NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Dua Dunia : Baby Alexie

Takdir Cinta Dua Dunia : Baby Alexie

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Yatim Piatu / Romansa Fantasi / Ibu Pengganti / Mafia / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.

Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.

Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.

Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei

Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

🌹🌹💞Bismillahirrahmanirrahim 💞🌹🌹

Visual Cintya Kasih Andra (18th)

Visual Arkana Xavier Dimitri (24th)

Visual Baby Alexie

_______&&______

"Hy Cin, yakin nih nggak mau Kakak anterin? Udah malem lho ini, ntar diculik alien yang nyamar jadi tukang bakso, gimana?" ujar Rico, matanya menyipit jahil di balik lampu neon kafe yang remang-remang. Cintya memutar bola matanya malas, tapi senyumnya mengembang. Rico selalu seperti itu, cerewet tapi perhatian, seperti kakak laki-laki yang tidak pernah ia miliki.

"Ya ampun, Kak Rico! Aku udah gede, bukan anak bawang lagi. Lagian, kontrakan aku kan cuman 10 menit jalan kaki dari sini. Lagipula ...," Cintya mendekat, berbisik dengan nada dramatis, "Aku punya jurus menghilang kalau ada yang macem-macem!"

"Poof!" Ia memasang pose konyol ala Sailor Moon, lengkap dengan gerakan tangan yang lebay.

"Hahaha! Dasar bocah ada-ada aja dah!" kekeh Rico yang tak bisa menahan tawanya melihat tingkah lucu Cintya.

Rico adalah pemilik cafe tempat Cintya bekerja. Chitya yang ramah dan ceria membuat semua orang mudah akrab dengannya. Tak kecuali Rico yang sudah menganggap Cintya sebagai adik perempuannya sendiri.

"Ya sudah, kalau gitu hati-hati ya, Cin. Jangan lupa, kalau ada apa-apa, teriak aja yang kenceng. Siapa tahu nanti ada pangeran berkuda putih yang denger," goda Rico sambil mengacak rambut panjang Cintya dengan gemas.

"Siap, Bos! Laksanakan!" Cintya memberi hormat ala kadarnya, lalu melambai riang saat Rico mulai menjauh dengan motor sport merah kesayangannya.

Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Cintya, si gadis ceria dengan sejuta ide aneh di kepalanya, baru saja selesai bekerja di sebuah cafe di ibu kota. Setelah mengganti seragamnya dengan kaus oblong bergambar kucing dan memakai hoody oversize kesayangannya yang di padukan sama celana jeans hitam, ia bergegas menyusuri jalan pintas dari arah belakang cafe.

Biasanya, dia akan langsung scan Spotify buat nyari playlist yang pas buat nemenin langkahnya menuju kontrakan. Tapi malam ini, entah kenapa, dia merasa ada yang aneh.

Jalan pintas itu terlalu sunyi, hanya diterangi rembulan yang mengintip malu-malu di antara pepohonan. Biasanya, Cintya akan membayangkan dirinya sebagai putri yang tersesat di hutan ajaib. Tapi malam ini, hawa dingin merayap di tulang punggungnya, bukan karena udara malam, tapi karena perasaan aneh yang tiba-tiba menghantui pikirannya.

Perasaan seperti ada mata yang mengawasi dari kegelapan, atau seperti ada sesuatu yang buruk akan terjadi, sesuatu yang tak terhindarkan.

"Asiiiik ... malam ini aku akan bertemu dengan peri-peri cantik!" serunya, mencoba mengusir perasaan aneh itu. Cintya selalu percaya, kalau pikiran positif bisa mengubah segalanya.

Namun, senandung riang Cintya tiba-tiba terhenti. Samar-samar, telinganya menangkap suara lirih yang memilukan. Awalnya, ia mengira hanya halusinasinya saja, tapi suara itu semakin jelas, semakin memohon. Suara seorang wanita minta tolong.

"Suara apa itu? Gak mungkin Mbak kun-kun, kan?" cetus Cintya sambil bergidik ngeri sambil mengelus lengannya yang tiba-tiba terasa dingin.

"Eh tunggu dulu deh! Mbak Kun, ngapain minta tolong, ya? Apa ia lupa cara turun? lanjut Cintya heran.

Namun suara itu kembali terdengar, jantung Cintya berdegup kencang, bukan lagi karena rasa takut, tapi karena dorongan untuk menolong. Ia menoleh ke arah suara berasal, dari balik rimbunan ilalang yang menjulang tinggi di sisi jalan.

Angin malam berdesir, membuat ilalang itu bergoyang-goyang seperti sedang menari, menyembunyikan misteri di baliknya.

