NovelToon NovelToon
Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:4.5M
Nilai: 5
Nama Author: Deche

Kata kunci masuk gc. Siapakah nama wanita yang membuat Toriq terobsesi?

Annisa seorang gadis yang sederhana berasal dari keluarga yang sederhana. Suatu hari Uanya Ibu Elly memintanya untuk pindah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya ke sebuah universitas swasta bergengsi di Jakarta. Namun siapa sangka kepindahannya ke Jakarta mengubah hidupnya. Seorang anak kecil berusia 2 tahun bernama Rafa saat pertama kali bertemu dengannya langsung memanggil Annisa dengan panggilan Mamah.

Rafa adalah seorang anak yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Entah mengapa saat pertama kali Rafa bertemu dengan Annisa, ia merasa Annisa adalah Mamahnya.

Ibu Delima karena tidak ingin berpisah dengan Rafa cucunya meminta Annisa menikah dengan putra sulungnya yang bernama Toriq yang tak lain adalah paman dari Rafa.
Akankah Annisa menerima pinangan dari Ibu Delima dan menikah dengan Toriq?
Toriq sangat terobsesi pada seorang janda muda yang dalam keadaan hamil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Rafa Yang Tidak Rewel.

Annisa berada di depan kamar Rafa sayup-sayup terdengar suara Rafa menangis. Annisa membuka pntu kamar. Ibu Elly sedang menggendong Rafa yang sedang menangis.

“Mamah…..Mamah……,” Rafa menangis di pelukkan Eninnya.

Sedangkan Ibu Delima sibuk menghibur Rafa. Kedua wanita lanjut usia itu sibuk menghibur Rafa agar Rafa berhenti nangisnya.

“Rafa….,” panggil Annisa ketika masuk ke dalam kamar.

Rafa menoleh ke Annisa.

“Mamah……,” tangisan Rafa pecah sambil mengulurkan kedua tangannya minta digendong Annisa.

Annisa menaruh plastic belanjaannya di atas meja lalu menghampiri Ibu Elly lalu mengambil Rafa dari gendongan Ibu Elly.

“Rafa kenapa nangis, Nak?” Annisa mengusap-usap punggung Rafa.

“Mamah dalimana? Rafa cari-cari Mamah,” rengek Rafa di dalam dekapan Annisa sambil sesegukan.

“Mamah beli makanan dulu untuk Enin dan Nenek,” jawab Annisa.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka petugas catering rumah sakit masuk mengantarkan makan siang untuk Rafa.

“Tuh, makanannya sudah datang. Rafa makan, ya,” Annisa menunjuk ke makanan Rafa yang ditaruh di atas nakas.

Rafa melihat ke makanan yang ditunjuk Annisa lalu menganggukkan kepalanya.

“Sekarang Rafa duduk yang manis,” Annisa menurunkan Rafa ke tempat tidur.

“Sebelum makan kita baca doa dulu, ya. Rafa ikuti Mamah,” kata Annisa.

Batita itu menganguk.

“Allahuma.”

“Allahuma.”

“Baarik lanaa.”

“Baalik lana.”

“Fiiimaa.”

“Piima.”

“Rozaqtana.”

“Lojaktana.”

“Waaqinaa.”

“Wacina.”

“Adzabanaar.”

“Ajabanar.”

“Mulai sekarang Rafa kalau mau makan harus baca doa dulu,” nasehat Annisa.

“Tapi cama Mamah baca doanya,” ujar Rafa dengan manja.

“Iya, sayang. Nanti baca doanya sama Mamah,” kata Annisa sambil menusap rambut Rafa.

“Sekarang Rafa makan dulu.”

Ibu Delima terharu melihat perlakuan Annisa kepada Rafa. Sedangkan Ibu Elly sudah biasa melihat Annisa memperlakukan Rafa dengan penuh kasih sayang.

“Nek, ayo kita makan dulu,” ajak Ibu Elly membuat kaget Ibu Delima yang sedang memperhatikan Annisa dan Rafa.

“Iya, Nin,” jawab Ibu Delima.

“Annisa, ini semuanya isinya sama kan? Apa ada yang beda?” tanya Ibu Elly.

“Semuanya sama, Ua,” jawab Annisa sambil menyuapi Rafa dengan telaten.

