Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Bu Ratna Mulai Menyerang Zahra Dengan Fitnah
Pagi ini Zahra bangun dengan perasaan yang ringan, perasaan yang jarang ia rasakan selama bertahun-tahun terakhir..
Ia duduk sejenak di tepi ranjang, menghirup napas panjang, tidak ada rasa sesak di dada, tidak ada ketakutan akan hari yang akan dijalani..
Ia tahu hidupnya belum sepenuhnya aman, tapi setidaknya kini ia berdiri di atas pijakan yang jujur..
Zahra bersiap pergi bekerja dengan rapi, ia memilih kemeja polos berwarna lembut dan jilbab sederhana...
Tidak ada perhiasan mencolok, tidak ada tas mahal yang dulu sering dipilihkan Bu Ratna dengan alasan menjaga wibawa keluarga!
Hari ini, aku ingin dikenal karena kapasitas ku..!
Bukan karena status ku sebagai istri seseorang..!
Zahra tidak tahu, di luar sana, sebuah cerita palsu sedang disusun dengan sangat rapi, lebih rapi daripada laporan keuangan mana pun yang pernah ia buat.
Di sebuah rumah megah yang berdiri angkuh di kawasan elit, Bu Ratna duduk di ruang kerjanya...
Udara ruangan itu dingin, tapi hawa di dalamnya lebih dingin lagi.
Di hadapannya, meja besar dipenuhi kertas, salinan rekening lama, foto-foto Zahra bersama rekan kerja laki-laki yang diambil dari sudut tertentu...!
Potongan pesan email yang sengaja dipelintir maknanya bahkan ada laporan keuangan mentah yang sengaja dicetak tanpa konteks..
Dini duduk di seberang Bu Ratna wajahnya tampak tegang.
"Ini cukup, orang tidak peduli kebenaran, mereka hanya peduli cerita.” ucap Bu Ratna dingin sambil merapikan tumpukan kertas
Dini menelan ludah..
“Tapi, Mak… ini keterlaluan.”
Bu Ratna menatapnya tajam.
“Keterlaluan itu ketika perempuan seperti Zahra berani berdiri sejajar dengan kita, ketika dia lupa pada tempat dia sebenarnya"
"Ia hanya bekerja dan itu bukan kesalahan" suara Dini melemah
Bu Ratna mendengus kesal
“Kalau Zahra jatuh, Genta Mas mu akan kembali patuh, kita hanya perlu menjatuhkan reputasi Zahra"
Kalimat itu diucapkan tanpa ragu, tanpa rasa bersalah pula..
Bagi Bu Ratna, reputasi adalah senjata dan Zahra adalah target yang harus dilumpuhkan sebelum menjadi terlalu kuat.
Di kantor kecil milik Wulan, Zahra berdiri di depan layar presentasi, proyektor menampilkan grafik arus kas dan proyeksi laba, suaranya tenang, intonasinya terukur.
“Jika perusahaan melakukan efisiensi di lini ini, dalam enam bulan arus kas akan stabil tanpa harus memotong tenaga kerja.” jelas Zahra
Klien di hadapannya mengangguk-angguk.
“Saya tidak menyangka analisisnya sedetail ini..! Kita lanjutkan kerja sama.” ucap klien tersebut akhirnya
Zahra tersenyum tulus, ada kelegaan yang menghangat di dadanya, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil, bukan karena belas kasihan, melainkan karena kepercayaan profesional..
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, saat istirahat siang, Wulan mendekat dengan wajah tegang, ponsel di tangannya.
"Zahra… kamu lihat ini?”
Wulan menunjukkan layar ponselnya, sebuah unggahan di grup alumni dan beberapa forum bisnis lokal..
<"Hati-hati dengan konsultan keuangan bernama Aulia Az-Zahra, ada isu memanfaatkan data perusahaan untuk kepentingan pribadi, sumber internal">
Zahra terdiam membeku, jari-jarinya terasa dingin, dadanya berdenyut, bukan karena panik, melainkan karena ia langsung mengenali pola ini..
"Itu tidak benar,” ucapnya pelan.
