Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Pencarian Spiritual
#
Dua minggu setelah keluar dari rumah sakit.
Arkan duduk di teras apartemen barunya. Apartemen yang dia sewa sendiri setelah nggak tahan tinggal di rumah keluarga lagi. Apartemen kecil. Satu kamar. Sederhana. Beda banget sama mansion Wijaya.
Tapi... tapi dia lebih suka disini. Sendirian. Sepi. Nggak ada yang nanya-nanya. Nggak ada yang kasian liat dia.
Langit sore berwarna jingga kemerahan. Matahari hampir tenggelam. Suara adzan Maghrib berkumandang dari masjid deket apartemen.
*Allahu Akbar... Allahu Akbar...*
Arkan diem. Dengerin. Kayak... kayak ada sesuatu yang bergetar di dada.
"Zahra... kamu lagi sholat sekarang ya... kamu... kamu lagi sujud... lagi berdoa... apa... apa kamu doain aku juga?"
Dia ambil telepon genggam. Buka galeri. Foto Zahra. Foto yang dia ambil diam-diam waktu mereka di warung kopi dulu. Zahra lagi senyum. Mata berbinar. Kayak... kayak dia lagi liat sesuatu yang indah.
"Aku kangen... kangen banget..."
Tapi kali ini... kali ini dia nggak nangis. Udah nggak ada air mata lagi. Udah... udah kering semua.
Cuma... cuma sakit yang nggak kemana-kemana.
Arkan ambil napas panjang. Tutup galeri. Taruh telepon genggam.
"Zahra bilang... bilang aku harus cari jalan sendiri. Harus... harus mikir dengan kepala jernih. Tapi... tapi gimana caranya mikir jernih kalau kepala ku penuh sama kamu?"
Dia natap langit. Langit yang mulai gelap.
"Tuhan... aku... aku nggak tau harus ngapain lagi. Aku udah cari Zahra kemana-mana. Udah... udah usaha maksimal. Tapi... tapi dia kayak ditelan bumi. Dan aku... aku nggak tau... nggak tau ini artinya apa..."
Hening.
Cuma suara angin sepoi-sepoi.
"Apa... apa ini tanda Kau mau aku berhenti? Mau aku... mau aku lepas dia? Atau... atau ini ujian buat aku? Ujian buat... buat liat seberapa kuat aku?"
Nggak ada jawaban.
"Aku bingung... aku... aku nggak tau jalan mana yang bener... tolong... tolong kasih aku petunjuk..."
---
Esok paginya.
Arkan bangun jam lima pagi. Nggak bisa tidur nyenyak dari dua minggu lalu. Mimpi terus. Mimpi tentang Zahra. Tentang... tentang dia pergi makin jauh. Dan Arkan nggak bisa ngejar.
Dia duduk di pinggir kasur. Kepala pusing. Badan lemas meskipun udah makan teratur lagi.
"Satu hari lagi... satu hari lagi yang... yang hampa..."
Tiba-tiba dia inget sesuatu.
Masjid.
Masjid deket apartemen yang suara adzan nya kedengeran tiap waktu sholat.
Zahra bilang dia sering sholat di masjid. Sering... sering sujud lama. Nangis. Berdoa.
"Mungkin... mungkin kalau aku ke masjid... aku... aku bisa ngerasain apa yang Zahra rasain. Bisa... bisa lebih deket sama dia meskipun dia nggak ada..."
Arkan mandi. Ganti baju. Baju kaos putih polos sama celana training. Nggak tau harus pake baju apa buat ke masjid.
Dia jalan kaki. Lima menit sampe. Masjid kecil. Dinding putih. Kubah hijau. Di depan ada tempat wudhu.
Arkan berdiri di depan pintu. Ragu.
"Apa... apa aku boleh masuk? Aku kan... aku kan masih Kristen... apa... apa nggak apa-apa?"
Tapi kakinya melangkah sendiri. Masuk. Lepas sendal di rak.
Dalam masjid sepi. Cuma ada beberapa bapak-bapak tua lagi duduk sambil baca Quran. Lantai karpet hijau lembut. Lampu remang-remang. Suasana nya... tenang.
Arkan berdiri di pojok. Nggak tau harus ngapain.
Salah satu bapak-bapak ngedeketin dia. Ramah. Senyum.
"Assalamualaikum nak. Kamu baru ya? Belum pernah liat."
"W-Walaikumsalam..." Arkan bales canggung. "Iya Pak. Saya... saya baru. Saya... saya tinggal di apartemen sebelah."
"Alhamdulillah. Selamat datang. Mau sholat Subuh berjamaah?"
