Spinn Off cerita dari Vira dan Firlan dari novel "Pesona Cinta Amartha". Kelakuan Vira yang seperti bocil dan sifat keras Firlan membuat hubungan cinta keduanya semakin sulit untuk dilanjutkan ataupun diakhiri. Kehadiran Gusti yang notabene duda beranak satu pun semakin memperkeruh suasana. Bagaimana akhir cerita dari Vira dan Firlan? apakah mereka akan bersatu dalam satu ikatan perkawinan? ataukah mereka memilih berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina aka dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun Malam
Vira dan Firlan pun sekarang sedang menuju sebuah butik.
Firlan kini melambatkan laju kendaraannya saat memasuki area parkir tempat yang menjadi tujuannya.
"Seriusan disini? nggak nggak, aku nggak mau!" Vira enggan melepas sabuk pengamannya.
"Oke, kita cari butik yang lain..."
Firlan yang ingin mood Vira bagus pun akhirnya menekal gas mobilnya lagi, mencari butik yang kira-kira cocok untuk Vira.
"Kamu nggak kerja?" akhirnya Vira mengeluarkan suaranya.
"Bolos setengah hari, udah ngomong juga sama tuan Satya..."
"Oh..."
"Astaga, dia nanya segitu doang? ayo dong, Vir. Nanya yang lain lagi, kondisi hati aku misalnya," gumam Firlan dalam hatinya.
"Kamu udah tau kalau calon istri Ricko..."
"Udah. Adik iparnya Amartha, kan? namanya Prisha yang kebetulan tinggal di Aussie," serobot Vira.
"Jadi, kesempatan kita buat balikan terbuka lebar ya, Vir?"
"Kata siapa?"
"Kata aku lah. Kan tadi aku yang ngomong!" ucap Firlan.
"Aku males, kamu cari aja yang lain..." kata Vira.
"Walaupun aku belum bisa move sepenuhnya, tapi sikap kamu yang dominan bikin aku tromah, tauk!" batin Vira meronta.
"Jangan coba-coba deket sama cowok lain,"
"Terserah aku lah," kata Vira yang bikin darah Firlan mendidih.
"Kenapa?" tanya Vira melihat raut wajah Firlan.
"Emang aku kenapa?" Firlan mencoba menormalkan ekspresinya.
Firlan menghentikan mobilnya di mobil di sebuah butik. Pria itu melepaskan sabuk pengamannya.
"Tapi aku nggak mau disini," kata Vira yang udah pasti bisa menebak harga gaun disini nggak main-main.
"Mau cari dimana lagi? liat aja dulu ke dalem, kalau nggak suka baru kita keluar dan cari butik lagi..."
"Nggak ah, gaunnya pasti mahal gila. Nggak, ah..."
"Jadi daritadi kamu mikirin harga? assssstagaaa..." Firlan menepok jidatnya.
"Turun, aku yang bayarin..."
"Kamu? bayarin? aku nggak percaya, nanti aku diprank lagi," tuduh Vira.
"Ya ampun, otak kamu mikirnya negatif mulu sama aku," Firlan mengambil dompet di kantung celana bagian belakangnya.
"Nih, kamu yang pegang. Kalau masih nggak percaya, kebangetan!" Firlan menyerahkan dompetnya pada Vira.
"Ya ya ya udah deh kalau emang dipaksa banget. Mau gimana lagi. Ehm, ya udah yuk keluar..." kata Vira yang tak membuang kesempatan emas di depan mata. Wanita itu memasukkan dompet Firlan ke dalam tasnya, lalu ia membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil.
"Dasar perempuan!" gumam Firlan dalam hatinya. Ia pun membuka pintu san keluar dari mobil menyusul Vira yang sangat antusias masuk ke dalam butik.
Dan kini wanita itu bingung dengan segitu banyaknya gaun yang ada di hadapannya.
Firlan memilih untuk duduk di sofa empuk dan melihat Vira yang garuk-garuk kepala pusing mau pilih gaun yang mana.
"Buju buneng! ini baju kurang bahan semua, bisa masuk angin aku disana," Vira bicara sendiri, sedangkan pelayan butik hanya bisa menahan tawanya.
"Mungkin, Nona tertarik dengan gan yang ini," ucap sang pelayan yang menunjukkan sebuah gaun off shoulder berwarna pastel yang pasti akan match dengan kulit Vira.
"Boleh, deh ... itu yang lebih layak untuk dilihat dikhalayak ramai..." Vira ngeloyor ke kamar ganti sedangkan Firlan hanya bisa tersenyum melihat tingkah wanita itu.
Tak lama setelah Vira fitting room, Firlan pun berjalan mengikuti Vira.
