Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada persahabatan yang lebih dulu terjalin
Keona mendaratkan tubuhnya di kursi tempat Jehan duduk tadi. Wajahnya biasa saja sangat berbeda saat tadi ada Jehan. Sebria duduk berlipat tangan di dada.Tatapannya penuh peringatan.
"Aku cuma memperingatkannya." Keona paham maksud dari tatapan kakaknya itu.
"Tapi jangan sampai melewati batas kesopanan, Keo. Untuk saat ini semua nya terasa biasa saja."
"Kakak tenang saja. Aku tetap pada batasanku." Keona tersenyum meyakinkan. "Jadi bagaimana kondisi Byan?"
"Lumayan membaik. Mungkin beberapa hari lagi bisa sekolah setelah kontrol."
"Ayo, temani aku makan. Aku belum makan papa berangkat duluan tadi makan siang sama mama sekalian ketemu teman kata nya." Keona berdiri dari tempatnya duduk.
Sebria membereskan sisa makan siang nya bersama Jehan lalu menutup toko. Kakak beradik itu memakai satu mobil. Mereka tiba di pusat perbelanjaan. Keona mengajak kakaknya makan disalah satu tempat disana. Sebria hanya memilih makanan penutup karena tadi sudah makan siang.
"Kamu tidak terlambat ke kantor kalau kita makan disini?"
"Tidak, aku sengaja pilih disini karena ada yang ingin ku beli buat sahabat kecil kakak itu sebagai hadiah kesembuhan."
Sebria tersenyum tapi tatapannya seakan ingin menguliti. "Kamu tidak suka ayah nya tapi ingin membeli hadiah untuk anaknya. Bagaimana ceritanya itu, Keo?"
Pemuda tampan itu menatap serius setelah menaruh sendok ke dalam piringnya. "Karena anaknya selalu membuat kakak tersenyum. Selama dekat dengan Byan. Kakak seolah keluar dari lubang hitam. Ada senyum, cerita yang kakak bawa pulang setiap hari. Karena itu aku ingin memberinya hadiah biar semangat cepat sembuh."
Sebria mengangguk apa yang dikatakan adiknya itu memang benar. Setiap hari ia pulang selalu tersenyum dan penuh cerita. Dan Keona adalah pendengar setianya. "Terimakasih, Byan terobsesi dengan mobil-mobilan sejenis kereta. Seperti bus dan kereta api. Kakak lihat cukup banyak koleksi nya di rumah."
...----------------...
Semburat jingga mulai memenuhi langit saat Sebria merapikan helai terakhir krisan putih ke dalam buketnya.
Di sudut toko bunganya yang harum, ia bergerak dengan ketenangan yang terlatih memotong batang, mengikat pita satin berwarna biru muda, lalu menyemprotkan sedikit air agar kelopak-kelopak itu tetap segar.
Sore ini bukan tentang pesanan pernikahan atau dekorasi pesta. Sebria sedang bersiap menuju rumah Jehan. Ia sengaja memilih bunga matahari yang cerah di tengah rangkaian krisan itu. Sebria ingin membawa sedikit 'matahari' ke dalam rumah itu.
Sambil melepas celemek nya, Sebria menatap pantulan dirinya di cermin toko. Ada binar haru di matanya. Ia meraih kunci toko, membalik papan di pintu menjadi 'Closed' dan melangkah keluar menuju mobilnya.
Angin sore yang sejuk menyambutnya, membawa harapan bahwa keindahan yang ia bawa dalam dekapannya bisa menjadi obat untuk Byan.
Lampu-lampu jalan mulai berkedip hidup, bersaing dengan sisa cahaya lembayung yang memudar di cakrawala. Di balik kemudi, Sebria membiarkan kaca jendela terbuka sedikit, membiarkan aroma tanah basah dan udara sore yang mendingin mengisi kabin mobil.
Perjalanan ini terasa berbeda dari hiruk-pikuk macet biasanya. Tidak ada klakson yang memburu atau rasa tergesa-gesa hanya ada deru mesin yang halus dan alunan musik santai menemani detak jantungnya. Di kursi penumpang, buket bunga matahari dan krisan itu bergoyang pelan setiap kali mobil melewati tikungan, seolah ikut tak sabar mencapai tujuannya.
