Ini adalah kisah Kanina, gadis 20 tahun yang harus kehilangan masa depannya. Di tengah malam yang gerimis, seseorang menyeretnya dengan paksa. Memperlakukan gadis itu bagai binatang.
Alung, putra dari orang ternama di kota itu. Anak badung yang selalu membuat masalah. Kali ini, masalah yang ia buat bukan main-main.
Anggara Kusuma Dinata, pria 35 tahun yang sudah didesak sang ibu untuk segera mengakhiri masa lajang. Pria terpandang di kampung sebelah, dambaan para gadis desa dan mantu idaman.
Mana yang akan melangkah bersana Kanina?
Bagaimana kisah Kanina, setelah sebulan kemudian ia dinyatakan hamil?
Hai, selamat datang di novel terbaru Sept. Jangan lupa baca juga novel Sept yang lain.
1. Rahim Bayaran
2. Suamiku Pria Tulen
3. Istri Gelap Presdir
4. Dea I Love You
5. Wanita Pilihan CEO
6. Kesetiaan Cinta
7. Menikahi Majikan
Ig : Sept_September2020
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baby Boy
Mencari Daddy Bag. 23
Oleh Sept
Rate 18 +
Sosok Alung yang badung, pemberontak dan hanya menjadi beban keluarga, kini harus jungkir balik. Ia harus menggantikan sang kakak, papanya sudah tidak mungkin lagi mengurus perusahaan. Selain faktor U, papanya juta masih repot menjaga sang mama yang masih terguncang jiwanya.
Kini, untuk melepas penat dan setres, ia lari ke tempat hiburan malam. Mungkin tubuhnya sekarang ada di club malam, tapi pikirannya kosong. Terbang ke mana-mana. Suntuk, hampa, dan jenuh.
Bayangan masa lalunya yang kelam muncul satu persatu, seolah menampar hidupnya. Bagaimana rusaknya dia, dan bagaimana dengan nasib gadis itu? Tiba-tiba kembali ia teringat dengan gadis tanpa ia ketahui siapa namanya tersebut.
Malam yang kelam, setelah mengusir gadis-gadis yang satu persatu datang menggoda, lama-lama ia muak. Tidak sampai satu botol, ia pun meninggalkan tempat yang ia kira bisa menjadi tempat untuk bisa melupakan semua masalahnya. Nyatanya, ia malah kembali teringat berbagai peristiwa sadis di masa lalunya.
Tidak mungkin menyetir sendirian, tapi pak Rafi sudah pulang sejak awal. Akhirnya ia menghubungi sopir pengganti. Karena tidak mungkin menyetir sendirian. Ia tadi sudah minum, tidak mau mati konyol karena kecelakaan. Rasanya ia ingin hidup, ingin menebus satu persatu kesalahan yang pernah ia lakukan di dunia ini. Terutama sang mama, ia ingin mengukir senyum pada wanita paruh baya tersebut.
Sepanjang jalan, Alung hanya diam. Menatap kosong pada lampu jalanan. Wajahnya terlihat kusut dan lelah, hingga tanpa sadar tiba-tiba saja sudah berhenti di depan pagar rumahnya.
"Terima kasih!" ucapannya pada sopir pengganti sambil mengeluarkan beberapa lembar uang warna biru.
Setelah sopir itu pergi, ia bergegas masuk. Sudah larut, tapi lampunya masih menyala. Penasaran, Alung semakin mempercepat langkahnya.
"Baru pulang?"
Mama Ami menatap benci pada sang putra. Apalagi aroma minuman sedikit menyengat.
"Mama benar-benar kecewa sama kamu, Lung!" tambah mama Ami.
Alung mau menjelaskan, tapi sang mama keburu pergi. Sesaat kemudian terdengar suara pintu dibanting.
Bruakkk
Sepertinya sang mama kecewa berat pada Alung, belum pulih luka hatinya. Alung malah main-main, seolah tidak pernah puas membuat ia menderita. Andai waktu bisa diputar, barangkali ia akan memilih egois. Biar Alung saja yang meninggalkan dunia ini.
Sadar bahwa pikirannya mulai tidak waras, mama Ami kemudian kembali menangis. Alung juga putranya, tidak seharusnya ia menyalakan Alung. Harusnya ia adil, seburuk apapun Alung, dia tetap putranya. Wanita itu pun hanya bisa terisak sambil memeluk tubuhnya sendiri. Sedangkan sang suami, sudah terlelap karena memang sudah larut malam.
***
Esok harinya.
"Kan Mas Gara sudah janji mau anter Gendis! Nganter Kanina pas Mas sibuk saja bisa. Lalu kenapa nggak bisa nganter Gendis? Mas udah gak sayang Ndis lagi?"
"Ndis ... Mas lagi repot banget, Mas janji. Minggu depan bakal ke sana," bujuk Gara yang memang memiliki agenda yang sangat padat dan tidak bisa ia wakilkan.
"Dah lah, Mas! Mas Gara udah beda sekarang!"
Bruakkk
Gendis naik mobil, setelah pamit pada mamanya. Ia langsung menyuruh mobil itu berangkat.
"Udah ... gak usah dipikirkan. Sana, nanti kamu terlambat!" seru bu Sadewo yang sangat mengerti dengan pekerjaan sang putra.
