Dunia terlalu kejam untuk dia yang hanya terus menangis.
Bumi ini sangat jahat untuk wanita yang hanya mengandalkan dirinya sendiri, berbekalkan keberanian dan tekad untuk bisa bertahan hidup di tengah tengah gempuran kesulitan.
Haeyla Seraphine layak mendapatkan kemenangan atas hidup nya, cinta dan ketulusan layak untuk dia menangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pupybear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 25.
Hari ini hidup ku kembali dengan memulai semua dari awal. Sekarang harus lebih kuat lagi. Aku berjalan pelan menuju sekolah pagi ini. Mungkin hari inu akan menjadi hari yang lelah untuk ku, mencari pekerjaan baru lagi dan memulai semua dari awal lagi. Siap. Aku pasti siap dengan semuanya.
Suasana sekolah pagi pukul 06:40.
Para siswa masih tampak keluar dan masuk gerbang sekolah. Sekolah masuk pukul 07:00. Sementara aku baru sampai di sekolah pada pukul 06:50. Sedikit lagi terlambat, tapi untungnya masih belum.
" Morning Haeyla" Arbian menyapa ku dengan senyum di bibir nya.
" Morning Ar" Aku menjawab seadanya.
" Hope you have a good day" Kata kata nya selalu bisa menyenangkan perasaan ku. Aku dan Arbian berjalan bersama menuju ruang kelas kami. Namun saat itu aku mendengar suara teriakan yang sangat kencang, tentu saja aku tau siapa itu.
" Haeylaaa!! Yuhuu" Itu adalah teriakan Cila. Aku langsung menoleh melihat asal dari suara teriakan itu.
" Haii Cila" Aku menyapa Cila dengan senyum palsu di wajahku, Arbian melihatku. Sepertinya dia tahu kalau itu adalah senyum samaran.
" Hari ini ikut gue ya La. Gue mau ajak lo ke suatu tempat" Aku bingung harus menjawab apa, karena hari ini aku juga berniat akan pergi untuk mencari pekerjaan baru. Namun aku tidak enak jika menolak ajakan Cila.
" Tapi aku gak bisa lama lama ikut kamu Cila. Soalnya aku ada keperluan yang lain" Aku menerima ajakan Cila karena aku pikir aku bisa membagi waktu nanti.
" Oke, ayo ke kelas" Setelah kami masuk ke ruang kelas, aku melihat Bumi yang sudah duduk disana, dia langsung menatap ku dengan tatapan mata nya yang tajam. Aku hanya diam dan memalingkan wajahku, aku bukan marah, hanya saja rasanya kali ini seperti asing dengan dia.
" Haeyla. Aku minta maaf karena aku udah bohongin kamu selama ini" Tanpa basa basi dia langsung minta maaf kepadaku. Aku diam dan berpikir. Seharusnya aku tidak kecewa denganya, bukan salah dia kalau aku tidak tahu dia adalah pemilik cafe fourtune.
" Kamu gak perlu minta maaf sama sekali" Aku hanya menjawab apa yang memang seharusnya menjadi jawaban ku.
" Tetap Haeyla. Aku merasa bersalah untuk semua yang udah kamu alamin kemarin malam" Kali ini dia berbicara sambil menatap wajahku.
" Aku udah lupain semua yang terjadi. So. Kita lupain aja Bumi" Ini mungkin lebih tepat pikirku.
Cila menatap kami dengan tatapan mencurigakan. Seakan akan penuh pertanyaan di dalam pikiranya sekarang. Begitu juga dengan Arbian. Dia juga menatap kami dengan tatapan sendu nya.
" Btw. Lo berdua lagi ada masalah ya?" Benar saja. Cila langsung mengintrogasi kami.
" Perasaan kamu aja Cila" Jawab ku mengelak.
" Gue yakin sih, dari muka kalian berdua ada yang aneh" Cila tidak berhenti. Dia terus bertanya seperti wartawan saja.
" Kita lagi ada masalah" Sialan. Batinku. Kenapa Bumi harus memberitahu yang sebenarnya? Ini akan semakin rumit dan panjang.
Sementara Ruang guru saat ini.
" Jadi ibu adalah mama dari murid kami Haeyla?" Bapak kepsek bertanya kepada wanita yang saat ini duduk di ruangan miliknya.
" Benar sekali pak. Maaf sekali. Tapi apa bisa saya bertemu dengan anak saya sekarang?"
" Bisa bu. Sebentar saya suruh orang untuk panggilkan Haeyla Seraphine" Bapak kepsek langsung menyuruh seorang murid untuk memanggil ku di dalam kelas.
" Haeyla Seraphine" Terdengar suara itu dari luar kelas.
" Ada apa?" Tanyaku.
