NovelToon NovelToon
Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu susu / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.

Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.

Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia dibalik gerbang

“…dengan Ibu Susu yang menyelamatkan cucunya.”

Darian membeku. Wajahnya yang sudah sepucat es seakan kehilangan sisa-sisa kehangatan terakhir. Kata-kata Suster Rina berdengung di telinganya, bukan sebagai informasi, melainkan sebagai alarm bencana. Ibu. Datang. Ingin bertemu. Tiga hal yang jika digabungkan, akan menciptakan kerumitan yang tidak ia butuhkan saat ini.

“Suruh mereka tunggu di bawah,” perintah Darian, nadanya datar dan dingin, mencoba merebut kembali kendali yang baru saja terlepas.

“Sudah terlambat, Tuan.” Suster Rina menyingkir dengan canggung saat suara langkah kaki yang elegan, satu berirama lembut, yang lain lebih tegas, terdengar mendekat di koridor.

Pintu yang masih terbuka didorong lebih lebar. Seorang wanita berusia lima puluhan, dengan keanggunan yang tidak bisa disembunyikan oleh setelan sederhana namun mahal yang ia kenakan, melangkah masuk. Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan garis leher yang masih kencang, dan sepasang mata cokelat hangat yang kini dipenuhi kekhawatiran menyapu seisi ruangan. Itu Nyonya Adreine, ibu dari Darian.

Namun, ia tidak sendirian. Di belakangnya, seorang wanita lain yang usianya tak jauh berbeda mengikuti. Wanita itu memancarkan aura yang sama sekali berbeda, dingin, tajam, dan penuh penilaian. Pakaiannya lebih mencolok, perhiasannya berkilau di bawah lampu neon rumah sakit. Queenora langsung tahu, bahkan tanpa diberitahu, bahwa wanita itulah Madam Estrel, seseorang yang sangat terkenal diantero kota, siapa yang tidak mengenal wanita paling populer akan kekayaan dan kesuksesanya itu.

Nyonya Adreine mengabaikan semua orang. Tatapannya terkunci pada Suster Rina yang kini menggendong buntalan kecil yang merengek pelan.

“Elios… cucuku,” bisiknya, suaranya bergetar.

Wanita cantik itu bergerak cepat, mengambil alih bayi itu dari sang perawat dengan kecekatan seorang nenek yang telah merindukan pelukan itu seumur hidupnya. Ia menciumi puncak kepala Elios yang berambut tipis, menghirup aromanya dalam-dalam.

“Astaga, sayangku. Nenek di sini.”

Elios, seolah mengenali kehangatan yang familier itu, berhenti merengek. Ia bersandar nyaman di dekapan neneknya.

Setelah memastikan cucunya baik-baik saja, barulah mata Nyonya Adreine yang teduh itu beralih, mencari sumber keajaiban yang diceritakan oleh perawat di telepon.

Tatapannya melewati putranya yang berdiri kaku seperti patung, melewati Estrel yang mengamati dengan bibir terkatup rapat, dan akhirnya mendarat pada Queenora yang duduk meringkuk di kursi.

Queenora menahan napas. Inilah saatnya. Penghakiman babak kedua. Ia sudah siap dicaci maki, dituduh sebagai penipu, atau bahkan diusir dengan kasar. Ia menundukkan kepalanya, menunggu badai.

Namun, badai itu tidak pernah datang.

Sebaliknya, yang datang adalah kehangatan. Nyonya Adreine, masih sambil menggendong Elios, melangkah mendekat. Ia berhenti tepat di depan Queenora, tatapannya lembut, tanpa sedikit pun jejak penghinaan yang begitu kental di mata putranya beberapa saat lalu.

“Jadi… kamu , Nak?” suara Nyonya Adreine terdengar lembut, sarat dengan emosi yang tak terlukiskan. Bukan pertanyaan, melainkan sebuah pengakuan.

Queenora hanya bisa mengangguk, tidak berani mengangkat wajahnya.

“Lihat aku.”

Perintah itu lembut, tetapi memiliki bobot yang membuat Queenora mau tidak mau menurut. Perlahan, ia mengangkat kepalanya, matanya yang sembap bertemu dengan tatapan teduh Nyonya Adreine.

Di sana, ia tidak menemukan sorot kecurigaan. Ia menemukan rasa terima kasih. Ia menemukan pemahaman. Ia menemukan sesuatu yang nyaris terasa seperti… ibu.

“Terima kasih,” bisik Nyonya Adreine, suaranya tulus hingga menusuk relung hati Queenora yang paling dalam.

“Kamu sudah menyelamatkan nyawanya. Tidak ada kata yang cukup untuk membalasnya.”

Air mata yang sejak tadi ditahan Queenora akhirnya jatuh. Satu tetes, lalu satu lagi. Kehangatan yang tak terduga ini terasa lebih menyakitkan daripada semua hinaan Darian.

“Adreine, apa-apaan ini?” Suara tajam Estrel memecah momen itu.

