NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.

Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehangatan Di Tengah Badai

**Tiga Hari Sebelum Duel**

Luka Jeka sudah sembuh total, tapi sikapnya jadi jauh lebih waspada. Matanya menatap Misca dan Vino bergantian.

"Mis, Vin, kalian harus hati-hati," kata Jeka serius. "Orang-orang itu bukan main-main. Mereka udah berani nyerang kita. Pasti mereka bakal coba lagi sebelum hari duel."

Misca mengangguk pelan. "Aku tahu, Jek. Aku udah siapkan beberapa langkah pencegahan. Vino, gimana patroli internal?"

"Udah beres, Mis," jawab Vino. "Bima sama anak-anak yang lain kerja bagus banget waktu patroli. Nggak ada keributan sama sekali. Mereka bener-bener udah berubah."

Misca sengaja belum cerita soal organisasi predator brutal yang disebutin Raka. Dia tahu kedua temannya ini gampang terbawa emosi. Kalau mereka tahu ada ancaman sebesar itu, fokus mereka bakal pecah. Mereka cuma bakal tarung pakai amarah—yang justru jadi kelemahan terbesar.

"Jeka, Vino, fokus kita tetap ke duel," kata Misca tegas. "Kita harus menang dan nyatuin semua wilayah. Itu jalan tercepat buat beresin semua gangguan dari luar."

---

Tiba-tiba Raya masuk ke kafe sambil bawa buku paket Fisika. Senyumnya langsung mengembang begitu lihat Misca.

"Misca, bisa bantu aku sebentar?" tanya Raya sambil mendekat. "Aku masih bingung kenapa rumus energi potensial berubah kalau ada medan gravitasi yang melengkung."

"Gravitasi yang melengkung itu seperti kekacauan sistemik. Energi potensial harus disesuaikan untuk mencapai keseimbangan baru," jawab Misca. Tanpa sadar, dia selalu menghubungkan hukum fisika dengan hidupnya sendiri.

Raya tertawa kecil. "Kamu tuh selalu aja menghubungkan semuanya sama hidup ya, Mis."

Lalu wajah Raya berubah lebih serius. "Misca, kamu kelihatan sangat lelah," ucapnya pelan tapi tegas. "Kayaknya udah lama banget kamu nggak sempat istirahat sejenak, selain waktu di festival yang berantakan kemarin itu."

Raya mengambil napas dalam, memberanikan diri. "Besok... mau nggak kamu keluar lagi? Kita nggak perlu ke festival. Kita bisa ke tempat yang lebih tenang. Aku cuma pengen kamu istirahat sebentar. Kumohon?"

Jeka dan Vino menahan napas, menunggu jawaban Misca. Ngajak dia keluar di tengah situasi genting kayak gini? Itu bertolak belakang dengan semua perhitungan dan prinsip yang biasanya dia pegang.

Misca menatap mata Raya lama. Dia melihat ketulusan di sana. Entah kenapa, tiba-tiba muncul dorongan kuat untuk melindungi Raya—dari The Phantom, dari organisasi predator yang diceritakan Raka, dari semua kekacauan yang akan segera meledak. Kalau dia harus bertarung demi kedamaian, dia juga harus jaga sumber ketenangan itu sendiri.

Misca nggak mau Raya jadi korban dari dunia yang kejam ini.

Akhirnya Misca mengangguk kecil dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat. Tapi Jeka dan Vino tahu—itu tanda setuju.

"Baiklah," jawab Misca pelan. "Kamu ada tempat yang pas buat menjauh dari semua kekacauan ini?"

Raya tersenyum lebar. "Aku tahu tempat yang sempurna."

Saat Raya berbalik dengan riang, Misca merasakan dorongan yang sangat kuat. Dia harus pastikan Raya aman. Dia harus jemput Raya dan pastikan setiap langkahnya terlindungi. Misca tahu ini risiko besar—membawa Raya keluar di tengah ancaman ganda yang mengintai. Tapi dia rela ambil risiko itu demi menjaga kewarasan hatinya sendiri.

---

Raya sudah benar-benar terbiasa dengan lingkungan barunya. Nggak lagi bingung saat nyusuri lorong panjang atau duduk sendirian di kantin. Berkat bimbingan Misca yang terencana banget, Raya sekarang paham struktur kurikulum sekolah yang rumit. Bahkan dia tahu rute tercepat dan paling sepi ke perpustakaan pusat.

Misca memang sering bantu Raya. Buat orang lain, itu terlihat seperti perhatian tulus. Tapi buat Misca, keberadaan Raya adalah tanggung jawab baru yang harus berjalan lancar. Dia pengen Raya cepat terbiasa dengan semuanya supaya nggak ada yang ganggu fokusnya menghadapi konflik wilayah.

Raya juga sering menghampiri Misca dengan berbagai pertanyaan.

"Misca, kenapa aku harus kerjain soal ini pakai metode P kalau metode Q terlihat jauh lebih cepat?" tanya Raya suatu pagi sambil tunjukin bukunya.

Misca, yang lagi teliti baris demi baris di buku pelajarannya, menjawab tanpa menoleh. "Metode Q punya risiko kesalahan cukup besar karena langkah-langkahnya terlalu spekulatif. Metode P jauh lebih aman dan akurat. Keunggulan sebenarnya itu saat kita bisa bergerak cepat tanpa bikin kesalahan."

---

**Satu Hari Sebelum Duel - Malam Hari**

Misca minta izin sama orang tuanya.

