NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8_MENANGIS TANPA SAKSI

Malam itu rumah Mahendra terasa lebih sunyi dari biasanya.

Lampu-lampu besar di ruang tengah sudah dipadamkan. Hanya lampu kecil di koridor yang menyala temaram, memantulkan bayangan panjang di lantai marmer. Nayla berjalan pelan menuju kamarnya, membawa buku-buku yang sejak tadi tak benar-benar ia baca.

Begitu pintu kamar tertutup, bahunya langsung jatuh. Seolah semua tenaga yang ia kumpulkan seharian habis dalam satu tarikan napas.

Nayla meletakkan buku di meja, lalu duduk di tepi ranjang. Awalnya ia hanya menunduk, menatap lantai. Diam. Tidak bergerak. Tidak menangis.

Ia sudah terlalu sering menahan.

Di sekolah, ia memasang wajah santai. Menjawab sindiran dengan celetukan. Membalas tatapan meremehkan dengan sikap cuek. Semua orang melihat Nayla yang 'kuat', Nayla yang 'bar-bar', Nayla yang tidak gampang jatuh.

Tapi tidak ada yang tahu betapa dadanya sering terasa sesak. Tidak ada yang tahu betapa lelahnya ia berpura-pura tidak sakit.

Air mata pertama jatuh tanpa suara.

Nayla mengangkat tangan, menutup mulutnya sendiri. Tangisnya tertahan, bahunya bergetar pelan. Ia tidak ingin suaranya terdengar ke luar kamar. Ia tidak ingin siapa pun tahu.

Termasuk Azka.

Nama itu membuat dadanya kembali nyeri. Azka yang setiap hari berdiri di hadapannya seolah ia tidak ada. Azka yang tak ragu merendahkannya di depan orang lain. Azka yang sah menjadi suaminya tapi memperlakukannya lebih buruk dari orang asing.

“Aku bodoh,” bisik Nayla pelan.

Air matanya jatuh mengenai satu ke punggung tangannya.

Ia teringat tatapan Azka di sekolah. Dingin. Tajam. Seolah kehadirannya adalah kesalahan. Ia teringat bisik-bisik murid lain. Tatapan kasihan. Tatapan meremehkan.

Dan yang paling menyakitkan, ia teringat betapa sendirinya ia.

Nayla merebahkan tubuhnya ke ranjang, memeluk bantal erat-erat. Tangisnya akhirnya pecah, masih tanpa suara, tapi penuh.

“Capek…” lirihnya.

Capek bertahan. Capek berpura-pura kuat. Capek hidup di tempat yang bukan dunianya.

Beberapa menit berlalu. Atau mungkin lebih lama. Nayla tidak tahu. Tangis itu perlahan mereda, menyisakan sesenggukan kecil dan napas yang tidak beraturan. Matanya panas, kepalanya pening.

Ia bangkit pelan, duduk kembali. Mengusap wajahnya kasar, lalu tertawa kecil, pahit.

“Kalau terus kayak gini, aku bisa gila,” gumamnya.

Nayla berdiri, melangkah ke kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali sampai matanya tidak terlalu merah. Menatap pantulan dirinya di cermin.

Wajah itu terlihat lelah. Tapi di balik lelah itu, Nayla melihat sesuatu yang lain. Keras kepala.

Ia menatap dirinya sendiri lama, lalu berkata pelan, tapi tegas.

“Aku nggak boleh nyerah.” Suara itu bukan lagi suara gadis rapuh.

“Aku sudah sejauh ini,” lanjutnya. “Kalau aku menyerah sekarang, berarti aku kalah.”

Nayla menghela napas panjang. Ia memang tidak punya kekuasaan. Tidak punya uang. Tidak punya nama besar. Tapi ia punya satu hal yang tidak bisa direbut siapa pun.

Harga diri.

“Aku bakal bertahan,” ucapnya lagi, kali ini lebih yakin. “Dengan caraku sendiri.”

Ia keluar dari kamar mandi, duduk kembali di ranjang. Tangannya mengepal pelan. Kalau Azka ingin mengabaikannya, ia akan berdiri sendiri. Kalau dunia ini tidak ramah, ia akan jadi lebih keras. Ia tidak akan memohon. Tidak akan merendah.

***

Di kamar lain, Azka terbangun dari tidurnya tanpa alasan yang jelas.

Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya. Jam dinding menunjukkan hampir tengah malam. Dadanya terasa aneh, tidak nyaman.

Azka berdiri, membuka pintu kamar, lalu melangkah keluar. Saat melewati koridor, ia berhenti di depan satu pintu.

Kamar Nayla.

Sunyi. Tidak ada suara. Tidak ada cahaya.

Azka berdiri beberapa detik, rahangnya mengeras. Ia tidak tahu kenapa ia ada di sana. Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa sedikit berat.

“Apa sih…” gumamnya, lalu berbalik pergi.

Ia kembali ke kamarnya, menutup pintu dengan sedikit lebih keras dari biasanya.

Tanpa ia tahu, di balik pintu lain, Nayla baru saja menyeka sisa air mata, dan menguatkan dirinya sendiri.

Malam itu, tidak ada yang saling tahu. Yang ada hanya dua orang di bawah atap yang sama: satu memilih mengabaikan, dan satu memilih bertahan.

Dan bagi Nayla, satu hal sudah pasti, Ia mungkin terluka, tapi ia tidak akan menyerah.

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!