Dengan langkah ragu, namun penuh tekad, Cintya mendekati ilalang itu. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang mencoba menahan langkahnya. Suara minta tolong itu semakin jelas terdengar, semakin mendesak.

"Tolong ... siapapun ... tolong kami ...."

Cintya menyibak ilalang itu dengan tangan sedikit gemetar. Pemandangan yang menyambutnya membuat napasnya tercekat. Di sana, di antara rimbunnya ilalang, seorang wanita tergeletak lemah. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya berlumuran darah segar yang masih mengalir di bagian pahanya.

Di dekapannya, seorang bayi mungil yang terlelap. Matanya terpejam, bibirnya melengkung membentuk senyum kecil. Cintya terpaku di tempat. Bayi itu ... terlihat seperti malaikat kecil.

Wanita itu mendongak, matanya yang sayu menatap Cintya dengan tatapan memohon. Senyum samar terukir di bibirnya yang bergetar. Senyum yang lebih terasa seperti sebuah perpisahan.

"Tolong ... tolong jaga putra saya," bisiknya dengan suara serak. "Dia ... dia satu-satunya yang kupunya." lirihnya lemah.

Dengan sisa tenaganya, wanita itu mengulurkan bayinya ke Cintya. Bayi itu hanya menggeliat pelan perlahan matanya terbuka seolah tahu jika ia akan berpisah dengan pelindungnya.

Dan ajaibnya sang bayi tanpa menangis, ia terlihat tenang di gendongan Cintya namun sorot matanya tak lepas pada sosok lemah di hadapannya. Cintya memeluk bayi itu erat-erat, merasakan kehangatan tubuh mungil itu di dadanya.

"Si ... siapa yang tega melakukan ini padamu?" tanya Cintya dengan suara bergetar, ia ikut merasakan sesak melihat penderitaan wanita di hadapannya seolah ada sesuatu yang hilang bersamaan.

Wanita itu menggeleng lemah. "Tidak ada waktu untuk menjelaskan ... yang penting ... kalian berdua harus cepat pergi dari sini, orang-orang jahat itu pasti akan terus memburu kami, cepat pergi dan bawa ini!" wanita itu memberikan sebuah dompet kecil berwarna hitam ke arah Cintya.

"Tapi Mbak ..." ucapan Cintya menggantung di udara.

"Aku mohon, cepat kalian pergi!" tegasnya penuh permohonan nafas wanita itu semakin berat, matanya mulai terpejam. Cintya panik, ia berusaha membangunkan wanita itu, namun sia-sia.

"Jangan ... jangan menyerah Mbak! Bertahanlah! Setidaknya demi putramu! Dia membutuhkanmu!" teriak Cintya histeris, air mata yang sempat mengenang di pelupuk matanya kini meluncur bebas membasahi pipi mulusnya tanpa permisi.

Wanita itu membuka matanya sekali lagi, menatap Cintya dan putranya bergantian lalu tatapan terakhir bertahan pada Cintya dengan tatapan penuh harapan. "Janji ... janjilah padaku ... kau akan menjaganya."

Cintya refleks mengangguk cepat. "Aku janji! Aku janji!" jawab Cintya dengan suara tercekat. Cintya tahu ini bukan saatnya bertanya lagi. Mau tak mau ia memang harus memikul tanggung jawab besar ini.

Wanita itu tersenyum lega, lalu menghembuskan napas terakhirnya. Cintya memeluk bayi itu semakin erat, air matanya tumpah ruah membasahi pipinya. Malam itu, di tengah kesunyian dan kegelapan, Gadis bernama lengkap "CINTYA KASIH ANDARA." Yang baru saja menyelesaikan sekolah menengah atas itu harus mengambil keputusan dan terikat janji pada wanita yang telah pergi untuk selamanya dan mempercayakan buah hatinya padanya. Cintya tahu setelah ini hari-harinya tak akan lagi sama.

Jantung Cintya berpacu semakin cepat. Suara langkah kaki yang mendekat terdengar berat dan tergesa-gesa, seperti suara langkah pemburu yang mengejar mangsanya. Dengan sekuat tenaga, ia menahan isak tangisnya, berusaha untuk tidak panik.

Perlahan, ia beringsut menjauh dari tubuh wanita malang itu, mencari tempat persembunyian yang aman. Tangannya mendekap erat bayi itu, berharap kehangatan tubuhnya bisa menenangkan sang bayi. Dengan langkah hati-hati, ia bersembunyi di balik sebuah pohon besar, berharap kegelapan malam bisa menyembunyikannya dari bahaya yang sedang mengintai.