Tak lama kemudian Rafa memakan makanannya sampai habis.

“Ah…pinter anak Mamah makannya habis,” puji Annisa.

Mendengar pujian Annisa batita itupun tertawa sambil bertepuk tangan.

“Kalau sudah makan mengucapkan apa? Alhamdullilah,” ucap Annisa.

“Alhamdullilah,” Rafa mengikuti ucapan Annisa.

“Sekarang makan obat, ya,” Annisa mengambil obat Rafa diatas nakas.

Batita itu memperhatikan Annisa yang sedang menyiapkan obat. Rafa menurut ketika Annisa menyuruhnya untuk memakan obat.

“Alhamdullilah, Rafa pinter makan obat,” ucap Annisa sambil memberi Rafa minum.

“Sekarang Annisa makan dulu,” sahut Bu Elly.

“Iya, Ua,” jawab Annisa.

“Rafa, Mamah makan dulu. Rafa mau nonton TV?” tanya Annisa.

“Mau, Mah,” jawab Rafa dengan manja.

“Mamah carikan film kartun, ya,” Annisa memencet remote TV.

“Iya,” Rafa menjawab dengan kegirangan.

Annisa mencari film kartun yang baik untuk ditonton batita seusia Rafa dan mengandung edukasi.

Setelah menemukan film kartun yag diinginkan, Annisa membiarkan Rafa asyik menonton tv sehingga tidak menggangu Annisa makan. Selesai makan Annisa sholat dzuhur bergantian dengan Ibu Elly dan Ibu Delima. Tepat pukul 13.30 Roland datang .

“Assalamualaikum,” ucap Roland ketika masuk ke dalam kamar inap Rafa.

“Waalaikumsalam.”

Roland duduk di samping Ibu Elly sambil memperhatikan Rafa yang sedang anteng nonton film kartun di temani Annisa.

“Rafa….hei…. Rafa,” panggil Roland.

Rafa hanya menoleh sebentar ke Roland lalu kembali nonton tv lagi. Dengan jailnya Roland mendekati Rafa sambil mencolek-colek pipi Rafa. Rafa merasa kesal karena diganngu Roland.

“Iiihhhh Om Lolang ganggu-ganggu aja,” protes Rafa.

Kemudian kembali menonton tv. Tetapi bukan Roland namanya kalau tidak mengganggu Rafa sampai menangis. Roland kembali mencolek pipi Rafa.

“Mamah…..Om Lolang tuh nakal, ganggu-ganggu Rafa,” Rafa merengek.

“Aa, jangan ganggu Rafa! Rafa lagi nonton diganggu terus,” seru Annisa.

“Habis gemes, serius amat sih nontonnya,” kata Roland kali ini mengacak-acak rambut Rafa.

“Iiihhh Mamah….,” Rafa kembali merengek.

“Roland, jangan ganggu Rafa!” seru Ibu Elly.

Roland tersenyum berhasil mengganggu Rafa. Kemudian ia kembali ke tempat duduk.

“Mamah sudah makan?” tanya Roland.

“Sudah,” jawab Ibu Elly.

“Makan dimana, Mah?” tanya Roland.

“Tadi Annisa, Mamah suruh beli makanan di kantin. Terus dimakannya di sini,” jawab Ibu Elly.

“Roland lapar, Mah,” kata Roland.

Ibu Elly menoleh ke anak bungsunya.

“Kamu belum makan?” tanya Ibu Elly.

“Sudah, tapi lapar lagi,” ujar Roland.

“Ya, makan sana di kantin. Kata Toriq makanannya enak-enak,” kata Ibu Elly.

“Annisa, temani Aa ke kantin, yuk,” ajak Roland.

“Annisa sudah makan,” jawab Annisa.

“Ya, kamu kan bisa ngemil atau beli jus,” ujar Roland.

“Kalau ditinggal nanti Rafanya nangis,” kata Annisa.

Rafa menoleh ke Annisa.

“Mamah mau kemana?” tanya Rafa.

“Mamah mau nemenin Om makan di kantin,” jawab Annisa.

Roland mendekati Rafa.

“Rafa, Om pinjam Mamahnya buat nemenin Om makan di kantin,” kata Roland.

“Nggak boyeh, ini Mamah Rafa,” jawab Rafa sambil memeluk Annisa.

