NovelToon NovelToon
Hantu Tampan Si Mesum

Hantu Tampan Si Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Dunia Lain / Spiritual / Hantu / Suami Hantu
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut.​"Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.​Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis.​"Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas.​"Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.​Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Jelita menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Arjuna. Ia bisa merasakan detak jantung Arjuna yang tenang—detak jantung yang sebenarnya tidak ada secara fisik, namun bisa ia rasakan lewat ikatan jiwa mereka.

​"Arjuna, apakah kamu akan terus seperti ini? Menjagaku dan mencintaiku dengan cara yang... sedikit menakutkan bagi orang lain?" tanya Jelita sambil memainkan jemari tangan Arjuna yang besar.

​Arjuna terkekeh pelan, getaran suaranya terasa hingga ke dada Jelita. "Aku adalah kegelapan, Jelita. Cara mencintaku memang tidak akan pernah sama dengan para lelaki manusia yang lemah itu. Aku posesif karena aku tidak ingin kehilangan cahayaku lagi."

​Ia mengangkat wajah Jelita, menatap kedua matanya dengan penuh pemujaan. Di bawah cahaya bintang, wajah Arjuna tampak luar biasa tampan, tanpa sedikit pun aura menyeramkan. Ia adalah pria yang sedang jatuh cinta sedalam-dalamnya.

"Malam ini," ucap Arjuna sambil mengambil sebuah kalung dengan liontin permata biru yang bersinar redup. "Aku ingin memberimu janji yang berbeda. Bukan janji seorang raja kepada rakyatnya, tapi janji seorang pria kepada wanitanya."

​Ia memasangkan kalung itu di leher Jelita. Begitu permata itu menyentuh kulit Jelita, rasa hangat yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya, memberikan kekuatan dan ketenangan.

​"Selama kau mengenakan ini, kau bisa memanggil namaku di mana pun kau berada, dan aku akan langsung hadir di sisimu. Aku akan menjadi bayanganmu yang paling setia, pelindungmu yang paling buas, dan kekasihmu yang paling lembut."

Cup!

Jelita tersentuh. Ia memberanikan diri untuk melingkarkan lengannya di leher Arjuna dan mencium pipi pria itu. Sebuah tindakan kecil yang membuat sang penguasa kegelapan itu terpaku sejenak, sebelum akhirnya ia membalasnya dengan ciuman yang sangat dalam dan penuh kerinduan di tengah keheningan malam taman rahasia.

Langit di cakrawala Astina Maya mulai berubah warna menjadi ungu pucat, pertanda bahwa fajar di dunia manusia segera tiba. Bagi Jelita, ini adalah momen yang paling tidak ia sukai. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan getaran jatuh cinta yang begitu dalam—sebuah rasa yang justru ia temukan pada sosok yang paling tidak terduga.

​Jelita mengeratkan pelukannya pada leher Arjuna, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu. Ia merasa berat jika harus melepaskan kehangatan ini dan kembali ke rutinitas kampusnya yang biasa.

​"Arjuna... haruskah aku pulang sekarang?" bisik Jelita lirih, suaranya terdengar serak karena enggan berpisah.

Arjuna membelai rambut Jelita dengan sangat lembut. Ia bisa merasakan kegalauan hati wanitanya. Senyum tipis namun tulus tersungging di bibirnya: ia merasa menang karena akhirnya berhasil memenangkan hati Jelita sepenuhnya.

"Fajar tidak akan menunggumu, Ratu Kecilku," ucap Arjuna lembut. "Jika kau tidak kembali sekarang, tubuh manusiamu di sana akan jatuh sakit. Aku tidak ingin melihatmu menderita hanya karena egoku yang ingin menahanmu di sini."

​Arjuna mengangkat wajah Jelita, menghapus sudut matanya yang sedikit lembap. "Lagipula, aku tidak benar-benar pergi. Aku ada di setiap bayangan yang kau lalui, di setiap hembusan angin yang menyentuh kulitmu, dan di dalam liontin yang melingkar di lehermu."

