Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.
Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.
Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.
Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.
Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penebusan Dosa
Devan berbalik menatap Putri, napasnya masih naik turun.
"Mulai besok," ucap Devan dengan suara rendah yang menakutkan, "aku larang Arga injek ruangan ini, dan kamu... jangan harap bisa ketemu dia lagi."
"Kenapa, Mas?" tanya Putri berani, matanya berkaca-kaca. "Kenapa Mas cemburu sama kak Arga yang baik sama aku, tapi Mas membiarkan mbak Tamara nempel sama Mas? Itu nggak adil!"
"Karena kamu milik aku!" teriak Devan frustrasi, "milik aku, Putri! Suka atau nggak suka, kamu istri aku! Dan aku nggak suka milik aku disentuh orang lain!"
Pengakuan posesif itu keluar begitu saja. Devan tidak sadar, bahwa rasa cemburu buta itu adalah tanda bahwa hatinya sudah tidak lagi utuh untuk Tamara. Namun, egonya yang besar menutupi rasa cintanya dengan topeng kemarahan yang menyakiti Putri.
***
Malam itu, kediaman keluarga Pradipta yang megah terasa seperti medan perang yang siap meledak.
Tamara baru saja pulang dengan wajah berseri-seri. Di tangannya, ia menenteng paper bag butik mahal, hasil dari teror manjanya pada Devan seharian ini.
Ia bersenandung kecil saat melintasi ruang keluarga, tidak menyadari bahwa papanya sudah duduk di sana dengan wajah gelap gulita.
"Senang kamu, Tamara?" suara berat Brahma memecah keheningan.
Tamara terlonjak kaget, ia menoleh dan mendapati pak Brahma menatapnya dengan sorot mata yang belum pernah ia lihat seumur hidup, sorot mata jijik.
"Papa? Kok belum tidur?" tanyaTamara, "iya dong, seneng. Devan tadi beliin aku tas baru, katanya ini hadiah karena..."
"Hadiah di atas penderitaan adikmu yang sedang sekarat?" potong Brahma tajam. Ia bangkit dari sofa, melempar koran yang dipegangnya ke lantai.
Senyum Tamara luntur. "Adik? Maksud Papa si Putri? Pa, please deh. Dia itu cuma sakit cari perhatian, lagian Devan itu hak aku dari dulu. Wajar dong kalau aku ambil balik?"
"Hak kamu?" Brahma tertawa sumbang, langkahnya mendekat mengintimidasi Tamara. "Kamu yang buang Devan demi Reno! Kamu yang tinggalkan dia di altar! Dan sekarang, saat Putri, istri sahnya sedang berjuang nyawa, kamu datang lagi merusak rumah tangga mereka. Di mana harga dirimu, Tamara?!"
"Papa kok bentak aku?!" Tamara mulai menangis, air mata buayanya keluar. "Aku anak Papa! Kenapa Papa malah belain anak haram itu?!"
"DIAM!" bentak Brahma menggelegar. "Putri bukan anak haram! Dia darah daging saya! Dan dia jauh lebih punya hati daripada kamu!"
"Mas Brahma!"
Suara teriakan wanita memotong perdebatan itu. Anggun menuruni tangga dengan wajah merah padam, matanya nyalang menatap suaminya. Ia langsung berlari memeluk Tamara yang menangis.
"Jangan berani-beraninya kamu bentak anakku demi membela anak sialan itu!" serang Anggun berapi-api.
"Anakmu itu sudah keterlaluan, Anggun!" tunjuk Brahma pada Tamara. "Kamu yang mendidik dia jadi wanita tidak punya hati! Kamu biarkan dia menggoda suami orang. Kamu mau Tamara dicap sebagai perusak rumah tangga?"
"Suami orang? Hah!" Anggun tertawa sinis, tawa yang menyayat telinga. "Devan itu suami Tamara yang tertunda! Putri itu cuma kerikil. Sama seperti ibunya dulu!"
Suasana memanas, Brahma menatap istrinya dengan rahang mengeras.
"Jangan bawa-bawa ibunya Putri. Dia sudah tenang di sana, dia wanita baik-baik."
"Wanita baik-baik?" Anggun melepaskan pelukan Tamara, maju menantang Brahma. "Wanita baik-baik mana yang mau dinikahi laki-laki beristri, Brahma?! Jawab!"
Anggun mendorong dada Brahma dengan telunjuknya yang lentik namun tajam.
"Kamu pikir aku lupa? Dua puluh tahun lalu, kamu bawa perempuan kampung itu masuk ke kehidupan kita. Kamu menduakan aku! Kamu hancurkan hatiku saat aku lagi hamil Tamara!"
"Itu karena terpaksa!" bela Brahma, suaranya mulai goyah oleh rasa bersalah masa lalu. "Kamu tau situasinya saat itu!"
"Terpaksa?" teriak Anggun histeris, air matanya mulai tumpah. "Jangan munafik! Kamu menikahi Laras, ibunya Putri... bukan cuma karena permintaan papamu yang sakit keras. Tapi karena kamu serakah! Kamu gila harta!"
Tamara yang sedang sesenggukan tiba-tiba diam, menatap kedua orang tuanya bingung.
Anggun menoleh pada anaknya, lalu kembali menatap Brahma dengan penuh kebencian.
