Nevan Roderick. Seorang Mafia kejam berdarah dingin dan tidak pernah terlibat dengan wanita manapun tiba-tiba tertarik dengan seorang gadis yang tanpa sengaja ditemuinya saat berada dalam kejaran para musuhnya.
Revalina Ainsley. Gadis sederhana dan cerdas yang memilih hidup mandiri karena permasalahan orang tuanya. Terpaksa terlibat dengan Nevan, pria yang dengan paksa masuk dan mengobrak-abrik kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hoshiily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Reva
Reva yang kini sudah tersulut emosi, dengan cepat berjalan menuju ke ruang keamanan untuk memeriksa CCTV diikuti oleh Gavin yang masih mengikutinya meski tidak tahu apa yang terjadi.
"Bagaimana? Apa kamu menemukannya?" Tanya Reva pada Rangga saat tiba di ruang CCTV
Rangga menggeleng "Tidak Non. Mereka sudah menghapus rekaman CCTV-nya" Jawab Rangga
"Oh.. Dia benar-benar merencanakannya dengan baik" Ucap Reva menatap penjaga ruang CCTV yang kini duduk tersungkur di lantai setelah berurusan dengan Rangga tadi
Reva lalu duduk di depan salah satu komputer "Tapi mereka salah, karena bermain-main denganku" Tutur Reva sebelum memulihkan rekaman itu, yang merupakan mainannya selama ini
Tangan Reva menari dengan cepat di atas keyboard dengan huruf dan angka yang perlahan memenuhi layar komputer.
"Dia benar-benar menarik.. " Batin Gavin merasa kagum dan semakin tertarik dengan Reva
Tak butuh waktu lama, tepat setelah layar memperlihatkan angka 100 percent, rekaman-rekaman sebelumnya yang sempat terhapus kembali pulih seperti sedia kala.
Dengan cepat, Reva mencari keberadaan Siska dan Nevan. Hingga di rekaman ke 14 di lantai 5 hotel, seorang gadis dengan seorang pelayan terlihat membawa Nevan masuk ke dalam sebuah kamar.
Tangan Reva mengepal menahan amarah begitupun dengan Rangga. Ketiganya dengan cepat meninggalkan ruang keamanan dan berlari menuju ke kamar di lantai 5 tadi.
...***...
Tak butuh waktu lama bagi ketiganya untuk tiba di kamar tersebut setelah menaiki lift.
"Bagaimana kalian akan masuk? Kalian tidak memiliki kartu aksesnya" Tanya Gavin karena bahkan jika mereka mengetahui kamarnya, mereka tidak akan bisa masuk jika tidak memiliki kartu masuknya
"Kalau begitu aku akan merusaknya.. " Ucap Reva lalu menarik pistol yang selalu di bawa oleh Rangga di saku celananya
Dor.. Dor.. Dor..
Gavin hanya bisa menggelengkan kepalanya, begitupun dengan Rangga yang tidak menyangka akan cara dari Reva ini.
Brakk..
Reva mendorong pintu yang rusak itu dengan keras hingga terbanting ke dinding.
Siska yang saat ini berada di dalam, segera menghamprinya kaget dengan suara pintu tadi.
"A-apa yang kamu lakukan? " Teriak Siska
"Aku yang seharusnya bertanya, apa yang kamu lakukan?" Tanya Reva menghampiri Siska dan mencengkram dagunya keras
Reva menoleh menatap ke arah Nevan yang masih berbaring di ranjang dengan baju yang sudah terlepas.
"Nevan! Sampai kapan kamu akan berbaring disitu, apa kamu benar-benar suka bermain dengannya?" Teriak Reva pada Nevan
"Gadis ini.. Dia benar-benar berani membentak Nevan" Batin Gavin lagi-lagi dibuat tercengang dengan sikap Reva yang begitu berani
Sementara itu, Nevan yang masih berbaring di kasur segera bangun terduduk "Kamu menyadarinya.. Kalau kamu terlambat sedikit, nyawa gadis itu sudah pasti melayang di tanganku" Tutur Nevan dengan seringainya
Reva yang masih mencengkram dagu Siska kembali menatapnya tajam "Jadi kamu akan membiarkanku membunuhnya?" Tanya Reva, juga dengan smirk khas miliknya
"Bagaimana mungkin aku mengotori tanganmu, bukankah membunuhnya terlalu mudah untuknya" Ucap Nevan bangkit menghampiri Reva
"A-apa yang mau kalian lakukan? " Tanya Siska mencoba berontak
"I-ini.. Apa yang akan mereka lakukan?" Tanya Gavin pada Rangga yang hanya menonton dari tadi
"Gadis itu sudah berani bermain-main dengan mereka. Terutama dengan Reva, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukannya"
"Rangga!" Panggil Reva kemudian
"Iya Non" Jawab Rangga segera menghampiri Reva
"Periksa tasnya. Aku yakin dia masih memiliki beberapa obat disana.. " Perintah Reva
Persis seperti yang diperkirakan, Siska benar-benar masih memiliki beberapa tablet obat disana. Rangga lalu mengambil semuanya dan memasukkannya ke dalam air minum.
