Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
Lalu datanglah Mori.
Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Pagi itu, suasana di depan mading sekolah terasa lebih tenang dari biasanya, sampai seorang cowok dengan almamater OSIS yang rapi mendekat ke arah Mori. Namanya Vano. Dia adalah definisi "Green Flag" berjalan: pintar, sopan, tutur katanya lembut, dan menjabat sebagai Ketua OSIS. Visualnya sangat kontras dengan Lian; Vano lebih terlihat seperti pangeran sekolah yang rapi dan teratur.
Mori yang sedang mencatat jadwal lomba esai nasional menoleh saat Vano berdiri di sampingnya.
"Mori, ya? Anak baru yang menang olimpiade Fisika itu?" tanya Vano dengan senyum ramah yang tulus.
Mori membalas senyuman itu. Berbeda saat menghadapi Lian, dengan Vano, Mori merasa aman. "Iya, Kak Vano. Ada yang bisa dibantu?"
"Nggak, cuma mau mastiin jadwal ini udah bener. Oh iya, nanti sore setelah sekolah ada waktu? Kebetulan ada pameran buku baru di dekat taman kota. Kayaknya kamu bakal suka. Mau pergi bareng?" tanya Vano sopan, tanpa tekanan.
Mori terdiam sejenak. Dia memang butuh buku referensi baru. "Boleh, Kak. Kebetulan aku emang mau ke sana."
"Sip, kalau gitu nanti aku tunggu di gerbang depan, ya?" Vano menepuk bahu Mori pelan sebelum berlalu pergi.
Mori menghela napas lega. Nah, cowok kayak gini nih yang normal, batinnya. Namun, rasa lega itu hanya bertahan tiga detik.
"Pameran buku? Serius, Mor? Selera lo se-membosankan itu?"
Suara berat dan sedikit serak itu muncul dari balik pilar mading. Lian melangkah keluar dengan gaya santainya, tangan dimasukkan ke saku celana, dan tatapannya sangat tidak bersahabat. Visual Gabriel Guevara-nya sedang dalam mode "siap menerkam".
Mori memutar bola matanya. "Bukan urusan lo, Lian."
"Urusan gue lah. Lo lupa ya?" Lian berjalan mendekat, memangkas jarak sampai Mori harus mendongak. Aroma parfum maskulinnya langsung mendominasi udara di sekitar Mori.
"Lupa apa?" tanya Mori bingung.
"Sore ini kita ada tugas kelompok Kimia. Di rumah lo. Yang bagian bahas praktikum kemarin yang gagal," ucap Lian tanpa berkedip. Mukanya serius banget, seolah-olah tugas itu benar-benar ada.
Mori mengerutkan kening. "Tugas kelompok? Perasaan Pak Broto nggak kasih tugas baru, dan laporan kemarin udah lo kumpulin sendiri, kan?"
"Itu laporan sementara. Pak Broto minta revisi total karena data kita nggak akurat. Lo nggak denger tadi pagi di kelas?" Lian berbohong dengan sangat lancar, aktingnya bener-bener kelas Oscar. Padahal, dia cuma nggak tahan liat Mori senyum semanis itu ke Vano.
"Nggak mungkin, gue tadi pagi dengerin dengan jelas," bantah Mori curiga.
"Berarti lo yang kurang fokus. Pokoknya sore ini, jam empat. Gue udah bilang ke Mama lo lewat WA kalau kita mau belajar bareng lagi," tambah Lian sambil menyilangkan tangan di dada, terlihat sangat puas dengan rencananya.
Mori mendesis kesal. "Lian! Gue udah janji sama Kak Vano!"
"Vano? Si Ketua OSIS yang pakai minyak rambut kebanyakan itu?" Lian tertawa sinis. "Kasih tau dia, tugas sekolah lebih penting daripada jalan-jalan nggak jelas. Atau mau gue yang bilangin langsung ke dia?"
Lian sudah mulai melangkah ke arah kantor OSIS, membuat Mori panik. Dia tahu Lian itu nekat dan bisa bikin keributan yang memalukan.