"Eh... saya... saya sebenarnya belum bisa sholat Pak. Saya... saya masih... masih belajar."
Bapak itu angguk-angguk. Nggak judge. "Oh begitu. Alhamdulillah. Niat belajar itu udah bagus nak. Mau diajarin?"
"Boleh Pak... tapi... tapi saya nggak mau ganggu..."
"Nggak ganggu sama sekali. Justru kami seneng ada yang mau belajar." Bapak itu tunjuk ruangan samping. "Itu ruang aula. Habis Subuh biasanya ada kajian sama Ustadz Yusuf. Kamu bisa ikut. Gratis. Bebas tanya apa aja."
Ustadz Yusuf.
Nama yang... yang pernah Zahra sebut. Ustadz yang baik. Yang ngajarin dia banyak hal tentang Islam.
"Ustadz... Ustadz Yusuf ya Pak?"
"Iya. Kenapa? Kamu kenal?"
"Nggak... nggak kenal langsung. Tapi... tapi temen saya pernah cerita tentang beliau. Katanya... katanya beliau baik."
"Oh iya. Ustadz Yusuf itu orangnya sabar banget. Nggak pernah maksa. Nggak pernah judge. Cocok buat pemula kayak kamu."
Arkan diem sebentar. Mikir.
"Baiklah Pak. Saya... saya ikut kajian nya."
---
Sholat Subuh berjamaah dimulai. Arkan duduk di barisan paling belakang. Ngeliat orang-orang berdiri rapi. Rukuk. Sujud. Dalam gerakan yang seragam.
Dia nggak ikut sholat. Cuma... cuma duduk. Ngeliat. Ngerasain.
"Zahra... kamu kayak gini tiap hari ya... lima kali sehari... bangun pagi-pagi buat sholat Subuh... aku... aku baru tau... baru ngerti... betapa kuat nya iman kamu..."
Setelah sholat selesai, orang-orang pindah ke aula. Ruangan sederhana dengan karpet merah. Udah ada sekitar dua puluh orang duduk melingkar.
Di depan duduk seorang ustadz. Umur empat puluhan. Berjenggot rapi. Pake baju koko putih. Wajahnya... tenang. Ramah.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Ustadz Yusuf buka kajian. Suara nya lembut. Nggak keras. Nggak menggurui.
"Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jamaah jawab kompak.
"Alhamdulillah pagi ini kita berkumpul lagi di rumah Allah. Semoga Allah menerima niat baik kita semua." Ustadz Yusuf senyum. Pandang satu-satu jamaah. Berhenti di Arkan.
"Masya Allah ada wajah baru. Silakan perkenalkan diri dulu sebelum kita mulai."
Arkan kaget. Semua mata ngeliatin dia.
"S-saya... saya Arkan. Saya... saya tinggal di apartemen sebelah. Saya... saya baru pertama kali kesini."
"Alhamdulillah. Selamat datang Arkan. Jangan sungkan-sungkan ya. Disini kita semua saudara. Nggak ada yang senior atau junior. Semua sama di mata Allah."
Arkan angguk. "Terima kasih Ustadz."
"Baik. Pagi ini kita mau bahas tentang dasar-dasar iman. Tentang... tentang kenapa kita percaya sama Allah. Kenapa kita milih Islam sebagai jalan hidup." Ustadz Yusuf buka Quran di tangannya. "Dan yang paling penting... kita belajar tanpa paksaan. Karena iman yang dipaksakan... itu bukan iman. Itu cuma... cuma formalitas. Dan Allah nggak suka formalitas. Allah suka ketulusan."
Arkan mencatat kata-kata itu di hati.
"Iman yang dipaksakan bukan iman."
Persis... persis kayak yang Zahra bilang.
---
Ustadz Yusuf mulai ngomong. Pelan. Jelas. Nggak buru-buru.
"Allah itu Maha Esa. Artinya... artinya nggak ada Tuhan selain Dia. Nggak ada yang setara. Nggak ada yang menyerupai. Dia... Dia Pencipta segala sesuatu. Sementara kita... kita cuma ciptaan. Makhluk yang lemah. Yang butuh Dia."
Arkan dengerin serius. Matanya nggak kedip.
"Dalam Islam, kita percaya bahwa Yesus... atau dalam Islam namanya Isa Al-Masih... adalah nabi yang mulia. Nabi yang hebat. Nabi yang punya mukjizat luar biasa. Tapi... tapi dia tetep nabi. Tetep manusia. Bukan Tuhan. Bukan anak Tuhan. Karena Allah nggak beranak dan nggak diperanakkan."
Arkan deg. Itu... itu perbedaan paling besar antara Islam sama Kristen.
