Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Tipu Daya
Langkahnya lebar, tangannya terangkat untuk membuka kacamata hitam yang dikenakannya. Lalu dikaitkan pada bagian depan kaosnya, dengan padangannya yang masih tertuju pada Keisya.
Sesekali ia melirik pria muda yang bersalaman dengan Keisya sebelumnya. Pandangannya menajam saat jarak mereka semakin dekat, dan saat bisa melihat jelas rupa pria tersebut.
Tidak setampan dirinya. Namun tidak jelek juga.
"Om Bastian?" ujar Keisya dengan nada heran dan bingung. Tidak menyangka bisa bertemu dengan teman Papanya ini di tempatnya mengenyam pendidikan sekarang.
Seingatnya Om Bastian tidak berkecimpung di dunia pendidikan. Melainkan bisnis. Begitulah kata Papa-nya.
Sisi menoleh pada Keisya. "Om?"
Dia sempat mendengar beberapa kali perbincangan di antara para mahasiswi tentang sosok pria matang yang merupakan salah satu donatur terbesar di kampus ini.
Dari sana juga Sisi tahu, jika pria ini mendapatkan julukan 'Duren'.
Duda Keren.
Ternyata sebutan itu sangat cocok dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Benar-benar menggoda.
Spek Sugar Daddy yang ada di dalam imajinasinya selama ini.
Dan ternyata, temannya ini mengenal pria tersebut? Mana terdengar akrab pula dari caranya menyematkan panggilan. Sisi sedikit iri.
"Sudah tidak ada kelas kan?" suara berat Bastian terdengar. "Ayo pulang" ajaknya tanpa basa basi.
Keisya bingung. Ia menoleh pada Sisi, yang juga tengah menunjukan ekspresi serupa. Sebuah reaksi spontan setelah mendengar perkataan Bastian barusan.
Pertama, Bastian terdengar seperti tahu jadwal kelasnya. Padahal ini pertama kali mereka kembali bertemu setelah hari itu.
Lalu terakhir tentang ajakan pulang.
Apa maksudnya?
Apa mereka sedekat itu sebelumnya?
"Papa kamu yang minta" kalimat lainnya Bastian tambahkan, membuat Keisya dan Sisi, mulai paham dengan situasi yang terjadi sekarang.
"Aku pulang sendiri aja Om." Keisya menolak, tapi masih dengan nada sopan.
Alis Bastian menukik tajam. Pandangannya kembali tertuju pada pria di sebelah Kesya, yang posisinya berada di tengah.
"Tidak bisa. Papa kamu minta saya bawa kamu pulang sekarang."
"Papa yang minta?" Kesya bertanya sangsi.
Kenapa ia tidak tahu apapun tentang hal itu?
"Mobil kamu di bengkel kan?"
Keisya mengangguk. Entah apa yang terjadi, tapi kemarin mesin mobilnya tidak bisa menyala. Jadi dua hari terakhir ia selalu memesan transportasi online.
"Papa kamu tahu saya mau kesini. Katanya kamu pulang bareng saya"
"Ga usah deh, Om. Takut ngerepotin. Aku pulang sama temen aku aja, gapapa kok. Nanti biar aku yang bicara Papa" Keisya pikir Bastian melakukan ini hanya menjalankan amanat Papanya. Jadi ia menawarkan solusi, dengan memastikan jika Papanya tidak menyalahkan Bastian nantinya.
Lagipula tidak nyaman saja rasanya jika harus menumpang pada pria ini. Sekalipun atas permintaan Papanya.
Sisi langsung mengangguk, menyetujui ucapan Kesya. Sekaligus menunjukan teman yang Keisya maksud sebelumnya adalah dirinya.
Tapi Bastian yang tidak melihat itu justru berpikir Keisya menolak ajakannya karena ingin pergi dengan pemuda itu.
Dia semakin kepanasan.
"Tidak bisa. Ayo pulang sekarang. Saya tidak mau disalahkan"
Setelahnya ia raih pergelangan tangan Kesya, menariknya dan membawanya pergi tanpa memberikan kesempatan untuk wanita tersebut menolak.
