Pernikahan bisnis yang sudah di rancang sedemikian rupa terancam batal hanya karna mempelai wanita kabur di hari pernikahan. Bintang, selaku kakak yang selama ini selalu di sembunyikan terpaksa harus menggantikan Lidya.
"Yang ku inginkan adalah Lidya! Kenapa malah dia yang menjadi mempelainya?!" Pekik Damian pagi itu.
"Kita tidak punya pilihan, hanya ada dia."Jawab sang ayah.
Damian menatap Bintang dingin, "Baiklah, akan ku perlihatkan padanya apa yang namanya pernikahan itu."Balasnya dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Sesuai dengan keinginan Bintang, ketika jam sudah menunjukkan pukul delapan makanan yang di siapkan oleh Damian akhirnya sampai. Pria itu mengirimkan begitu banyak makanan yang bahkan sudah berlebih dari pada jumlah anak anak dan orang dewasa yang ada di sana.
"Ini suami yang pesen, nak?"Tanya Inah dengan ramah.
"Iya bu, nggak nyangka juga bakal sebanyak ini."Ujar Bintang yang terlihat sedikit terkejut saat melihat jumlah makanan yang di kirimkan untuk panti asuhan itu.
"Wah sampaikan terimakasih ya, nanti lebihnya bisa buat sarapan besok pagi."Ujar Inah dengan nada yang amat bahagia. Seluruh anak anak panti juga terlihat bahagia hanya Satria yang nampak sedikit murung karna saking baiknya Damian dia sampai mengira jika hubungan Bintang dan suaminya baik baik saja sekarang.
"Iya bu.Ayo semuanya di makan dulu."Ujar Bintang, setelah mendapatkan izin dari si pembawa makanan mereka pun akhirnya bergegas makan sebelum makanan makanan tersebut dingin.
Sementara itu di saat yang hampir bersamaan, Damian terlihat masih sibuk dengan tumpukan kertas yang menggunung di atas mejanya.
"Udah di kirim?"Tanya pria itu kepada asistennya.
"Udah tuan, ini buktinya. Nona Bintang terlihat sangat senang atas makanan makanan itu."Ujar pria yang menjabat sebagai asisten pribadi Damian. Dia menyerahkan ponselnya yang di dalamnya terlihat ada sebuah foto Bintang yang tersenyum lebar.
"Bawa pergi saja, aku tidak penasaran dengan apa yang di lakukan gadis itu di sana."Ujar Damian, dia masih berusaha untuk menahan dirinya agar tidak terlalu penasaran dengan apa yang sedang di lakukan Bintang di sana.
"Baik tuan."Balas pria itu, dia hendak berbalik dan meninggalkan Damian tapi pada detik terakhir Damian malah berubah pikiran.
"Mana lihat fotonya."Ujar pria itu dengan nada yang santai, "Aku cuma mau lihat makanannya aja, bukan lihat Bintangnya."Imbuh Damian, dia terlihat berusaha dengan keras untuk menjelaskan situasinya kepada bawahannya itu.
"Iya tuan, saya paham."Balas pria itu dengan canggung. Dia menyerahkan ponselnya kepada Damian dan pria itu segera merampasnya dengan cepat.
Melihat Bintang yang tersenyum sangat lebar membuat Damian juga tersenyum. Dia tidak pernah melihat gadis itu tersenyum selebar ini dan jujur saja ada getaran aneh di dalam hatinya.
"Tunggu, ini siapa?"Tanya Damian saat menyadari ada sosok pria misterius yang ada di sebelah Bintang. Wajahnya terlihat blur tapi Damian bisa melihat jika dia tengah tersenyum kepada Bintang.
"Saya tidak tahu tuan, dia sudah ada di sana sebelum makanan di antar."Jawabnya tak kalah bingung.
"Apa dia dan Bintang dekat?"Tanya Damian penasaran.
"Sepertinya iya, karna mereka selalu duduk bersebelahan."Jawab si asisten sekali lagi.
Damian mengepalkan tangannya, dadanya bergejolak menahan kesal yang seolah sulit untuk di jelaskan dalam bentuk kata kata.
"Apa saya harus menyelidiki pria itu, tuan?"Tanya Rio dengan nada penasaran.
"Nggak usah, kita ke sana sekarang."Balas Damian, pria itu melepas kaca matanya kemudian memakai kembali jas yang sejak pagi tadi dia lepaskan.
"Tapi tuan bagaimana dengan laporan laporan ini?"Tanya Rio dengan nada penasaran, ini sudah hampir akhir tahun dan seharusnya Damian lembur untuk mempercepat hasil laporan mereka.
"Nanti aja, lagian papa juga pasti nggak masalah karna ini menyangkut Bintang."Balas pria itu, dia kemudian melangkahkan kakinya dengan tergesa gesa menuju ke mobil sementara Rio terlihat kewalahan untuk sekedar mengimbangi langkah pria itu.