Sebelum Jelita benar-benar menghilang menuju dunianya, Arjuna memberikan sebuah kejutan kecil. Ia mengambil sebuah mawar hitam dari taman rahasianya. Ajaibnya, mawar itu tidak berduri dan kelopaknya berkilau seperti kristal.

​"Bawa ini," Arjuna meletakkan mawar itu di tangan Jelita. "Mawar ini tidak akan pernah layu selama cintamu padaku tetap hidup. Simpan di kamarmu. Jika kau merasa rindu atau butuh bicara padaku sebelum malam tiba, sentuhlah kelopaknya."

Cup!

Jelita tersenyum, hatinya terasa sedikit lebih ringan. Ia mencium pipi Arjuna untuk terakhir kalinya sebelum cahaya fajar benar-benar menyelimuti pandangannya.

​"Sampai jumpa nanti malam, Arjuna. Aku mencintaimu," ucap Jelita tulus.

Wush!

​Jelita tersentak bangun di atas tempat tidurnya. Sinar matahari pagi masuk melalui celah gorden, menyilaukan matanya. Ia meraba lehernya—kalung permata biru itu masih ada di sana, terasa hangat. Dan di samping bantalnya, tergeletak sebuah mawar hitam kristal yang sangat indah, membuktikan bahwa semua yang ia alami bukanlah sekadar mimpi.

​Tiba-tiba, ponselnya bergetar hebat. Ada pesan masuk dari grup "Trio Maut".

​Dinda: [JELITA!!! BANGUN!!! Cepat cek berita kampus sekarang! Rian si cowok arogan itu tiba-tiba mengundurkan diri dan pindah kampus pagi ini juga! Dia bilang dia ketakutan setengah mati! Apakah ini ulah 'Mas Suami' kamu?!]

Pagi itu suasana rumah terasa begitu tenang. Jelita turun ke ruang makan dengan langkah ringan, meskipun hatinya masih tertinggal di istana Astina Maya. Di lehernya, liontin permata biru pemberian Arjuna tersembunyi dengan aman di balik kerah pakaiannya, memberikan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh.

​Di meja makan, Ayah Burhan sedang menyesap kopi sambil membaca koran, sementara Ibu Diana sibuk menata nasi goreng hangat.

​"Pagi, Sayang. Wah, anak Ibu benar-benar terlihat beda ya hari ini. Wajahmu sangat cerah, seperti tidak ada beban sama sekali," puji Ibu Diana sambil tersenyum lebar.

​Jelita tersenyum manis, lalu duduk di kursinya. "Pagi, Bu, Yah. Mungkin karena Jelita tidurnya sangat nyenyak semalam."

Saat mereka mulai menyantap sarapan dengan hikmat, sebuah kejadian kecil terjadi. Ayah Burhan mencoba meraih botol kecap yang letaknya agak jauh di ujung meja. Belum sempat tangannya sampai, botol itu tiba-tiba bergeser sendiri mendekat ke arah Ayahnya.

​Ayah Burhan tertegun sejenak, mengucek matanya. "Lho, kok... seperti ada yang menggeser?"

Jelita hampir tersedak nasi gorengnya. Ia tahu betul siapa pelakunya. Di bawah meja, ia merasakan sebuah tangan dingin yang besar menggenggam jemarinya dengan lembut namun posesif. Arjuna seolah ikut duduk di sana, tak terlihat oleh kedua orang tuanya, namun kehadirannya terasa sangat nyata bagi Jelita.

​"Aku hanya ingin membantu ayahmu, Ratu Kecilku," bisik suara Arjuna di dalam pikiran Jelita, terdengar sedikit jahil.

​Jelita berdehem pelan, berusaha menormalkan ekspresinya. "Mungkin mejanya agak miring, Yah. Atau cuma perasaan Ayah saja."

Ibu Diana kembali menatap Jelita dengan penuh perhatian. "Oh iya, Jel. Tadi pagi Ibu lihat ada bunga mawar hitam di kamarmu. Cantik sekali, tapi Ibu belum pernah lihat mawar jenis itu. Siapa yang kasih? Apa ada cowok yang sedang mendekatimu?"

