NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menanyakan Status

Pagi itu, hujan turun rapi, seperti sudah diatur waktunya.

Arman baru saja selesai rapat ketika ponselnya berdering. Itu panggilan dari Susan.

Arman tidak langsung berdiri.

Di kantor itu, hubungan mereka selalu tampak rapi dari luar.

Arman berada satu lantai di atas Susan secara struktural dan secara kuasa. Jabatan manajerial yang ia pegang membuat namanya tercantum di setiap lembar persetujuan, setiap keputusan strategis.

Susan, di sisi lain, adalah karyawan berprestasi. Cerdas. Cekatan. Selalu tepat waktu. Selalu satu langkah lebih siap dari yang diminta.

Dan selama ini, Arman membiarkannya begitu.

Setiap pagi, Susan datang lebih awal. Meletakkan map di meja Arman sebelum rapat dimulai. Mengingatkan jadwal. Menyaring telepon. Ia tahu ritme Arman bahkan sebelum Arman sendiri menyadarinya. Semua itu dilakukan tanpa pernah melewati batas yang tampak setidaknya di mata orang lain. Namun batas itu sebenarnya kabur.

Arman tidak pernah melarang kedekatan itu. Tidak menegur ketika Susan menunggu terlalu lama di ruangannya. Tidak mengoreksi ketika nada bicaranya berubah lebih personal setelah jam kerja. Ia menerima semuanya sebagai bagian dari kenyamanan. Sebagai sesuatu yang tersedia.

Dan Susan membaca penerimaan itu sebagai izin.

Di kantor, mereka tetap atasan dan bawahan. Nada bicara Arman profesional saat pintu terbuka. Susan selalu memanggilnya dengan jabatan. Tidak ada yang bisa dituding secara kasatmata.

Tapi di ruang sempit di antara jam makan siang dan lembur, di antara percakapan yang tidak tercatat di kalender resmi, Susan merasa dirinya lebih dari sekadar karyawan.

Arman tidak pernah turun dari posisinya sebagai atasan.

Ia tidak pernah menyejajarkan diri.

Ketika kini Arman mulai menjaga jarak membatasi komunikasi, memotong percakapan, mengembalikan semuanya ke jalur formal, Susan baru menyadari betapa rapuh posisi yang selama ini ia kira aman. Bukan karena Arman berubah jabatan.

Melainkan karena ia akhirnya menggunakan jabatan itu sepenuhnya.

Dan Susan, yang selama ini berdiri terlalu dekat dengan pusat kuasa, mendadak harus mundur ke tempat semula

sebagai karyawan, yang tidak berhak menuntut apa pun di luar pekerjaannya.

Arman menatap layar laptopnya beberapa detik lebih lama dari perlu. Ada sesuatu di dadanya yang menegang, bukan karena rindu, melainkan karena firasat bahwa percakapan ini tidak akan sederhana.

"Ya,” jawab Arman akhirnya.

"Aku ingin masuk."

"Masuklah!"

Susan masuk dengan langkah cepat. Hari itu ia tidak berpakaian seperti biasanya. Tidak ada senyum profesional yang terlatih. Rambutnya dibiarkan terurai sedikit berantakan, mata sedikit merah, bukan karena menangis, tapi karena menahan terlalu lama.

“Kenapa kamu tidak membalas pesanku?” tanyanya tanpa basa-basi.

Arman mendongak, menutup map di depannya. “Aku sibuk.”

“Kamu selalu sibuk sekarang,” balas Susan. “Sejak… dia muncul.”

Kata dia menggantung di udara. Tidak disebutkan nama. Tidak perlu.

Arman berdiri, memberi isyarat agar ia duduk. Susan menolak, tetap berdiri di depan mejanya, seperti seseorang yang datang bukan untuk berdiskusi, melainkan menuntut.

“Kalau ini tentang Dara,” Arman memulai.

“Bukan tentang Dara,” potong Susan cepat. “Ini tentang kita.”

Kalimat itu membuat Arman terdiam sejenak. Bukan karena ia tersentuh, melainkan karena ia harus memilih kata dengan hati-hati.

“Kita?” ulangnya.

Susan tertawa kecil, getir. “Jangan pura-pura tidak tahu. Semua orang di kantor tahu. Aku dan kamu. Makan siang bersama. Lembur. Liburan kerja. Kamu tidak pernah menyangkal.”

“Aku juga tidak pernah menjanjikan apa pun,” jawab Arman tenang.

Nada itu. Datar. Tidak defensif. Justru itulah yang membuat Susan semakin panas.

“Kamu membiarkanku berharap,” katanya, suaranya mulai naik. “Kamu membiarkanku berada di sisimu. Kamu membiarkanku berpikir...”

“Berpikir apa?” Arman memotong, masih dengan suara rendah. “Bahwa aku milikmu?”

Susan terdiam. Dadanya naik turun.

“Aku tidak pernah mengatakan itu,” lanjut Arman. “Dan aku tidak pernah mengikatmu.”

“Kamu tidak perlu mengucapkan kata-kata,” balas Susan. “Sikapmu cukup.”

Arman menghela napas pelan. Ia melangkah keluar dari balik meja, berdiri di hadapan Susan, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.

“Dengarkan aku,” katanya. “Aku menghargai kebersamaan kita. Tapi aku tidak pernah menyebutnya hubungan.”