Tak lama kemudian, segerombolan orang bertopeng dengan pakaian serba hitam dan membawa senjata menyerbu tempat itu. Aura mereka begitu gelap dan mengancam, membuat bulu kuduk Cintya meremang seketika.

"Bos, wanita ini sudah mati!" lapor salah seorang dari mereka dengan nada dingin.

"Sial! Biarkan saja dia, cepat kalian cari anaknya! Jangan sampai keturunannya Dimitri lolos!" bentak seorang pria dengan suara lantang.

"Cari sampai dapat! Itu perintah Bos!"

Cintya menggigil mendengar percakapan itu. Ia semakin mendekap erat bayi di tangannya, menyembunyikan wajah mungil itu di balik dekapannya.

"Siapa mereka? Kenapa mereka begitu bernafsu ingin menemukan bayi ini? Gawat! Bayi ini dalam bahaya sekarang," batin Cintya berbisik panik.

Dengan langkah mengendap-endap, ia berusaha menjauh dari tempat itu, menghindari tatapan mata para pria berpakaian hitam yang sedang mencari. Setiap suara gemerisik dedaunan membuatnya terkesiap, setiap bayangan membuatnya waspada. Ia harus segera membawa bayi ini ke tempat yang aman.

Setelah berjalan dalam kegelapan dan ketegangan yang mencekam, akhirnya Cintya sampai di kontrakan sederhananya. Sebuah rumah kecil dengan dinding yang mulai mengelupas. Namun, bagi Cintya, kontrakan itu adalah tempat perlindungan, tempat di mana ia bisa merasa aman.

Dengan napas terengah-engah, dan tangan gemetar Cintya membuka pintu kontrakannya dan segera masuk ke dalam. Ia mengunci pintu dengan rapat, lalu bersandar di balik pintu itu, mencoba menenangkan diri. Bayi di dekapannya masih terdiam, seolah mengerti bahwa mereka sedang dalam bahaya.

Cintya menatap bayi itu dengan tatapan campur aduk, antara lega, sedih dan penasaran. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi, ia berjanji, ia akan melakukan apa pun untuk melindungi bayi ini. Meskipun harus meninggalkan segalanya.

"Mulai sekarang, aku adalah pengganti ibumu," bisik Cintya pelan.

Kemudian, tatapannya tertuju pada sebuah dompet hitam yang diberikan oleh wanita itu. "Apa isinya, ya?"

Bersambung ...

1
Marsya
lanjut kak, makin keren dan bikin penasaran, gak sabar deh apa yang akan terjadi selanjutnya. kalau bisa up Doble kak
Eridha Dewi
next thor
Ai Sri Kurniatu Kurnia
bagus thor
riniandara
Assalamualaikum semua! semoga semua dalam keadaan sehat ya. bagaimana menurut kalian karya ini. jangan lupa support dan tinggalkan jejak ya biar author semangat upnya terimakasih./Applaud//Kiss/
Marsya: lanjut kak seru banget aku suka/Heart//Heart//Heart//Heart/
total 2 replies
☘️💮Jasmine 🌸🍀
kgn baby al thor
riniandara: baby Al menyapa kak /Facepalm/
total 1 replies
Marsya
lanjut thor
Marsya
Ngeri juga ya
Marsya
siap-siap saja mendapatkan murkanya Arkan
Marsya
semangat Arkana, baby alexie aman sama bundanya
Marsya
makin seru Thor lanjut terus ya.
Miu Miu 🍄🐰
next thor
Marsya: lanjut thor
total 2 replies
Iqlima Al Jazira
🤩🤩
Eridha Dewi
next thor
riniandara: siap kakak/Good/
total 1 replies
Inah Ilham
baru juga keluar... dah main dor doran aja sih thor
Iqlima Al Jazira
next thor👍
ngga sabar nunggu paman & bunda sah.
kopi untuk mu
Marsya: lanjut Thor, semakin penasaran aja
total 2 replies
V3
Arkana bakal mengamuk nih , siap-siap ja dibantai sama Arkana 🤣🤣
V3
waalaikumsalam kak Rini 🤗
aku mencoba mampir di novel mu 🤗
di awal Bab ceritanya dh seru bgt ,, smg selanjutnya ceritanya bagus
V3: Ok kak Rini 🤗
total 2 replies
Iqlima Al Jazira
vote untuk mu👍
riniandara: terima kasih banyak kakak
total 1 replies
Iqlima Al Jazira
crazy up thor
Iqlima Al Jazira
next thor
riniandara: suap kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!