Di Kristen... Yesus adalah Tuhan. Anak Allah yang turun jadi manusia buat menebus dosa.
Di Islam... Yesus cuma nabi. Manusia biasa yang diutus Allah.
"Ustadz..." Arkan angkat tangan. Ragu. "Boleh... boleh saya tanya?"
"Silakan Arkan. Nggak usah sungkan."
"Kalau... kalau Yesus bukan Tuhan... terus... terus siapa yang menebus dosa kita? Dalam Kristen kan... kan Yesus yang mati di kayu salib buat menebus dosa manusia. Kalau di Islam... gimana?"
Pertanyaan bagus. Ustadz Yusuf senyum.
"Di Islam... setiap orang tanggung jawab dosa nya sendiri. Nggak ada yang bisa tanggung dosa orang lain. Nggak ada penebusan dosa lewat pengorbanan orang lain. Karena Allah itu Maha Adil. Dia nggak bakal hukum orang yang nggak bersalah. Dan Dia nggak bakal ampunin orang yang bersalah cuma karena orang lain yang bayar."
Arkan mikir keras. "Tapi... tapi kalau gitu... kalau semua orang tanggung dosa sendiri... berarti... berarti kita semua bakal masuk neraka? Karena... karena semua manusia pasti pernah dosa kan?"
"Nah itu dia." Ustadz Yusuf angkat jari telunjuk. "Allah itu Maha Pengampun. Dia... Dia ampunin dosa sebesar apapun asal kita... kita bertobat dengan tulus. Asal kita menyesal. Asal kita nggak ngulangin lagi. Dan yang paling penting... asal kita percaya cuma Dia satu-satu nya Tuhan. Nggak ada sekutu buat Dia."
Arkan diem. Nyerna informasi itu.
"Jadi... jadi intinya... di Islam kita nggak butuh perantara buat ketemu Allah? Nggak butuh... nggak butuh Yesus buat nyelamatin kita?"
"Betul. Kita langsung ke Allah. Nggak perlu perantara. Nggak perlu pengorbanan darah. Cukup... cukup kita sujud. Kita minta ampun. Kita berjanji bakal jadi lebih baik. Dan Allah... Allah pasti denger. Pasti ampunin."
Hening sebentar.
Arkan ngerasain... ngerasain ada sesuatu yang bergerak di hati. Sesuatu yang... yang susah dijelasin.
"Tapi Ustadz... kalau kita langsung ke Allah... apa... apa kita nggak takut? Maksud saya... Allah kan Maha Besar. Maha Suci. Sementara kita... kita manusia yang penuh dosa. Apa... apa kita layak buat langsung ngomong sama Dia?"
Ustadz Yusuf senyum lebar. "Justru itu indahnya Islam, Arkan. Allah itu dekat. Lebih dekat dari urat leher kita. Dia... Dia nggak jauh. Dia nggak tinggi sampe nggak bisa digapai. Dia ada. Selalu ada. Dengerin semua keluhan kita. Liat semua air mata kita. Dan Dia... Dia sayang sama kita. Meskipun kita penuh dosa."
Arkan nggak sadar air mata keluar.
"Dia... Dia sayang... meskipun kita penuh dosa?"
"Iya. Karena Dia Maha Penyayang. Kasih sayang Dia... kasih sayang Dia lebih besar dari dosa kita. Lebih besar dari kesalahan kita. Dan Dia... Dia selalu buka pintu buat kita balik. Kapanpun. Dimanapun."
Arkan ngelap air mata cepet-cepet. Malu keliatan nangis.
Tapi... tapi ada sesuatu yang... yang berubah di dalam diri nya.
Sesuatu yang... yang mulai terbuka.
---
Setelah kajian selesai, Arkan deketin Ustadz Yusuf. Jamaah lain udah pada pulang.
"Ustadz... boleh saya ngobrol sebentar?"
"Tentu Arkan. Silakan duduk." Ustadz Yusuf nunjuk kursi sebelahnya. "Ada yang mau ditanyakan?"
Arkan duduk. Napas panjang.
"Ustadz... saya... saya sebenarnya masih Kristen. Saya... saya belum muslim. Tapi... tapi saya punya... punya alasan buat belajar Islam."
"Alasan apa?"
"Ada... ada seseorang. Seseorang yang... yang sangat penting buat saya. Dia... dia muslim. Dan dia... dia pergi dari hidup saya karena... karena saya beda agama sama dia. Dia bilang... dia bilang nggak bisa nikah sama orang yang beda agama. Dan dia... dia ninggalin saya. Biar saya... biar saya bisa mikir jernih. Biar saya bisa... bisa cari jalan sendiri."