"Iya, Ma. Gara berangkat dulu."
"Hati-hati."
Gara mengangguk dan pergi.
***
Waktu terus berlalu begitu cepat, tidak terasa sudah enam bulan berlalu. Kanina diperlakukan sangat baik layaknya tamu di rumah itu. Dan selama ini yang mengantar ke rumah sakit adalah Gara. Bila kebetulan repot, maka Bu Sadewo yang megantar.
Sama seperti sebelumnya, Gara hanya bisa menatap Kanina diam-diam. Tidak pernah bicara hal lain selain kesehatan Kanina dan janin yang dikandungnya. Apalagi akhir-akhir ini Gara memang banyak pekerjaan. Jadi, pernikahan belum jadi fokus utama pria tersebut.
Sore hari, saat bu Sadewo sedang merangkai bunga yang ia ambil dari kebun bunga di sebelah rumah. Tiba-tiba ia melihat Kanina yang meringis sambil memegangi perutnya masuk kamar. Mana di rumah tidak ada orang. Gara masih kerja, sedangkan suaminya sedang ke luar kota. Hanya ada Bibi dan sopir pribadinya.
"Nin ... kurang dua minggu lagi kan HPL-nya?" tanya bu Sadewo panik.
"Nggak tahu, Tante. Perut Nina sakit, kenceng banget."
"Ya Allah ... Pak Ramlan ... Pakkkk!!! Siapin mobil. Nina mau lahiran." Wanita itu bergegas ke luar mencari bantuan.
Pak Ramlan yang kebetulan sedang ngopi di teras rumah, ngopi sore-sore sambil santai. Ia dibuat kaget karena teriakan sang manjikan. Tumben nyonya besarnya itu mengeluarkan suara nyaring. Biasanya kalem seperti putri Solo, kadang ia sampai tidak dengar kalau diajak bicara.
"Pak!! Cepet siapain mobil. Kanina mau lahiran!"
Ikut panik, pria itu lantas bergegas ke garasi. Mengambil mobil untuk membawa Kanina ke rumah sakit.
ZE Surabaya Maternity Hospital
Di depan ruang operasi, bu Sadewo sedang mencoba menghubungi Gara.
"Iya, Ma."
"Kamu di mana? Cepet ke rumah sakit!"
"Rumah sakit? Kenapa, Ma? Kanina kenapa?" Gara langsung menebak pasti ada kaitannya dengan gadis yang mereka tolong di rumahnya itu.
"Cepet ke rumah sakit, sepertinya mau melahirkan."
"Iya, Ma. Gara segera ke sana."
Tut Tut Tut
***
Mobil warna silver itu melesat membelah jalan, Gara yang tidak pernah ngebut akhirnya harus adu kecepatan dengan kendaraan lainnya. Padahal ia warna negara yang sangat taat, karena mendesak hampir saja ia menerobos lampu merah.
Ruang operasi
Ketika Gara tiba, operasi masih berlangsung.
"Kamu jangan mondar-mandir, Mama ikut pusing ... Gara!" protres sang mama ketika keduanya menunggu di depan ruang operasi.
Gara akhirnya duduk. Belum lama ia berdiri lagi dan sang mama kembali ngomel-ngomel. Karena tingkah Gara membuatnya tambah gelisah.
"Mengapa kamu seperti sedang menunggu istrimu melahirkan, Gara?" batin bu Sadewo yang memperhatikan ekpresi kekhawatiran sang putra.
Oek ... Oek ...
Mendengar tangis bayi dari dalam, Gara dan sang mama saling melempar pandangan. Ada kelegaan di wajah keduanya.
KLEK
"Suamin Bu Kanina?" tanya suster saat membuka pintu.
Lagi-lagi Gara dan mamanya saling menatap. Gara ragu saat akan melangkah masuk, tapi saat sang mama mengangguk pelan. Langkah kakinya terasa ringan. Bersama suster, Gara masuk menemui Kanina dan bayinya.
"Selamat, Pak. Bayinya laki-laki, sehat tanpa kurang satu apapun."
Gara melihat bayi itu, kemudian meraihnya dengan penuh hati-hati saat perawat mengulurkan pada dirinya. Digendongnya dengan perasaan aneh, karena ini adalah moment pertama meskipun bayi itu bukan hasil dari benihnya. Tapi entah mengapa, pertama melihat wajah tanpa dosa itu, hatinya seolah tergerak, dan bicara, ia harus menjaga bayi tersebut.
Hal berikutnya yang Gara lakukan adalah mengumandangkan adzan di telinga bayi tersebut, dengan suara bergetar ia mengadzani bayi laki-laki yang baru lahir itu.
Menyaksikan hal tersebut, Kanina hanya memejamkan mata. Tanpa terasa bulir bening menetes dari sudut matanya. Harus dengan apa ia membalas kebaikan keluarga Gara? Rasanya ia rela harus mengabdi ... entah jadi ART pun ia rela. Karena ia sadar, rasanya dengan apapun ia tidak bisa membalas kebaikan yang begitu besar tersebut. Bersambung.
Hemmm ... Kok melas banget Kanina, bukannya ART, siapa tau malah jadi pemilik rumah tersebut berikutnya? Mimpi masih gratis kan bosss?