"Aku mau keluar malam ini. Mungkin pulang agak malem," kata Misca.

Laras, ibunya, tersenyum hangat. "Pergilah, Nak. Kamu butuh waktu buat nikmatin sedikit... ketidakteraturan." Dia pakai istilah yang sering anaknya gunakan buat menggambarkan hal-hal yang nggak terencana.

"Ini bukan buang-buang waktu, Bu. Ini cara buat jaga supaya pikiranku tetap tajam," kilah Misca, cari alasan yang masuk akal.

Danu, ayahnya, tertawa sambil tepuk bahu anaknya. "Mana ada cara menenangkan pikiran yang bikin kamu tersenyum tipis kayak gitu kalau bukan karena hatimu lagi senang? Pergilah. Jaga dirimu baik-baik."

Misca cuma mengangguk pelan. Dia sadar perasaan seorang ibu nggak bisa dibantah dengan alasan apa pun. Laras bisa lihat dengan jelas bahwa di balik ketenangan wajah anaknya, Misca mulai merasakan sesuatu yang selama ini asing baginya—rasa sayang yang mulai tumbuh untuk Raya.

---

Misca menjemput Raya dengan motor sport hitamnya. Raya duduk di belakang, memeluk pinggang Misca erat-erat. Kali ini Raya yang jadi penunjuk jalan.

"Belok kanan, Misca. Jalan ini jauh lebih sepi," kata Raya.

Misca, yang biasanya selalu tahu jalan tercepat, kali ini nurut aja. Dia biarkan ketidakpastian memimpin gerakannya malam ini.

Mereka tiba di sebuah bukit kecil. Cahaya bulan dan kerlip bintang jadi satu-satunya penerangan, menyelimuti puncak bukit. Dari ketinggian itu, lampu-lampu kota di bawah tampak seperti hamparan permata berkilauan. Begitu sunyi, damai—seolah membuat semua konflik berdarah di bawah sana terasa seperti mimpi buruk yang sangat jauh.

Raya duduk santai di jok motor yang terparkir, membiarkan angin malam mainkan rambutnya sambil menatap langit. Misca berdiri diam di sampingnya.

"Kenapa kita ke sini?" tanya Misca. "Tempat ini terlalu terbuka dan jauh dari jangkauan."

Raya menoleh dengan tatapan lembut. "Justru karena itu. Aku pengen kita berada di tempat yang nggak punya tujuan apa-apa selain buat bernapas, supaya kita bisa bicara jujur."

Raya mulai bercerita dengan nada rendah. "Aku pindah ke sini gara-gara Ayah. Dia bilang aku harus belajar mandiri."

Raya menatap wajah Misca. "Aku takut, Misca. Aku takut lihat caramu menjalani hidup. Kamu nggak pernah bener-bener istirahat, selalu waspada setiap detik seolah ada bahaya mengintai di setiap sudut. Kamu selalu timbang untung rugi seolah hidupmu cuma deretan masalah yang harus diselesaikan."

Air mata Raya mulai menetes. "Aku khawatir kamu bakal terluka parah nanti. Aku tahu kamu sangat kuat, tapi... kamu bertarung bukan cuma buat wilayah, tapi buat sebuah prinsip. Aku takut kalau kamu kehilangan dirimu sendiri, atau lebih buruk lagi, kalau kekacauan itu yang menang."

Misca mendengarkan setiap kata dengan saksama. Semua data tentang duel, The Phantom, dan organisasi predator berputar di kepalanya. Tapi kekhawatiran Raya ini berbeda—ini data emosional paling jujur yang pernah dia terima seumur hidupnya.

Misca, dengan caranya yang kaku tapi tulus, mencoba menenangkan Raya.

"Raya," kata Misca pelan. "Aku bertarung buat menciptakan ketenangan. Aku nggak bakal kalah, karena kekalahan adalah kegagalan yang paling nggak bisa aku terima. Aku udah pelajari semua kemungkinan. Tino, Nanda, Raka—mereka semua punya kelemahan yang bisa aku manfaatin. Aku bakal selesaiin pertikain ini secepat mungkin, dan aku bakal bangun tatanan yang kuat supaya kekacauan bisa diminimalisir."

Misca angkat tangan kanannya perlahan. Dengan gerakan sangat hati-hati, dia hapus air mata di pipi Raya. "Jangan khawatir. Aku bakal pastiin kamu aman. Itu prioritas utamaku sekarang."

Raya, yang sangat tersentuh dengan janji itu, nggak bisa lagi nahan perasaannya. Dia bangkit dan langsung peluk Misca erat-erat.

Kepala Raya terbenam di bahu Misca. Untuk pertama kalinya, Misca merasakan kehangatan yang bukan berasal dari panas mesin motor atau gesekan fisik saat berkelahi. Ini kehangatan dari seseorang yang tulus.

Misca, si jenius yang selalu terkendali, berdiri mematung. Ini pertama kali dia dipeluk perempuan selain ibunya.

Misca nggak tahu harus respons gimana. Dia cuma biarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan yang sama sekali nggak terencana itu. Dia sadar bahwa kehadiran Raya sekarang adalah satu-satunya hal yang nggak masuk akal dalam hidupnya—tapi justru itu yang paling dia butuhkan buat jaga kewarasannya di tengah dunia yang kejam.

Misca perlahan pejamin mata, membalas pelukan Raya dengan agak canggung tapi protektif. Di bawah langit penuh bintang itu, dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan hancurkan setiap ancaman yang berani ganggu ketenangan orang-orang yang dia sayangi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!