Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: CAMP GROUNDED - SINYAL NOL, PERTANYAAN TAK TERHINGGA
Hari ke-1 Tiba: Pelepasan Paksa
Perjalanan ke Puncak naik minibus bersama 8 pasangan pemenang lainnya dari berbagai kategori MatchMade. Suasana canggung. Semua orang saling mengamati, tersenyum tipis, seolah bertanya, "Kalian juga kelinci percobaan?"
Camp Grounded ternyata bukan resort mewah, tapi sekumpulan glamping dome sederhana di tengah hutan pinus. Aturan pertama yang disambut oleh fasilitator bernama Mas Bram (30 an, berjanggut, mata teduh): "Serahkan semua gadget, smartwatch, bahkan fitness tracker. Di sini, waktu diukur dengan matahari, kesehatan diukur dengan napas, dan koneksi diukur dengan tatapan."
Koper mereka digeledah (secara sopan). Kinan merasa seperti akan amputasi saat melepaskan iPhone nya. Ardi malah merasa lega aneh.
Mereka dipisahkan. Laki-laki di dome timur, perempuan di dome barat. "Pemisahan ini untuk melatih ketahanan dan refleksi individual dulu," kata Mas Bram. "Nanti malam, kita kumpul di api unggun."
Dome Ardi berbagi dengan tiga pria lain: seorang programmer bernama Ariel yang terus menerus merasa ada notifikasi hantu di pergelangan tangannya, seorang chef Fahri yang cemas tidak bisa cek review restorannya, dan Bintang, mahasiswa filsafat yang justru terlihat paling damai.
"Mereka memisahkan kita seperti anak sekolahan," gerutu Ardi di dalam hati, sambil merapikan kantong tidur.
Sementara itu, di dome perempuan, Kinan bertemu dengan Maya (influencer kecantikan yang tanpa makeup terlihat 15 tahun lebih muda), Tasya (akuntan yang biasanya menghitung uang, kini menghitung berapa jam tanpa email), dan Dewi (guru yoga yang justru senang).
"Jadi, kalian dengan si burung hantu?" tanya Maya pada Kinan sambil mengoleskan lip balm. "Lucu ya. Dia kayaknya... polos."
Kinan tersenyum dipaksakan. "Iya. Polos."
Tapi dalam diam, dia bertanya pada dirinya sendiri: Siapa sebenarnya Ardi? Yang aku kenal melalui chat, melalui tantangan algoritma, melalui date yang direkam... apakah itu dia? Atau hanya versi yang muncul karena konteks eksperimen?
Malam Hari: Api Unggun dan Kebenaran yang Terbuka
Malam pertama. Api unggun berkobar. 16 orang duduk melingkar. Mas Bram memulai sesi berbagi.
"Di sini, tidak ada nama Instagram, tidak ada job title. Coba perkenalkan diri dengan satu sifat yang paling sering kamu sembunyikan di media sosial."
Giliran Kinan. "Aku... perfeksionis yang sebenarnya sangat berantakan di dalam."
Lalu Ardi. "Aku... orang yang terlihat santai, tapi sebenarnya overthinker akut."
Mata mereka bertemu di balik cahaya api. Sebuah pengakuan yang sederhana, tapi terasa lebih intim daripada semua rekaman yang pernah mereka bagikan ke aplikasi.
Sesi berlanjut. Cerita-cerita mengalir. Ariel menangis karena merasa hidupnya dikendalikan oleh kode dan likes. Tasya mengaku terobsesi dengan produktivitas hingga lupa bagaimana bersantai.
Di tengah kesunyian malam hutan, tanpa notifikasi yang menyela, sesuatu yang otentik mulai muncul.
Hari ke-2: Tantangan Bukan Digital
Kegiatan pagi: "Blind Trail". Sepasang mata ditutup, pasangannya yang memandu hanya dengan suara dan sentuhan, melalui jalur di hutan.