"Eh, Om! Tunggu sebentar! Jangan di tarik" Keisya menoleh ke belakang, "Si, duluan yah!" Merasa penolakannya sia-sia, Keisya akhirnya hanya bisa pasrah dan mengimbangi langkah Bastian yang sangat lebar itu.
Sisi, perempuan itu sama sekali tidak merespon. Dia masih terpaku di tempatnya berdiri sambil memandangi sosok keduanya yang hilang di belokan.
Begitu pula Vincent dan pria yang merupakan dosen yang sebelumnya sedang berbincang dengan Bastian, hanya bisa diam dengan ekspresi mereka yang sulit di artikan.
Banyak sekali pertanyaan dalam kepala mereka saat ini.
Kembali pada Keisya, dia masih terus berusaha melepaskan diri sambil mulutnya terus berbicara, yang tidak sedikitpun di pedulikan oleh Bastian. Sampai akhirnya mereka sudah berada di dalam mobil milik Bastian, barulah pria matang tersebut merespon.
"Kalau kamu mau komplain, langsung saja sama Papa kamu."
Keisya mencebikkan bibirnya samar. Kesal, namun tidak bisa terlalu menunjukannya. Takutnya dianggap tidak sopan. Tapi setelah pulang nanti ia akan benar-benar protes pada Papanya.
Dalam hatinya Keisya membatin, pasti setelah ini Sisi akan mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Belum lagi orang-orang di kampus yang barusan melihatnya.
Kehidupan kampusnya pasti tidak akan sama lagi.
"Kamu kesal gara-gara batal jalan sama pacar kamu?" ujar Bastian kembali. Ekspresi wanita muda itu tentu saja tak luput dari pandangannya.
Semakin kesal saja ia dibuatnya.
Keisya melihat ke samping, alisnya sedikit menukik "Pacar apa?"
"Laki-laki tadi"
Keisya membulatkan bibirnya, sambil menggelengkan kepala, kemudian dia menjawab "Oh, itu bukan pacar, kenalannya aja barusan. Itu kakak tingkat. Dia katanya mau traktir makan buat perkenalan"
"Basi" Bastian merespon ketus.
Keisya kembali melirik Bastian, "Apanya yang basi?"
"Laki-laki tadi pasti ada maksud tertentu. Kamu tidak curiga?"
"Curiga apa?" Keisya semakin heran. "Kak Vincent itu cuma mau traktir kita makan di kafe. Itu tempat biasa, bukan tempat aneh-aneh. Kita juga ga cuma berdua, ada Sisi di sana. Terus ini masih siang. Apanya yang harus di curigai?"
Tidak mungkin rasanya jika Vincent melakukan hal-hal aneh seperti yang di curigai Bastian.
Tanpa tahu jika dugaannya itu benar-benar meleset jauh dari apa yang Bastian maksudkan.
"Dia sedang mencari perhatian kamu, Keisya. Mentraktir itu cuma alasan saja biar dia bisa mendekati kamu" Bastian cukup gemas dengan pola pikir Keisya yang ternyata sepolos itu.
Tentu saja polos. Niat buruk Bastian saja tidak bisa dia curigai.
Keisya mengangkat bahunya, "Aku ga peduli. Yang penting dapet traktiran"
Alis Bastian berkerut, "Jadi kamu kesal karena alasan ini?"
"Iyalah. Emang apalagi? Barusan aku batal pulang juga gara-gara itu."
Bastian tidak percaya mendengarnya. "Papa kamu tidak memberikan uang saku?" Jika benar seperti itu, Bastian akan mendatangi Gunawan sekarang juga. Jawaban Keisya terdengar seperti dia sangat kekurangan uang.
"Ngasih. Aku suka aja dapet traktiran. Tapi bukan berarti aku ga dikasih uang jajan yah. Papa ngasih kok, malah cukup buat satu bulan ke depan" Kesya langsung mengklarifikasi. Takutnya Bastian berpikiran macam-macam tentang Papanya, atau menganggap Papa pilih kasih padanya.