"A-apa yang kalian lakukan? Hentikan! Kalian tidak akan bisa menanggung konsekuensi.. . Emmghhh.. Glek.. "
Belum sempat Siska menyelesaikan kata-katanya, Reva sudah terlebih dahulu memaksanya meminum minuman itu.
"Bahkan jika ayahmu ada disini, kamu tetap tidak akan bisa kabur setelah bermain-main denganku" Tutur Reva tajam penuh penekanan
"Kejam.. " Satu-satunya kata yang pantas untk Reva saat ini dipikiran Gavin, namun meski begitu ia tetap merasa tertarik pada Reva karena karakternya yang begitu berbeda dengan gadis yang selama ini ditemuinya
"Sisanya aku serahkan padamu Rangga.. " Perintah Reva melepas cengkraman nya pada Siska lalu mengambil kemeja dan memakaikannya pada Nevan
"Baik Non " Jawab Rangga sembari memberikan sebuah kartu akses pada Reva karena sebelum datang menemui Reva tadi ia memesan sebuah kamar sesuai permintaan dari Reva
"Pintu ini? Kamu merusaknya?" Tanya Nevan saat keluar dan memperhatikan pintu kamar yang sudah rusak itu
"Iya. Aku memang merusaknya, kenapa? Jangan bilang kamu tidak sanggup membayarnya" Tutur Reva
"Aku bahkan sanggup membeli hotel ini.. Bagaimana mungkin pintu seperti ini tidak bisa aku urus" Balas Nevan
"Bagaimana dengannya?" Tanya Nevan memperhatikan Gavin
"Oh.. Dia kenalanku" Jawab Reva "Maaf kak. Aku dan Nevan harus pergi dan aku harap kejadian malam ini menjadi rahasia diantara kita" Pinta Reva
"Tidak perlu khawatir, aku tidak akan menyebarkannya" Tutur Gavin sebelum undur diri meninggalkan keduanya
"Sepertinya dia tertarik padamu" Tutur Nevan
"Huh.. Aku bahkan belum memperhitungkan masalah tadi denganmu. Jadi berhenti cemburu seperti itu"
"Baiklah.. Ayo kekamar sekarang sebelum aku benar-benar menerkammu di lorong ini" Ucap Nevan mencium bibir Reva
Walau bagaimana pun, Siska baru saja memberinya obat dengan dosis tinggi. Bahkan jika dia bisa menahannya, hanya masalah waktu hingga ia benar-benar akan kehilangan kendali akan dirinya.
Reva yang menyadarinya hanya bisa segera membawa Nevan ke dalam kamar yang dipesan Rangga tadi sebelum ia benar-benar menerkam nya di lorong itu.
...***...
Di sisi lain, Rangga yang diberikan tugas mengatasi Siska kini duduk di sofa memperhatikan Siska yang sudah ia ikat di ranjang dengan mulut yang dibekap.
Setelah kepergian Nevan dan Reva, ia memesan satu kamar lagi untuk digunakannya bermain dengan Siska.
"Dasar gadis bodoh.. " Hujat Rangga menatapnya j*jik
Siska yang kini berada di bawah kendali obat, berusaha dengan sekuat tenaga menahannya namun efek dari obat itu benar-benar begitu kuat membuatnya tidak bisa mengendalikan tubuhnya yang kini terasa begitu panas.
Keringat perlahan membanjiri tubuhnya, gaun yang tadi digunakannya kini basah karena keringatnya. Diikuti deru nafasnya yang semakin tidak beraturan.
"Sepertinya kamu sudah tidak sabar lagi" Ucap Rangga menatap Siska dengan seringainya
"Sabarlah.. Hadiah dari Nona, sebentar lagi akan tiba" Ucap Rangga kemudian
"Emmgghhhh... Mmghhh.. " Air mata Siska kini jatuh, rencana yang ia susun dengan baik kini menjadi boomerang untuk dirinya sendiri
Tingg....
"Oh.. Sepertinya mereka sudah tiba.. " Ucap Rangga dengan smirk nya lalu membuka pintu kamar tersebut
Tiga orang pria kini berada di kamar itu yang merupakan para gigolo yang sengaja disewa oleh Rangga untuk menjadi teman bermain Siska malam ini.
"Kalian bisa bebas bermain sepuasnya dengan dia. Jangan lupa untuk membuat rekaman yang bagus" Perintah Rangga pada ketiga gigolo itu
"Baik Tuan. Kami tidak akan mengecewakan mu" Ucap salah satu dari gigolo itu sebelum Rangga meninggalkan mereka
Siska yang menyaksikan ketiganya mencoba berontak sekuat tenaganya namun sayangnya efek dari obat itu lagi-lagi membuatnya tidak bisa mengendalikan tubuhnya yang semakin terasa panas.
"Gadis kecil..Ayo bermain dengan kami.. " Ucap salah satu gigolo itu sembari mengelus wajah Siska
"Egghj.. Reva.. Nevan.. Aku pasti akan membalas perbuatan kalian.. " Batin Siska penuh dendam