"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Malam itu Dirga tak kunjung bisa tidur. Pikirannya terus dipenuhi bayangan Karin. Surat dari pengadilan agama kembali ia buka dengan perasaan bimbang.
Laura yang sejak tadi memperhatikan wajah suaminya merasa ada sesuatu yang mengganjal. Ia pun mendekat.
"Mas, kamu kenapa? Dari tadi aku lihat kamu melamun terus. Ada apa?"
Dirga menarik napas pelan.
"Enggak apa apa, Ra… cuma lagi kepikiran Karin."
Laura langsung menatapnya tajam.
"Kamu masih mikirin dia, Mas? Setelah semua yang dia lakukan ke kamu?"
Tatapan Laura kemudian jatuh pada kertas di tangan Dirga. Dengan rasa penasaran, ia meraihnya.
"Itu apa, Mas?"
Dirga tak bisa lagi menghindar.
"Itu surat dari pengadilan agama, Ra."
Laura membaca sekilas, lalu menatapnya kembali.
"Jadi… Karin gugat cerai kamu?"
"Iya," jawab Dirga pelan. "Makanya aku bingung. Aku datang enggak ya ke sidangnya?"
Laura menarik napas dalam, berusaha menahan perasaannya.
"Enggak usah datang, Mas. Biar proses cerainya cepat selesai."
Dirga menggeleng kecil.
"Tapi, Ra… aku enggak mau cerai dari Karin. Aku masih sayang sama dia."
Kalimat itu membuat wajah Laura langsung berubah.
"Mas masih sayang dia?" suaranya mulai bergetar. "Terus aku ini apa, Mas? Kamu enggak mikirin perasaan aku?"
"Bukan gitu, Ra… maksudku—"
"Sudahlah," potong Laura dengan nada kecewa. "Aku sudah berkorban banyak buat kamu. Aku bertahan sejauh ini, bahkan aku bisa kasih kamu anak. Tapi apa yang aku dapat, kamu malah masih mikirin Karin terus."
Laura berdiri, meraih tasnya , lalu berjalan ke arah pintu.
"Ra… tunggu," kata Dirga panik sambil menyusul. "Kamu mau ke mana? Ini sudah malam."
Namun Laura tetap melangkah pergi, meninggalkan Dirga yang berdiri terpaku di dalam rumah.
Laura merasa sangat kecewa dengan sikap Dirga yang masih terus memikirkan Karin. Padahal Laura sudah berjuang dan berkorban, bahkan rela hidup susah bersamanya.
Dengan emosi yang tak terkendali, Laura terus berlari. Ia berniat pergi ke rumah Karin untuk melabraknya karena merasa Karin telah membuat Dirga berpaling darinya.
"Aku harus kerumah Karin sekarang, aku gak mau Karin merebut mas Dirga lagi", gumamnya
Laura pun memesan ojek online untuk pergi ke rumah Karin.
Sesampainya di rumah Karin, Laura melihat pintu gerbang tidak dikunci. Bahkan tidak ada satpam yang berjaga. Tanpa ragu, Laura langsung masuk begitu saja dan melabrak Karin.
"Karin....Karin....keluar kamu" teriak Laura
Karin yang sedang menonton TV sontak terkejut melihat kedatangan Laura secara tiba-tiba, apalagi Laura masuk tanpa mengetuk pintu.
"Laura.....Lancang sekali kamu masuk kerumah ku tanpa permisi" bentak Karin
"Emang nya kenapa aku harus izin ke kamu ha,,,,dasar perempuan gak bener" ucapnya tanpa berkaca bahwa dirinya juga perempuan gatal
"Apa maksud kamu ngomong seperti itu Laura, apakah kamu gak ngaca Kediri kamu sendiri, bahwa kamulah wanita gak bener itu."