Apalagi posisinya baru kembali setelah bertahun-tahun tinggal jauh dari rumah.
"Lain kali jangan mau di traktir laki-laki itu. Biar saya yang traktir kamu. Bukan cuma makanan, barang apapun yang kamu mau saya kasih"
"Om mau traktir aku?" Keisya bertanya dengan nada tidak yakin.
Bastian berdehem mengiyakan.
"Dalam rangka apa?"
"Laki-laki tadi melakukan itu dalam rangka apa?"
Keisya berpikir. Ia tidak memikirkan alasan dibalik ajakan Vincent sebelumnya.
"Perkenalan, mungkin?" jawabnya tidak yakin.
"Sama, saya juga."
Mereka saling bertatapan. Ada maksud lain dari cara Bastian menatap Keisya. Sedangkan yang di tatap justru tengah mencerna maksud dari jawaban yang diberikan Bastian.
Apa maksudnya?
Gunawan baru selesai berteleponan saat Keisya memasuki ruangannya. Langkah kakinya sangat tergesa, seperti tidak sabaran ingin segera menginterogasinya.
"Pa, emang bener Papa yang minta Om Bastian buat bawa aku pulang?"
Nah kan.
Helaan napas Gunawan keluarkan. Jika saja Bastian tidak menghubunginya lebih dulu, dia pasti sudah menjawab tidak.
"Iya. Papa yang minta" Karena sudah mendengar alasan Bastian sampai bertindak sendiri tanpa pendapatnya, tidak salah sepertinya jika ia ikut terlibat di dalamnya.
"Ih, kenapa? Anak-anak kampus pada liatin aku tau Pa. Gimana kalau mereka mikir aneh-aneh?" Keisya merajuk.
Barusan ia melihat ponselnya, dan menemukan banyak notifikasi. Belum lagi ada beberapa orang yang ternyata berhasil memotretnya saat tengah ditarik paksa oleh Bastian.
Dia belum menjelaskan pada siapapun, bahkan pada Sisi. Mungkin setelah ini dia akan membuat klarifikasi langsung, sekaligus membantah tuduhan sebagian orang yang menganggapnya menjadi simpanan om om.
"Kamu bilang aja Om Bastian itu temen Papa. Beres kan?"
Keisya berdecak. Jika saja sesimple itu, dia pasti tidak akan uring uringan seperti ini.
"Ah, Papa ga asik. Lain kali jangan minta bantuan Om Bastian lagi. Aku ga mau jadi bahan gosip di kampus"
Gunawan mengangguk cepat. "Iya iya. Ya udah, masuk kamar sana. Bersih bersih terus makan"
Keisya menurut. Dia pun sudah lapar.
Soal tawaran Bastian sebelumnya, Keisya menolaknya. Sungkan saja rasanya. Sekalipun dia sangat suka traktiran, tapi jika hanya berdua dengan teman Papa-nya pula, Kesya akan berpikir dua kali untuk menerimanya.
Setelah kepergian Keisya, Gunawan kembali menghubungi Bastian. Pada dering pertama panggilan langsung terhubung.
"Gimana? Anak kamu tanya-tanya?" suara di sebrang sana langsung terdengar.
"Jelas. Kamu juga aneh aneh aja" Gunawan duduk di kursi kerjanya. "Untung Keisya tidak memperpanjang masalah"
"Saya melakukannya demi anak kamu juga" dustanya. Jelas-jelas demi dirinya sendiri yang tidak rela melihat gadis yang menarik perhatiannya itu pergi dengan pria lain.
"Kalau perkiraan kamu salah?" Sebelumnya Bastian mengatakan jika pria yang mencoba mendekati anaknya tampak seperti laki-laki nakal dan urakan. Dari penampilannya saja tampak memiliki niat lain.
Yang jelas itu bukan hal baik untuk putrinya.
"Feeling saya selalu benar"