Susan menatapnya, matanya berkaca. “Lalu apa aku bagimu?”

Pertanyaan itu tidak dijawab cepat. Arman berpikir sebentar, lalu berkata dengan jujur yang dingin.

“Rekan. Teman. Seseorang yang dekat.”

Susan tersenyum pahit. “Dan sekarang?”

“Sekarang tidak ada yang berubah,” jawab Arman. “Kecuali persepsimu.”

Itu pukulan yang rapi. Tidak keras, tapi tepat.

Susan menarik napas panjang, lalu berkata pelan, hampir berbisik, “Kamu menyukainya.”

Arman tidak menyangkal.

Keheningan memanjang, menekan.

“Sejak kapan?” tanya Susan.

“Tidak relevan,” jawab Arman.

Susan tertawa, kali ini lebih tajam. “Kamu bahkan tidak mencoba menyangkal. Menarik.”

Ia melangkah mendekat, suaranya lebih rendah. “Apakah dia tahu tentang aku?”

“Dia tidak perlu tahu,” jawab Arman.

“Karena aku bukan siapa-siapa?” Susan menantang.

“Karena ini urusanku,” balas Arman.

Susan menatapnya lama, seolah mencoba menemukan celah, emosi, keraguan. Namun wajah Arman tetap tenang, hampir kejam dalam ketenangannya.

“Kamu tidak adil,” katanya akhirnya.

“Mungkin,” jawab Arman. “Tapi aku jujur.”

Susan menggeleng pelan. “Kamu berubah.”

Arman menatap jendela sesaat, lalu kembali menatap Susan. “Tidak. Aku hanya berhenti bersikap seolah aku berutang penjelasan atas hidupku.”

Susan terdiam.

“Jadi apa sekarang?” tanyanya pelan. “Apa posisiku?”

Arman menjawab tanpa ragu, kalimatnya terukur, dingin, dan akan membekas lama.

“Kamu bebas memilih pasangan,” katanya. “Bebas jatuh cinta. Bebas pergi.”

Susan menahan napas.

“Tapi,” lanjut Arman, menatap langsung ke matanya, “kecuali aku.”

Kata-kata itu jatuh seperti pintu yang dikunci dari dalam.

Susan menatapnya tidak percaya. “Kamu ingin aku menunggu?”

“Tidak,” jawab Arman. “Aku ingin kamu berhenti menganggap aku milikmu.”

“Dan kamu?” suara Susan bergetar. “Kamu bebas melakukan apa saja?”

Arman tidak tersenyum. “Aku selalu begitu.”

Hening.

Susan merasakan sesuatu runtuh di dadanya. Bukan hanya harapan, tapi ilusi bahwa ia pernah memiliki tempat istimewa.

“Dia berbeda,” kata Susan tiba-tiba. “CEO itu. Dara. Aku bisa melihatnya.”

Arman tidak menanggapi.

“Dia tidak akan jatuh padamu dengan cara yang sama,” lanjut Susan. “Dia tidak akan menunggu.”

“Aku tidak memintanya,” jawab Arman.

Susan menunduk, lalu tertawa kecil. “Kamu bahkan tidak sadar, ya? Dia yang mengatur jarak. Bukan kamu.”

Arman menatap Susan tajam. “Hati-hati.”

Susan mengangkat wajahnya. “Aku hanya mengatakan apa yang kulihat. Kamu mengejar seseorang yang tidak pernah mengejarmu kembali.”

Arman diam.

Kalimat itu mengenai sesuatu di dalam dirinya, tapi ia tidak menunjukkannya.

“Percakapan ini selesai,” katanya akhirnya.

Susan mengangguk pelan. Ia merapikan tasnya, berdiri lebih tegak.

“Aku tidak akan menunggu,” katanya, seolah meyakinkan dirinya sendiri.

“Bagus,” jawab Arman.

Susan berjalan menuju pintu, lalu berhenti sejenak tanpa menoleh.

“Aku tidak akan kalah tanpa alasan,” katanya pelan.

Pintu tertutup.

Arman kembali ke mejanya, duduk perlahan. Tangannya meraih ponsel, refleks lama yang dulu selalu membawanya pada pesan Susan.

Nama itu muncul di layar.

Ia menatapnya beberapa detik.

Lalu layar dipadamkan.

Di tempat lain, di lantai tertinggi gedung Valencia Group, Dara berdiri di depan jendela, memandang kota. Danu masuk tanpa suara.

“Susan baru saja menemui Arman,” katanya ringan.

Dara tidak menoleh. “Aku tahu.”

“Kamu tidak khawatir?”

Dara tersenyum tipis. “Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena jika seseorang datang menuntut posisi,” jawab Dara tenang, “itu berarti posisinya memang tidak pernah kokoh.”

Danu mengangguk pelan.

Dara menatap pantulan dirinya di kaca. Wajahnya tenang, hampir dingin.

Arman sedang mengatur langkahnya.

Susan mulai kehilangan pijakan.

Dan Dara tidak bergerak sama sekali. Ia hanya menunggu.

1
Kam1la
terimakasih....😍
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo hadir kak🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
🌹hadiah bwt kaka🤗
Kam1la: terimakasih....😍😍
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
👋
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo kak maaf bru mampir lagi🤗
Kam1la: ok Kak, semoga terhibur
total 1 replies
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!