Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tak Mau Menang Dengan Cara Seperti Itu
"Sya, kenapa kamu berubah pikiran?" Radit langsung menyerang Tasya dengan pertanyaan saat Pak Dino sudah pergi meninggalkan Tasya dan Radit berdua di ruangan kerja Radit. "Kita bisa menang dengan mudah, Sya. Kenapa kamu memilih cara yang sulit?"
Tasya menundukkan kepalanya. "Maaf, Dit. Aku tak bisa menyebarkan video itu."
"Kenapa, Sya? Kita hampir menang!" Radit menyugar rambutnya dengan kesal.
"Aku tahu tapi aku tak mau menang dengan cara seperti itu!" balas Tasya.
"Cara seperti itu, apa maksudmu?" Radit memegang kedua bahu Tasya, membuat Tasya terpaksa mengangkat wajahnya dan menatap Radit dengan lekat.
"Cara licik." Tasya mengucapkannya dengan pelan. "Aku merasa diriku sok suci jika melakukan perbuatan seperti itu. Aku juga sama bejatnya."
Tasya menatap Radit dengan lekat. "Apa yang kita lakukan tak lebih baik dari apa yang mereka lakukan, Dit. Kita juga sama hinanya. Hanya saja, aib kita ditutup rapat sedang mereka dibuka dengan bebas."
Radit menjatuhkan tangannya. "Kita berbeda, Sya. Kita melakukannya dengan cinta sedang mereka-"
"Sama saja, Dit. Aku dan Mas Setyo sudah berdosa. Kami sudah menodai janji suci pernikahan dengan perselingkuhan. Aku tak mau menambah dosaku dengan mengumbar apa yang ia lakukan. Aku tak lebih baik dari Mas Setyo." Tasya meraih tangan Radit seraya menatapnya dengan tatapan memohon. "Tolong tutupi aibnya. Aku mau selesaikan perceraian ini baik-baik. Aku mohon."
Radit balas menatap Tasya, selama beberapa detik ia melihat mata Tasya dan mencari arti sebenarnya. Radit melepaskan tangan Tasya lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Kamu melakukan ini karena kamu masih mencintainya, Sya."
"Bukan, Dit, aku-"
Radit menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Aku bisa melihat dari sorot matamu. Kamu masih mencintainya. Kamu bahkan tak mau menyakitinya. Aku pikir, hanya aku di hatimu namun ternyata aku belum mengusirnya pergi."
"Dit, bukan begitu-"
"Sudahlah. Lakukan sesukamu." Radit menyambar jas dan kunci mobilnya lalu pergi meninggalkan kantor.
.
.
.
Radit menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang kulitnya sudah banyak terkelupas. "Huft." Ia sengaja menghela nafas kencang agar sang pemilik tempat menyadari kedatangannya.
"Tak usah lebay. Aku tahu kamu datang," sahut perempuan cantik yang sedang sibuk menggambar sketsa gaun di meja kerjanya.
Dina Kusumadewa, tante cantik Radit yang hanya terpaut beberapa tahun darinya tidak menoleh sama sekali pada keponakannya yang datang membawa masalah. Sebagai seorang designer ternama, Dina memiliki intuisi yang tajam. Ia bisa menebak kalau keponakannya tersebut datang karena ada masalah.
"Din, sini dong! Aku mau curhat!" Radit menepuk sofa kosong di sampingnya.
"Dan... Din... saja! Nggak sopan!" Dina akhirnya menoleh. Keponakannya ini memang sebelas dua belas dengan kakak tertuanya -Richard Kusumadewa- yang agak tengil dan seenaknya.
"Lalu aku harus panggil apa? Tuan Putri?" Radit memanyunkan bibirnya. "Udah sini, aku mau konsultasi!" Radit memang dekat sekali dengan Dina, ia tak perlu jaga image sebagai pimpinan perusahaan yang tegas. Ia bebas bermanja ria dan berlaku sesukanya.
"Ada apa sih?" Dina meletakkan pensilnya lalu memutar kursi kerja, ia bisa melihat keponakannya yang nampak kusut sedang duduk bersandar di sofa sambil menatap langit-langit ruang kerjanya. "Kerjaanku banyak nih."
Radit menghela nafas dalam. "Aku bingung."
"Pegangan," jawab Dina cepat.
"Basi. Yang lain dong, jangan disuruh pegangan terus, memangnya mau nyebrang?" balas Radit.
"Lama deh, cepat mau konsultasi apa?" Dina mulai gemas dengan keponakannya yang pintar sekali menjawab.
"Aku kenal seseorang. Dia sering disakiti oleh suaminya sampai mau mengajukan gugatan cerai."
"Terus?"
"Dia punya bukti suaminya selingkuh dengan perempuan lain."
"Terus?"
"Tapi dia tidak mau memakai barang bukti tersebut di pengadilan. Aneh bukan?"