“Kenapa kau berterima kasih pada… gadis ini? Kita bahkan tidak tahu siapa dia! Dia bisa saja punya penyakit! Ini menjijikkan!”

“Jaga ucapanmu, Estrel,” balas Nyonya Adreine, nadanya tetap tenang namun mengandung baja. Ia tidak menoleh pada Estrel. Matanya masih tertuju pada Queenora.

“Intuisi seorang ibu lebih kuat dari seratus tes laboratorium. Dan intuisiku mengatakan gadis ini bersih. Hatinya bersih dan sangat tulus.”

“Intuisi tidak bisa membunuh virus!” cibir Estrel.

“Darian!” Nyonya Adreine akhirnya menoleh pada putranya.

“Kenapa kau hanya diam? Kenapa kau biarkan penyelamat putramu duduk di sini seperti seorang pesakitan?”

Darian tersentak dari kebekuannya. Ia tampak terganggu, terjebak di antara logika dinginnya, amarah Estrel, dan kehangatan ibunya yang tak terduga.

“Aku sudah menanganinya, Bu,” jawabnya singkat, nadanya terdengar defensif.

“Dia akan bekerja untukku. Sebagai ibu susunya.”

“Bekerja untukmu?” Nyonya Adreine menatap putranya dengan tatapan tak percaya.

“Darian, dia bukan mesin. Dia manusia. Lihat dia. Dia pucat, dia ketakutan. Apa kau sudah menanyakan namanya?” tukas Adreine.

Darian terdiam. Saat ibunya bertanya dengan nada ini, membuatnya terdengar seperti penjahat.

“Namanya Queenora,” kata Nyonya Adreine lembut, seolah menjawab pertanyaannya sendiri, matanya kembali menatap Queenora.

“Benar, kan, Nak?”

Queenora mengangguk lagi, merasa seperti boneka tali yang kehilangan dalangnya.

“Sudah cukup sandiwara ini!” Estrel melangkah maju, mencoba mengambil Elios dari pelukan Adreine.

“Bayi ini harus diperiksa. Siapa tahu dia sudah tertular sesuatu!”

Nyonya Adreine memutar tubuhnya, melindungi Elios dari jangkauan Estrel.

“Hentikan, Estrel! Kau hanya akan membuatnya stres. Dokter sudah bilang dia baik-baik saja. Justru, dia jauh lebih baik sekarang.” Ia menatap Darian dengan tajam.

“Urus surat keluarnya. Bawa dia pulang.”

“Aku sudah menyuruh sopir untuk menjemputnya nanti sore,” kata Darian.

“Tidak,” potong Nyonya Adreine tegas.

“Kau yang akan menjemputnya. Kau yang akan membawanya pulang. Ini tanggung jawabmu. Tunjukkan sedikit rasa hormat.” Ia kemudian kembali menatap Queenora.

“Istirahatlah, Nak. Nanti sore, Darian akan datang. Jangan khawatirkan apa pun," ucap Adreine dengan menatap Queenora penuh kasih.

Dengan kata-kata itu, Nyonya Adreine berbalik dan berjalan keluar ruangan, membawa serta Elios dan kehangatan yang ia bawa. Estrel menatap Queenora dengan tatapan penuh kebencian sebelum akhirnya mengikuti Adreine dengan langkah mengentak.

Darian ditinggal sendirian bersama Queenora. Keheningan yang canggung kembali menyelimuti mereka. Pria itu tampak marah dan frustrasi, seolah ibunya baru saja merusak rencananya yang rapi dan transaksional.

“Jangan besar kepala karena ibuku menyukaimu,” desisnya tajam.

“Kesepakatan kita tetap sama. Kau di sana untuk satu fungsi. Mengerti?”

“Saya mengerti,” bisik Queenora, kehangatan dari Nyonya Adreine sudah menguap, digantikan oleh hawa dingin yang dibawa Darian.

Pria itu mendengus sebelum berbalik dan pergi tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Queenora sendirian dengan gemuruh di hatinya.

***

Sore harinya, semua berjalan seperti yang dikatakan Nyonya Adreine. Seorang perawat datang membawakan satu set pakaian sederhana, kaus longgar dan celana kain yang nyaman, yang jelas bukan miliknya, beserta surat keluar dari rumah sakit.

Queenora berganti pakaian, gaun rumah sakit yang tipis dan penuh kenangan buruk itu ia tinggalkan begitu saja di lantai.

Saat ia berjalan keluar dari lobi rumah sakit, dengan tangan hampa dan hati yang berat, sebuah sedan hitam mewah berhenti tepat di depannya. Kaca mobil turun, menampakkan wajah Darian yang tanpa ekspresi di balik kemudi.

Queenora berjalan mendekati mobil, tangannya ragu-ragu hendak membuka pintu penumpang depan.

Namun, sebelum jarinya menyentuh gagang pintu, Darian sudah lebih dulu membuka kunci pintu belakang dari dalam.

“Kamu di belakang,” katanya, suaranya datar, tanpa menoleh.

