

Di bawah, ruangan kecil menunggu. Gudang tua. Dinding lembap, lampu mati, hanya cahaya tipis dari ventilasi tinggi.

Matteo mengunci pintu dari dalam, lalu bersandar sebentar, menghela napas panjang. Untuk sesaat, topeng keras itu runtuh. Bahunya turun, dadanya naik-turun berat.

“Kita aman… untuk sekarang,” katanya.

Carmela mengangguk, tapi tubuhnya mulai gemetar setelah adrenalin turun. Ia duduk di peti kayu, mencoba menenangkan napas. Baru saat itulah ia melihat noda gelap di lengan Matteo.

“Matteo,” katanya pelan. “Kamu berdarah.”

Matteo menoleh, seolah baru sadar. “Cuma goresan.”

“Itu bukan ‘cuma’,” Carmela berdiri, mendekat. Tangannya gemetar saat menyentuh kain jaketnya yang basah. Darah.

Matteo hendak menarik tangannya, tapi Carmela menahan. “Jangan.”

Nada suaranya lembut, tapi tegas. Matteo terdiam—kalah bukan oleh kekuatan, tapi oleh perhatian yang tidak biasa ia terima.

Carmela merobek sedikit ujung bajunya, menekan luka itu perlahan. “Kamu harus lebih hati-hati.”

Matteo tertawa kecil, lelah. “Kata orang yang barusan berlari ke lorong gelap bersamaku.”

“Jangan mengalihkan,” balas Carmela, berusaha fokus. “Aku serius.”

Keheningan turun lagi. Kali ini berbeda. Tidak ada langkah kaki di luar, tidak ada suara mengejar. Hanya dua orang yang kelelahan, bersembunyi dari dunia.

“Maaf,” kata Matteo tiba-tiba.

Carmela menoleh. “Untuk apa?”

“Untuk semua ini,” jawabnya jujur. “Untuk membuatmu berlari. Untuk membuatmu takut.”

Carmela menghela napas, menekan kain lebih erat. “Aku memang takut.”

Matteo menegang. “Kalau begitu—”

“Tapi aku tidak menyesal,” potong Carmela. “Dan itu yang membuatku takut.”

Matteo menatapnya lama. Ada sesuatu yang bergerak di matanya—rasa bersalah yang bertabrakan dengan kebutuhan untuk mempertahankan jarak.

“Kamu tidak seharusnya berada di sini,” katanya lirih.

“Aku tahu,” jawab Carmela. “Tapi aku di sini karena aku memilih.”

Ia menyelesaikan perban seadanya, lalu menarik tangannya kembali. Jarak di antara mereka terasa aneh—terlalu dekat untuk aman, terlalu jauh untuk jujur sepenuhnya.

“Siapa mereka?” tanya Carmela akhirnya. “Bukan nama. Bukan detail. Aku hanya ingin tahu… seberapa besar ancaman ini.”

Matteo mengusap wajah. “Mereka orang-orang yang pernah kuputuskan tanpa menutup semua pintu. Kesalahan lama.”

“Dan aku?” Carmela menatapnya. “Apa aku juga akan jadi kesalahan?”

Pertanyaan itu menghantamnya tepat di dada. Matteo menutup mata sesaat, lalu membukanya kembali.

“Kamu bukan kesalahan,” katanya pelan. “Kamu… risiko.”

Carmela tersenyum kecil, pahit. “Aku bisa hidup dengan itu.”

Matteo melangkah mendekat. Satu langkah. Lalu berhenti.

“Kalau kamu tetap bersamaku,” katanya, “akan ada malam seperti ini lagi. Mungkin lebih buruk.”

“Aku tahu.”

“Dan akan ada hari,” lanjutnya, “di mana kamu harus memilih pergi demi selamat.”

“Aku tahu.”

Matteo menatapnya, seolah mencari kebohongan. Tidak menemukannya.

“Aku tidak bisa menjanjikan masa depan yang tenang,” katanya.

Carmela mengangkat dagunya sedikit. “Aku tidak pernah mencarinya.”

Keheningan memanjang. Di luar, hujan mulai turun lagi, menepuk atap gudang dengan ritme pelan. Waktu terasa berhenti.

Matteo akhirnya melangkah satu langkah lagi. Kini jarak mereka hanya setipis keputusan.

“Apa yang kamu cari, Carmela?” tanyanya lirih.

Carmela menelan ludah. “Kejujuran.”

Matteo mengangguk. “Kalau aku jujur… aku takut.”

Itu pengakuan yang jarang—mungkin yang pertama. Carmela merasakan dadanya menghangat.

“Takut apa?”

“Takut kamu menjadi satu-satunya hal yang bisa melukaiku,” jawabnya.

Carmela terdiam. Lalu ia mengulurkan tangannya, bukan untuk memegang luka, tapi untuk menyentuh dada Matteo—tepat di atas jantungnya. Sentuhan itu ringan, tapi niatnya berat.

“Kalau begitu,” katanya lembut, “biarkan aku tinggal. Bukan untuk melukaimu. Tapi untuk mengingatkanmu bahwa kamu masih hidup.”

Matteo menarik napas tajam. Tangannya terangkat, ragu, lalu jatuh di pinggang Carmela. Bukan menarik. Menahan. Seolah ia takut kehilangan keseimbangan.

Mereka berdiri seperti itu lama. Tidak ada ciuman. Tidak ada janji besar. Hanya dua orang yang mengakui sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.

Suara ponsel Matteo bergetar di saku. Ia menghela napas, lalu mengangkatnya.

“Kita harus pindah sebelum subuh,” katanya setelah membaca pesan. “Tempat ini tidak akan aman lama.”

Carmela mengangguk. “Ke mana?”

“Tempat yang lebih jauh,” jawab Matteo. “Lebih sunyi. Tapi itu berarti—”

“Aku ikut,” potong Carmela lagi, senyum kecil di bibirnya. “Kamu harus berhenti terkejut setiap kali aku memilih.”

Matteo tertawa pelan—tawa yang jujur, meski lelah. “Kamu menyulitkanku.”

“Aku tahu,” balas Carmela. “Kamu juga.”

Mereka berkemas seadanya. Sebelum membuka pintu, Matteo berhenti, menoleh pada Carmela.

“Kalau di titik mana pun kamu ingin pergi—”

“Aku akan bicara,” kata Carmela. “Aku tidak akan kabur diam-diam.”

Matteo mengangguk. “Itu saja yang kuminta.”

Pintu dibuka perlahan. Udara malam masuk, dingin dan basah. Dunia menunggu dengan ancaman yang belum selesai.

Matteo menggenggam tangan Carmela.

Kali ini, tidak sebagai pelindung.

Tidak sebagai perisai.

Melainkan sebagai dua orang yang memilih berjalan bersama—meski tahu jalan di depan tidak ramah.

Dan saat mereka melangkah keluar, Carmela tahu:

Ini bukan akhir dari pelarian.

Ini awal dari konsekuensi.

1
adinda berlian zahhara
/Smile/
Elva Maizora
bagus banget ceritanya thor
adinda berlian zahhara: terimakasih 🫰❤️
total 1 replies
Bibilung 123
sangat luar biasa ceritanya tidak bertele tele tp pasti
adinda berlian zahhara: terimakasih masukannya, author sekarang sedang merevisi cerita supaya menjadi bab yang panjang🙏🙏
total 1 replies
putrie_07
hy thorrr aq suka bacanya, bgussss
putrie_07: iy Thor. iy klo bisa buat ada panas pnasnya🥵🥵🥵🥵
total 2 replies
putrie_07
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!