Pasangan dipilih secara acak. Kinan dipasangkan dengan Fahri si chef. Ardi dipasangkan dengan Maya si influencer.
"Jangan khawatir, aku nggak akan bikin kamu jatuh," kata Fahri pada Kinan, suaranya tenang. Kinan, dengan mata tertutup, merasa sangat rentan. Tapi Fahri memandunya dengan sabar, menjelaskan setiap akar yang harus diinjak, setiap dahan yang harus dibungkukkan.
Di sisi lain, Maya menggenggam lengan Ardi dengan kencang. "Aku takut gelap, bahkan pas mataku ditutup!" keluhnya. Ardi, yang biasanya canggung, justru merasa harus melindungi. "Santai aja. Ikutin suara angin aja. Di kiri ada aliran air kecil, jadi kita belok kanan."
Setelah kegiatan, saat makan siang, Kinan dan Ardi bertemu lagi.
"Gimana tadi?" tanya Ardi.
"Menegangkan. Tapi... mengajarkan untuk percaya," jawab Kinan. "Lo dengan Maya gimana?"
"Lucu. Dia ternyata nggak semanja yang dibayangin. Lo dengan si chef?"
"Dia baik. Sabar."
Ada keheningan. Lalu Kinan berkata, pelan, "Gue agak... cemburu tadi."
Ardi menatapnya, terkejut. "Cemburu? Kenapa?"
"Karena lo memandu perempuan lain. Dan dia menggenggam lo." Kinan mengeluarkan kata-kata itu, lalu terlihat malu. "Ini... ini bodoh. Kita bahkan bukan..."
"Tapi gue juga cemburu," sahut Ardi, cepat. "Waktu liat lo pegang tangan si chef."
Mereka saling memandang. Pengakuan itu menggantung di udara dingin pegunungan, lebih hangat dari api unggun.
"Algoritma nggak pernah nyuruh kita ngomong ini," bisik Kinan.
"Karena ini beneran," jawab Ardi.
Hari ke-3: Badai dan Kebersamaan
Hujan turun deras, mengurung semua orang di aula besar. Listrik padam. Hanya lilin dan lampu tempel yang menerangi.
Mas Bram mengajak permainan: "Two Truths and a Lie versi tanpa filter." Setiap orang harus mengatakan dua kebenaran dan satu kebohongan tentang perasaan mereka saat ini.
Giliran Ardi: "1. Aku senang di sini. 2. Aku kangen sama laptop dan gitarku. 3. Aku nggak peduli dengan apa yang terjadi setelah retret ini selesai." Lie nya adalah nomor 3. Semua orang, terutama Kinan, bisa merasakannya.
Giliran Kinan: "1. Aku merasa bebas tanpa media sosial. 2. Aku takut kembali ke dunia nyata. 3. Aku nggak punya perasaan romantis pada siapapun di sini." Lie nya adalah nomor 3. Ardi menahan napas.
Di saat yang sama, di ruang kontrol tersembunyi berjarak 2 kilometer dari camp, Genta dan dua anggota timnya sedang memantau. Meski tidak ada gadget pada peserta, camp ini dipasangi sensor suara dan thermal camera yang tersembunyi di beberapa titik strategis.
"Pair 047 menunjukkan peningkatan interaksi fisik dan kedekatan emosional," lapor seorang tim. "Tapi ada anomali. Mereka mulai berbagi perasaan yang tidak terduga oleh algoritma rasa cemburu. Itu di luar parameter 'growth' yang kami tetapkan."
"Bagus," gumam Genta. "Itu berarti eksperimen berhasil. Mereka berkembang melampaui kode kita. Catat sebagai data kualitatif."
"Apakah etis, Mas? Mereka pikir mereka bebas dari pengawasan."