Ustadz Yusuf diem. Dengerin serius.
"Dan sekarang... sekarang saya bingung Ustadz. Saya... saya cinta sama dia. Tapi saya juga... saya juga nggak bisa gampang ninggalin keyakinan saya. Ninggalin Yesus yang... yang udah saya percaya sejak kecil. Saya... saya nggak tau harus gimana..."
"Arkan..." Ustadz Yusuf pegang bahu Arkan. Lembut. "Dengerin saya baik-baik. Keputusan masuk Islam itu... itu keputusan terbesar dalam hidup. Nggak boleh diambil dengan tergesa-gesa. Nggak boleh karena cinta. Nggak boleh karena paksaan. Harus... harus karena kamu yakin. Yakin di hati. Yakin di pikiran. Yakin... yakin ini jalan yang bener."
"Tapi Ustadz... gimana caranya yakin? Gimana caranya... gimana caranya tau ini jalan yang bener?"
"Kamu belajar. Kamu baca. Kamu bertanya. Kamu bandingkan. Kamu cari dengan hati yang terbuka. Nggak nutup diri. Nggak defensif. Dan yang paling penting... kamu berdoa. Minta petunjuk sama Tuhan. Tuhan yang kamu percaya sekarang. Minta Dia... minta Dia tunjukin jalan yang bener. Dan kalau Dia tunjukin... kamu ikutin. Apapun jalan nya."
Arkan diem. Kata-kata Ustadz Yusuf... kata-kata itu masuk ke hati.
"Ustadz... boleh... boleh saya terus dateng kesini? Belajar lebih banyak? Meskipun saya... meskipun saya belum yakin mau masuk Islam?"
"Tentu. Pintu masjid selalu terbuka buat siapa aja. Muslim atau non-muslim. Yang penting... yang penting niat nya baik. Niat nya cari kebenaran. Bukan... bukan cari-cari kesalahan."
"Saya janji Ustadz. Saya... saya cuma mau cari kebenaran. Cuma... cuma pengen ngerti."
"Alhamdulillah. Itu udah langkah pertama yang bagus."
---
Arkan pulang ke apartemen dengan perasaan... perasaan yang aneh. Campur aduk.
Di satu sisi... dia ngerasa bersalah. Bersalah sama Yesus. Sama iman yang udah dia peluk sejak kecil.
"Yesus... maafin aku... aku... aku nggak bermaksud ninggalin Kau... aku cuma... aku cuma mau cari tau... mau... mau ngerti..."
Tapi di sisi lain... ada rasa penasaran. Penasaran yang... yang nggak bisa dibendung.
"Islam... apa... apa ini jalan yang selama ini aku cari? Apa... apa ini jawaban buat semua pertanyaan ku?"
Dia ambil Quran terjemahan yang dia beli kemarin. Buka halaman acak.
Surat Al-Baqarah ayat 286.
*"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..."*
Arkan baca berkali-kali.
"Allah nggak bebani... sesuai kesanggupan..."
Air mata keluar lagi.
"Berarti... berarti semua yang terjadi sama aku... sama Zahra... ini... ini sesuai kesanggupan kita? Berarti... berarti Allah tau kita kuat? Allah... Allah percaya kita bisa lewatin ini?"
Dia tutup Quran. Peluk ke dada.
"Tuhan... aku... aku nggak tau Kau siapa. Aku nggak tau... nggak tau Kau Allah atau Bapa di surga. Tapi... tapi aku percaya Kau ada. Kau... Kau denger aku. Dan aku mohon... aku mohon kasih aku petunjuk. Kasih aku... kasih aku jalan yang bener. Jalan yang... yang bisa bawa aku ke Zahra lagi. Atau... atau jalan yang bisa bikin aku ikhlas lepas dia kalau memang itu yang terbaik..."
Dia sujud. Sujud kayak orang Islam. Meskipun belum tau caranya yang bener.
Jidat nempel di lantai.
"Tolong... tolong tunjukin aku... aku... aku nyerahin segalanya ke Kau... aku nggak kuat lagi... aku butuh... aku butuh Kau..."
Dan di dalam sujud itu... di dalam keheningan malam... Arkan ngerasain sesuatu.
Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang... yang tenang.
Kayak ada yang peluk dia. Kayak ada yang bilang "Aku disini. Aku selalu disini."
"Apa... apa ini jalan yang Kau tunjukkan? Apa... apa ini... ini petunjuk Kau?"
Nggak ada jawaban verbal.
Tapi... tapi hati Arkan... hati Arkan mulai... mulai tenang.
Untuk pertama kalinya sejak Zahra pergi.
Tenang.
---
**BERSAMBUNG KE BAB 35...**