Demi biaya pengobatan ibunya, Alisha rela bekerja di klub malam. Namun kepercayaannya dikhianati sang sahabat—ia terjerumus ke sebuah kamar hotel dan bertemu Theodore Smith, cassanova kaya yang mengira malam itu hanya hiburan biasa.
Segalanya berubah ketika Theodore menyadari satu kenyataan yang tak pernah ia duga. Sejak saat itu, Alisha memilih pergi, membawa rahasia besar yang mengikat mereka selamanya.
Ketika takdir mempertemukan kembali, penyesalan, luka, dan perasaan yang tak direncanakan pun muncul.
Akankah cinta lahir dari kesalahan, atau masa lalu justru menghancurkan segalanya?
Benih Sang Cassanova
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu.peri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
THEO DATANG
Sosok pria yang baru datang itu berdiri tegak di ambang pintu, matanya menyala penuh amarah.
“Lepaskan dia… SEKARANG!!.”
Suara itu dalam, dingin, dan penuh ancaman.
Dan saat Nolan menoleh, napasnya tercekat. Karena pria yang berdiri di sana—adalah Theo.
Theo menarik kerah baju Nolan dengan penuh amarah. Sorot matanya tajam, seperti binatang buas yang baru saja menemukan mangsanya.
Bugh! Bugh!
Tinju Theo menghantam wajah Nolan tanpa ampun. Da rah segar langsung mengucur dari bibir Nolan yang pecah, dan Elsa yang berdiri di dekat pintu hanya bisa menjerit kaget.
"Aaaah!! Nolan!" teriak Elsa panik, tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.
Namun Theo tak peduli. Ia melayangkan satu pukulan lagi, kali ini ke arah perut Nolan hingga pria itu terbungkuk kesakitan. Dan seolah belum cukup, Theo menendang tubuh Nolan dengan keras hingga pria itu terlempar ke belakang, menabrak meja kecil di sudut ruangan.
Trangg!!
Suara meja pecah memecah keheningan sejenak, disusul helaan napas tertahan dari semua yang menyaksikan.
"Nolan!" Elsa hendak berlari ke arah kekasihnya yang tersungkur tak berdaya di lantai, namun langkahnya terhenti begitu melihat kondisi Alisha.
Alisha terduduk di lantai, tubuhnya menggigil, kedua tangannya memeluk lututnya erat-erat. Rambutnya sedikit berantakan, bajunya kusut, dan wajahnya penuh air mata. Ia tampak begitu hancur. Syok. Terluka.
Hati Elsa seketika mencelos. Ia menatap Nolan yang tergeletak dengan wajah babak belur, lalu kembali menatap Alisha—sahabatnya sendiri yang baru saja hampir menjadi korban kebia daban pria yang selama ini ia percayai.
Elsa perlahan mendekati Alisha dan berlutut di depannya. "Alish… kamu tidak apa-apa? Aku di sini... aku minta maaf..." ucapnya dengan suara bergetar, lalu memeluk Alisha erat.
Alisha tak menjawab. Ia hanya terisak, matanya kosong, seolah tak percaya apa yang baru saja terjadi. Tubuhnya menggigil hebat, dan Elsa bisa merasakan trauma besar yang merayap dari dalam tubuh sahabatnya itu.
Sementara itu, Theo berdiri mematung. Matanya masih merah, napasnya memburu, menahan emosi yang belum juga mereda.
Seketika, ia kembali menatap Nolan dengan tatapan membunuh.
Tanpa pikir panjang, Theo kembali menarik kerah baju Nolan dan menyeretnya keluar dari ruangan. Semua kru dan pegawai di sekitar area pemotretan hanya bisa menatap diam. Ini adalah kekacauan kedua yang mereka saksikan dalam waktu singkat, dan lagi-lagi melibatkan pria tampan pemilik perusahaan—Theo.
Jimy, yang sudah siaga di luar ruangan, segera membuka pintu mobil hitam yang terparkir di depan perusahaan.
Tanpa sepatah kata pun, Theo melempar tubuh Nolan ke dalam mobil.
Brak!!
Pintu ditutup dengan keras.
Wajah Nolan sudah tak karuan. Bibirnya robek, pipinya lebam, dan napasnya terengah. Ia mencoba bersandar di jok mobil, namun tubuhnya terasa remuk.
"Jalan," perintah Theo dingin.
Jimy segera menyalakan mesin dan mengemudi keluar dari parkiran gedung. Tidak ada yang bertanya kemana arah mereka. Tidak ada yang berani membuka suara.
Nolan mulai panik. "Kalian mau bawa aku ke mana? Lepaskan aku!! Ini tidak masuk akal! Aku hanya… hanya—"
"Diam!" bentak Theo, suaranya menggelegar, memotong omongan Nolan dengan tajam.
Pria itu menarik laci dasbor dan mengeluarkan sepucuk pis tol berwarna hitam pekat. Ujung senj4ta itu langsung diarahkan ke pelipis Nolan.
Wajah Nolan seketika pucat pasi. Tubuhnya gemetar hebat. Napasnya tercekat.
"Aku cuma mau tahu satu hal," ucap Theo, suaranya pelan tapi tajam seperti silet. "Kau sudah menyentuhnya?"
Nolan menggeleng panik. “T-Tidak… aku—aku tidak—”
“Bagian mana yang kau sentuh?!” bentak Theo kembali, menekan pistolnya lebih dalam. “Tanganmu yang mana? Kanan? atau.. Kiri?”
"A-Aku tidak—"
Theo menatap lurus ke matanya. “Kalau begitu, kita mulai dari yang kanan dulu.”
Jari Theo mulai menarik pelatuk.
"JANGAN!! TIDAK!!" teriak Nolan sekuat tenaga, napasnya mulai tersengal. "Aku bersumpah! Aku tidak menyentuhnya! Aku cuma mencoba menakut-nakuti dia! Aku belum sempat melakukan apa-apa! Sumpah, Jangan tembak aku!!"
Matanya memejam kuat-kuat, sementara air liur bercampur darah menetes dari ujung bibirnya. Tubuhnya gemetar hebat, seperti orang sekarat.
Jimy melirik ke arah spion tengah, menatap tuannya. Tapi Theo belum menurunkan senjatanya.
Seketika, keheningan mencekam memenuhi mobil.
Hingga akhirnya…
Klik..
Dor..
takutnya dak bisa tidur malam ne karna penasaran 🤭🤭🤭
aq bacanya Sampai tahan nafas
seru banget kak💪💪💪