"Eh, eh! Jangan!" Mori menarik ujung kemeja Lian. "Iya, oke! Gue batalin sama Kak Vano. Tapi kalau sampe gue tau lo bohong soal tugas ini, gue nggak bakal mau ngomong sama lo selamanya!"
Lian berhenti, dia berbalik dan menatap Mori dengan senyum miringnya yang legendaris. "Janji ya? Jam empat. Jangan telat."
)
Sore harinya, di teras rumah Mori. Lian datang dengan motor Ninja-nya, membawa tas sekolah yang entah isinya buku atau cuma angin. Mori keluar dengan wajah cemberut, membawa buku Kimia tebal.
"Mana? Bagian mana yang kata Pak Broto harus direvisi?" tagih Mori langsung.
Lian duduk di kursi teras, mengeluarkan satu buku tulis kosong. "Sabar, Mor. Kita minum dulu kek, atau apa gitu. Tante mana? Rendangnya udah mateng belum?"
"Lian! Jangan bahas rendang! Mana tugasnya?"
Lian menghela napas, dia menatap Mori dalam-dalam. "Oke, jujur. Nggak ada tugas."
Mori tertegun, lalu mukanya memerah padam karena marah. "LO BOHONGIN GUE?! Gue udah batalin janji sama Kak Vano, Lian!"
"Iya, emang gue bohong," jawab Lian santai, tapi matanya menunjukkan sisi posesif yang kuat. "Gue nggak suka lo jalan sama dia. Vano itu cuma kelihatan baik di luar, tapi dia nggak bakal bisa jagain lo kayak gue."
"Maksud lo apa sih? Lo itu siapa gue? Lo cuma temen sekelas yang hobi tebar pesona!" teriak Mori emosi.
Lian tiba-tiba berdiri, mendekati Mori sampai Mori terdesak ke pintu rumah. Lian meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Mori, mengurungnya.
"Gue emang bukan siapa-siapa lo sekarang, Mor," bisik Lian rendah, visualnya bener-bener intimidatif tapi penuh gairah. "Tapi gue nggak mau lo jadi target cowok lain. Terutama cowok kayak Vano yang nggak tau gimana cara ngadepin cewek keras kepala kayak lo."
Mori terdiam, jantungnya berdegup kencang bukan karena marah, tapi karena jarak mereka yang sangat tipis. Dia bisa melihat pantulan dirinya di mata gelap Lian.
"Lo... lo bener-bener egois, Lian," bisik Mori parau.
"Gue emang egois kalau itu menyangkut lo," balas Lian. Dia tiba-tiba mengambil buku Kimia di tangan Mori dan membukanya asal. "Sekarang, karena lo udah di sini dan gue udah di sini, mending kita beneran belajar. Biar bohong gue nggak dosa-dosa amat."
Akhirnya, mereka benar-benar duduk dan belajar Kimia (atau lebih tepatnya Mori yang menjelaskan dan Lian yang pura-pura dengerin sambil merhatiin muka Mori).
"Lian, lo dengerin nggak sih? Ini unsur yang ini kalau dicampur—"
"Gue denger, Mor. Tapi menurut gue, kimia yang paling susah dipelajari itu kimia antara gue sama lo. Kenapa reaksinya selalu meledak-ledak?" potong Lian sambil menopang dagu, menatap Mori dengan tatapan yang bikin Mori salah tingkah setengah mati.
"Diem atau gue siram pake air sirop!" ancam Mori, padahal tangannya gemetar pas nulis rumus.
Diam-diam, Mori menyadari satu hal. Meskipun Lian menyebalkan, dan tukang bohong, tapi sore itu terasa jauh lebih "hidup" daripada jika dia pergi ke pameran buku dengan Vano yang tenang. Radar Mori berteriak kencang bahwa dia dalam bahaya besar—bukan bahaya fisik, tapi bahaya jatuh ke dalam pesona sang Red Flag yang mulai menunjukkan warna aslinya.