​Jelita terdiam sejenak, melirik ke arah tas kuliahnya di mana ia menyimpan mawar kristal itu di tempat yang aman. "Itu... pemberian teman, Bu. Katanya itu jenis langka hasil penelitian di kampus."

​"Oalah, keren juga ya temanmu itu," sahut Ayah Burhan sambil tertawa. "Ingat ya Jel, yang penting dia baik dan bisa menjagamu."

​Jelita tersenyum dalam hati. Baik? Mungkin tidak sepenuhnya. Tapi menjagaku? Dia bahkan tidak membiarkan angin menyentuhku terlalu kasar, Yah.

Selesai sarapan, Jelita berpamitan untuk berangkat. Saat ia melangkah keluar pagar, sebuah mobil taksi hitam—taksi yang sudah sangat ia kenali—sudah terparkir manis di depan rumahnya.

​Pintu belakang terbuka sendiri, seolah menyambut kedatangannya. Jelita masuk ke dalam, dan aroma cendana langsung menyambutnya dengan pelukan yang akrab. Di dalam mobil, suhu udara menjadi sangat sejuk meski matahari mulai meninggi.

​Jelita mengambil mawar hitam dari tasnya, mengusap kelopaknya yang berkilau. "Arjuna, jangan terlalu sering menunjukkan kekuatanmu di depan orang tuaku. Mereka bisa ketakutan."

​Tiba-tiba, di kursi sampingnya, perlahan muncul siluet kabut hitam yang membentuk sosok Arjuna. Ia tidak muncul sepenuhnya, hanya terlihat seperti bayangan yang samar namun nyata.

Cup!

​"Apapun untukmu, Jelita. Tapi aku ingin mereka tahu bahwa putri mereka berada di tangan yang paling aman di semesta ini," ucap Arjuna sambil mengecup kening Jelita melalui bayangannya.

1
Mingyu gf😘
Arjuna jahat
Mingyu gf😘
sadar jelita sadar
Stanalise (Deep)🖌️
Ya, kalau setannya kayak gini visualisasi nya siapa yang ga kepincut. Beneran 🐊 nih the mycth
Stanalise (Deep)🖌️
Tapi thor, sebenarnya nih si Jelita dia emang bisa nglihat atau ngga Thor? #Bertanya dengan nada lembut. 🥺
Greta Ela🦋🌺
Jangan woi. Hantu ini gak tahu tempat, dah tahu sekarang lagi jam kuliah malah diganggu
Greta Ela🦋🌺
Ya wajib lah dengerin dosen. Kocak amat lu
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ganteng gini mah🤣
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ini ngada2 ya🤣
Blueberry Solenne
Cape banget Ini yang Jadi temen-temennya, harus rebutan Jelita sama Hantu
Wida_Ast Jcy
tidak semudah itu juga kali. kalau teror berakhir otomatis ceritamu tamat donk. ya kan thor
Wida_Ast Jcy
Bukan masalah begitu jelita. namanya juga sahabat mungkin mereka ingin membantu. dan kesian harus membiarkan dirimu
studibivalvia
merinding tapi bikin terang-sang ya kan jel? 🤣
chemistrynana
ALAMAKK TAKUTNYA
arunika25
memangnya hantu tampan itu lebih menakutkan dari hantu biasa. suka posesif gitu padahal baru ketemu.😱
Ani Suryani
hantu cabul
CACASTAR
jujur cerita ini rada bikin merinding tapi campuran romantika saat penggambaran tokoh ya muncul..hantu kok tampan sih
CACASTAR
kenapa jadi gerah bacanya yaaa🤭
CACASTAR
kak Jing Jing ilustrasinya bikin salfok 😄
Blueberry Solenne
Leluhur si Jelitanya jahat banget, wajar lah si Arjuna nuntut haknya, eweh tapi serem ya bagaimana mungkin dua makhluk beda alam bersatu
Greta Ela🦋🌺
Apa2an sih ini hantu. Sadarlah woi kalian ini beda dunia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!