"Aku tahu, tapi ini mulai menyebar.” jawab Wulan cepat
Zahra memejamkan mata sejenak, ini bukan serangan kasar, bukan hinaan terbuka, ini pembunuhan karakter, cara paling kejam untuk menjatuhkan seseorang yang hidup dari kepercayaan.
***
Di tempat lain, Genta menerima telepon dari salah satu rekan bisnisnya..
"Genta aku dapat kabar aneh soal Zahra, katanya dia manipulatif, katanya juga suka bermain data.” ucap suara di seberang
Genta menegang, tangannya mencengkeram ponsel.
“Itu fitnah,” jawabnya tegas
“Kamu yakin? Soalnya yang bicara orang dalam.” tanya rekannya ragu
Genta terdiam sesaat, detik terasa panjang, inilah ujian sebenarnya, percaya sepenuhnya atau goyah oleh bisikan..
"Aku yakin, Zahra istri ku tidak seperti itu"jawab Arman akhirnya, lebih keras dari sebelumnya.
Ia segera menutup telepon dan menghubungi Zahra
"Zahra kamu dengar isu itu?”
"Sudah, dan aku tahu siapa di baliknya.” jawab Zahra tenang
Genta menelan ludah..
“Mak”
Zahra tidak menjawab, diamnya lebih jujur daripada seribu kata..
“Aku akan bicara nanti dengan Mak” ucap Genta cepat.
"Jangan"potong Zahra lembut tapi tegas.
"Ini bukan soal emosional, ini soal bukti.” lanjut Zahra
Genta terdiam, ia tahu Zahra benar.
Zahra tidak membuang waktu untuk menangis atau mengeluh, ia langsung bergerak..
Zahra membuka laptop, mengumpulkan semua dokumen pekerjaannya, kontrak, email, laporan audit, catatan revisi..
Semuanya rapi, semuanya transparan, tidak ada satu pun yang ia sembunyikan..
Sore nya Zahra menyusun klarifikasi resmi, bahasa yang ia pilih tenang, profesional, tanpa menyerang balik..
Ia mengirimkan klarifikasi itu ke klien, komunitas profesional, dan pihak-pihak terkait, disertai bukti tertulis dan kesediaan diaudit oleh pihak independen.
Ia tidak melawan dengan emosi akan tetapi ia melawan dengan fakta.
Di rumah megah Bu Ratna, ponselnya berdering tanpa henti, beberapa kenalan lama mulai bertanya...
Beberapa mulai meragukan cerita yang ia sebarkan..
"Zahra itu pintar,” gumam Bu Ratna kesal.
Dini menggigit bibir.
"Mak… kalau ini ketahuan…”
Bu Ratna menatapnya tajam..
“Diam, kita belum kalah.”
Namun untuk pertama kalinya, ada kegelisahan yang menyelinap di dadanya.
Malamnya, Zahra duduk sendirian di kamar, tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena lelah...
Fitnah selalu melelahkan orang jujur, selalu menuntut lebih banyak tenaga daripada kebohongan.
Ketukan pelan terdengar di pintu, Genta berdiri di sana..
"Kamu kuat sekali,” katanya lirih.
Zahra tersenyum tipis.
“Karena aku tidak sendiri, aku bersama kebenaran.”
Genta menunduk.
“Maafkan keluargaku ya Ra"
Zahra menatapnya lama..
“Mas… keluarga bukan alasan untuk menghancurkan orang lain.”
Genta mengangguk..
“Aku tahu dan aku akan bertanggung jawab.”
Zahra hanya menarik nafas panjang dan menatap Genta dengan lekat lalu tersenyum!
Keesokan paginya, unggahan fitnah itu mulai dihapus satu per satu, beberapa pihak mengirim pesan permintaan maaf secara pribadi, reputasi Zahra tidak runtuh.
Justru menguat, namun Zahra tahu satu hal: orang yang gagal dengan cara halus, akan mencoba cara yang lebih kasar.
Malam harinya Zahra bersujud lebih lama dari biasanya.
“Bismillah,” bisik nya..
"Jika fitnah adalah jalannya, jadikan aku cukup kuat untuk tidak menjadi seperti mereka.” ucap nya dalam doa
Di sudut lain kota, Bu Ratna memandang malam dengan mata menyala.
"Permainan belum selesai Zahra" gumamnya