"Semua ada di dalam perjanjian yang mereka setujui klausul 14.b: 'Data dapat dikumpulkan melalui lingkungan yang dikendalikan untuk tujuan penelitian'. Mereka setuju." Tapi bahkan suara Genta terdapat sedikit keraguan.
Hari ke-4: Menemukan yang Tak Terduga
Kegiatan: "Silent Hike". Sepanjang perjalanan mendaki ke air terjun kecil, tidak boleh ada kata-kata yang diucapkan.
Ardi dan Kinan berjalan beriringan. Mereka berkomunikasi dengan tatapan, dengan gerakan tangan, dengan senyuman. Saat Kinan hampir terpeleset di batu licin, Ardi dengan refleks memegang lengannya, dan tidak melepaskannya. Mereka terus berjalan, tangan dalam tangan, dalam keheningan yang berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Di air terjun, mereka duduk di sebuah batu besar. Suara gemuruh air menghanyutkan segala kebisingan pikiran.
Kinan mengambil sebatang ranting, menulis di tanah yang lembab: "Aku takut."
Ardi melihat, lalu menulis di sebelahnya: "Kenapa?"
"Karena ini nyata. Dan nggak ada algoritma yang bisa disalahkan kalo gagal."
Ardi memandangnya lama, lalu menulis dengan huruf besar: "MAKA JANGAN GAGAL."
Dia menghapus kata-kata itu dengan kakinya, lalu menggantinya dengan: "Ayo coba aja."
Kinan tersenyum, air matanya meleleh, tercampur dengan percikan air terjun. Ini bukan air mata sedih. Ini air mata kelegaan.
Hari ke-5: Perpisahan dan Janji
Pagi terakhir. Semua orang berkumpul untuk sesi penutupan. Mas Bram meminta setiap orang berbagi satu pelajaran.
Kinan maju. "Aku belajar... bahwa keindahan yang tidak dikurasi justru lebih tahan lama. Dan... bahwa kadang, koneksi terkuat datang dari gesekan, bukan dari kesamaan." Matanya mencari Ardi.
Ardi maju. "Aku belajar buat berani... tunjukin yang nggak perfect. Dan ternyata, nggak ada yang runtuh."
Saat bersiap pulang, gadget dikembalikan. Tapi sesuatu aneh terjadi. Tidak ada yang langsung menyalakannya. Mereka saling bertukar kontak asli nomor HP, bukan Instagram.
Di minibus yang membawa mereka turun gunung, Kinan dan Ardi duduk bersebelahan. HP mereka masih mati.
"Jadi," kata Ardi. "Apa yang terjadi sekarang? Eksperimen selesai. Kita menang. Retreat berakhir."
"Kita balik ke dunia nyata," jawab Kinan. "Di mana ada aplikasi MatchMade, ada followers, ada Pak Suryo yang nungguin konten kolaborasi, ada algoritma yang masih mengamati kita."
"Apakah kita akan biarin algoritma itu tentuin lanjutannya?"
Kinan memandang keluar jendela, melihat pepohonan yang mulai berganti dengan billboard dan warung. "Nggak. Kita yang tentuin." Dia mengambil HP-nya, menyalakannya. Notifikasi dari MatchMade langsung membanjir: "Welcome back! How was your retreat? Share your experience! You've been upgraded to 'Power Couple' status!"
Dia menunjukkan layarnya ke Ardi. "Lihat? Mereka sudah kasih label. 'Power Couple'."
Ardi mengeluarkan HP-nya. Notifikasi serupa. "Jadi, apa yang kita lakukan? Hapus aplikasinya?"
"Belum," kata Kinan, pikirannya bekerja cepat. "Kita ekspos dulu. Kita bikin dokumentasi lengkap dari awal accidental like, sampai retreat ini. Kita tunjukin ke semua orang bagaimana mereka memanipulasi, mengawasi, dan memberi label. Tapi..." dia menatap Ardi, "...kita lakukan itu berdua. Dan setelah itu, kita hapus aplikasinya, dan kita tentuin sendiri langkah selanjutnya. Tanpa algoritma. Tanpa challenge. Cuma... kita."
