Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~
" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~
Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah pelukan
Sedih dan kecewa itu datang tanpa suara, menetap diam-diam di dada. Rasanya seperti berharap pada sesuatu yang tak pernah benar-benar memilih kita, lalu harus tersenyum saat kenyataan menampar pelan. Ada perasaan yang ingin marah, namun lebih lelah untuk melawan—karena yang tersisa hanya kecewa pada diri sendiri, mengapa masih berharap pada hati yang sejak awal tak pernah berjanji.
Naura terdiam saat status itu muncul di layar ponselnya. Jarinya membeku, dadanya seketika terasa sesak. Foto itu sederhana—terlalu sederhana untuk terlihat berlebihan—namun justru di situlah letak lukanya. Tangan Helena di jaket Hamka. Tangan Hamka di stang motor. Dan caption itu… begitu berani.
Naura menelan ludah. Ada sesuatu yang runtuh pelan di dadanya, sesuatu yang bahkan belum sempat ia beri nama. Ia ingin menertawakan perasaannya sendiri—karena siapa dirinya hingga pantas merasa terluka? Hamka bukan siapa-siapanya. Dan ia tak punya hak apa pun untuk cemburu.
Namun kenyataan tak peduli pada logika.
Naura mematikan layar ponselnya, mencoba menarik napas panjang. Matanya panas, tapi ia menahan air itu jatuh. Mungkin beginilah rasanya kecewa pada perasaan sendiri, menyadari bahwa ada hati yang diam-diam berharap, lalu dipaksa mundur tanpa pernah diperjuangkan.
Untuk meredakan hati yang terasa tak nyaman, Naura keluar dari kamarnya dan melangkah meninggalkan rumah. Dadanya masih terasa penuh, dan ia yakin es krim cokelat akan sangat cocok dengan suasana hatinya saat ini.
Ia membuka gerbang perlahan, lalu menutupnya kembali agar tak menimbulkan suara. Baru beberapa langkah, sebuah suara menyapanya.
“Mau ke mana, Naw… malam-malam begini?” celetuk Babe Ramli yang kebetulan sedang bersantai di teras rumahnya.
“Ke minimarket depan, Beh. Mau beli es krim… pengen ngadem,” jawab Naura sambil tertawa kecil.
“Babe mau nitip nggak? Biar sekalian,” lanjutnya, tanpa canggung sedikit pun.
Babe Ramli tampak berpikir sejenak, lalu terkekeh. “Babe nitip beli kerokan kumis aja ya. Ibunya Hamka lupa terus tiap disuruh beli.”
Sambil mendekat ke arah Naura, tawanya masih terdengar renyah.
“Siap, Beh,” jawab Naura ringan.
Tak lama kemudian, Naura pun melangkah menuju minimarket yang jaraknya sekitar lima ratus meter dari rumahnya, membawa serta perasaan yang masih berusaha ia dinginkan di sepanjang langkahnya.
Lampu minimarket menyala terang, menyambut Naura yang masuk dengan langkah pelan. Pendingin ruangan langsung menyentuh kulitnya, sedikit meredakan panas di wajah—entah karena udara atau karena perasaannya sendiri. Ia berjalan menuju lemari pendingin, menatap deretan es krim seolah sedang memilih penawar hati yang paling ampuh.
Tangannya sudah meraih es krim cokelat favoritnya saat sebuah suara terdengar dari belakang.
" Sekalian ambilin gue yang matcha !”
Langkahnya terhenti seketika.
Suara itu terlalu familiar untuk disangkal.
Naura menegang, jemarinya mencengkeram es krim lebih erat. Ia menelan ludah sebelum akhirnya berbalik perlahan. Dan benar saja—Hamka berdiri beberapa langkah di belakangnya, mengenakan jaket gelap yang sama.
“Hamka..” ucapnya pelan, nyaris tak terdengar.
Sunyi menggantung di antara mereka, canggung dan berat.
Hingga Naura memecahnya.
“Punya tangan kan ,ambilin aja sendiri !"
Tanpa menunggu reaksi, Naura memasukkan beberapa es krim dan camilan ke dalam keranjang, lalu segera melangkah ke arah kasir. Langkahnya tegas, wajahnya lurus seolah tak ada apa-apa.
Di belakangnya, Hamka terdiam.