"Asal kamu tau, Tamara. Papamu ini menikahi ibunya Putri demi HARTA WARISAN!"
Anggun membongkar aib itu tanpa ampun.
"Kakekmu mengancam akan mencoret nama
papa kamu dari daftar pewaris tunggal perusahaan, kalau dia tidak menikahi anak dari sahabatnya itu."
Mendengar rahasia besar itu diteriakkan ibunya, Tamara tidak terkejut. Tidak ada ekspresi syok atau hancur di wajah cantiknya. Sebaliknya, gadis itu malah menghentikan tangis buayanya, menyeka sudut matanya dengan jari lentik, lalu tertawa.
Tawa yang dingin, kering, dan penuh cemoohan.
"Mama pikir aku bodoh?" cibir Tamara, menatap mamanya dengan tatapan meremehkan. "Aku sudah tau soal itu dari lama, Ma. Nenek pernah keceplosan waktu aku SMP. Jadi, stop dramanya seolah-olah Mama adalah korban paling menderita di sini."
Anggun terbungkam, matanya membelalak menatap putrinya sendiri.
Tamara melangkah mendekat ke arah Brahma, melipat tangan di dada dengan angkuh.
"Jadi intinya, Papa nikahin ibunya Putri cuma buat jadi 'kunci' pembuka brankas warisan kakek, kan? Simpel, bisnis."
Brahma menatap putrinya dengan perasaan campur aduk. Jijik, marah, sekaligus malu. Ia tidak menyangka putrinya tumbuh menjadi wanita yang memandang pernikahan dan manusia hanya sebagai komoditas bisnis.
"Jangan bicara seolah itu hal sepele, Tamara!" geram Brahma, "itu dosa terbesar papa. Papa memanipulasi wanita sebaik Laras. Papa menikahinya tanpa cinta, cuma demi menyelamatkan perusahaan yang hampir kolaps saat itu. Dan setelah papa dapat warisannya... papa mengabaikan dia sampai dia meninggal melahirkan Putri."
Suara Brahma merendah, getaran penyesalan terdengar jelas. "Sekarang papa sadar... papa membunuh dia pelan-pelan, dan sekarang papa membunuh anaknya juga."
"Terus kenapa?!" sambar Anggun, kembali menyulut api. "Kamu menyesal? Bagus kalau kamu sadar diri! Tapi jangan pernah menyalahkan aku atau Tamara!"
"MUNAFIK!" bentak Brahma, urat lehernya menonjol. Suaranya menggelegar memenuhi ruang tengah yang megah itu.
Brahma menunjuk sekeliling ruangan. Menunjuk lampu gantung kristal, menunjuk lukisan mahal, dan akhirnya menunjuk perhiasan yang melingkar di leher Anggun dan tas mewah di tangan Tamara.
Kalian pikir dari mana semua kemewahan ini berasal, hah?!"
Brahma melangkah maju, memojokkan istri dan anaknya.
"Saya memang yang melakukan dosa itu. Saya yang menikahi Laras demi warisan. TAPI SIAPA YANG MENIKMATI HASILNYA?!"
Hening, Anggun dan Tamara terdiam.
"Kamu, Anggun!" tunjuk Brahma tepat di wajah istrinya. "Tas-tas mahal kalian itu, berlianmu, skincare jutaan rupiahmu, mobil sport Tamara, liburan ke Eropa tiap tahun... ITU SEMUA UANG DARI PENGORBANAN LARAS! Uang dari warisan yang didapat karena saya menikahi dia!"
Napas Brahma memburu. "Kalian hidup seperti ratu di atas penderitaan Laras dan Putri! Kalian makan enak dari uang 'dosa' itu, tapi kalian malah meludahi anaknya! Di mana otak kalian?! Di mana hati nurani kalian?!"
Anggun yang terpojok, bukannya sadar, malah semakin defensif. Wajahnya merah padam menahan murka karena harga dirinya dikuliti.
"Itu hak kami!" balas Anggun tak mau kalah.
"Itu kompensasi! Bayaran karena Papa sudah mengkhianati cintanya Mama! Wajar kalau aku dan Mama menikmati uang itu. Anggap saja itu ganti rugi karena Papa sudah membagi ranjang dengan perempuan kampung itu!"
"Ganti rugi?" Brahma menggeleng tak percaya. "Kalian bukan minta ganti rugi. Kalian memeras darah mereka, kalian berdua lintah darat."
Brahma menatap Tamara yang masih memegang tas barunya.
"Dan kamu, Tamara. Kamu sama persis dengan mamamu. Kamu merasa berhak atas segalanya, kamu merasa berhak atas Devan, padahal kamu yang buang dia. Kamu merasa berhak menghina Putri, padahal hidup mewahmu itu dibiayai oleh harta yang harusnya jadi milik Putri juga!"
Tamara mendengus kesal. "Papa ngelantur. Apa hubungannya sama Devan? Devan itu cinta aku, Pa. Bukan soal harta."
"Cinta?" Brahma tertawa miris. "Devan itu laki-laki bodoh yang sedang buta. Tapi sebentar lagi matanya akan terbuka. Dan saat itu terjadi, kamu akan kehilangan segalanya, Tamara."
Brahma berbalik badan, merasa muak melihat dua wajah cantik yang ternyata berhati busuk di hadapannya.