"Mbak ... mbaaaaak! retsletingnya saya nggak nyampe, tolongiiin!" teriak Vira yang hanya bisa menaikkan retsleting hanya setengahnya.
"Bahaya ini kalau pakai sendiri, ribet banget. Lama-lama aku pakai gamisnya mama aja, deh!" gerutu Vira.
Tak lama ada seseorang yang masuk dan itu bukan si mbak-mbak tapi mas-mas, mas Firlan maksudnya ya.
Dengan ikhlas, Firlan pun menarik retsleting gaun Vira yang masih terbuka di bagian belakang.
Vira tertegun karena tangan Firlan yang tak sengaja bersentuhan dengan kulitnya.
"U-udah, belum?" tanya Vira gugup.
"Sedikit lagi..." kata Firlan lembut.
Dan setelah menutup bagian belakang gaun itu, Firlan membalikkan badan Vira. Dengan bagian bahu yang terbuka, leher jenjang Vira semakin terlihat.
"Aku suka, cantik!" puji Firlan, sementara yang dipuji pipinya sudah merah merona.
Menurutnya gaun yang dipakai Vira hanya terbuka dibagian bahu, dan itu membuat wanitanya sangat out standing.
Tanpa persetujuan Vira, Firlan mengecup keningnya dan keluar dari fitting room.
"Wwuuhhh, mendadak gerah banget, ya..." Vira mengibaskan tangan di wajahnya.
Dan Vira langsung membuka lagi gaun itu dan keluar untuk membayarnya. Dan ketika dia berjalan keluar membawa gaun itu dia berpapasan dengan Vanya si cewek songong yang akan mencoba sebuah gaun di fitting room.
Vira yang tak mau mencari keributan pun memilih untuk melewatinya saja, namun Vanya sepertinya sengaja menabrak bahu Vira, sehingga wanita itu hampir jatuh.
"Mbak mbak cantik-cantik matanya juling! jalan aja nggak bener," gumam Vira yang jelas terdengar oleh Vanya.
"Heh, apa tadi kamu bilang?"
"Nggak ada, si mbaknya salah denger kali..." kata Vira dengan menaikkan satu sudut bibirnya.
"Eh, mau kemana? bantu saya pakai gaun ini. Jangan sampai saya laporkan pada pemilik butik ini kalau salah satu pegawainya tidak melayani dengan benar!" kata Vanya yang menunjuk bahu Vira dengan telunjuknya.
"Jadi dia ngira aku pegawai butik? dasar songong!" batin Vira.
"Heh, cepetan! jangan diem aja!" kata Vanya.
Vira melirik sekilas gaun yang dipilih oleh Vanya.
"Oke, aku kerjain dikit boleh lah ya nih cewek songong!" gumam Vira.
"Heh! pengen dipecat kamu, ya!" bentak Vanya.
"Hah? pecat? jangan, Nona! nanti saya makan apa kalau dipecat? saya masih banyak utang. Ehm, mari saya bantu," Vira mengambil gaun yang ada di tangan Vanya.
"Cepat!" Vanya berjalan masuk ke dalam fitting room.
"Baik, Nona..." ucap Vira.
Dan ketika ada salah satu pegawai butik yang lewat dia menitipkan gaun yang akan dibelinya.
"Mbak saya ambil gaun yang ini," bisik Vira.
"Nona mau mencoba gaun lain?" tanya si pegawai butik saat melihat gaun lain yang ada di tangan Vira.
"Eh, iya ... saya mau nyobain yang ini," kata Vira, dan pegawai butik itu pun pergi membawa gaun yang sudah Vira pilih.
Dan Vira langsung masuk ke dalam fitting room menyusul Vanya.
"Lama sekali kau ini!" ucap Vanya jengkel.
"Ah, ya maaf Nona. Tadi saya menaruh gaun yang sudah dipilih customer lain ke kasir dulu makanya saya lama. Maaf atas ketidaknyamanan ini..." kata Vira sok menyesal.
Dan Vira pun sekarang membantu Vanya memakai gaun malam dengan punggung terbuka dan dilengkapi dengan banyak tali.
Vira satu satu menarik tali dan mengikatnya dengan kencang.
"Rasain!" gumam Vira dalam hatinya.
Vira lanjut di tali kedua dan seterusnya, dia mengikatnya dengan sangat kencang membuat Vanya berteriak.
"Heh! ini terlalu kencang, bodoh! cepat longgarkan ikatannya!"
"Ups, maaf, Nona. Ini akibatnya karena anda salah menyuruh orang. Mintalah bantuan pada pegawai lain, karena aku bukan pegawai di butik ini, bye!" ucap Vira yang meninggalkan Vanya sendirian di dalam fitting room.
"Sialaaaaaaan!" teriak Vanya.
...----------------...
ceritamu selalu bisa bikin hati hanyut thor. semangat Thor ❤️