Ardi tersenyum, senyum lepas yang pertama kali Kinan lihat. "Gue suka rencana itu. Tapi, satu pertanyaan."
"Apa?"
"Sebelum kita ekspos semuanya... kita masih mau ketemu kan? Misalnya... besok? Buat ngerjain dokumentasi itu?"
Kinan tersenyum balik. "Iya. Tapi tempatnya kita yang pilih. Bukan aplikasi."
"Warteg Maknyus?"
"Warung kopi Klotok."
"Deal."
Mereka bersandar di kursi, tangan mereka secara tidak sengaja bersentuhan di antara kursi bus. Tidak ada yang menariknya.
Epilog: Dua Hari Setelah Retreat
Kosan Ardi, siang hari. Laptop terbuka, timeline video penuh dengan klip: screenshot accidental like, DM panik, video Dadu Challenge, cuplikan dari tantangan MatchMade, dan rekaman suara dari retret (yang mereka rekam diam-diam dengan recorder analog kecil yang diselundupkan Kinan).
Mereka sedang menyunting video eksposé terakhir.
"Ini bagian dimana kita tunjukin klausul tersembunyinya," kata Kinan, menunjuk layar.
"Trus di sini kita kasih analisis, bagaimana mereka pakai data biometric," tambah Ardi.
Mereka bekerja seperti mesin yang diselaraskan dengan baik. Tanpa perlu banyak bicara, mereka tahu apa yang harus dilakukan.
Saat rendering, Kinan berhenti sejenak. "Ardi. Apa kita melakukan ini karena kita merasa dimanfaatkan? Atau... karena kita mau klaim cerita kita sendiri?"
"Keduanya," jawab Ardi. "Tapi terutama yang kedua. Aplikasi ini mau narik narasi kita. Tapi cerita ini... cerita kita."
Kinan mengangguk. "Setelah video ini rilis, semuanya akan berubah. Mungkin MatchMade akan marah. Mungkin followers akan bingung. Tapi... gue nggak takut."
"Gue juga."
Malam itu, video berjudul "How a Dating App Algorithm Tried to Engineer Our Love Story (And Why We're Taking It Back)" diunggah secara serentak di YouTube Dadu Champ dan channel Kinan.
Dalam waktu satu jam, video itu viral. Dibagikan oleh akun-akun aktivis digital, diulas oleh media online. MatchMade mengeluarkan pernyataan: "Kami hanya memfasilitasi koneksi. Partisipasi adalah sukarela."
Tapi kerusakan telah terjadi. Banyak pengguna lain mulai menceritakan pengalaman serupa.
Di tengah gemuruh itu, Ardi dan Kinan duduk di warung kopi Klotok, HP mereka di silent. Mereka minum kopi, melihat video itu bersama di laptop kecil.
"Jadi," kata Ardi. "Apa sekarang?"
"Sekarang," jawab Kinan, menutup laptop. "Kita mulai dari nol. Tanpa algoritma. Tanpa tantangan. Cuma dua orang yang ketemu karena kesalahan, dan memutuskan untuk tetap bersama karena... pilihan."
Dia mengulurkan tangannya di atas meja, telapak terbuka. Sebuah undangan, sebuah pertanyaan.
Ardi melihat tangan itu, lalu matanya yang penuh kepercayaan. Dia meletakkan tangannya di atasnya. Tidak ada dadu yang dilempar. Tidak ada notifikasi yang membimbing.
Hanya sebuah keputusan, di sebuah warung kopi butut, yang terasa lebih benar daripada apa pun yang pernah direkomendasikan oleh algoritma.
Di layar laptop yang sudah gelap, pantulan cahaya lampu neon warung memperlihatkan senyum mereka tidak sempurna, tidak terkurasi, tapi sungguh-sungguh nyata.