Sebria menatap spion tengah, melihat kota yang mulai berkilau di belakangnya. Ada ketenangan yang ganjil dalam kesendirian di jalanan sore ini sebuah transisi singkat sebelum ia menukar keheningan berkendara dengan senyum haru di rumah tujuannya nanti.
Roda empat itu berhenti di pelataran rumah Jehan yang mewah. Nampak sepi belum ada mobil Jehan yang terparkir itu artinya pria itu belum pulang dari kantor.
Sebria masuk setelah disambut salah satu asisten rumah tangga. Di ruang tengah Bi Merry menyambut dengan senyuman. Sebelumnya Sebria sudah mengabari jika ingin datang.
"Dimana dia?"
"Di kamar." Bi Merry mengimbangi langkah Sebria. "Dia pasti senang melihat nona datang."
Sebria terkekeh lalu menunggu Bi Merry membuka pintu kamar. "Hai..." Ucapnya ketika daun pintu terdorong.
"Tante Bria." Pekik Byan senang. Bocah laki-laki itu duduk sambil menonton tv di kamarnya.
"Ini buat kamu, mereka sudah merindukan Byan di toko." Sebria memberikan buket bunga. "Dan ini, titipan dari adik tante."
"Terimakasih tante. Ini apa?" Byan meletak buket bunga di atas kasur. Lalu meraih paper bag hitam yang di bawa Sebria.
"Bukan sendiri di dalam nya ada kartu ucapan."
Byan mengambil kotak segi empat berukuran besar di atas nya ada kartu ucapan yang bertulis.
Cepat sembuh jagoan, bunga-bunga di toko tante Sebria merindukan kamu. Cepat kembali ke sekolah ya.
Keona
"Keona?"
"Hm, Nama adik tante Keona. Dia pria yang sangat tampan dan juga baik."
"Terimakasih, berikan surat kecil ku juga ya tante." Byan mengambil pena dan kertas kecil membalas kartu ucapan itu. Setelah menulis beberapa huruf dia membuka kotak besar tadi. "Wah, tante... Ini bus ! Aku sudah lama ingin membeli nya tapi papa belum ada waktu mengantarku. Ini pasti mahal." Anak itu berbinar takjub melihat mainan yang sejak lama diinginkan nya itu sudah ada di depan mata.
"Tidak apa-apa, Itu hadiah spesial untuk anak baik dari Om Keona." Sebria merasa terharu melihat wajah bahagia anak itu. Tidak perlu ia jabarkan kenapa sangat perduli pada Byan. "Sudah hampir malam, tante pulang dulu ya... Surat kecil nya nanti tante kasihkan pada Om Keona."
...----------------...
Terimakasih hadiahnya Om tampan. Hadiahnya pasti ku jaga dengan baik. Aku ingin cepat besar biar bisa menjaga tante Sebria ku.
"Siapa kamu mau menjaga kakak ku, mengantri dulu sana." Gumam Keona melipat surat kecil itu.
Sebria terkekeh. "Dia lucu, 'kan?"
Keona mengangguk. "Dia ingin menjaga kakak. Mimpi anak kecil itu besar juga. Besar kepala ayah nya nanti "
Sebria menarik nafas panjang. "Tadi siang apa yang kamu bicarakan sama Jehan." Ia lupa menanyakan nya. Karena Keona langsung menanyakan kondisi Byan.
"Aku cuma bilang, Byan mungkin bisa di terima tapi tidak dengan papa nya. Jadi dia jangan curi kesempatan."
"Kamu tenang saja untuk saat ini kakak tidak memikirkan apa-apa. Kakak baik dan peduli sama Byan karena dia sudah tidak punya ibu. Melihat Byan, kakak seperti melihat Ayusa. Terlepas dari kesalahan nya waktu itu. Ayusa adalah garda terdepan saat kakak bukan apa-apa dan menjadi siapa-siapa. Ayusa yang mau menerima segala kekurangan kakak. Ayusa yang selalu ada disaat kakak butuhkan selain Jehan. Diantara kakak, Jehan dan Ayusa bukan hanya tentang cinta tapi ada persahabatan yang lebih dulu terjalin."