“Pinjem sebentaaarrr aja. Om laper mau makan di kantin,” bujuk Roland.

“Nanti Mamahnya pelgi ninggalin Rafa,” wajah Rafa berubah menjadi sedih.

“Nggak, Mamah nggak pergi ninggalin Rafa. Mamah kan mau nemenin Rafa bobo di sini,” jawab Annisa.

“Mamah bobo di cini? Nemenin Rafa?” tanya Rafa.

“Iya, sayang,” jawab Annisa sambil ngelus kepala Rafa.

“Hole Rafa bobo cama Mamah,” kata Rafa dengan kegirangan.

“Bagaimana, nih? Boleh nggak Mamahnya dipinjem?” tanya Roland sekali lagi.

“Boyeh, tapi nggak boyeh yama-yama,” jawab Rafa.

“Terima kasih, Rafa,” ucap Roland.

“Ayo, Nis. Aa udah lapar banget,” ajak Roland.

“Rafa mau dibeliin apa?” tawar Roland ke Rafa.

“Rafa mau ayam oleng, Om,” jawab Rafa dengan bersemangat.

“Memang boleh, Nis?” tanya Roland ke Annisa.

“Nggak tau. Tapi waktu Rafa minta nasi goreng nggak boleh sama Bang Toriq,” jawab Annisa.

“Kalau sekarang udah boleh kali, Nis. Udah kasih aja daripada nangis,” kata Roland.

“Hayo kita ke kantin sekarang,” ajak Roland.

“Mamah ke kantin dulu, ya sayang. Rafa jangan nangis,” pamit Annisa sambil mengelus kepala Rafa.

“Iya, Mah,” jawab Rafa.

Kemudian Roland pamit pada Ibu Elly dan Ibu Delima dan meninggalkan kamar inap Rafa.

Kantin masih terlihat ramai. Ada beberapa dokter yang sedang makan siang atau sekedar ngopi-ngopi sambil menikmati snack.

“Annisa mau makan apa?” tanya Roland sambil memperhatikan hidangan yang dijajakan di kantin itu.

“Annisa masih kenyang A, Annisa mau kue saja,” Annisa sambil melihat kue-kue yang di jajakan di kantin.

Annisa memilih roti yang terlihat enak.

“Annisa mau roti saja, A,” jawab Annisa lalu mengambil satu buah roti.

“Mau minum apa, Nis?”

“Mau minum teh manis aja, A,”,jawab Aanisa.

Setelah memesan makanan untuk Roland dan membayar semua makanan yang telah dipesan, Annisa dan Roland mencari tempat duduk

“Kalian sedang apa di sini?” tanya Toriq yang tiba-tiba muncul.

1
ayu cantik
seru
74 Jameela
bagus kak ceritanya
74 Jameela
bu delima jgn egois..bu elly jg enin nya rafa..biarkn rafa bs merasakn ksh syg dr smua keluarganya
Siti Nurbaidah
Luar biasa👍👍👌💕cerita ny mantap n seru
Siti Nurbaidah
mantap👍👍💕💖👌
Bunda Puput
Luar biasa
Deche: Terima kasih
total 1 replies
Cah Dangsambuh
aku mampir kak
Suminah Latara: lanjut thor
total 1 replies
Sastri Dalila
👍👍
Deche: Terima kasih.
total 1 replies
Sandisalbiah
prolog nya menarik
Sandisalbiah
luar biasa
Sandisalbiah: ❤❤❤❤❤
total 2 replies
Sandisalbiah
Hadeh.. si pak suami ini beneran gak mau jauh dr istri.. candu ya..??
Sandisalbiah
istrinya masih kinyis lho Toriq
Sandisalbiah
akhirnya sah.. SAMAWA buat Toriq dan Anissa...
Sandisalbiah
kirain ngilang kemana itu para pejantan.. gak taunya bobok bareng"
Sandisalbiah
OTW halal..
Sandisalbiah
sultan mah bebas.. apa² langsung bayar lunas gak perlu di DePe in...
Sandisalbiah
dr gelagat nya udah gak bener nih si bu Ika
Sandisalbiah
jodohnya abang dokter jd sakit gak perlu jauh² berobat.. dokternya langsung nyamperin
Sandisalbiah
merawat batita itu melelahkan
Sandisalbiah
,Anissa demam malarindu tuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!