"Sekarang cepat katakan apa tujuan kamu datang kerumah ku marah marah seperti itu" ujar Karin
"Aku mau kamu lepasin mas Dirga, jangan pernah mencoba merebut mas Dirga dari ku" ucap Laura ketus
"Cih.......Buang saja fikiran kotor mu itu Ra, aku sudah tidak butuh Dirga lagi, jadi kamu jangan khawatir kalau aku merebut mas Dirga" ucap Karin
"Halah, kamu bohong.......... bahkan sampai detik ini mas Dirga selalu memikirkan kamu terus Rin"
"Heh....kalo itu terserah mas Dirga saja aku sudah tidak perduli lagi Laura, sekarang aku minta kamu pergi dari rumah aku", ucapnya
"gak aku, gak mau pergi sebelum urusan kita selesai ".ujarnya
Karin melangkah mendekat, menatap Laura tajam.
"Pergi sekarang juga atau perlu aku laporin kamu ke polisi karena sudah kurang ajar masuk kerumah ku tanpa izin".
Melihat Laura yang keras kepala, Karin kehilangan kesabaran. Ia merogoh saku, meraih ponselnya untuk segera menghubungi polisi. Namun, sebelum jemarinya sempat menekan tombol panggil, Laura bergerak liar. Dengan penuh amarah, ia menyambar ponsel itu dari tangan Karin dan membantingnya sekuat tenaga ke lantai.
Prang!.....
"Laura! Berani-beraninya kamu merusak ponselku!" bentak Karin, suaranya bergetar karena emosi yang memuncak.
"Aku sudah bilang, selesaikan dulu urusan kita! Baru aku akan pergi dari sini!" teriak Laura dengan napas tersengal-sengal.
Karin menatap Laura dengan tatapan tidak percaya. "Urusan apa lagi, Ra? Semuanya sudah selesai! Kamu sudah dapatkan apa yang kamu mau. Mas Dirga sudah jadi milikmu, dia sudah menikahi mu. Kurang apa lagi?".
"Aku mau kamu hilang dari hidup Mas Dirga! Aku mau kamu mati!" ucap Laura dengan tatapan mata yang gelap, seolah kehilangan akal sehatnya.
Karin mundur selangkah, ia sedikit takut melihat tatapan itu. "Kamu sudah gila, Ra..."
"Iya, aku memang gila!"
Tanpa aba-aba, Laura menerjang dan berusaha mendorong Karin dengan sisa tenaganya. Namun, dengan sigap Karin menghindar ke samping. Laura kehilangan keseimbangan karena dorongannya sendiri, tubuh Laura jatuh terjerembap ke depan.
Perutnya menghantam sudut kayu sofa yang keras dengan benturan yang cukup kencang.
"Aw. Sakit..." Laura memegangi perutnya, wajahnya mendadak pucat pasi.
Hening sejenak, sampai kemudian Karin melihat noda merah mulai merembes di lantai dan pakaian Laura.
"Laura... kamu pendarahan?" Karin mematung, rasa panik dan takut seketika menyergapnya saat melihat noda merah di pakaian laura.
Tanpa pikir panjang, Karin membuang jauh-jauh rasa marahnya. Ia segera membantu Laura berdiri dan membawanya ke rumah sakit terdekat agar segera mendapatkan penanganan medis.
Sambil menunggu tindakan dokter, tangan Karin gemetar mencoba menghubungi Dirga menggunakan ponsel Laura.
Tuuuuut... tuuuuut...
"Mas Dirga, kamu cepetan ke rumah sakit sekarang, Laura pendarahan Mas!" ucap Karin dengan suara bergetar begitu sambungan telepon terhubung.
Di seberang sana, suara Dirga terdengar sangat terkejut. "Apa?! Kok bisa Laura pendarahan? Kamu di rumah sakit mana? Aku segera ke sana sekarang!"
"Rumah Sakit Harapan Bunda, Mas. Nggak jauh dari rumah aku," ujar Karin, berusaha tetap tenang meski hatinya sangat cemas.
"Oke, oke, aku ke sana sekarang!" jawab Dirga cepat.