" Kamu di panggil kepsek keruangan nya" Tentu saja aku terkejut. Kenapa kepsek tiba tiba ingin memanggil ku ke ruangan nya? Aku langsung bergegas pergi menuju ruangan kepsek saat itu.
" Mama!" Aku terkejut melihat mama yang sudah duduk di dalam sana.
" Sayang. Haeyla" Mama langsung menghampiriku dan memeluk ku.
" Kamu apa kabar sayang? Kamu kenapa kurusan begini?" Tanya mama bertubi tubi kepadaku.
" Aku baik ma. Mama kenapa datang kesini? Mama ada masalah?" Tanyaku khawatir.
" Mama kangen sama kamu Haeyla. Mama mutusin untuk tinggal bareng kamu selama beberapa hari" Aku senang dan juga bingung mendengar perkataan mama.
" Gimana sama keluarga baru mama? Mereka marah nanti kalau tau mama sama aku?"
" Engga sayang. Mama punya alasan. Jadi kamu tenang aja ya" Syukurlah. Aku bisa menghabiskan waktu dengan mama walau hanya beberapa hari saja.
Ruang kelas saat ini.
" Eh Bum. Emang lo punya masalah apa sama sahabat gue?" Cila masih benar benar penasaran.
" Ada" Bumi hanya menjawab singkat.
" Yaelah. Cerita. Siapa tau gue punya solusi" Cila menawarkan bantuan.
" Gak perlu. Gue bisa atasi sendiri" Untungnya Bumi tetap kekeh tidak memberitahu Cila alasan nya.
Aku mengantarkan mama ke pintu gerbang sekolah.
" Mama tunggu kamu di rumah Haeyla" Sebelum mama sempat pergi. Tiba tiba Divo datang menghampiri kami.
" Halo tante. Senang bertemu dengan tante" Divo langsung menyapa mama tanpa bertanya padaku itu siapa.
" Halo. Teman kamu sayang?" Tanya mama.
" Oh. Iya ma. Ini Divo teman aku" Aku terpaksa harus mengenalkan nya pada mama saat itu.
" Halo Divo. Senang bertemu kamu juga" sapa mama kembali.
" Yaudah ma. Mama tunggu aku di rumah ya. Aku masuk kelas dulu" Ucapku karena sebentar lagi bel akan berbunyi.
" Oke sayang. Mama pergi dulu" Setelah kulihat mama pergi menjauh, aku pun langsung pergi menuju ruang kelas.
' Gue tau. Lo pasti kaget kenapa gue bisa tau kalau itu mama lo tanpa harus bertanya kan Haeyla' Batin Divo saat melihatku pergi menjauh.
Kediaman Haeyla.
' Hari ini aku akan masak makanan kesukaan Haeyla. Sudah lama aku gak pernah masak untuk putriku itu' Gumam mama.
Aku juga kurang paham bagaimana cara mama menjelaskan pada keluarga barunya kalau dia tidak akan pulang untuk beberapa hari. Namun apapun itu alasan nya aku senang karena aku bisa menghabiskan waktu dengan mama setelah sekian lama.
Bel pulang berbunyi.
" Cila. Kita jadi ke tempat yang kamu bilang tadi?" Aku memastikan.
" Jadi dong. Ayo ayo" Cila langsung menarik tangan ku untuk ikut bersama dengan nya.
Sementara di ruang kelas tersisa Bumi dan Arbian.
" Apapun masalah lo sama Haeyla. Gue harap lo gak jatuhin air mata dia lagi" Arbian memperingati Bumi sekarang.
" Maksud lo apa? Lo gak tau apa apa" Bumi menjawab tidak terima.
" Gue memang gak tau apa apa. Tapi gue ada di waktu Haeyla jatuhin air mata nya malam itu" Arbian langsung meninggalkan Bumi setelah memperingati nya.
' Jadi? Jadi Haeyla bersama dia malam itu? Sialan!!' Bumi membanting kursi yang ada di dalam kelas.
Entah kemana Cila akan membawa ku saat ini. Aku dan Cila pergi dengan mobil milik Cila. Sepanjang perjalanan Cila tidak banyak bicara. Dia fokus mengemudi.
" Kita mau kemana sih Cila?" Aku penasaran.
" Ada. Nanti juga lo tahu kok" Cila terus menambah kecepatan mobil nya. Setelah hampir 30 menit kami sampai di satu tempat. Tempat itu lumayan familiar untuk aku ingat.
" Rakha!! Haii!" Aku melihat seorang laki laki berdiri di tepi danau. Lelaki itu menoleh mendengar teriakan Cila.
Deggg!
Jantungku seakan ingin berhenti ketika aku melihat wajah lelaki itu.
' Itu. Dia! Dia Reskara!"
Bersambung.