"Alasannya apa?" Dina mulai tertarik dengan pertanyaan Radit. Biasanya anak itu konsultasi menghadapi ulah Papi-nya yang bawel, kali ini berbeda. Dina menebak siapa perempuan yang membuat Radit sampai seperti ini.
"Bilangnya sih... tak mau mempermalukan suaminya di persidangan. Padahal, kalau bukti itu dikeluarkan, ia akan menang telak. Bisa nuntut harta gono gini pula," jawab Radit.
"Memang hartanya banyak?" tanya Dina dengan serius.
"Ya... nggak ada sih. Rumah masih ngontrak. Mobil hancur bekas kecelakaan," jawab Radit sambil garuk-garuk kepala.
"Lantas apa yang mau dimenangkan? Harta tidak ada, kebanyakan gaya!" cibir Dina.
"Ish, jangan begitu. Dia bisa menggugat hak asuh anak, bukan?" balas Radit.
"Mereka punya anak? Berapa? Masih kecil?" Dina kembali bersikap serius.
"Mm... nggak ada sih. Hanya keponakan si perempuan yang sudah dianggap anak sendiri-"
Belum sempat Radit menyelesaikan ceritanya, sebuah pensil melayang ke arahnya. Tepat mengenai keningnya. Radit langsung duduk tegak seraya mengusap keningnya. "Aww! Ish, apaan sih, Din? Main lempar aja! Kalau bolong jidatku bagaimana?"
"Tambal saja pakai semen." Dina bangkit dari duduknya. Ia mengambil dua minuman dingin lalu duduk di samping Radit yang sedang mendumel.
"Jadi intinya, tuh perempuan tidak ada yang mau dituntut dalam persidangan, gitu?" Dina berusaha memperbaiki mood Radit dengan bertanya mengenai masalahnya kembali.
"Iya. Apa dia masih cinta ya, Din?" Radit menatap Dina dengan tatapan nelangsa.
"Bisa jadi," jawab Dina, semakin mematahkan harapan Radit.
"Yaelah, Din, kasih aku harapan sedikit kek. Curhat sama kamu cuma bikin aku makin putus asa," keluh Radit.
Bukannya simpati, Dina malah tertawa terbahak-bahak. "Siapa yang suruh kamu curhat sama aku? Kamu yang datang sendiri ganggu aku sedang kerja."
Radit kesal. Ia memanyunkan bibirnya. Sebal karena tak mendapat dukungan, malah dipatahkan harapannya.
"Siapa sih dia? Kok bisa bikin kamu kayak begini?" Dina melunak. Ia kasihan dengan Radit yang nampak kusut.
"Ada... temanku," jawab Radit.
"Kamu suka sama dia?" tanya Dina lagi.
"Tak usah nanya hal lain yang tak penting," jawab Radit.
"Oh... kamu suka ternyata. Pantas saja agak singit," balas Dina dengan santainya.
"No comment."
Dina menyandarkan kepalanya di sofa, ia menatap langit-langit seperti yang Radit lakukan tadi. "Rumah tangga itu rumit, Dit. Rumit. Kamu tahu Papa dan Mama dulu hampir bercerai namun rujuk kembali lalu lahirlah aku di usia Mama yang tak muda lagi. Benci dan cinta itu tipis. Bisa saja hari ini cinta, besok berubah benci, begitupun sebaliknya. Namun jika sudah bersama selama beberapa tahun bahkan puluhan tahun, pasti rasa sayang itu masih ada. Apalagi selama menikah mengalami susah senang berdua, tak mungkin rasa sayang itu hilang begitu saja. Wajar saja kalau dia tak mau mengumbar aib orang yang selama ini bersamanya. Itu namanya dewasa."
Radit mendengarkan dengan serius perkataan Dina. Apa yang Dina katakan memang benar namun tetap sulit Radit terima. "Tapi dia sudah sering disakiti oleh suami dan mertuanya. Mengapa masih bersikap baik?" balas Radit. "Kalau aku sih tidak akan mau."
Dina tertawa kecil. "Karena hatimu tidak selapang hatinya." Dina duduk tegak lalu menatap Radit dengan serius. "Kenalkan aku dengannya. Aku mau tahu siapa wanita itu."
"Kenalkan sama kamu? Untuk apa?" tanya Radit.
"Tentu saja... untuk menghentikan perselingkuhan kalian."
Deg
****
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
tapi kau emang gila cinta sihhhh hahaha
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
hahaha saking sayang nya Dicky sama Setyo terus aja judes sama Radit
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
Setyo Setyo kau terus salah paham sama istri karena ikut campur orang ketiga d rumah tangga kalian
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️
papi kok d lawan sihhh udah kenyang gitu2an.Dit
makasih kak Mizzly up nya 🙏🏻❤️