Tanpa membuang waktu, Dirga menyambar kunci motor dan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
*****
"Maaf, silakan Ibu menunggu di luar sebentar. Kami akan segera menangani pasien," ujar perawat dengan sigap sebelum menutup pintu ruang tindakan. Karin hanya bisa berdiri terpaku.
Selang beberapa menit. Dirga akhirnya sampai dengan napas terengah-engah. Ia langsung mencari keberadaan Karin.
"Karin!" panggilnya dengan suara serak.
Karin menoleh, raut wajahnya tampak sangat lelah. "Mas Dirga... syukurlah kamu sudah datang," ucapnya dengan nada lega yang bercampur cemas.
Dirga memegang pundak Karin, matanya memancarkan kepanikan yang luar biasa.
"Rin, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa Laura bisa pendarahan?".
Karin menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum bercerita. "Jadi gini Mas, tadi Laura datang ke rumahku. Dia marah-marah dan memintaku untuk pergi jauh dari hidup kamu."
Karin menatap mata Dirga dengan serius.
"Aku sudah katakan sama Laura kalau aku sudah tidak butuh kamu lagi, tapi Laura tidak percaya. Dia malah mendorongku.Dan aku berusaha menghindar, tapi hal itu membuat Laura jatuh dan perutnya membentur sofa hingga membuatnya pendarahan, Mas," ujarnya menjelaskan kronologi kejadian itu dengan jujur.
"Kenapa Laura bisa senekat itu, Rin?" gumam Dirga lirih, seolah tidak percaya dengan semua kekacauan yang terjadi malam itu.
Tak lama kemudian, pintu ruang tindakan terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah serius setelah selesai menangani Laura.
"Maaf, apakah Anda suami dari pasien?" tanya Dokter tersebut sambil menatap Dirga.
"Iya, Dok. Saya suami Laura," jawab Dirga cepat, langkahnya maju selangkah dengan perasaan was-was.
"Mari, silakan ikut ke ruangan saya sebentar, Pak."
"Baik, Dok."
Dirga mengikuti langkah dokter menuju ruangannya. Dirga tidak sabar untuk mengetahui kondisi Laura.
"Dok, jadi bagaimana keadaan istri saya? Dan apakah kandungan istri saya baik-baik saja?" tanya Dirga bertubi-tubi.
Dokter menghela napas panjang, menatap Dirga dengan penuh empati. "Jadi begini, Pak Dirga. Dari hasil pemeriksaan, saya dengan berat hati harus mengatakan kepada Bapak bahwa kandungan Ibu Laura tidak bisa kami selamatkan."
"Apa? Nggak mungkin... Dokter pasti bercanda, kan?" Dirga menggeleng, berharap pendengarannya salah.
"Tidak, saya tidak mungkin bercanda, Pak. Ibu Laura mengalami pendarahan yang sangat hebat disebabkan oleh benturan yang sangat kuat," jelas Dokter dengan nada tenang namun tegas.
Seketika tubuh Dirga terasa lemas tak berdaya. Dunianya seakan runtuh mendengar kenyataan bahwa calon anaknya telah pergi selamanya. Dengan langkah gontai, ia keluar dari ruangan dokter. Karin yang sedari tadi menunggu di luar langsung menghampirinya.
"Mas, gimana kata dokter? Apa Laura baik-baik saja?" tanya Karin cemas.
Dirga tidak langsung menjawab. Ia menatap Karin dengan mata berkaca-kaca
"Laura... Laura keguguran, Rin. Dokter mengatakan bahwa kandungannya tidak bisa diselamatkan," ucap Dirga sebelum akhirnya tangisnya pecah.
"Apa........?!" Karin tersentak, menutup mulutnya dengan tangan karena sangat terkejut mendengar kenyataan bahwa Laura keguguran.
Bersambung............
Jangan lupa like dan subscribe ya kak supaya aku bisa lebih semangat lagi 🙏 🙏 🙏 😁
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪
apakah ini cerita panjang??
semangat terus ya kak