Menatap punggung Naura yang menjauh, dengan perasaan yang tiba-tiba terasa asing…
Dan di lorong sempit minimarket itu, di antara rak-rak camilan dan suara mesin pendingin, Naura kembali merasakan hatinya bergetar… tepat di saat ia sedang berusaha menenangkannya.
Naura mempercepat langkahnya. Ia tak ingin Hamka mengejar, tak ingin percakapan yang hanya akan membuat dadanya semakin sesak. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti, hodynya tertarik ke belakang.
“Ah!” Naura memekik refleks, langsung menoleh tajam. “Ngapain sih lo, kampreeettt!” sentaknya emosi.
Hamka justru tersenyum jahil, seolah menikmati setiap ledakan kecil itu.
“Udah lama banget gue nggak bikin lo tantrum kayak gini,” ucapnya santai, jelas-jelas menambah kadar kekesalan Naura.
Naura mendelik tajam, memilih diam. Ia kembali melangkah cepat, rahangnya mengeras menahan perasaan yang berdesakan di dada. Tapi baru dua langkah, tarikan itu kembali datang,kali ini lebih kuat.
Tubuh Naura terhuyung ke belakang.
Dan detik berikutnya, punggungnya membentur dada Hamka.
Napasnya tercekat. Jarak mereka terlalu dekat. Terlalu tiba-tiba. Ia bisa merasakan hangat tubuh Hamka di belakangnya, juga degup jantungnya sendiri yang mendadak kacau.
“Lepasin,” ucap Naura tertahan, suaranya lebih pelan dari sebelumnya..bukan karena tak marah, tapi karena ada perasaan lain yang mendadak ikut menyeruak, tak diundang.
" Naura merasakan detak jantung Hamka..cepat, nyaris seirama dengan miliknya. Hangat napas laki-laki itu menyentuh tengkuknya, membuat tubuhnya menegang tanpa sadar.
Ia berusaha melepaskan diri, mendorong dada Hamka dengan telapak tangannya. Namun bukannya dilepas, cengkeraman itu justru menguat, menahannya di tempat.
“Sebentar aja, Naw,” bisik Hamka, suaranya rendah, tepat di dekat telinganya.
Nada itu..terlalu dekat, terlalu dalam membuat Naura terdiam. Ada jeda singkat yang terasa panjang, seolah dunia di sekeliling mereka meredup, menyisakan detak jantung yang saling berkejaran dan perasaan yang semakin sulit diabaikan.
Kesadaran Naura mendadak kembali, menamparnya keras. Tanpa ragu, ia mengangkat kakinya dan menginjak kaki Hamka sekuat tenaga.
“Arggh..!” Hamka meringis, refleks melonggarkan cengkeramannya.
Itu cukup.
Naura segera berlari meninggalkannya, langkahnya cepat dan tak menoleh sedikit pun ke belakang. Dadanya berdegup kencang, napasnya tersengal antara marah, malu, dan perasaan yang tak ingin ia akui.
Di belakang, Hamka berdiri terpaku, menahan nyeri di kakinya sambil menatap punggung Naura yang semakin menjauh. Senyum jahilnya lenyap, tergantikan oleh tatapan bingung… dan sesuatu yang baru saja ia sadari, terlambat.
Sesampainya di rumah, Naura buru-buru mengunci pintu lalu masuk ke kamarnya. Ia menyandarkan punggung ke daun pintu, napasnya masih tersengal. Dadanya terasa sesak..asa dan rasa yang tadi berusaha ia tekan justru kembali menyeruak, hanya karena sikap Hamka yang benar-benar tak ia mengerti.
Ia melangkah ke tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Belum sempat pikirannya tenang, ponselnya bergetar di samping bantal.
Hamka: Naw… keluar sebentar. Kita harus bicara.
Naura menatap layar itu sekilas, lalu memalingkan wajah. Tanpa membalas apa pun, ia melesakkan kepalanya ke dalam bantal, seolah ingin mengubur semua kekacauan di kepalanya.
“Dasar playboy cap kadal…” gumamnya kesal.
“Udah jalan sama cewek lain, masih berani-beraninya peluk-peluk gue.”
Kata-kata itu keluar bersama perasaan yang lebih menyakitkan,bukan hanya marah, tapi kecewa. Karena entah sejak kapan, sikap Hamka mulai punya kuasa untuk membuat hatinya jungkir balik seperti ini.