Di kursi penumpang depan, terpasang dengan aman di dalam kursinya, Elios tertidur pulas. Kehadirannya begitu dekat, namun terasa begitu jauh. Perintah Darian adalah sebuah penegasan yang kejam.

Queenora adalah staf, bukan keluarga. Posisinya adalah di belakang, terpisah, sebagai penumpang bayaran.

Tanpa membantah, Queenora membuka pintu belakang dan masuk. Aroma kulit baru dan parfum mahal yang samar menyergapnya, terasa begitu asing dan mengintimidasi. Ia duduk di ujung kursi, menjaga jarak sejauh mungkin dari sisi pengemudi, merasa seperti penyusup di dunia yang bukan miliknya.

Mobil melaju dalam keheningan yang menyesakkan. Queenora menatap keluar jendela, melihat pemandangan kota yang ramai berlalu lalang. Orang-orang tertawa, berjalan, hidup. Sementara dirinya, terasa seperti sedang diangkut menuju sebuah penjara.

Setelah perjalanan yang terasa seperti selamanya, mobil itu melambat dan berbelok, memasuki sebuah kawasan perumahan elite yang dipenuhi rumah-rumah megah.

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi tempa hitam yang menjulang tinggi, lebih mirip gerbang benteng daripada gerbang rumah.

Gerbang itu terbuka secara otomatis tanpa suara, menampakkan jalan masuk pribadi yang panjang dan diapit oleh taman yang terawat sempurna namun terasa kaku dan tanpa jiwa.

Dan di ujung jalan itu, berdirilah sebuah rumah. Bukan rumah, melainkan sebuah mahakarya arsitektur modern, bangunan masif yang terbuat dari kaca, baja, dan beton, dingin, megah, dan sama sekali tidak ramah. Sangkar emas.

Mobil berhenti tepat di depan pintu utama yang berukuran raksasa. Darian mematikan mesin. Keheningan total kini menyelimuti mereka, hanya terganggu oleh napas lembut Elios yang tertidur.

Queenora tidak bergerak, terpaku menatap bangunan yang mengintimidasinya itu. Jantungnya berdebar kencang, sebuah firasat buruk merayap di tulang punggungnya.

Darian tidak menoleh padanya. Matanya menatap lurus ke depan, tetapi Queenora bisa merasakan tatapan dinginnya melalui cermin spion tengah.

“Mulai sekarang,” ucapnya, suaranya rendah dan tanpa emosi, memecah keheningan seperti pecahan kaca.

“Duniamu hanya ada di balik gerbang ini. Dan di dalam rumah itu, duniamu hanya sebatas kamarmu dan kamar anakku. Jangan pernah lupakan itu.”

1
Jj^
semangat update Thor 🤗
Nar Sih
biarkan darian membatu mu queen ,kasih semagatt sja dan doa kan smoga mslh mu cpt selesai
Nar Sih
jujur sja queen ,biar semua terungkap
Nar Sih
darian mulai jatuh cinta dgn mu queen
Harmanto
miskin dialog terlalu banyak menceritakan suasana hayalan
Sumarni Ukkas
sangat bagus..
Realrf: makasih kak
total 1 replies
Harmanto
ceritanya terlalu banyak fariasi hayalan yg sangaaat pamjang jarang sekali dialog yg menghidupkam cerita. sering tidak kubaca fariasi2 itu
Realrf: baik kaka trimakasih masukannya
total 1 replies
Harmanto
Nora diberi makan apa untuk memproduksi asi tdk diceritakan, diberi sandang apa. dia dianggap mahluk bukan manusia yg punya rasa emosi
Harmanto
ceritanya membingungkan apa iya tadinya menawarkan berapa uang kau minta. dia tdk butuh uang .kok dia malah membelenggu dg seribu atran yg robot
Nar Sih
seperti nya darian udh mulai suka dng mu queen
Indah MB
di tunggu selalu bab selanjutnya 😍
Realrf
ma aciwww 😘
Indah MB
bacanya kayak makan permen nano nano ... manis asam asin rame rasanya .... selalu penasaran
Indah MB
lanjut ya thor... jgn berenti sampai di sini
Indah MB
atau jangan jangan , si Luna yg g pernah melahirkan, dan anaknya queenora yg diambil menggantikan anak luna yg meninggal... bisa aja kan?
Nar Sih
jgn ,,foto yg dilihat queenora adalah poto org di msa lalunya
Indah MB: mungkin foto org yg melecehkannya.. kan dia hamil
total 1 replies
Nar Sih
semagatt ya queenora💪
Realrf
hasek 💃💃💃💃
Nar Sih
kak thor sbr nya aku msih bingung dgn cerita queenora yg tiba,,keguguran trus msa lalu nya siapa ayah dri byi nya
Realrf: 🤭🤭🤭 pelan pelan ya ... pelan kita buka siapa dan mengapa
total 1 replies
Nar Sih
sabarr queenora yaa,hti mu yg bersih dan niat mu yg tulus demi nyawa seorang byi yg hampir dehidrasi smoga kebaikan mu dpt blsn bahagia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!