"Mana kuncinya?"Tanya Damian kepada Rio.
"Tuan mau bawa mobilnya?"Bawahannya itu terlihat sedikit takut. Semasa kuliah Damian adalah pembalap handal dan Rio takut jika dia di berikan kesempatan untuk memegang kemudi lagi maka dia akan kembali ke masa masa itu.
"Iya. Naik di kursi penumpang."Titah Damian, dia merampas paksa kunci mobilnya dari Rio.
"Ta- tapi tuan."Ujarnya dengan nada yang ragu.
"Naik atau aku pergi sendiri."Ucap pria itu sekali lagi.
"Iya tuan, saya ikut."Balasnya, setelah mengatakan itu dia pun langsung masuk ke dalam mobil dengan Damian yang memegang kendali penuh atas nyawanya.
Ngung~
Mobil yang di tumpangi keduanya melaju dengan sangat cepat membelah jalanan kota malam itu. Damian terlihat sangat santai dalam mengemudikan mobilnya dalam kecepatan 120 sementara Rio hanya bisa terus merapalkan doa agar dia bisa selamat sampai pada tujuan mereka.
"Sampai."Ujar Damian dengan santainya, sementara di sebelah sang asisten terlihat sudah pucat pasi karna perbuatannya tapi Damian sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Dia kemudian turun dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam panti asuhan yang terdapat Bintang di dalamnya.
Ketika dia sampai, suasana sudah mulai hening. Beberapa anak terlihat sudah masuk ke dalam kamar mereka masing masing sementara yang lebih besar terlihat sibuk membantu untuk membersihkan area makan.
Mata Damian menyapu hampir ke seluruh penjuru tempat dan dia menemukan apa yang dia cari hanya berjarak beberapa menit dari sampainya dia di tempat itu.
"Di sana dia rupanya."Ujar pria itu, Bintang terlihat sedang mencuci piring tapi dia tidak sendirian karna ada seorang pria menemaninya dan Damian yakin pria itu adalah pria yang sama dengan di foto.
"Tuan saya..huek!"Rio mabuk, kepalanya pusing dengan nyawa yang hampir setengahnya melayang di udara.
"Kamu tunggu di sini."Ujar Damian, dia perlahan lahan mulai mendekati Bintang untuk menegaskan kepemilikannya kepada pria asing itu.
"Jadi kamu belum kuliah?"Tanya Satria.
"Belum, tapi secepatnya."Balas Bintang, keduanya masih sibuk bercengkrama dengan di temani oleh canda dan tawa sebelum Damian akhirnya datang dan mengacaukan segalanya.
"Di sini kamu ya? Aku mencari kamu kemana mana."Ujar Damian tiba tiba, pria itu datang dan melingkarkan tangannya tepat di pinggang Bintang untuk mengklaim jika gadis itu adalah miliknya.
"Tu-"Bintang terlihat terkejut saat mendapati Damian yang tiba tiba saja ada di sana, tak hanya sampai di situ tapi pria itu juga memeluk pinggangnya dengan erat.
"Kamu kan tadi minta aku jemput, makanya aku ke sini. Kebetulan urusan kantor udah selesai."Balas Damian dengan senyuman merekah di wajahnya. Melihat itu Bintang hanya mengerutkan alisnya bingung dengan alasan kenapa Damian melakukan hal yang amat sangat menggelikan ini.
"Aa iya iya."Balas Bintang, jujur saja sebenarnya dia tidak mengerti harus menjawab ucapan Damian dengan cara apa dan bagaimana.
"Oh iya sayang, ini siapa?"Tanya Damian, matanya melirik dengan sinis ke arah Satria yang nampak melakukan hal yang sama.
Pada titik ini Damian tahu jika pria yang ada di sebelah Bintang juga menginginkan gadis itu.
"Kenalkan aku Satria, teman masa kecilnya Bintang."Ujar pria itu dengan ramah.
"Perkenalkan aku Damian, SUAMI dari Bintang."Balas Damian, dia sengaja menekankan kata suami kepada pria yang sudah di anggapnya sebagai musuh itu.
Keduanya bersalaman, tiba tiba saja suasana berubah menjadi menegangkan di antara mereka.
'Jangan macam macam denganku, aku adalah suaminya.' Gumam Damian di dalam hati.
'Aku adalah cinta pertamanya dan aku akan merebutnya jika kamu memperlakukannya dengan buruk.' Balas Satria di dalam hatinya.
Keduanya saling bertatapan dengan mata yang saling menyampaikan pesan, sementara di tengah tengah Bintang terlihat mengerutkan alisnya dengan bingung.
'Ada apa dengan mereka?'